Read more (1651 words) Mobil Tyas menepi di dekat warung kopi di daerah pegunungan yang akan dijadikan lokasi pengambilan gambar terakhir untuk stock shot proyek film dokumenter trio Ian, Zoe dan Fisca, mahasiswa FIKOM sebuah universitas swasta.
Mereka sempat mengurungkan niatnya karena siang itu cuaca nampak tak bersahabat. Sepertinya akan turun hujan. Tapi mau bagaimana lagi. Deadline sudah di ambang mata. Mereka cuma punya sisa tiga hari untuk editing dan finishing. Jadi, meski tanah di situ agak licin karena hujan semalam, mereka memaksakan diri.
“Hati-hati,” kata Tyas sambil mengulurkan tangannya pada Fisca saat mereka harus melalui jalan setapak menuju bukit yang licin.
“Gue bisa sendiri,” Fisca malah menepis tangan Tyas. Akibatnya, “Aaa....” Fisca terpeleset dan jatuh ke lembah yang agak dalam.
Mobil Tyas kini terparkir di puskesmas terdekat. Kaki Fisca terkilir dan tangan-kakinya lecet-lecet kena ranting tajam yang nakal.
“Mimpi apa gue semalem, sampe harus kayak gini,” keluh Fisca saat dipapah Ian dan Zoe ke mobili Tyas.
“Bandel sih, dibantuin nggak mau,” kata Tyas sambil membukakan pintu mobilnya.
“Shotingnya tetep jadi kan?” tanya Fisca pada kedua rekannya.
“Udahlah, kita berdua masih bisa kok,” tukas Ian. “Loe istirahat aja!”
Zoe sang kameramen mulai menjalankan tugasnya, mengambil gambar-gambar bagus sekitar pegunungan itu. Sesekali Ian yang berperan sebagai sutradara memberikan pengarahan bahkan sedikit bentakan saat Zoe melakukan kesalahan. Sementara itu, Fisca duduk di mobil ditemani Tyas.
Fisca merasa sangat jengah terus menerus bersama Tyas. Sepanjang hari itu, mereka menghabiskan waktu bersama. Bahkan selama seminggu terakhir ini. Saat Ian dan Zoe sibuk dengan pengambilan gambarnya, Fisca justru sibuk mencari cara agar dirinya bisa menghindar secara halus dari Tyas. Namun dia tak menyangka penghindarannya itu justru lebih mendekatkan dia pada Tyas. Kalau ada jalan lain, jelas Fisca tidak akan memilih jalan ini. Sayangnya, tidak ada lagi pilihan lain dan inilah jalan selamat satu-satunya.
Sebulan yang lalu, trio yang duduk satu kelas ini mendapat tugas dari dosennya untuk membuat film dokumenter bertema bebas. Satu-satunya kendala mereka adalah sarana dan prasarananya. Hal ini sempat menyulutkan konflik kecil diantara mereka. Penyulutnya adalah Ian yang cenderung tempramental.
“Ini udah detik-detik terakhir! Kita belum juga dapat pinjaman kamera!” sungut Ian pada kedua sahabatnya.
“Sabar dong, Ian,” kata Zoe menenangkan. “Kita juga bukannya nggak usaha. Segala cara udah kita lakuin buat bisa dapet pinjaman kamera, minimal handycam. Tapi, mungkin belum rezekinya kita.”
“Sebenernya ada satu cara lagi yang sebenarnya lebih mudah dan pasti, tapi ada seseorang yang berusaha menutupi cara ini karena alasan gengsi dan harga diri.” Cecar Ian dengan intonasi yang menekan dan memojokan seseorang.
“Loe lagi nyindir gue, Ian?” Fisca merasa. “Percuma gue kasih loe penjelasan. Loe nggak bakalan ngerti.”
“Penjelasan macam apa? Macam kata-kata harga diri, gengsi, atau cinta?”
“Ternyata cowok kayak loe cuma menang di otak aja, Ian. Hati loe nol gede.”
“Udah, udah! Emangnya dengan bertengkar kayak gini, kita bakalan bisa dapet pinjaman kamera.” Zoe berupaya melerai mereka dengan sikap kalemnya.
Ian benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Fisca. Perempuan yang hidup di zaman modern, namun masih tetap berparadigma naif.
“Gue nggak mau minta bantuan si Tyas,” kata Fisca setiap kali didesak Ian untuk mencari selamat atas kesulitan mereka. “Selama ini, dia terus ngejar gue, dan gue nggak pernah kasih dia respon apa-apa. Terus, tiba-tiba aja gue dateng ke dia, minta bantuan dan sok-sok baikin dia gitu? Hello, muka gue mau ditaro dimana?”
“Eloe terlalu ngerasa punya muka sih, gede kepala jadinya! Ya apa salahnya sih kita berbuat baik ke seseorang? Lagi pula, kita sistemnya simbiosis mutualisme aja kan? Kita butuh bantuan dia buat proyek film kita, dan dia butuh eloe buat nambah semangat hari-harinya. Please dong, Fis. Sekali ini aja loe lunakin hati loe. Apa susahnya sih loe nerima dia? Secara dia udah punya segalanya.”
“Eloe kalo ngomong, selain pake otak, pake hati bisa nggak sih? Loe kira semudah itu apa nerima cinta seseorang?! Gini nih kalo ngomong sama cowok yang nggak ngerti apa artinya cinta.”
“Ngerasa udah ngerti apa itu cinta?! Hari gini loe ngomongin cinta?! Kita tuh hidup bukan di jaman Cinderella atau Romeo and Juliette. Kita tuh sekarang hidup di jaman ‘Hari ini loe makan apa? Duit loe berapa? Mobil loe merek apa? Loe suka belanja di mana? Orang tua loe jabatannya apa? Loe lulusan universitas mana dan masa depan loe secerah apa?’. Sadar nggak sih, Loe?! Hidup sekarang ini nggak butuh sama yang namanya sekedar cinta. Memangnya loe bisa tinggal di rumah yang belinya pake cinta? Makan sesuatau yang terbuat dari cinta? Terus, kalo loe sakit atau kenapa-kenapa, loe dirawat di rumah sakit bayarnya pake cinta? Makan tuh cinta!”
“Loe ngomong apa sih, Ian? Kayaknya pembicaraan kita nggak perlu sampe ke situ deh. Kita lagi ngomongin tugas film dokumenter kan?!”
“Gue pikir udah cukup buang waktu, kita ngomongin tugas itu. Percuma terus diomongin juga kalo kita nggak kerja. Kita tau masalahnya apa dan kesulitan kita di mana. Dan kita juga tau jalan keluarnya ada di mana. Tapi gue nggak habis pikir sama loe, Fis! Kenapa satu-satunya jalan keluar itu loe nggak mau coba. Loe nggak mau sedikit berkorban. Bukan buat gue, tapi buat kita bertiga. Please, simpen dulu egois loe itu! Waktu terus berjalan dan deadline makin deket. Sementara kita cuma gini-gini aja.”
Fisca terdiam memikirkan kata-kata Ian. Sementara Ian tak bisa menahan dirinya untuk meninggalkan pertemuan mereka yang selalu nihil itu.
“Ian, gue udah ambil keputusan,” kata Fisca keesokan harinya saat mereka bertiga berkumpul kembali. “Ok, kalo emang itu jalan keluar satu-satunya, terpaksa gue coba lakuin itu. Demi kita bertiga. Bahkan besok kita udah siap shoting. Gue udah ngehubungin dia. Katanya, dia bersedia bantuin kita, minjemin alat-alat dari kantornya.”
Ternyata, bantuan Tyas memang lebih dari sekedar cukup. Bahkan Tyas menyempatkan diri mengantar mereka pergi ke tempat-tempat pengambilan gambar di tengah kesibukannya sebagai seorang general manager di sebuah perusahaan periklanan terkemuka.
Tyas bertemu dengan Fisca di sebuah acara casting bintang iklan pembersih wajah. Saat itu Fisca sedang menemani saudaranya yang menjadi salah satu peserta casting, sedangkan Tyas adalah utusan dari perusahaan iklan yang memantau acara tersebut. Benih-benih rasa pun tumbuh di hati Tyas. Namun tidak halnya dengan Fisca. Sejak pertemua itu, Tyas rajin menghubungi Fisca namun respon Fisca tidak terlalu hangat padanya. Pasalnya Fisca tengah kasmaran dengan seorang pemuda bernama Vito, anak kampus sebelah. Di situlah awal dilema di hati Fisca.
Vito dan Tyas jelas dua sosok yang tidak bisa dibandingkan. Masing-masing punya kredibilitas sendiri-sendiri. Jika dilihat dari segi fisik, jelas Vito lebih unggul. Wajah dan penampilannya tampan-segar karena memang usianya masih semuda Fisca. Namun jika dilihat dari sisi yang lain semisal materi dan kebaikan hati, jelaslah Tyas juaranya. Pertimbangan lainnya, perihal chemistry yang Fisca rasakan ketika bersama kedua lelaki itu. Bersama Vito, Fisca merasa chemistry di antara mereka cukup klop dan harmoni. Beda rasanya ketika dia bersama Tyas.
***
Akhirnya perjalanan shoting terakhir hari itu selesai juga. Fisca agak sedikit lega setelah mobil Tyas tiba di halaman rumahnya. Namun lagi-lagi perasaan jengah itu datang manakala Tyas memapahnya hingga ke dalam.
Fisca menangis setibanya di kamar. Entah kenapa dia melakukannya. Yang jelas, dadanya terasa sesak. Air matanya mendesak keluar. Karena hanya dengan itu hatinya akan lega setelah seharian, bahkan seminggu ini dia bersama seseorang yang dia tahu mencintainya, namun dia tidak bisa membalas cintanya. Hari-hari yang mereka lalui, meskipun kelihatannya indah, bagi Fisca rasanya seperti berjalan di atas tanah berduri dengan telanjang kaki. Bahkan semakin hari, duri-duri itu semakin terasa bagai pedang yang menyayat. Namun Fisca tak bisa menunjukan semua rasa itu, terutama pada Tyas. Fisca tau benar sebaik dan setulus apa hati seorang Tyas. Bahkan jika Tyas sampai tau Fisca tidak pernah mencintainya pun, Fisca yakin Tyas tidak akan berubah menjadi lelaki yang membencinya. Tyas akan selalu ada untuknya. Sampai kapan pun.
Di tengah kekalutannya, Fisca masih sempat memikirkan Vito, lelaki yang dicintainya. Meski hatinya sedikit ragu apakah Vito merasakan hal yang sama dengannya atau sebaliknya. Namun Fisca kecewa setelah mendial nomor Vito, tak ada jawaban darinya, kecuali suara operator yang terkadang kedenganrannya sangat memuakkan. Fisca hanya bisa menangis, meratapi kepiluannya sendiri.
“Akhirnya selesai juga proyek kita!” seru Ian setelah memastikan semua rangkaian kegiatan pembuatan film dokumenter itu selesai. Kini film itu sudah terekam dalam kepingan VCD yang siap diserahkan pada dosen mereka.
“Yas, thanks banget ya,” ungkap Fisca pada Tyas, setelah Ian dan Zoe.
“Apa sih, biasa aja lagi,” jawab Tyas yang selalu diiringi tawa renyah. “Ngomong-ngomong, kaki kamu udah sembuh?”
“Hh...” Fisca tak bisa lagi menyangkal betapa baiknya lelaki itu. Ingin rasanya dia bisa balas mencintai Tyas. Tapi sayangnya cinta tak bisa semudah itu dirasakan.
Mereka pun berpisah. Entah untuk sementara, entah untuk selamanya. Paling tidak, kelegaan ada pada Fisca.
“Fis,” kata Ian sebelum mereka bertiga pulang. “Selama seminggu ini, gue dapet sesuatu. Gue pikir, selama ini eloe yang terlalu egois dengan segala prinsip loe yang gue nilai naif dan picisan itu. Tapi ternyata, gue yang paling egois di antara kita. Gue terlalu maksain pendapat dan kehendak gue tanpa mikirin perasaan loe sedikit pun. Gue tau itu salah. Dan gue bener-bener nyesel. Maafin gue ya, Fis. Gue janji nggak bakalan bikin loe kayak gini lagi. Walaupun paradigma gue tentang cinta masih tetep seperti yang gue bilang waktu itu, gue percaya eloe adalah seseorang yang bener-bener tulus dalam memandang cinta. Gue bisa lihat ketersiksaan loe selama seminggu ini.”
“Gue maafin loe, tapi loe mesti janji, loe nggak pernah nilai setiap orang itu sama. Terutama soal cinta. Setiap orang punya cara masing-masing. Dan loe mesti terbuka menerima segala perbedaan itu.”
“Kesimpulannya, kalo kita ada tugas kayak gini lagi, kita masih bisa dong minta bantuan Tyas lagi?” tanya sekaligus usul Zoe.
“Em...” pikir Fisca sambil siap menonjok Zoe. “Mungkin.”***
| Selasa, 23 Januari 2007 11:03 |
Be the first person to continue this post
suka..
sama pikiran fisca..
hehe..
ayo terus menulis..semangat yah :D
kayaknya emosinya agak kurang yah..menurut gue justru bisa diexplore saat fisca lagi sakit dan sering bersama tyas.dari situ bisa banyak emosi yang keluar dibanding adanya sosok vito yang menurut gue cuma "numpang lewat" dan kurang berarti..
tapi, so far alurnya sih dah oke...
Pemisahan antar kalimat dan percakapan perlu di perhatikan.
(Dulu g pernah di komentari begini juga .... he5
halu teman"...
jangan lupa kasi komentar yak!
pa pun pasti ta' terima