Finding Lea ( cerita tentang hujan)

33
points

Hujan kali ini begitu deras, sesekali petir memecah langit dengan kilatan listrik maha dahsyatnya. Ini bulan Februari tapi sisa – sisa musim penghujan masih belum sepenuhnya hilang. Seperti biasa kalau hujan turun aku memilih seharian di kamar, membaca buku atau sekedar berebahan menikmati tak tik tak tik irama hujan yang menimpa kaca jendela. Udara dingin menembus pori – pori dinding kamar membuatku memilih untuk bersembunyi di balik selimut tebal. Entah, kali ini aku merasa begitu takut dengan hujan diluar.

Berpuluh minggu lalu dalam hujan seperti ini, di jam begini, dia ada disini dalam kamar ini menemaniku menghilangkan pengaruh udara dingin yang menusuk – nusuk tulang. Membicarakan tentang semua yang kami suka, termasuk hari itu, cerita tentang perasaannya pada seorang gadis bernama Lea, gadis yang dikenalnya di dalam bus secara tidak sengaja. Matanya berbinar tiap kali mengucap nama gadis itu, semburat dari rasa kekaguman atas keindahan makhluk Tuhan. Pertemuannya dengan Lea hanya sebatas berkenalan, tidak lebih dua kali bertemu di bus yang sama saat berangkat kerja. Bahkan diapun tidak tahu itu nama sebenarnya atau bukan. Sesingkat itu saja dia mengakui mengalami apa yang dinamakan cinta. Terlalu berlebihan buatku, tapi dia tetap teguh dengan pernyataannya, bahwa dia jatuh cinta, pada Lea. Setelah dua kali bertemu, Lea menghilang tidak berbekas, menguap hanya meninggalkan nama, tanpa alamat rumah, tempat kerja, nomor telepon atau apapun. Dengan seksama aku mendengar cerita tentang semua apa yang dia suka, dan saat itu semua yang dia suka hanaya tentang gadis bernama Lea.
Sementara tiba giliran aku bercerita, hanya berkisar tentang beberapa jenis musik yang sedang kusukai, buku yang sedang kubaca dana apa yang kulihat saat berjalan – jalan menyusuri trotoar tanpa dia. Tidak ada yang menarik dari ceritaku hari itu.

*****

Pada hari hujan berikutnya, kami masih tetap melewatinya berdua mengobrol seperti biasa, dengan ceritanya yang tetap sama. Lea, Lea, dan Lea. Kali itu dia merencanakan sesuatu, melakukan pencarian demi bertemu dengan gadis misteriusnya. Sudah hampir dua minggu dari pertemuan terakhirnya, tapi gadis itu belum muncul kembali di bus yang biasa mereka bertemu. Semangatnya begitu besar dan bicaranya berapi – api saat menyusun rencana pencariannya itu, yang tentu saja kudukung dengan spirit penuh. Aku bicara padanya tentang kegiatan baruku, menganimasikan gambar – gambar yang kubuat menjadi e-comic. Tapi animasi atau yang semacam itu bukanlah bidangnya, jadi kurasa aku hanya membuang waktu bercerita mengenai hal yang tidak dimengertinya. Lalu kuputuskan untuk membicarakan Ester Drang, band yang agak kulupakan karena kehilangan original DVDnya. Dan baru teringat saat membaca tag di sebuah situs musik, thank god dia merespon pembahasanku dengan sempurna.

*****

Lain hari tetap saja hujan, dia menelponku bertanya apa aku ada di rumah, pertanda ingin berbagi cerita lagi. Tidak lama dia sudah muncul di depan pintu rumah kontrakanku, yah karena rumah kami berjarak 20 meter saja. Seperti biasa, kepalanya muncul di balik tudung jamper tebal yang sedikit basah. Ada sesuatu dengan jamper itu yang aku suka, sangat suka, tapi entah sesuatu itu apa.
Dan ceritanya dimulai saat duduk bersandar dalam kamarku. Sudah berhari – hari dia menunggu pujaannya muncul. Ah, ini tentang gadis itu lagi, menurutku ada sesuatu yang istimewa pada diri si Lea yang diharapkannya itu. Bagaimana mungkin hanya dengan dua kali pertemuan dia bisa merasakan sesuatu yang lain dalam hatinya. Ini membuatku bertanya – tanya juga, apa yang disukainya dari si gadis misterius karena tidak ada yang lain dalam kepalanya selain Lea. Aku tertawa saja ketika mendengar rencana – rencana yang dibuatnya jika suatu saat mereka bisa bertemu. Terlalu pagi untuk membayangkan apalagi merencanakan sesuatu yang belum tentu bias terjadi. Oh Lea, kalau kamu tahu ada pemuda disini yang begitu terobsesi denganmu….aku yakin entah dimana, seorang gadis mengisi hari – harinya dengan umpatan – umpatan kesal karena terlalu sering tersandung saat berjalan, menggigit lidah sendiri saat makan, atau mengalami kerontokan bulu mata. Memang sih itu Cuma sebagian dari mitos, tapi mungkin saja memang terjadi.
Dia terbahak – bahak saat aku mengambil buku gambar dan coba memvisualkan seperti apa wajah orang yang mengisi tiap sel – sel saraf di otaknya.
Aku suka saat hujan karena mampu memunculkan ide – ide konyol yang mampu membawa hangat suasana.

*****

Musim hujan belum berlalu, beberapa bulan dia tidak menampakkan diri di depanku, untuk sekedar berbagi cerita atau menemaniku di kamar. Mungkin dia sedang sibuk dengan pekerjaan atau teman – temannya yang lain. Bagiku tidak biasanya dia menghilang begitu saja, sesibuk apapun dia pasti menyempatkan diri mampir ke kontrakanku, mengajak makan diluar dan menemani aku jalan – jalan saat hari tidak hujan. SMS atau telepon darinyapun tidak ada sama sekali, benar – benar sesuatu yang tidak biasa.

Pertama kali dia muncul lagi, hujan hanya gerimis , udara tidak begitu dingin malah cenderung gerah dan panas. Masih di tempat yang sama, dan masih tentang Lea. Untuk hari itu, matanya tidak lagi bersinar seperti sebelumnya, terdengar sendu dan sering menghela napas putus asa. Usahanya tidak membuahkan hasil apapun,. Tiap bus yang ditumpanginya, tiap tempat yang dilaluinya tidak ada Lea disana. Namun dia tidak berkata menyerah, Cuma pasrah pada takdir. Dia percaya suatu saat nanti akan bertemu gadis itu kembali walaupun tidak didalam bus. Dia yakin Tuhan tidak akan mensia – siakan perasaan cinta yang tumbuh dalam dirinya hilang begitu saja.
Setelah sekian lama, masih saja tentang Lea.
Aku memamerkan padanya buku yang baru saja kubeli di pasar loak, buku lama tentang teori probability. Kemungkinan adalah matematik, penuh angka – angka dan berdasarkan perhitungan yang rumit. Entah kenapa aku begitu menyemangatinya hari itu, menghitung kemungkinan dia akan bertemu dengan gadis yang dicintainya saat itu, diluar konteks takdir tentunya. Karena menurutku takdir sangat jauh letaknya dari probabilitiy. Takdir adalah pasti, sedangkan kemungkinan adalah tidak pasti.

*****

Suatu sore saat hujan baru saja berhenti, titik – titik air mengembun di kaca jendelaku. Walaupun udara agak dingin aku memaksakan diri untuk mandi, alhasil badanku seakan mati rasa karena kedinginan. Setelah berganti baju aku duduk bersila didepan computer, kembali sibuk dengan action script dan segala macam tutorial aneh yang sebenarnya membuatku pusing.
Dia datang, dengan tudung jamper menutupi kepalanya berdiri didepan pintu, tanpa bicara hanya tersenyum menyapaku. Dan yah, aku harus mempersiapkan telinga menjadi pendengar yang baik untuk sahabatku itu.
Kalimat pertama yang muncul dari mulutnya adalah bahwa dia ingin melupakan gadis itu. Aku terhenyak sesaat, ada yang aneh dengan pernyataannya. Masih kuingat jelas beberapa minggu yang lalu dia berkata tidak akan menyerah dengan Lea, menunggu takdir mempertemukan mereka. Lalu setelah semua usaha, harapan dan rencana – rencana yang mengisi bulan – bulan terakhir ini dia memutuskan untuk membuangnya begitu saja ?? kuperhatikan dia tidak sedang mabuk atau mengigau, sadar sepenuhnya. Dia hanya merasa lelah menghbiskan waktu untuk sesuatu yang dia sendiripun tidak tahu ujungnya. Kutepuk pundaknya pertanda ikut bersedih, namun tiba – tiba saja dia mendorongku lembut, memojokkanku ke tembok dingin kamar itu. Sorot matanya tajam menatapku, tersenyum lagi sambil merapatkan tubuhnya.
Mulutku terdiam tidak tahu harus berkata atau bertanya apa. Dia memelukku erat, bibirnya mengecup lembut kupingku dan samar terdengar dia berbisik, oh bukan…dia bernyanyi …’I wanna f**k you like an animal….’ Suaranya lirih, terdengar sangat seksi dan menggoda, seribu kali lebih seksi dari suara Reznor.
Lalu aku bertanya “bagaimana dengan Lea…?”
Dia menjawab, “untuk sekarang, lupakan Lea..”
Aku sudah bisa memastikan sesuatu akan terjadi malam itu. Munafik sekali beberapa waktu lalu aku mengatakan jangan menyerah mencari Lea, sementara hari itu di kamar yang sama aku sangat menyukai belaian tangan dan lumatan bibirnya.
Peduli setan saat aku mengatakan tentang teori probability karena aku begitu menikmati saat dia melakukan penetrasi, memasukiku dan mengusir dingin yang sedari sore kurasakan.
Dan hujan turun lagi perlahan, untuk pertama kalinya kami bercumbu semalaman, tidak peduli dengan cerita apapun yang pernah mengalir di kamar ini. Aku tidak mencintainya, aku hanya menyukainya, suka semua yang ada pada dirinya. Terlalu berlebihan untuk bilang cinta. Tidak peduli apakah dia juga suka atau cinta atau tidak keduanya. Sial ! aku sangat menyukai saat bercinta dengannya. Terlebih mengetahui dia sudah melupakan Lea. Sejak malam itu, tiap kali dia datang di hari hujan, bukan lagi untuk melanjutkan cerita tentang gadis misterius itu. Dia datang untuk aku, hanya aku dan kamarku.
Oh, betapa aku mencintai hujan karena mampu membuat otak berjalan di luar control motoriknya.

*****

Beberapa waktu berlalu sampai pagi hari di bulan januari, cuaca terang tanpa mendung sedikitpun. Sudah seminggu dia tidak datang atau menghubungiku, pasti sibuk dengan pekerjaan atau teman – temannya, apalagi..??
Aku mengunci pintu kamar, bersiap untuk berangkat kerja tapi saat berbalik badan seseorang mengejutkan dengan kemunculannya yang tiba – tiba, berdiri di belakangku. Dia berdiri menatapku tanpa senyum, lagi – lagi tidak seperti biasa, matanya menyiratkan sesuatu sedang terjadi. Sesuatu yang besar dan mengejutkan.
Dan benar saja, pelan dan hampir tidak bias kudengar dia mengatakan bahwa gadis itu telah ditemukan, tanpa disengaja malam sebelumnya di sebuah acara amal yang diselenggarakan instansi tempatnya bekerja.
Jujur saja aku tidak bias berkata apa – apa selain diam. Ini tentang rasa cintanya lagi, tidak ada hubungannya sama sekali denganku. Cinta masih diatas suka, jadi Lea masih selalu ada lebih dari aku dalam hidupnya. Hubunganku dengan dia tidak lebih dari rasa suka, aku sadar itu, tidak ada ikatan tidak juga komitmen atau apapun. Skin to skin, hanya itu. Jika semua ini tentang Lea, aku bisa apa ? tersenyum pasrah berpura – pura tidak pernah terjadi apapun dan bekata turut senang.

*****

Berhari – hari aku mengurung diri di kamar setelah kejadian itu, berusaha tidak berhubungan dengan manusia manapun, kecuali dia yang tiap kali dating atau menelpon isinya hanya maaf, maaf, dan maaf. Dan untuk kesekian kali aku memaafkannya.
Ok, aku manusia biasa, aku perempuan, dan aku menyukainya lalu bercinta dengannya. Lalu muncul gadis aneh dari antah berantah yang notabene adalah gadis impian yang dicari – carinya setelah sempat menghilang beberapa lama. Alangkah brengseknya !
Lebih brengsek dan munafik lagi aku bersikap pasrah melepas dan merelakannya memilih gadis itu setelah semua yang terjadi antara aku dan dia. Dan ini semua karena gadis aneh bernama Lea, entah aku sendiripun tidak tahu seperti apa bentuknya.
Ok, perempuan itu berhasil menyakiti dan menghancurkanku. Memang dia penyebab semua ini, apa istimewanya Lea dibanding aku ? aku mengenalnya bertahun – tahun, sedang Lea hanya beberapa jam saja, tidak mungkin gadis itu mampu mengerti apa yang di sukai sahabatku itu ketimbang aku…??!
Aku ingin bertemu gadis itu segera ! sumpah!! Aku ingin menyumpahinya. Jika pertemuan mereka adalah sebuah kemungkinan yang mendapat jawaban ‘iya’ maka itu adalah kemungkinan paling konyol yang pernah terjadi, karena hidup tidak sesimple film atau sinetron yang di akhir cerita selalu mempersatukan jiwa – jiwa yang terpisah.

*****

Pagi itu adalah tiga hari lalu.
Aku duduk di ayunan kayu di arena taman bermain anak – anak, duduk menunggu. Akhirnya dia datang bersama seseorang. Aku agak ragu, dia memperkenalkan orang disampingnya, dari sikapnya seolah sudah akrab dengan orang itu bertahun – tahun. Mataku tertumbuk pada orang didepanku, seorang gadis, wajahnya tidak cantik, tapi garis wajahnya tampak lembut dan keibuan. Rambutnya lurus sebahu memakai blus warna putih berenda dan rok biru pucat berbunga – bunga kecil.
Aku terpaku, dia gadis yang biasa saja, setelah aku menyebutkan nama senyumnya menyambut, lalu berkata dengan ‘aaa….’ dengan terpatah – patah dan pengucapan tidak jelas. Tangannya bergerak – gerak aneh nada suaranya tertahan dalam tenggorokan. Perlahan tubuhku bergetar dibuatnya, tidak mampu mengatakan apapun lagi. Inikah Lea yang dia kagumi, dia cintai dan dia cari selama ini….
Dadaku sungguh sesak, segala pikiran burukku tentang gadis itu tiba – tiba lenyap saat senyum ramah itu mengembang. Aku tidak tahu apa yang membuat dia mencintai Lea, seorang gadis bisu dengan senyum bersahaja. Menyebut nama sendiripun gadis itu tidak bisa, tapi untuk tersenyum ramah pada orang yang belum dikenalnya seperti aku ia mampu, terasa sangat polos dan tulus.

Lea, gadis bisu itu adalah guru di sebuah yayasan tuna rungu. Dia mencintai Lea, tidak peduli jika Lea tidak bisa menyebuit namanya sekalipun, ternyata dari awal bertemu dia sudah tahu itu.
Dan aku, menyakitkan mengetahui orang yang kusukai memilih mencintai perempuan yang ternyata tidak sesempurna aku.
Takdir sudah mempertemukan mereka, dari jalan yang serba tidak sengaja, tanpa pencarianpun akhirnya dia menemukan Lea.

*****

Aku terbangun dari lamunan panjangku, memandang sekeliling kamar tetap sambil berebahan di ranjang. Lalu mataku menangkap benda berkilat di atas meja, disamping komputerku. Sebuah pisau dapur kecil yang sudah kupersiapkan berhari – hari demi menyambut seorang gadis impian sahabatku, tergeletak disana. Pisau itu sudah kehilangan ketajaman instingnya hanya karena gadis yang diinginkannya itu tidak akan mampu meratap, merintih dan mengerang kesakitan dengan sempurna.
Sungguh sebuah ironi, pisau yang kehilangan fungsinya hanya akan menjadi sampah…
Suara hujan diluar menderu, kilat menyambar – nyambar tidak mau berhenti seolah sedang marah dan murka karena aku dan pisau diatas mejaku tidak lagi mendengar bisikan sucinya.
Aku semakin rapat bersembunyi di balik selimut tebalku, ketakutan…!

*****

Your rating: None Average: 6.6 (5 votes)
dikirim my steReopain 11 minggu 5 hari yang lalu
Tag: