Pantai memang selalu jadi simbol ketenangan bagiku. Dimana indera visualku bisa melihat jelas wajah sebagian bumi tempatku berpijak. Benar-benar sempurna cara kita memandang dunia saat kau berada di pantai. Sama indahnya saat kau naik ke bukit dan memandang lepas ke depan. Agung sungguh alam raya ini.
Aku pernah berjalan dengan kamu di pantai penuh pasir. Dengan kaki telanjang berhiaskan pasir pantai yang sesekali basah oleh percikan air ombak. Dan tiba-tiba kita berada di bibir pantai tanpa sengaja.
"Kamu tau kenapa pasir tidak pernah menyatu luluh dengan air laut?"
"Jelas tidak bisa. Dan tidak akan bisa sampai kapanpun." Aku menjawab lepas.
Kau tersenyum megah dan sedikit merona. Matamu bergerak kearah pantai sambil sesekali melihat kearahku. Tersenyum.
"Kau akan tau jawabnya saat kita tidak lagi bersama."
Aku terkesima dan mulai bertanya lantang.
"Maksudmu?!"
"Nanti kau akan tau jawabnya." Katamu semakin berpolah.
Aku mulai bingung dan berkali-kali menanyakan maksud kata-kata kamu tadi. Tapi percuma, kau malah berlalu sambil mengalihkan perhatianku kearah awan menggantung di atas pantai. Menurutmu awan itu berbentuk wajah bidadari. Tapi bagiku malah seperti tomat tak beraturan. Sampai akhirnya perhatianku beralih ke bentuk awan untuk berdebat. Dan kau berhasil membuatku beralih perhatian. Dasar kamu! Satu pertemuan terakhir sebelum kamu berangkat ke Denpasar.
----------------------------------------------------------
I hate Monday. Sungguh, hari Senin memang selalu jadi hal yang membosankan. Seolah mengawali suatu aktfitas setelah 20 tahun berlalu. Malas dan hampir semuanya klise. Semua terasa sekali saat aku memegang sikat gigi dan menaruh pasta gigi di atasnya. Dan aku mulai teringat kamu lagi. Sudah seminggu ini Hp kamu sulit dihubungi. Saat aku telpon kantor, mereka menjawab kalo kamu lagi cuti. Hambar. Untunglah mandiku cepat selesai.
Pintu kamar diketuk justru saat aku sedang menyisir rambut cepakku. Wah, lengkap sudah kebencianku pada hari Senin. Dengan malas aku membuka pintuku.
"Mas, ada yang nyari di depan." Kata pembantuku
Tuh kan? Siapa juga pagi-pagi gini udah bertamu ke rumah orang. Apa nggak ada kerjaan lain memang tuh orang. Sungguh menyebalkan. Aku mulai berdialog dalam hati.
"Iya bik. Nanti aku ke depan." Kataku singkat.
Di teras depan berdiri seorang pemuda berusia 20an tahun. Duduk membelakangi pintu depan, dan segera berbalik saat aku menyapanya.
"Ada apa ya, dik?" Kataku singkat.
Pemuda itu balik menyapa dan memperlihatkan sesutu di tangannya.
"Saya Raka mas. Sepupunya mbak Dayu." Katanya datar.
"Oh, kamu yang kuliah di UPN itu ya?" Kataku bersemangat. Berpikir sebentar dan sekalian mencari jawaban kenapa HP Dayu nggak bisa dihubungi.
"Mbak dayu, mas... " Katanya terputus.
"Kenapa dik?" Kataku makin penasaran.
"Mbak Dayu sudah meninggal. Jam satu sore kemarin." Katanya datar.
Aku terhenyak lemas tanpa sanggup berkata apa-apa lagi. Bumiku terguncang hebat tapi kakiku serasa melayang 20 cm di atas tanah. Ada apa ini? Aku hanya bingung tapi tidak sempat menangis. Yang aku ingat hanya wajah Dayu saat itu.
"Dia sakit gagal ginjal mas." Raka berkata lagi.
Aku tak sempat menjawab lagi. Diam dengan pandangan kosong. Dan aku mulai sadar saat raka menyerahkan ipod MP4.
"Mbak Dayu menitipkan ini buat mas."
----------------------------------------------------------
Aku tiba di tanah pekuburan sebuah daerah di kota Semarang. Di depanku masih terlihat urukan tanah merah bercampur taburan bunga. Sangat lengang dan aku sendirian disana. Hambar kembali. Bahkan burungpun tak berani berkicau di tempat ini. Kehadiranku membuat mereka berempati dan mengalah untuk terbang ke pohon lain. Tapi tetap tidak berkicau.
Baru setelah aku bersimpuh dihadapan makamnya aku menangis hebat. Tangisan pertama setelah 3 tahun sejak meninggalnya ayahku. Sama histerisnya bahkan lebih mengiris lagi. Aku menggenggam tanah merah di depanku. Aku menangis lagi bahkan lupa dengan prinsip leluhurku yang selalu menabukan lelaki yang menangis. Tapi aku tidak peduli. Aku menangis sampai aku merasa cukup.
Aku meraih ipod MP4 di kantongku dan memutar rekaman video di dalamnya. Ada wajah Dayu disana, berbaju biru baby blue yang selalu dia banggakan tiap kali jalan-jalan ke pantai. Cantik sekali dia. Dan aku terhenyak hebat.
"Mas, kamu menangis ya?." Katanya berhenti sebentar.
Aku terkejut seolah dia tau sekali kejadian sekarang ini. dan aku mengusap air mataku.
"Kamu tau kenapa pasir tidak pernah menyatu luluh dengan air laut?" Katanya lagi.
"Karena pasir adalah pasir yang tidak akan pernah mencair sampai kapanpun. Dan air juga tak akan pernah jadi pasir. Selalu ada batas antara mereka. Coba kamu lihat bibir pantai. Selalu tampak jelas batasnya." Dayu berkata tanpa menghentikan senyum di bibir mungilnya. Senyum yang seolah tanpa batas.
Aku berpikir keras menemukan hubungannya. Sangat membingungkan maksudnya dan aku gagal menemukan jawabnya.
Aku memutuskan melihat rekaman itu lagi.
"Akulah air laut dan kamu pasir pantainya. Aku tetap tak bisa lama bersentuhan dengan pasir karena matahari sudah membuatku mengering saat air membasahi pasir. Itulah aku mas. Akus sudah dimiliki matahari sejak lima tahun lalu. Sama seperti sakitku. Ajalku sudah ditentukan dokter sejak 5 tahun yang lalu. Dan benar saja, hanya meleset 3 hari dari pekiraan." Wajah Dayu mulai sayu dan air mata menetes deras di pipi merah jambunya.
Aku terhenyak lagi dan menutup rekaman wajah itu karena aku menemukan jawabannya. Dan aku menyalahi prinsip leluhurku kembali. Menangis lagi dan tetap bersimpuh di depan makam bertanah merah Dayu.
**********************************************************
(Jogja, 04 Oct 2007)
dikirim mr.jay 1 year 7 minggu yang laluTag:







