Hazel and Rista:The Path to Becoming a Princess (Part 4)

35
points
"

maap ya kalo dikit-dikit en gak ngerti. part 1-4 itu satu chapter. jadi mohon muup kalo jadi bingung bacanya...tetep kasih komentar ya?? biar aku maju terus!

"

NING...NONG...
Hazel memencet tombol bel sebuah rumah mewah yang terletak tidak jauh dari butik tempat mereka sering bekerja. Rumah itu adalah milik bos butik itu sendiri, bu Nancy.
“Sebentar!” teriakan itu terdengar dari dalam rumah.
Hazel menoleh ke arah Rista dengan senyuman paksa. Dia hanya mengetes bibirnya yang berat untuk membentuk sebuah senyuman manis nan menawan.
“Kurang.” Jujur Rista. Kemudian melihat ke arah jam tangannya yang lama dan kusam.
Jam delapan malam. Pasti mulut tante Ravy berkoar-koar karena dia tak mau ada yang belum pulang di atas jam delapan. Gila, kan? Seharusnya dia bilang saja kalau acara tidur jam delapan malamnya bisa terganggu!
Pintu rumah itu terbuka. Di balik pintu tersebut muncul muka bu Nancy yang bersinar. Sebagai orang tua yang bertambah tua, dia terlihat sangat baik. Beliau terlihat awet muda, dan selalu menyapa kami dengan lembut.
“Hazel? Rista?” bingung bu Nancy.
Hazel memasang senyumannya, tapi tetap terlihat memaksa.
“Be..begini bu Nancy...er...”
“Gini bu Nancy!” sambar Rista. Bu Nancy kaget, apalagi Hazel yang di sebelahnya. Dia tersentak kebelakang dan hampir jatuh.
“Kita tuh sebenernya mau...mau...”
“Mau apa?” tanya bu Nancy ramah. Sementara Hazel mengelus-ngelus dadanya, masih kaget.
“Ee...” tiba-tiba lidah Rista kaku. Dia berfikir sambil menggigit kuku-kuku jarinya.
“Oh...kalian pasti mau ngomong sesuatu yang penting. Ayo masuk!” ajak bu Nancy.
Rista bersinar lagi. Tahu saja kalau hatinya lagi bingung. Baiknya bicara atau tidak, ya?
***
“Jadi begitu?” sentak bu Nancy saat mendengar penjelasan Hazel dan Rista di ruang tamu bu Nancy. Suasananya terasa dingin.
Hazel mengangguk lemah. Rista cuma diam tak berkata.
“Ibu bisa tebak, kalian pasti bingung mau mencari kemana bukan?”
Kali ini Rista yang mengangguk. Hazel mengelap keringatnya.
Bu Nancy menunduk. Dari napasnya Hazel dan Rista bisa tahu kalau bu Nancy punya masalah yang lebih besar dari masalah mereka berdua. Sejak di tinggal mati oleh suaminya dan anaknya yang hilang entah kemana, bu Nancy tinggal sendirian di rumah yang mewah ini dengan penuh kecemasan. Walau di depan Hazel dan Rista dia adalah sosok ibu yang ceria.
“Em...bu Nancy...” halus Hazel menyadarkan bu Nancy.
Bu Nancy tersentak. “Ya, sayang?”
Hazel merasa tak enak hati. Dia menyikut pinggang Rista.
“Aw!”
Rista mengelus-ngelus pinggangnya. Kemudian tersenyum kepada bu Nancy.
Bu Nancy terdiam sejenak. “Kalian mau pinjam uang?”
Hazel dan Rista saling pandang. Sebenarnya mereka menyesal telah menceritakan apa yang terjadi kepada bu Nancy.
“Ibu ambilkan, ya?”
Pandangan mereka hanya tertuju kepada bu Nancy yang masuk ke dalam kamarnya.

Your rating: None Average: 5.8 (6 votes)
dikirim Lya-Lya 11 minggu 4 hari yang lalu
Tag: