Menanti Kata Terucap(3)

48
points
"

Inilah bagian terakhir sementara cerita ini. Silakan jika ada yang punya usul tentang pengembangan cerita yang dalam versi lirik berjudul "Hati Bertutur" ini. Trims.

"

Sekitar lima belas menit kemudian aku kembali ke tempat kos Rianti. Di gang depan rumah kos berdirilah Rianti dan Budiman. Entahlah, apa sempat terjadi dialog di antara mereka. Aku pun segera mengajak Budiman pamit pada Rianti dan berlalu dari situ. Aku pun mengajak Budiman mampir di sebuah warung angkringan di pinggir jalan, tak jauh dari tempat kos Rianti.

“Gimana Bud, apa kamu sempet ngobrol sama Rianti?” tanyaku.
“Ya, akhirnya dia mau ngomong sedikit,” sahut Budiman.
“Jadi, apa masalah dia sebenarnya?”
“Intinya dia nggak suka sama sikap temen-temen yang menjodohkannya sama Irfan. Lebih-lebih lagi karena dia pernah dioperasi, kalo nggak salah rahimnya apa ya? Pas ngomong itu suaranya lirih banget, aku sayup-sayup aja dengernya.”
“Okelah. Paling nggak kita udah rada ngerti apa maunya dia ‘kan? Jadi tinggal kita ngubah sikap aja soal dia dan Irfan. Cuma yang aku heran nih, kok kamu bisa bikin dia ngomong sih? Emang tadi kamu bilang apa duluan?” tanyaku penasaran.
“Ada deh. Soal itu biar jadi rahasiaku dan Rianti,” seloroh Budiman.

Kami bersyukur akhirnya Rianti mau bicara juga. Larut malam aku dan Budiman baru sampai di desa lokasi KKN kami yang gelap gulita. Beberapa jam sebelumnya sempat ada hujan angin menerpa desa kami dan merobohkan sebuah tiang listrik yang memadamkan listrik satu desa. Baru pada pagi harinya kami bicara pada teman-teman yang lain.

Sempat ada ketegangan setelah Budiman menjelaskan pada teman-teman tentang apa yang dikatakan Rianti kepadanya dan Bimo tiba-tiba nyeletuk,
“Rianti itu belum ngomong semuanya. Dia nggak jujur soal hubungannya sama Irfan.”
“Ya memang mustahil dia ngomong semuanya! Wajar saja dia punya rahasia, aku juga punya rahasia. Memangnya kamu, yang apa-apa mau diomongin ke orang lain!” seru Budiman pada Bimo. Setelah bicara begitu, Budiman pun bergegas meninggalkan teman-temannya.

Kami cukup terkejut melihat reaksi teman kami yang tak banyak bicara dan biasanya kalem itu. Tapi aku bisa memahaminya karena pernyataan Bimo seolah mementahkan usaha keras Budiman yang akhirnya bisa membuat Rianti mau bicara. Apalagi Bimo juga terbilang pasif untuk ikut menyelesaikan masalah Rianti, walaupun apa yang dikatakannya bisa jadi benar.

Selanjutnya kuminta teman-teman supaya bisa bersikap lunak pada Rianti, memaklumi kondisinya, dan tak lagi menyinggung hubungannya dengan Irfan, meski sekadar bercanda. Kami semua setuju. Semoga saja keadaannya bisa lebih baik jika Rianti nanti kembali bersama kami hingga KKN berakhir sekitar dua minggu lagi.
***

Rianti pun kembali ke rumah kami di desa bersama Irfan, dua hari setelah malam itu. Kami bersikap sewajar mungkin kepadanya dan mengandaikan bahwa tiada pernah ada masalah besar antara kami dengan dirinya. Namun tak bisa terjadi dengan begitu mudahnya ternyata. Hanya Budiman yang bisa segera mendapat sikap yang hangat dari Rianti.
Sehari setelah Rianti pulang, Pak Frans, dosen pembimbing KKN kami datang pagi-pagi.

“Wah, kok tumben Pak Frans pagi banget datangnya?” sambut Bimo.
“Iya, kebetulan hari ini ngajarnya agak siang. Saya sudah tahu kalian lagi ada masalah internal. Tapi saya belum tahu bagaimana akhirnya, makanya pagi-pagi saya sudah sampai di sini. Saya cuma berharap, semoga masalahnya sudah bisa diatasi dan tolong, tetap jaga kekompakan kalian,” kata Pak Frans panjang.

Tak lama kemudian dosen kami pergi dengan mobilnya. Segera kususul dia lewat jalan lain dan kucegat di tengah jalan. Sambil mobilnya kembali melaju menyusuri jalan desa, aku lapor pada Pak Frans bahwa Rianti sudah mau bicara dan kami semua sedang mencoba membangun kembali hubungan yang sempat koyak tempo hari.
“Oke, syukurlah kalau kalian sudah berbaikan lagi. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi saat Rianti menyendiri semalaman di dapur itu? Saya dengar dia menangis juga saat itu?” tanya Pak Frans yang ternyata tahu detail peristiwa malam itu.
“Saya pikir malam itu dia sedang merasa sakit akibat luka operasinya, Pak,” jawabku yang semoga cukup melegakan Pak Frans.
***

Beberapa hari kemudian kami bersama kelompok lain menjalani upacara Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus di lapangan kecamatan. Semua anggota kelompok harus ikut. Supaya suasananya bisa akrab lagi, kuminta Irfan untuk berboncengan dengan Budiman dan kuminta Nurul mengajak Rianti bersamanya. Mita yang biasanya selalu bersama Nurul, kali ini bersamaku. Rianti tak keberatan, semoga dia jadi mau ngobrol lagi dengan Nurul.

Sekembalinya kami ke rumah, ternyata dugaanku salah. Sambil berbisik Nurul mengadu padaku dan Budiman,
“Wah, bete banget, Mas. Orang yang kuboncengin nggak mau ngomong blas! Bikin mangkel tenan!”
“Mosok sih? Jadi dia tetep cuekin kamu?” tanyaku heran.
“Yah, yang sabar aja deh, Nur,” ujar Budiman.
“Tadi kayaknya dia malah ngobrol sama kamu ya, Bud?” tanya Nurul.
“Aku cuma nanya, apa dia udah sarapan apa belum aja sih. Dia juga cuma jawab kalo belum kok,” sahut Budiman. Sepertinya selain Irfan, memang hanya Budiman yang menurut Rianti tak bermasalah dengan dirinya. Aku hanya bisa minta teman-teman untuk tetap sabar menghadapi Rianti yang belum bersedia bersikap hangat pada kami, meski kami sudah mencobanya.

Menjelang berakhirnya KKN, mahasiswa satu unit atau satu kecamatan mengadakan program bersama, yaitu pasar murah untuk warga di lapangan kecamatan. Ternyata acara tersebut menjadi momen yang penting buat kelompok kami. Akhirnya Rianti mau bicara lagi pada teman-teman serumahnya tanpa kecuali. Semula mungkin dia merasa tak nyaman ketika berada di antara teman-teman dari berbagai kelompok, dia bisa bicara pada mereka, tapi tidak ketika bersama kami. Bagaimanapun kusyukuri hal itu dan kami semua pun bisa menjalani hari-hari terakhir kami di desa dengan keceriaan, seperti halnya hari-hari pertama kebersamaan kami dulu.

Ketika tiba hari terakhir kami di desa, tak ayal Nurul, Mita, dan Rianti menangis sesenggukan ketika berpamitan pada Bapak dan Mbok Sumo. Aku dan teman-teman cowok juga terharu, namun masih bisa menahan tumpahnya air mata, berkaca-kaca belaka mata kami. Hanya kebahagiaan dan kenangan indah yang menyertai perjalanan pulang ke Jogja, saat kami akan berpisah dan kembali ke kampus masing-masing.
***

Sebulan sehabis KKN berakhir, kami sempat kembali berkumpul dan mengunjungi desa tempat tinggal kami. Ada salah satu warga desa yang punya hajat menikahkan anaknya. Aku senang dan lega karena sudah benar-benar tiada masalah di antara kami dengan Rianti. Aku sempat bertanya pada Irfan tentang hubungan mutakhirnya dengan Rianti, ternyata mereka masih kerap bertemu dan jalan berdua seperti saat KKN dulu. Just no comment to hear that.

Sekian dulu untuk sementara.

Your rating: None Average: 8 (6 votes)
dikirim loushevaon7 1 year 25 minggu yang lalu
Tag: