Hari sudah mendung dari tadi siang, namun hujan tak juga turun. Gerimis kecil pun tidak. Hanya angin dingin yang perlahan terasa mulai menyelimuti udara.
Dari sebuah payung, menjadi cerita yang menawan.
Dari setitik gerimis, menjadi kisah yang menarik.
Aq ga bisa kasih kritik untuk cerita sebagus ini.
Great..
Hmmm...bagus juga ceritanya ...ngomong 2 penulis cerpen nich ... suka nulis novel juga dunk ....puisi juga gak ....hmm...sekali - kali nangkring dunk di blogku http://diningrat.wordpress.com...oke ..
gw liat cerita dari sudut s'orang anak kecil (Rama) yang berharap pada sesuatu... hingga klimaksnya ia tidak mendpatkan apa yg ia inginkan... impian-impian yg sirna gw rasa banyak di alami oleh anak-anak jalanan spt dia, bukan cuma kehilangan moment "hujan" tapi jg moment2 lain yg lebih berdampak jangka panjang.. hmm.. btw nice job, soal pengamen = pengemis (versi rama) no problemo, tiap orang punya persepsi tersendiri ttg profesi, dia bisa suka jadi pegawai atau sebaliknya.. no problemo!
sederhana tapi ada emosinya, tapi gw ga setuju kata gerombolan karena konotasinya kurang pas buat seorang rama kecil sama kata pengamen adalah pengemis ( gw pengamen ). banyak latar belakang sosial kenapa gw ( pengamen ) harus lakuin itu. tapi disini gw bukan bisnis kayak rama tapi jualan seni. mengamen menurut gw adalah hiburan paling sportip yg gw tau ( penganmen yg bener2 mengamen ) karena bayarannya akan sesuai dengan apa yg dia lakukan ( menghibur ), terlepas dari kata kasihan. cerita lu bagus, tapi kalo bisa gw kasih saran coba lu keluar dari kotak caturnya, liat dari 4 sisi yg berbeda.
Ah... hidup itu susah ya... anak sekecil rama n amat aja harus berjuang dgn segala ketakpastian untuk menyambung hidupnya... ceritanya bagus buat introspeksi diri... udah cukup bersyukur ngga sih kita selama ini?
Tiva...sekali lagi ada yang kamu usik setiap kali aku habis membaca cerpenmu...
Tegarnya mereka, Tiv...Rama dan Amat...
Kau sampaikan nelangsa mereka tanpa perlumendayu-dayu..
Btw, aku suka banget akhirnya =“Besok hujan akan turun†kata Rama.
“Besok hujan akan turun†jawab Amat,
dan keduanya berjalan pulang beriringan, diam dengan pikiran masing-masing.
Cerpenmu yang ini bagus, menyentuh sekali. Hampir sama dengan cerpenku yang dimuat oleh TANDA BACA. Temanya sama2 menceritakan kesengsaraan seorang anak pengemis... :D
Pastesan, cerpen ini menjadi familiar sekali, dengan nilai yang dikantongi sudah tinggi. Kereeeeeeennnnnnnnnnn... :)
Tiva, cerpenku yang baru posting itu, kasik komennya ya. Please Deh! :) :D
Cerpennya mengisahkan seseorang dan sedikit kisah hidupnya, namun aku agak bingung, tujuan akhirnya itu apa dan apa yg bs dipelajari.. tp bahasanya bagus deh :)
Hebat......... XD
dingin...
say nice onleh~
entah mengapa, saya justru lebih lelah membaca komentar yang begitu banyak daripada ceritanya.... ^^
(speechless)
Aku suka ceritamu ini. Mengambil potret seorang anak kecil pula, dan pengamatanmu juga sangat bagus, mengangkat yang terlewati.
Teruslah berkarya hingga hujan pun tiba!
aku suka endingnya
ending yang bagus
kalo endingnya gak kayak gitu
ceritanya gak bakal asik
stay keep to create your dream become words
cerita hidup harus penuh dengan kenyataan....tonjolin teruzzzz......chayoooooo.....
ceritanya menyentuh banget, pas musim hujan gini, jadi inget cerita ini di kemudian.com
judul yang digunakan bagus,cukup untuk menarik orang untk membacanya,gaya penulisan juga menarik jadinya orang nggak bosen membasa cerpen mu
sebuah cerita yang berupaya punya "sesuatu" asyik!
nggak mungkin nggak lah. lama juga nggak baca tulisan-tulisan seperti ini
Dari sebuah payung, menjadi cerita yang menawan.
Dari setitik gerimis, menjadi kisah yang menarik.
Aq ga bisa kasih kritik untuk cerita sebagus ini.
Great..
Hmmm...bagus juga ceritanya ...ngomong 2 penulis cerpen nich ... suka nulis novel juga dunk ....puisi juga gak ....hmm...sekali - kali nangkring dunk di blogku http://diningrat.wordpress.com...oke ..
baguss
setuju, kan?
(*_*)
Suka..endingnya gak basa basi...gak musti happy ending kan....jadi makin terasa membumi..
touching
Hujan memang selalu puitis
bagus bener ampe tersentuh ane... memang kerasa bangat kehidupan dunia aych
lucu...and jadi terharu bgini..baguss sih!
10 buat cerita kamu. ^_^
kasihan ya...
ada juga anak kecil yg susah payah kerja...
Siapa sih yang buat cerpen ini? bagus banget aku suka
gw liat cerita dari sudut s'orang anak kecil (Rama) yang berharap pada sesuatu... hingga klimaksnya ia tidak mendpatkan apa yg ia inginkan... impian-impian yg sirna gw rasa banyak di alami oleh anak-anak jalanan spt dia, bukan cuma kehilangan moment "hujan" tapi jg moment2 lain yg lebih berdampak jangka panjang.. hmm.. btw nice job, soal pengamen = pengemis (versi rama) no problemo, tiap orang punya persepsi tersendiri ttg profesi, dia bisa suka jadi pegawai atau sebaliknya.. no problemo!
sederhana tapi ada emosinya, tapi gw ga setuju kata gerombolan karena konotasinya kurang pas buat seorang rama kecil sama kata pengamen adalah pengemis ( gw pengamen ). banyak latar belakang sosial kenapa gw ( pengamen ) harus lakuin itu. tapi disini gw bukan bisnis kayak rama tapi jualan seni. mengamen menurut gw adalah hiburan paling sportip yg gw tau ( penganmen yg bener2 mengamen ) karena bayarannya akan sesuai dengan apa yg dia lakukan ( menghibur ), terlepas dari kata kasihan. cerita lu bagus, tapi kalo bisa gw kasih saran coba lu keluar dari kotak caturnya, liat dari 4 sisi yg berbeda.
krok....krok rama coba pekihara kodok sebanyaknya
hujan... hujan...
ayo datang...
Rama, coba belajar tarian minta hujan,
nice. bahasanya oke banget tuh. seakan kmu tak perlu menguntit bahasa orang lain dan kmu telah berhasil show off ur own style. teruskan ceritanya.
Ah... hidup itu susah ya... anak sekecil rama n amat aja harus berjuang dgn segala ketakpastian untuk menyambung hidupnya... ceritanya bagus buat introspeksi diri... udah cukup bersyukur ngga sih kita selama ini?
hm,,temanya sederhana. Tapi penggarapannya lumayan ok,,,gaya bahasa yg digunain banyak metafora,,dua bintang buat tiva deh,,,,
aku bersimpati pada Rama...
lha kalo ng turun juga gimana? hehehe
Hebaaat!
sederhana tapi cukup menyentuh
meski pahit,anak-anak itu optimis banget.
Tiva...sekali lagi ada yang kamu usik setiap kali aku habis membaca cerpenmu...
Tegarnya mereka, Tiv...Rama dan Amat...
Kau sampaikan nelangsa mereka tanpa perlumendayu-dayu..
Btw, aku suka banget akhirnya =“Besok hujan akan turun†kata Rama.
“Besok hujan akan turun†jawab Amat,
dan keduanya berjalan pulang beriringan, diam dengan pikiran masing-masing.
sederhana tapi pasti ada cerita seperti ini dalam realita
aku setuju banget sama pembaca yang lain. cerita ini simple. pantes aja dapat nilai tinggi.
Just like utterly defeat the acid rain.
nice...
Sory ya... aku butuh point
Cerpenmu yang ini bagus, menyentuh sekali. Hampir sama dengan cerpenku yang dimuat oleh TANDA BACA. Temanya sama2 menceritakan kesengsaraan seorang anak pengemis... :D
Pastesan, cerpen ini menjadi familiar sekali, dengan nilai yang dikantongi sudah tinggi. Kereeeeeeennnnnnnnnnn... :)
Tiva, cerpenku yang baru posting itu, kasik komennya ya. Please Deh! :) :D
Yep, bahasanya bagus. Mungkin hanya memerlukan koreksi pemberian tanda baca di beberapa tempat.
Cerpennya mengisahkan seseorang dan sedikit kisah hidupnya, namun aku agak bingung, tujuan akhirnya itu apa dan apa yg bs dipelajari.. tp bahasanya bagus deh :)
*bagus*
kok bisa bikin cerita bagus gini ya?
asik ajah