Aku masih berdiri di tepi pantai ini. Sendiri. Aku berdiri menghadap lautan. Memandangi riak dan ombak yang berlarian menyentuh pasir pantai. Menatapi langit biru yang perlahan mulai menghitam. Menyoroti garis cakrawala yang seolah-olah menyentuh langit. Langit yang jauh. Langit yang tak tersentuh. Langit atas bawah, langit bawah atas; langit yang tak berwatas.
Jemari laut pelan menggelitik tubuh pantai sepi yang berbisik. Barangkali berbisik tentang manusia, tentang hewan, tentang tumbuhan, tentang langit, atau tentang laut yang cinta kepadanya. Barangkali tentang lekuk-lekuk tubuh indahnya. Barangkali tentang pasir basah setelah sentuhan-sentuhan laut yang datang dengan sengaja atau diam-diam, kemudian pergi meninggalkan cinderamata dari negeri seberang. Atau bisa jadi, tentang seorang lelaki yang sejak tadi berdiri sendirian. Lelaki yang sejak satu jam lalu tak beranjak dari tempatnya berdiri. Lelaki yang mengenang sesuatu. Lelaki dari masa lalu. Aku...
"Cinta tidak harus memiliki". Itu kata-kata terakhir yang kuingat sebelum Senja pergi meninggalkan aku. Tentu saja aku membantah kata-kata itu. Aku menolak keras dan tidak terima. Aku marah, kesal tak kepalang. Kata-kata yang sebenarnya lebih pantas ditujukan kepada orang yang putus asa. Kata-kata bagi orang yang kalah perang dalam memperjuangkan cintanya. Harusnya dia megucapkan kata-kata seperti ini: "Cinta harus memiliki". Kata-kata ini akan menimbulkan gairah. Kata-kata ini akan memunculkan semangat baru dalam hati seorang kekasih. Semangat juang untuk bisa saling memiliki. Semangat menuju cinta sejati, sampai mati.
Tetapi apa mau dikata, Senja telah pergi dan berlalu. Senja pergi meninggalkan kenangan yang tak mudah kulupakan. Senja meninggalkan aku. Senja telah menghitam. Memunculkan bayang-bayang keraguan pada dada malam. Kegelapan merupakan sosok hantu yang paling menakutkan. Aku tidak suka kegelapan, sebab gelap itu berkawan dengan malam. Malam itu sunyi. Sunyi itu sendiri. Aku tidak mau sendiri...
Di pantai ini, aku berkawan dengan senja yang lain. Senja yang jingga. Senja yang membenamkan cahaya. Senja yang menelan matahari. Senja yang selalu datang setiap hari. Senja ini akan terus hidup sampai aku berakhir. Senja ini akan setia menemani kesendirianku. Senja yang abadi dan, aku yang tetap menjadi Sunyi.
(Balikpapan, 01 Maret 2007)
dikirim moyank 1 year 38 minggu yang laluTag:







