Read more (2087 words)
SEMAKIN hari, semakin banyak saja jenis manusia absurd di dunia ini. Tuhan telah menciptakan dua jenis dari manusia, laki-laki dan perempuan, tapi kemudian manusia sendirilah yang berbuat nyleneh, menampilkan jenis manusia yang statusnya tidak jelas. Disebut laki-laki bukan, disebut perempuan juga bukan.
Namanya Acong. Sayang sekali, aku harus setiap hari bertemu dengannya di kelasku. Gayanya seperti anak perempuan. Dari penampilan sampai kelakuannya.
“Hai, Dick, aku boleh minta tolong nggak sama kamu?” tanya Acong saat aku sedang bersiap-siap untuk bermain sepak bola di jam istirahat. Aku tak sedikit pun memperdulikannya. Tapi dia tetap bicara. “Em... entar sore pas pulang skul, kamu mau nganterin aku nggak?” Aku masih bersikap tak perduli. “Mau, ya?! Please...” mohon Acong dengan nada sangat mengiba. Namun tiba-tiba saja, entah kenapa kepalaku terangguk. Acong jelas kegirangan. Dia hampir saja memelukku. Tapi aku berhasil menghindar. Kemudian dia kembali pada teman-temannya yang tentu saja semuanya wanita. Mereka memandangiku dengan tatapan aneh. Deg! Aku jadi punya firasat jelek.
Sepulang sekolah, aku berharap ada celah untuk menghindar. Tapi dia dan teman-temannya berhasil menemukan dan menahanku. “Mau ke mana sih? Kok buru-buru?” tanya Acong. “Tungguin aku bentar ya? Aku mau ganti baju dulu.” Beberapa saat kemudian, dia datang dengan pakaian super ketatnya lalu berjalan layaknya model. Model waria!
“Eh, Cong,” tegur sahabatnya. “Kamu kok pucet gitu sih?”
“Masak sih, ‘nek? Minta di-touch up dong! Duh, kayaknya bibir aku juga agak pecah-pecah. Ada yang bawa lip balm nggak?”
Ih, sumpah, aku pingin muntah! Apa lagi waktu dia naik motorku. Dia hampir saja duduk menyamping seperti perempuan. Mimpi apa aku semalam?!
Sepanjang perjalanan, dia memelukku. Katanya, dia takut jatuh karena aku terlalu ngebut. Tentu saja. Aku tak mau berlama-lama menghabiskan waktu dengan manusia jejadian seperti dia. Tapi lama-lama, dia semakin kurang ajar. Pelukannya semakin erat. Akibatnya aku kehilangan konsentrasi ke jalanan. Motorku hampir bertabrakan dengan motor di depan. Tapi ketika aku mencoba untuk menghindar, BRAK! aku malah menabrak pohon besar di pinggir jalan.
***
Begitu tersadar, aku sudah ada di sebuah ruangan serba putih. Nampaknya itu adalah sebuah kamar di rumah sakit. Aku pun mulai menyadari kalau aku baru saja mengalami kecelakaan. Tapi, kenapa kedua orang tua dan adikku tidak datang menjengukku? Untungnya saat itu juga, aku melihat dari pintu yang sedikit terbuka, orang tuaku lewat di luar kamarku.
“Ma, Pa!” aku berusaha memanggil mereka tapi tak sedikit pun mendapat respon. Dan yang masuk ke kamarku malah orang lain. Seorang ibu dengan raut sedih langsung memelukku.
“Anakku, kamu baik-baik saja kan?! Ibu sangat khawatir sama kamu.”
“Maaf, Bu,” aku berusaha melepaskan pelukannya. “Saya nggak kenal siapa Ibu. Kayaknya Ibu salah kamar.”
“Acong sayang, ini Ibu!”
O God, apa yang terjadi? Kenapa dia memanggilku Acong? Aku ini Dicky!
***
Esok harinya teman sekelasku datang ke rumah sakit. Hampir semua. Tapi yang masuk ke kamarku hanya beberapa orang saja.
“Acong... apa kabarmu?” tanya Della sambil memelukku. Diikuti kedua temannya, Nana dan Meta. “Kita semua khawatir sama kamu!”
“Gue bukan Acong!” tegasku sambil melepaskan pelukan mereka.
“Jangan becanda deh! Dokternya aja bilang kamu cuma kena sedikit benturan di jidat dan luka-luka kecil aja. Nggak sampe amnesia kok.” Kata Della.
“Gimana kejadiannya sih sampai kalian kena celaka gini?” tanya Nana.
“Kamu tuh, Na, kayak yang nggak tahu gimana si Dicky.” Ungkap Meta. “Dia itu kalau ngejalanin motor selalu ngebut. Biasa, pengen keliatan jantan!”
“Eh, katanya si Dicky lukanya parah ya? Sampe koma gitu? Untung luka kamu nggak parah-parah banget, Cong.” kata Della kemudian.
“Kok eloe nggak ngejenguk gue, maksud gue dia?” tanyaku.
“Ya walaupun selama ini dia jutek sama kita, tapi kalau keadaannya kayak gini, kasian juga dia. Entar ajalah kita tengokin dia. Yang penting kita ketemu kamu dulu.” Jawab Della sedikit bersimpatik.
“Jutek? Memangnya gue... dia jutek kenapa?” tanyaku lagi.
“Selama ini dia kan yang paling anti deket-deket sama kita terutama sama kamu. Nggak tahu keki atau apa, dia selalu nunjukin betapa dia benci sama orang seperti kamu.” Jawab Della lagi.
“Dia juga yang paling keras teriak waktu ngejekin kamu dengan sebutan banci atau bencong, atau sebutan baru mereka, AMFOTER.” Nana tak mau kalah.
***
Keesokan harinya aku boleh meninggalkan rumah sakit. Sementara tubuhku yang asli masih tertinggal di ruang ICU. Aku ingin sekali mengatakan yang sebenarnya pada mereka kalau aku bukan siapa yang mereka kira. Tapi, tak akan ada yang percaya. Bahkan saat aku mendekati kedua orang tua kandungku pun, mereka nampak tak perduli. Mereka tak mengenaliku sama sekali.
Aku pun harus tinggal di rumah yang amat asing untukku, dengan orang-orang di dalamnya yang juga begitu asing di mataku. Seorang ibu dan tiga orang kakak lelaki Acong. Terlebih, aku harus tidur di kamar yang bukan kamarku dan memakai pakaian yang bukan pakaianku.
Kamar Acong nampak begitu rapi. Warna catnya cerah. Beberapa poster artis-artis idolanya terpampang di dinding dengan teratur. Dan foto-foto dirinya bersama teman-temannya nampak pula menghiasi kamarnya. Ada pula berbagai bentuk boneka di tempat tidur, lemari dan meja belajar. Kamar ini persis seperti kamar adik perempuanku. Meski di sini nyaman, tapi betapa lebih nyaman lagi kalau di rumah sendiri, di kamar sendiri, apa lagi di dalam tubuh sendiri.
Untunglah aku lekas sembuh dan bisa kembali ke sekolah. Ketika melewati kelas III IPS II, aku bertemu dengan Sissy, gadis yang aku sukai. Aku tersenyum dan menyapanya seperti biasa. Tapi dia nampak ketus padaku. Jangankan membalas sapaanku, yang ada juga cibiran dan semacam cacian di hati yang tergambar jelas di wajahnya. Akhirnya aku ingat, aku yang sekarang bukanlah aku yang dia maksud. Aku... Acong.
“Acooong!!!” Della and the gang menyambutku dengan ke-ramai-an seperti biasa. Mereka memelukiku, menanyakan kabarku, menanyakan ini dan itu. Mereka sangat perduli padaku, bukan, pada Acong. Tapi aku memutuskan untuk menjauh dari mereka. Aku berasa tak nyaman.
Saat istirahat, aku lebih memilih sendirian. Aku selalu meghindar dengan alasan pergi ke toilet. Saat keluar dari toilet, setelah buang air dari “saluran” yang bukan punyaku, aku sedikit mendengar percakapan teman-temanku yang biasa nongkrong di sekitar situ.
“Entar malem kan malem Minggu,” kata Badi pada Aldy dan Hendry. “Gue mau ke Starbucks Coffee sama Sissy!”
“Sissy?!” tak hanya Aldy dan Hendry, aku pun ikut berteriak. Tapi dalam hati.
“Gokil loe! Sissy itu kan gebetannya Dicky!” Aldy mengingatkan.
“Masih gebetan kan? Belum jadi ceweknya dia.”
“Eloe tuh ya...” ungkap Hendry. “Temen kita lagi kena musibah, malah seneng-seneng sama gebetannya.”
“Udahlah, nggak usah belagak sedih. Sebenernya kalian juga seneng kan si Dicky yang sok segalanya itu masuk rumah sakit?!”
Sialan! Ternyata selama ini, mereka yang selalu kuanggap sebagai seorang sahabat terbaik, begitu teganya menghianatiku. Aku pun bermaksud melabrak mereka dengan memberi tonjokan. Tapi saat kupastikan untuk segera menonjok salah satu diantara mereka, aku hanya bisa menyentuhnya sedikit, seperti sentuhan seorang perempuan.
“Heh, ngapain loe, Bencong? Mau nonjok gue?!” Badi menangkis seranganku dan kemudian dialah yang akhirnya menonjokku. “Percuma, loe nggak akan bisa jadi cowok! Dasar bencong! AMFOTER!” begitu mendengar kata-kata itu, entah kenapa aku jadi ingin menangis.
“Kenapa, Cong?” Della dan dua temannya mencoba menenangkanku. Sementara aku tak menjawab, malah terus menangis. Untuk pertama kalinya aku menangis dan bersikap cengeng di hadapan para wanita yang selama ini kucibiri dan kubenci.
Saat jam pelajaran olah raga, aku merasa tak tahan ingin ikut bergabung dengan anak lelaki lainnya bermain sepak bola. Anak-anak di kelasku, bahkan Pak Wasta, guru olah raga pun ikutan menertawakanku. Tapi aku berusaha mengabaikan semuanya. Dalam tubuh Dicky-ku, aku amat pandai bermain bola.
Tapi... aneh! Semuanya berubah. Tendanganku tak satupun yang mengena. Dan seringnya aku malah menghindari bola, seperti ketakutan saat bola mendekat. Jangankan berpikiran untuk memasukan bola ke gawang, memikirkan bagaimana caranya mengoper saja rasanya sulit sekali. Mendadak aku tak bisa bermain bola. Kenapa ini? Apa karena tubuh Acong-ku? Betapa menyedihkannya menjadi seperti ini!
Saat bel panjang berbunyi nyaring, aku hampir saja ke parkiran untuk mengeluarkan sepeda motorku sampai aku sadar aku ini bukanlah Dicky yang dulu.
“Ngapain eloe, Cong?” tanya Badi yang di belakangnya berdiri Aldy dan Hendry yang juga hendak mengeluarkan sepeda motor mereka. “Mau gue tonjok lagi?”
Aku pun beringsut pergi sebelum mereka lebih menyakitiku. Kemudian aku melihat Sissy datang dan duduk dibonceng Badi. Sepertinya mereka berdua memang benar-benar ada hubungan.
Lagi-lagi aku menangis. Dan di saat itu, Della, Meta dan Nana lagi yang menenangkanku. Mereka datang membawa keceriaan. Mereka mengajakku jalan-jalan ke Mall. Di sana, kami bergembira menikmati suasana keramain yang penuh corak. Kami berlarian dari satu pertokoan ke pertokoan lain, menjahili orang-orang, makan di restoran fast food, berfoto-ria dan pergi ke salon. Dan saat kami hendak pulang, aku melihat Badi dan Sissy sedang duduk berdua di Starbucks Coffee. Untuk yang kesekian kalinya hatiku merasa terluka.
“Eh, tadi aku lihat Badi sama Sissy berduaan,” kata Nana. “Berarti mereka emang beneran pacaran.”
“Pacaran?” tanyaku.
“Cong, kamu kok kaget gitu sih? Kita-kita kan tahu gossip itu dari kamu. Kamu kan ratu gossip paling jempol.” Ungkap Nana.
Ternyata memang benar mereka ada hubungan. Selama ini, aku ke mana saja? Kenapa justru orang-orang ini yang lebih tahu dari pada aku?
Aku berbohong pada teman-temanku, maksudku teman-teman Acong. Aku pamit pulang. Tapi sebenarnya aku pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan tubuhku.
“Sabar ya, Ma,” kataku pada mama yang setia menunggu di depan kamar ICU. “Eh, maksud saya, sabar ya, Tante.”
“Makasih,” ungkap mama yang matanya kelihatan bengkak. “Kamu siapa?”
“Saya...” tiba-tiba saja aku ingin menangis. “Saya temannya Dicky.”
Mama tak banyak berkata-kata. Kemudian papa datang dan memeluk mama. Aku ingin sekali berada di antara pelukan mereka dan mengatakan kalau sebenarnya akulah anak mereka. Tapi, argh... sampai kapan aku harus seperti ini?! Aku pun memutuskan untuk kembali ke rumah Acong. Untuk sementara waktu, itulah rumahku.
Ya Tuhan, kenapa jadinya seperti ini? Dalam mimpi buruk sekalipun, aku tak pernah mengalaminya. Rasanya lebih baik aku mati saja! Kecuali jika aku tahu bagai mana caranya kembali pada tubuh normalku. Tiba-tiba tanganku meraba sesuatu di meja samping tempat tidur Acong. Diary Acong;
Tuhan, sebenarnya apa salahku? Kenapa aku harus terperangkap dalam tubuh ini? Aku tak minta dilahirkan begini. Sepertinya Engkau tak adil. Aku yakin mereka juga tak minta dilahirkan menjadi seperti mereka saat ini, dengan segala ketampanan dan kejantanan mereka. Tapi kenapa mereka bisa seberuntung itu? Apa bedanya aku dengan mereka? Apa bayaran yang mereka berikan lebih mahal dari bayaran yang kuberikan?
Kenapa Kau tidak menempatkan aku dalam tubuh berpayudara dan bervagina saja, Tuhan? Mungkin dengan seperti itu, aku bisa hidup lebih damai dan tenang. Atau berilah aku sebuah reinkarnasi! Jika aku terlahir sebagai seorang lelaki, maka sempurnakanlah kelelakianku. Begitu pun sebaliknya.
Aku sudah tidak tahan dengan semua penghinaan mereka. Aku lemah dan tak bisa melawan. Bahkan, sosok ayah yang mestinya menjadi pelindung dan tempat aku berkeluh-kesah, malah pergi meninggalkanku karena tak bisa menerima kehadiranku sebagai seorang anak lelaki yang tidak memiliki kejantanan. Aku hanya bisa mengadu padamu, wahai Tuhan Yang Maha Mendengar.
Tuhan, jangan salahkan aku jika aku berjalan tidak sesuai fitrah yang kau berikan padaku sebagai seorang lelaki. Dinding ini terlalu sulit untuk kutembus. Aku selalu berusaha keluar tapi tak bisa. Semakin aku berusaha, semakin kuat mereka memaksaku menyerah pada takdir ini...
Mungkin ini juga yang akan kutulis pada diary ini. Ternyata kehidupan seorang Acong lebih berat dari yang kuperkirakan. Aku saja yang baru beberapa hari menjadi dirinya sudah tidak tahan hidup seperti ini, apa lagi dia yang harus seumur hidup begini.
***
Siang hari itu, aku dan beberapa temanku menghadiri upacara pemakaman salah seorang teman kami yang bernama Dicky Dzikri Damawilaga. Aku tak tahu harus berkata apa dan merasa bagai mana lagi saat menyaksikan tubuhku sendiri terbungkus kafan putih lalu diuruk tanah dan dipendam bumi untuk selamanya. Bagiku ini jelas lebih sulit dari pada saat kulihat tubuhku di ruang ICU. Tapi aku harus merelakannya. Merelakan segalanya. Tubuhku, keluargaku, teman-temanku, perempuanku dan semua yang berhubungan dengan diriku di masa lalu.
“Cong, pulang yuk! Udah hampir sore.” Della, Meta dan Nana yang selalu setia padaku, membimbingku pulang. Pulang ke rumah baruku, kamar baruku, keluarga baruku dan kehidupan baruku. Kehidupan baru sebagai seorang Amfoter bernama Acong.
Kenapa ini terjadi padaku? Apakah ini hukuman untukku? Hukuman karena aku tak pernah bersyukur telah dilahirkan sebagai seorang lelaki yang benar-benar lelaki? Karena aku selalu menghina-dinakan mereka yang kurang sempurna sebagai seorang lelaki seperti Acong? ***
| Minggu, 21 Mei 2006 21:44 |
jadi bingung mw pilih mana yah?
aku suka yang 2 istri 3 kekasih kenapa?
karena ceritanya lebih duniawi
tapi aku juga suka yang ini kenapa?
berisi pesan moral yang tinggi
udah mending Dadun pilih pakai kata hati sendiri aja, yg mantep yang mana karena 22nya bagus...
ck ck sampe kepalaku berputar2. takjub!!!
Dadun, idenya keren loh. amfoter itu...
nice
mau bocoran hasil penilaian juri untuk cerpen ini dun? wakakaka... mari kita kasak kusuk di back stage
****
miss worm's blog : pieces
Info Kumcer Kemudian
Ternyata cerpen luamaa! Banget ini kubaca juga. Eh, bagus lho! Dibandingkand dengan cerpen lo yang sekarang ada sedikit perubahan yang mendasar.
Mungkin cerita lo yang sekarang lebih dewasa kali ya? Hehehe...
Nice! n_n
...dari pertama aku baca cerpen ini, aku langsung suka^^(tapi sori ya baru komen sekarang... hehe). lagi bingung mau pilih yg mana ya buat kumcer?^^
===
Kumcer Kemudian
Gue juga pilih yang ini, Dun! Dalem, manusia emang harus sering diingetin supaya gak sok menghakimi manusia lain, betapapun keadaannya. Emosinya dapet. Pesannya sampe. Go Dadun, go Dadun!
kalo ini aja??
chau pilih ini aja...
baaagoouusszzz
kebetulan gwe suka tema2 tukar tubuh, apalagi klo tukar gender segala . . .
hehehe
gwe lihat tag gender masih dikit, mungkin bakal kutambahin nantinya.
tunggu ajah :D
beberapa komik mengusung tema seperti ini, jiwa yang tertukar; misalnya CHANGE GUY dan HOT BLOODED GIRL
bagus. bagus. ending yg gak biasa bikin cerita ini tambah bagus. emosinya kena. keren. bisa bilang apa lagi, ya? hmm... udah ah gitu aja. keren.
hmm,meski ga baru2 baru bgt tapi g suka cara penulisannya...sip.
cerita yg bagus nih! aku udah pernah liat ftv yg ceritanya juga ttg 'spirit-split' gitu, tapi semua cewek dan akhirnya ternyata cuma mimpi, tokoh nyebelinnya jadi baik. kalo yg ini endingnya 'ngeri'!
makasih buat temen" yg udah ngasi komentar
dengan sangat berbesar hati saya terima semua saran dan kritikannya.
mudah"an karya saya kedepan bisa jauh lebih baik lagi. amin...
mengenai kenapa Dicky mau diajak Acong.... itu kenapa coba? nah, itu dia maksud dari setiap cerpen yang saya tulis.
saya senang dengan pertanyaan seperti itu.
sebenarnya jawabannya kembali berpulang pada diri kita masing". saya tidak membatasi imajinasi para pembaca dalam hal ini. jawabannya bisa apa saja.
salam semua
lucu..lucu..tapi gw masih ga ngeh knapa Dicky mau aja di ajak acong ya??
ceritanya ngajarin kita untuk selalu bersyukur ma keadaan kita.
Cerita yang rapi dan mengesankan. Emosi para tokoh bisa digambarkan dengan sangat menyentuh. Alur juga tertata, walau sampai sekarang masih bingung kenapa Acong ngajak Dicky hehehe....
Kalau saja berakhir dengan mereka kembali bertukar tubuh, tentu cerita ini akan jadi cerita biasa yang bagus. Tapi dengan ending 'tak biasa' menjadikan cerita ini semakin indah.