RATAPAN ANAK TIRI

53
points

Rani menatap sahabatnya lekat-lekat. Ada rasa iba terpancar dari matanya saat menyaksikan Santi - sahabat karibnya - yang kini telah berubah. Santi yang sekarang bukan lagi Santi yang dulu. Santi yang sekarang adalah Santi yang pemurung, emosional, selalu berwajah cemberut dengan tatapan mata kosong. Sangat berbeda dengan beberapa bulan sebelumnya. Dulu, Santi adalah gadis yang periang, selalu tampil ceria, penuh dengan canda dan tawa. Wajah innocentnya selalu membuat Rani tidak kuasa untuk tidak mencubit pipinya.

"San, baksonya gak dihabisin?" Rani menatap sahabatnya lekat-lekat. Mereka bertemu di kantin sekolah saat jam istirahat. Bakso adalah makanan favorit Santi. Namun entah mengapa, hanya beberapa suap saja yang masuk ke dalam perut Santi. Selebihnya, Santi hanya mengaduk-aduk bakso tersebut dan menatapnya dengan tatapan yang kosong.

Rani menarik nafas panjang, mencoba menghalau sesak di dadanya. Ia bisa mengerti kenapa Santi sampai berubah seperti saat ini. Perpisahan telah membuat jiwa Santi rapuh. Rasa kehilangan telah menyisakan air mata dan kesedihan.

"San..." Dengan hati-hati, Rani menyentuh tangan Santi. Dan dengan enggan, Santi menatap sahabatnya itu.

"Aku tahu apa yang kamu rasakan. Rasa kehilangan itu memang menyakitkan." Ditatapnya mata Santi. Rani bisa melihat dalam mata Santi terlukis beban yang begitu berat.

"Ikhlaskan saja, San. Biar arwah ibumu tenang di alam sana," dengan sangat hati-hati Rani mengucapkan kata-katanya, takut menyinggung perasaan sahabatnya itu. Sementara Santi hanya diam sambil terus mengaduk-aduk mangkok baksonya.

"Aku ikhlas, Ran. Aku juga sadar bahwa kita tidak bisa melawan takdir Yang Maha Kuasa," kata Santi lirih.

"Kalau kamu ikhlas, kenapa kamu jadi murung?"

"Aku sudah mengikhlaskan kepergian ibuku, Ran. Bukan karena itu aku jadi murung," jawab Santi pelan.

Rani tersenyum. Ada rasa lega saat mengetahui bahwa Santi telah merelakan kepergian ibunya yang meninggal karena sakit jantung beberapa bulan yang lalu. Tapi ada satu tanya dalam benaknya. Kenapa Santi murung? Sejenak berpikir, Rani pun tersenyum.

"Kamu murung karena ibu tirimu?" terka Rani. Santi berhenti mengaduk-aduk mangkok baksonya, kemudian matanya menatap wajah Rani. Pelahan ia mengangguk lemah.

"Kamu belum bisa menerima kehadirannya?"

"Bukan itu."

"Jangan-jangan ..." Rani menggantung kata-katanya. "Kamu sering disiksa oleh ibu tirimu, yah?" selidiknya.

"Enggak. Aku tidak pernah diapa-apain oleh ibu tiriku." Santi menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Terus, kenapa kamu murung?" tanya Rani penasaran.

"Be-te," jawab Santi pendek. Rani terperangah mendengar jawaban Santi.

"Be-te kenapa, San?"

"Ibu tiriku baik banget sama aku, juga sama adik-adikku. Ibu tiriku gak pernah mukulin aku, gak pernah nyakitin aku. Pokoknya ibu tiriku tuh baiiikkkkk banget ama aku. Sayaaannggg banget ama aku."

"Trus."

"Ya, gitu deh. Aku jadinya kan be-te. Soalnya ibu tiriku gak sama dengan yang ada di sinetron. Kalo di sinetron, ibu tiri tuh kan jahaattt banget. Sering main pukul, nyiksa anak-anaknya, gak mau ngasih makan anak-anaknya. Pokoknya jahat abis. Lha, kalo ibu tiriku malah sebaliknya. Gak asik banget, deh."

Rani hanya melongo sambil menatap sahabatnya berlalu dari hadapannya.

Purwokerto, 28 Agustus 2008

Your rating: None Average: 7.6 (7 votes)
dikirim moesafeer 12 minggu 1 hari yang lalu
Tag: