Dilain pihak Karin menangis sejadi-jadinya di dalam taxi yg ia naiki, Karin terluka, sakit dan kecewa tapi ini yang ia harapkan dan inginkan, ia harus siap dengan hari karena pasti akan terjadi cepat atau lambat.
* * *
Seminggu telah berlalu semenjak kejadian di rumah Dea dan aku tidak pernah bertemu dengan Karin. Rasa rinduku kian membuncah, rasanya aku ingin sekali menemui Karin. Aku telah memilih Dea, tapi aku merasa ada bagian hatiku yang hilang, aku sungguh merasa kehilangan Karin. Pernah suatu hari melihat Karin berdiri di halte sedang menunggu bis, ia memakai sweter pink yang aku hadiahkan kepadanya. Rasanya aku ingin sekali menghampiri dan mengantarkannya pulang. Tapi aku sadar, di sisiku sekarang ada Dea dan Dea adalah pilihanku.
Aku tidak pernah lagi melihat Karin semenjak terakhir melihatnya di halte bus itu. Lalu aku beranikan diri untuk bertanya pada guru BP tentang karin.
"Loh?, kamukan pacarnya. Masa tidak tau kalo Karin masuk rumah sakit." Jawab guru BP itu.
Duniaku goncang seakan mau runtuh. Karin di rumah sakit. sakit apa?, sejak kapan?.Pertanyaan-pertanyaan itu terus berpuar di otakku.
* * *
Aku menjenguk Karin di rumah sakit bersama Dea, sesampainya disana aku langsung menuju kamar karin. belum sampai aku masuk kekamarnya ku melihat sesosok tubuh terletak tak berdaya di lengkapi infus dan alat opname, di sampingnya tampak dokter dam suster dengan wajah tegang. Kaki ku lemas tak bs di gerakkan sama sekali ketika mengenali sosok itu, dia Karin. Karinku yang selalu bersamaku dan selalu menyemangatiku. Sekarang terbaring tak berdaya.oh..Karin.
Aku masih dalam ketidak percayaanku ketika para dokter dan suster itu membawa Karin ke ruang UGD. Dea juga tidak bisa berkomentar ia sama syok denganku. Terlihat om Hendra dan tante Mirna mereka adalah ayah dan ibu Karin yg sedang berpelukan sambil menangis. Tante Mirna melihatku lalu beliau menghampiriku, menatapku dengan penuh duka lalu memelukku dan menangis, aku tak bs bergeming dari ketidak percayaanku dengan semua yang tiba-tiba terjadi dalam hidupku.
"Karin sakit leukimia stadium 3 sejak setahum yang lalu." Ucap tante Mirna kepadaku. Bumi seakan runtuh dan bergoncang.
"Karin menderita leukimia sejak setahun yang lalu?". jawabku tak percaya.
kenapa ia tak bemberi tau ku?, kenapa aku tidak tau?, kenapa aku begitu egois,?, membiarkan Karin menderita sendirian?. Kenapaku tidak bisa berguna bagi Karin?.
Begitu banyak "kenapa" dalam bathinku, tubuhku ambruk lemas, aku menangis. Menangisi semua kebodohanku, menangisi Karinku yang malang, Karinku yang begitu setia padaku, Karinku yang aku sayangi..,
Dea berusaha menenangkanku.
"Kenapa De?!, kenapa aku tidak tau kalo Karin itu sakit?, aku malah membiarkannya sendirian, dimana aku saat dia butuh aku De??!!!. Dimana!!?,aku malah meninggalkannya, menghianatinya dan menyakiti hatinya.!!". Ocehku tak karuan.
Dea tidak bisa berkata apapun, dia memelukku sambil menangis, mungkin Dea juga merasakan hal yg sama denganku. Perasaan bersalah yang teramat dalam.
* * *
Gerimis mengguyur pemakaman Karin, seolah langitpun ikut menangisi kepergian Karinku, Karin tidak sempat mengatakan apapun padaku, ia hanya meninggalkan surat
untukku yang di titipkan pada tante Mirna mamanya.
Sayangku Ega...,
Meninggalkanmu sendiri adalah hal yang paling menyakitkan dalam hidupku, melebihi sakitku karena leukimia ini.
Maafkan aku tidak memberi taumu tentang keadaanku, karena aku tidak mau ega ku jadi lemah dan rapuh.
Saat aku mengetahui keadaanku yang menderita leukimia dan dokter memvonis bahwa hidupku tidak lama lagi,
yang kupikirkan adalah bagaimana meninggalkanmua dengan tenang agar kau tidak terlalu hancur saat kutinggalkan.
Maka aku mengenalkanmu dengan dea, dia adalah sahabat baikku, aku yakin dia mampu membuatmu bahagia dan kuat.
Aku tak ingin kepergianku membuatmu terlalu sedih dan jatuh, karena kau begitu mencintaiku.
Jadikanlah dea orang lain yang kau cintai dan kau sayangi selain aku. Jangan jadikan dea sebagai penggantiku,tapi
jadikanlah dia orang yang sudah menepati satu posisi istimewa di hatimu,
Ega,aku mencintaimu 1000x lipat dari jumlah bintang di langit, begitu besar cintaku padamu.
AKU SANGAT MENYAYANGIMU...,
sayangmu Karin..,
Aku terus menyesal dan merasa bersalah karena aku meninggalkan Karin. Saat dia membutuhkan ku, aku malah menduakan cintanya dan menhiatanatinya. aku tidak biss berbagi penderitaan yang ia alami.
"Karin,maafka aku !, walau ku tau seribu kali maaf pun tidak mampu menebus kesalahanku padamu, tapi aku sangat menyesal Karin, aku teramat sangat menyesal.
Maafkan aku karin, maafkan aku!! ". Ratapku di makam karin.Dea duduk di sampingku memegang tangan ku sambil menatapku.
"Karin,maafkan aku !!. Ucapku sekali lagi.
*****TAMAT*****
dikirim miaa 1 year 20 minggu yang laluTag:







