Lanjutan cerita tentang hari sial seorang pelajar di Jogja. Tetap ditunggu komentarnya.
"“Ini musuh kita juga! Jangan kasih ampun, Bud!” teriak salah satu dari mereka. Lantas bertubi-tubi lagi pukulan mengenai kepalaku, dadaku, punggungku, dan juga tanganku. Meski sekejab, tapi sakit sekali kurasakan pukulan-pukulan itu, bahkan darahku pun mengucur sampai membasahi seragamku. Aku tetap diam pasrah sambil tetap berusaha memegangi sepedaku. Percuma saja aku melawan. Ini memang bukan pertarungan yang seimbang. Mereka berdua mengeroyokku yang tak berdaya.
Kereta sudah lewat, pintu perlintasan pun terbuka. Kedua orang tadi berhenti memukuliku.
“Udah cukup, lumayan sore-sore kita dapat dua mangsa,” ucap salah satu dari mereka sambil menyeringai.
“Iya, Bud. Hey, bilang ke temen-temen kamu, ini peringatan dari jalan Kapuas! Jangan berani main-main sama kami!” bentak temannya padaku. Mereka pun bergegas meninggalkanku. Aku menoleh ke belakang, wajah tukang becak tampak pucat dan sangat tegang.
“Sudah Pak, terus jalan saja. Kita sudah hampir sampai. Saya masih bisa bertahan sampai tempat kos!” tegasku walau darah sudah bercucuran dari pelipis, hidung, dan mulutku. Aku juga tak tahu apa warna raut mukaku sehabis dihujani pukulan tadi. Kurasakan pening sekali kepalaku dan pandanganku pun agak berkunang-kunang.
Sampai di depan kos-kosan kebetulan ibu kosku sedang bicara dengan dua orang teman kosku. Mereka terkejut setengah mati melihat aku yang duduk di atas becak memegangi sepeda, sementara wajahku berantakan dan seragamku berlumuran darah.
“Lho Bara, kamu kenapa Nak?” tanya ibu kos yang beranjak mendekatiku bersama Andra dan Bang Alex, teman-teman kosku. Mereka pun menurunkan sepedaku dan membantuku turun dari atas becak.
“Siapa yang mukulin kamu, Ra? Biar Abang bales ntar,” ujar Bang Alex kesal.
“Sudah, itu jangan dipikirin dulu. Yang penting nolong Bara dulu,” lanjut ibu kos.
Aku pun dipapah menuju sofa di ruang depan rumah ibu kos. Wajahku dibasuh dengan air dan handuk oleh ibu kos. Sakit dan perih rasanya ketika air mengenai luka-luka di wajahku.
Setelah baju seragamku yang berlumuran darah diganti dengan kaos, aku pun diantar Andra dan Bang Alex ke rumah sakit terdekat. Sepulang dari rumah sakit, kami lapor ke kantor polisi.
Di kantor polisi laporanku hanya ditanggapi sambil lalu.
“Oke Adik, kami sudah mencatat laporan Adik. Tapi kami tidak bisa menjanjikan apa-apa sebagai tindak lanjut kasus ini. Ini kasus ringan yang sudah sering terjadi di sini kok. Bersyukurlah bahwa Adik hanya luka sedikit seperti itu. Mungkin beda masalahnya jika Adik sampai luka berat atau malah cacat,” jelas petugas kepolisian yang sama sekali tak memuaskanku.
“Tapi Pak, tadi sebelum saya ada yang dipukuli juga. Apa dia nggak melapor ke sini?” tanyaku penasaran.
“Sejauh yang kami tahu, tidak ada kasus pemukulan pelajar yang lain kecuali yang Adik laporkan pada kami,” jawab pak polisi.
Dengan kecewa kami meninggalkan kantor polisi. Sebelum pulang ke kos-kosan, aku mampir di wartel. Kukabari ortuku di Jakarta tentang apa yang baru saja terjadi padaku.
“Apa? Kamu dipukuli sampai berdarah-darah?” Mama berteriak histeris mendengar laporanku dan kemudian bicara lagi sambil terisak,
“Apa ya salah Mama dan Papa kamu sampai kamu jadi korban gitu?”
“Nggak ada yang salah kok, Ma. Aku aja yang emang kurang bisa menjaga diri dan emang lagi apes aja hari iniku,” ujarku mencoba menenangkan Mama.
Biasanya setiap aku bersepeda berangkat dan pulang sekolah selalu kupakai jaket, otomatis tulisan lokasi sekolah di lengan kananku tak pernah terlihat dalam perjalanan. Tapi sebelum naik becak tadi kucopot jaketku, gerah sekali rasanya setelah mencoba membuka kunci sepedaku yang akhirnya patah itu. Yah, memang ini hari sialku.
*
Setelah malamnya diobati seperlunya di rumah sakit, pagi hari berikutnya aku ke sana lagi diantar Andra. Hidungku dirontgen dan ternyata ada tulangnya yang patah. Karena aku masih muda, tulang hidungku yang patah itu otomatis akan menyambung sendiri. Oleh dokter aku hanya diberi salep dan obat antibiotik. Dari rumah sakit aku diantar ke sekolah untuk melapor dan mohon izin tak bisa masuk sekolah hari itu.
Di sekolah aku mesti kecewa lagi. Sekolah menyatakan diri tak bertanggung jawab karena kejadiannya di luar sekolah dan di luar jam pelajaran sekolah. Kali ini aku tak bisa diam saja.
“Lho Pak, saya kemarin itu pulang sore karena ada kegiatan ekskul di sekolah. Bukankah ekskul adalah kegiatan resmi sekolah ini?” protesku keras.
“Iya, tapi kan kejadiannya saat kamu pulang dan jauh di luar sekolah” ujar pak guru yang menerima laporanku.
Aku masih ingin bicara ngeyel, tapi Andra memintaku tenang dan aku menurutinya. Padahal aku masih ingin bilang, jika saja tak kupakai seragam sekolahku, mustahil rasanya aku menjadi sasaran pemukulan anak-anak yang sekolahnya punya tradisi permusuhan dengan sekolahku. Sekejab aku benar-benar benci dan menyesal sekali kenapa dulu aku menuruti begitu saja pilihan Mama masuk ke sekolah ini.
*
Seburuk-buruknya hari itu, aku bersyukur masih hidup dan berpeluang menjalani hari depan dengan lebih apik. Selain itu ada sebuah hikmah yang menjadi tekadku kini. Aku mau belajar beladiri, entah karate, taekwondo, judo, wushu, capoeira, atau pencak silat. Jadi jika ada hal yang buruk menimpaku, meski tentu saja tak kuharapkan itu terjadi lagi, aku tak akan tinggal diam. Setidaknya aku bisa mempertahankan diri dan menunjukkan keberanian serta kelelakianku, demi kebenaran dan keadilan. Tapi tenang saja, aku tak akan berubah menjadi seperti mereka yang memukuliku tempo hari. Aku akan tetap menjadi Bara Mardhika yang apikan, bersahaja dan nggak neko-neko.
TAMAT
Yogyakarta, November 2006
dikirim loushevaon7 1 year 18 minggu yang laluTag:







