Si Pengganggu
Nu terbangun ketika percikan air mengenai wajahnya. Ia melihat seorang laki-laki asing yang ada di depannya dengan wajah yang penuh tanda tanya. “Waaa…..!!!”, dengan suara yang mengejutkan ia berjalan mundur dan mundur lalu jatuh dari kasur anyaman yang terbuat dari rumput, dedaunan dan tanaman jalar. Nu jatuh bedebum. Ia lalu mengerang.
“A mu(Ada apa)?”, tanya Verta yang kepalanya menyembul dari sebuah rumah pohon yang sangat besar.
Rumah pohon itu dibuat benar-benar menjadikan sebuah pohon yang sangat besar sebagai tempat tinggal. Wajah Verta menampakkan sebuah senyuman, lalu disusul tawa yang memecah suasana hening. Jagu mengerutkan dahi, ia merasa dirinya adalah orang yang paling aneh yang ada di tempat itu.
Nu bangkit lalu merasakan pegal-pegal di tubuhnya. Ia melihat wajah Verta dan Jagu, juga melihat rumah pohon yang besar itu. Ia meringis sambil memijati pinggangnya yang kesakitan. Ia juga memeriksa kepalanya apakah terluka atau tidak, karena ia merasa sangat pusing.
“Kau tak apa-apa?”, tanya Verta dengan benaknya.
“Ya, rasanya tak apa-apa”, jawab Nu dengan benaknya.
Jagu lalu berjalan ke arah Verta, hal yang menakjubkan terjadi lagi. Kini setiap Jagu melangkah tanaman jalar tumbuh untuk menjadi alas pijakannya, hingga Jagu sampai di rumah pohon. Nu mengernyit, baginya petualangan fantastis yang berkali-kali ini membuatnya serasa berada di sebuah negeri dongeng. Namun hal ini benar-benar nyata, kalau dibandingkan cerita-cerita yang sering didengar dari bibinya. Ia benar-benar terkejut, terpesona dan sangat kaget menyaksikan peristiwa yang luar biasa tersebut.
“Hu bietu strengi, alfeimu na kapayuszche(Dia sangat aneh, ketakutan melihat diriku)”, kata Jagu. “A hu nei ja varai elfu (Apa dia baru saja melihat peri)?”
“Ta bi ducei(Setidaknya kau yang kedua)”, jawab Verta.
“Bicara apa kalian?”, tanya Nu dengan benaknya.
“Nggak usah dipikirkan”, jawab Verta sambil tersenyum. “Masuklah ke rumahku. Kami berdua tinggal di tengah-tengah hutan Fogus. Masuklah!!”
“Ah nggak, tidak usah. Sudah siang”, kata Nu. “Aku harus kembali ke peternakan. Takut kalau bibi mencariku.”
“Peternakan? Kau punya peternakan masih berburu?”, tanya Verta.
“Peternakan kami sebenarnya ternak sapi perah, dagingnya tidak kami olah, tapi kami berburu”, jawab Nu. “Dan terkadang harus ke kota untuk beli daging. Tapi karena uang kami menipis, maka berburu adalah salah satu hal yang harus aku lakukan.”
“Oh ya, sebentar”, Verta tiba-tiba memberikan sesuatu kepada Nu. Dua ekor kelinci yang tertidur.
“Apa maksudnya?”, tanya Nu.
“Ini dua ekor kelinci buatmu, mereka kusihir agar tertidur. Aku cari mereka di hutan bagian utara”, kata Verta.
Nu sebenarnya tak ingin menerimanya, tapi ia melihat ke langit, matahari sudah mulai condong ke barat. Mau tak mau ia harus menerimanya. Sebenarnya ia ingin menunjukkan bakatnya dalam berburu kepada bibinya. Tapi pertemuan dengan dua spirit di hutan aneh ini adalah sebuah pengalaman yang sangat melelahkan. Pemuda ini sampai tidak habis pikir, bagaimana nantinya dia bisa bilang kepada bibinya kalau dia menemukan dua ekor kelinci sedang tertidur karena pengaruh obat. Atau yang lebih parah dia akan bilang terus terang kepada bibinya kalau dia bertemu peri dan kemudian orang-orang desa bakal mencari Verta dan Jagu untuk kemudian dibakar ramai-ramai, karena dianggap sebagai pembawa sial. Apalagi ternyata berita tentang orang-orang yang hilang di hutan Fogus itu bukanlah isapan jempol belaka. Sebagaimana dia melihat dua peri ada dihadapannya, yang satunya sembunyi di sebuah rumah pohon dan yang satunya cantik serta membantunya memberikan buruan kelinci.
“Errr…., baiklah”, kata Nu. Ia menerimanya langsung dari Verta. Sesaat ia bersentuhan lagi dengan kulit Verta yang lembut. Ia merasakan sesuatu yang aneh yang sampai sekarang dirasakannya. Bau harum para peri itulah yang mungkin menghipnotisnya.
Ia tanpa rasa penasaran langsung menerima dua ekor kelinci yang dipegang telinganya itu. Nu melihat anak panah dan busurnya ada di atas tempat tidur anyaman tadi. Ia segera mengambil busur dan anak panahnya dan menaruhnya pada tempatnya. Nu tersenyum kepada Verta, “Terima kasih atas semuanya. Besok aku akan kembali ke sini.”
“Kau yakin bisa pulang?”, tanya Verta.
Pertanyaan itu membuat Nu ragu untuk beberapa saat. Ia berpikir keras, apa ia masih ingat jalan pulang. Terlebih lagi hutan Fogus adalah hutan yang sangat luas. Ia bisa saja tersesat, atau bahkan ia bisa saja malah makin dalam masuk ke dalam hutan yang aneh ini. Ia pun dengan perasaan pasrah dan menyerah menggeleng.
“Aku antar”, kata Verta sambil menarik tangannya.
Nu menarik tangannya.
“Kenapa?”, tanya Verta.
“Aku tak mau terbang seperti tadi”, jawab Nu.
Verta tertawa ngikik. Tertawa yang sangat aneh. Mirip tertawa arwah gentayangan. Hanya saja Nu tak berani untuk menegurnya, ada bagian-bagian benaknya yang tak ingin diketahui oleh Verta. Ia tersenyum dan mereka pun berjalan.
“Breita, na teravie Nu alanyi rija (Kak, aku mau mengantar Nu pulang ke rumah)”, kata Verta.
Nu yang tidak mengerti bahasa peri hanya diam saja. Pikirnya mungkin Verta minta ijin kakaknya untuk mengantarnya pulang. Dan memang benar.
Tak berapa lama kemudian mereka berdua mengikuti jalan sungai yang mengalir membelah hutan Fogus. Kali ini sang peri berjalan di atas tanah. Meskipun begitu, terkadang-kadang ia melayang untuk menghindari terperosok ke dalam lubang ataupun tersandung.
Di sepanjang perjalanan Verta bernyanyi. Suaranya membelah keheningan hutan. Tampak suaranya diiringi goyangan pohon-pohon dan rumput-rumput yang bergoyang. Nadanya yang enak dan suaranya yang menusuk jiwa membuat Nu sesekali menarik nafas panjang.
Tak bisa dipungkiri bahwa ia sekarang jatuh cinta sejak pandangan pertama. Hanya saja ada kesan yang tidak enak pada diri Jagu. Dan itu juga disadari oleh Nu. Ia pun bergelut pada perasaannya sendiri. Antara suka dan tidak.
Sang peri menghentikan nyanyiannya. Ia menoleh ke arah Nu yang sejak tadi menatapnya. Nu lalu menoleh ke arah yang lain.
“Siapa ayahmu kalau boleh aku tahu?”, tanya Verta.
“Ayahku adalah seorang ksatria dari Aldemaria. Dia meninggal ketika aku masih kecil”, kata Nu.
“Oh..maaf, berarti kau sekarang anak yatim”, kata Verta.
“Ya, begitulah”, jawab Nu. “Ibuku juga meninggal saat aku juga masih kecil. Kejadian tepatnya aku tidak tahu, aku hanya tahu kalau aku selalu diasuh oleh paman dan bibiku.”
“Aku tidak tahu bagaimana rasanya memiliki orang tua, karena aku tidak dilahirkan dari siapapun”, kata Verta.
“Koq bisa?”, tanya Nu. “Setiap makhluk hidup pasti dilahirkan dari orang tua mereka.”
“Entahlah, aku lahir dari bunga Farga, dan seluruh yang aku lakukan diajarkan oleh Luth”, kata Verta.
“Berarti kau tahu tentang Luth?”
“Tentu saja, hubungan kami para peri dengan Luth sangat dekat. Kata Luth banyak sekali para peri yang ada di dunia ini. Mereka bertugas pada daerah mereka masing-masing”, Verta menerawang. “Seperti misalnya di hutan ini, aku hanya bisa hidup di hutan ini. Pernah aku mencoba untuk keluar dari hutan ini, akibatnya aku jadi lemah, beruntunglah Jagu menolongku. Jadi aku tak bisa jauh dari hutan ini.”
“Oh, itu sebabnya”, Nu mengangguk tanda mengerti. “Berarti kau hanya sendirian bersama Jagu di hutan ini?”
“Begitulah”, jawab Verta. “Kami sudah ada di sini sekitar 200 tahun lamanya.”
“Wah, usia yang sangat tua”, kata Nu. “Manusia tidak ada yang hidup sampai 200 tahun lamanya.”
Sampailah mereka di pinggir hutan sebelah timur. Nu bisa melihat matahari telah tenggelam ketika mereka sampai. Dan tampak pekarangan yang sangat luas terhampar di hadapan Nu. Itu adalah peternakan milik paman dan bibinya. Lampu rumahnya sudah dinyalakan.
“Hanya sampai di sini saja ya?”, tanya Nu.
“Sebenarnya aku ingin ikut, aku ingin melihat dunia luar sana”, jawab Verta.
Nu berpikir sejenak. “Kurasa tidak, paman dan bibiku akan membunuhmu dan kau akan dijadikan tontonan di sirkus apabila sampai tahu aku punya teman sepertimu. Manusia di tempat ini sangat aneh, dan tidak bersahabat kau tak akan suka bergaul dengan mereka.”
Verta menggerak-gerakkan telinganya sambil tersenyum. Pipinya yang kemerahan semakin mereka ketika Nu menatap matanya. Lagi-lagi perasaan berdesir itu datang.
“Aku akan kembali lagi besok”, kata Nu.
“Iya, aku tunggu”, jawab Verta.
Nu melangkah meninggalkan Verta sendirian di tepi hutan. Sesekali ia menoleh ke belakang memastikan kalau makhluk halus itu tidak mengikutinya. Sekali lagi ketika ia menyeberang pekarangan yang sangat luas itu ia memastikannya berulang-ulang. Ia melihat Verta masih di sana. Sampai kemudian ia sampai di teras rumah, ia menoleh lagi ke belakang Verta sudah tidak ada lagi. Ia tersenyum lalu masuk ke rumah.
Di dalam rumah, tampak kelegaan menghiasi wajah bibinya. Mengetahui sang anak pulang dengan selamat, ia langsung mengambil buruan yang di bawa oleh Nu. Tapi sedikit heran dengan buruan yang telah dibawanya.
“Belum kau bunuh?”, tanya bibinya.
“Nggak, aku…ehmmm…..menemukan mereka sedang tidur, mungkin habis makan daun yang bisa menidurkan mereka, tapi tenang saja daunnya tidak beracun, mungkin hanya membius mereka”, kata Nu dengan nada sok tahu.
Bibinya mengerutkan dahi, “Hmm….., baru tahu aku ada daun yang seperti itu di hutan”.
“Hutan itu luas bi, mungkin saja ada juga tanaman yang bisa bergerak seperti manusia, atau mungkin ada juga hantunya, mana kita tahu”, kata Nu.
Bibinya segera mempersiapkan pisau di dapur dan kedua kelinci itu sudah tergorok lehernya. Dari pintu depan tampak terdengar suara langkah kaki yang berat. Nu menoleh ke arah pintu depan dan ia melihat seorang separuh baya dengan janggut putih lebat dan bawaannya yang banyak memasuki pintu.
“Aku pulang”, kata orang tua itu yang tak lain adalah paman Nu.
“Sayang, lama sekali kau perginya”, kata bibi Nu.
“Aku terpaksa harus ke kastil dengan yang lainnya, karena mereka sedang mempersiapkan diri untuk perang”, kata paman Nu. “Dedgard mulai mengerahkan pasukannya di sebelah selatan Aldemaria. Aku harus membantu menyiapkan perbekalan para prajurit. Seandainya aku seperti kakakku menjadi ksatria, tentu aku akan ikut peperangan itu.”
“Dedgard?”, tanya Nu. “Apakah ia salah satu yang memuja Ramsus?”
“Ya, dan kekuasaan Dedgard sekarang makin besar. Seluruh negara-negara pembela Ramsus sekarang bersatu di bawah kekuasaan Dedgard. Mereka makin berbahaya sekarang ini. Dan kalau sampai mereka menyerang Aldemaria dan menang, maka tidak ada lagi yang tersisa di dunia ini. Sebab di sinilah pertahanan terakhir dari Luth”, kata paman Nu.
Berarti masih jauh dari hutan Fogus. Peperangan itu tidak akan sampai ke sini, pikir Nu. Ia menghela nafas lega. Takut kalau terjadi sesuatu di hutan tempat dia mengetahui ada peri yang sangat cantik.
“Apa yang kau lakukan hari ini Nu?”, tanya pamannya.
Nu tersentak dan ia menjawab, “E….aku tadi berburu”
“Wow, benarkah? Kau menggunakan segala yang apa paman ajarkan?”, tanya pamannya sambil memukul bahunya.
“Ehmm….ss..sebenarnya tidak juga”, Nu meringis.
“Kebetulan saja Nu menemukan kelinci yang tertidur, dia bawa ke rumah”, kata bibinya.
Pamannya mengernyit, pertanda ia tahu bahwa Nu bohong. “Sepertinya kau menyembunyikan sesuatu.”
“Tidak, aku tak menyembunyikan apapun”, kata Nu.
Tak berapa lama kemudian, daging kelinci panggang dan sambal telah matang. Nu langsung memakan daging itu. Ia benar-benar kelaparan, seperti tidak pernah makan selama seminggu. Paman dan bibinya kemudian ikut makan. Meja makan itu makin ramai ketika pamannya menceritakan pengalmannya selama ia berada di kastil. Bertemu dengan panglima-panglima dan para prajurit yang dibekali kemampuan sihir untuk bisa melawan pasukan Dedgard yang katanya lebih tangguh.
Malam itu Nu tidur di kamarnya dengan perasaan bercampur aduk. Ia menerawang jauh ke langit. Ia melihat bintang-bintang yang ia bisa melihatnya dari jendela kamarnya. Selimut tebalnya membuatnya hangat dengah suhu yang sangat dingin di pinggir hutan Fogus. Apakah ia akan menceritakan pengalamannya di hutan tadi kepada pmaan dan bibinya? Tapi akankah mereka percaya begitu saja? Kalau mereka percaya apa yang akan terjadi? Apakah peri-peri itu akan terusik? banyak sekali yang dipikirkan oleh Nu, dan yang paling akhir adalah ia kemudian terlelap dalam buaian mimpi.
Sementara itu malam makin larut saat Verta duduk sendirian di kamarnya, di sebuah bilik di rumah pohon. Ia di terangi oleh cahaya yang berputar-putar seperti kunang-kunang. Ia juga memikirkan Nu. Sebuah benak merasuk ke pikirannya.
“Kau belum tidur Verta?”,tanya Jagu.
“Belum”, jawab Verta. “Dia mengganggu tidurku”.
“Si pengganggu itu membuatmu tidak bisa tidur?”, tanya Jagu.
“Begitulah, sepertinya darah ksatrianya yang murni membuatku jatuh cinta”, jawab Verta. “Aku tak bisa membohonginya, aku juga tak bisa bohong padamu Jagu.”
“Aku tak suka dia”, kata Jagu. “Rasanya ia seperti orang yang akan memisahkan kita.”
“Kenapa kau berpikir seperti itu? Dia sama sekali tak membahayakan kita”, kata Verta membela Nu. “Walaupun dia masih pemakan daging.”
“Kau baru mengenalnya, dan kita baru saja mengenalnya”, kata Jagu. “Tak ada yang bisa kita harapkan dari dia. Siapa tahu sekarang ini ia sedang bercerita kepada orang-orang tentang kita.”
“Ya, mungkin saja, tapi aku percaya kalau dia tidak demikian”, kata Verta. “Sebab ia adalah seorang ksatria yang masih murni darahnya. Belum pernah dikotori oleh kejahatan.”
Jagu mendesah, “Ya…mungkin kau benar.”
Verta tertidur. Ia menatap bintang yang sama dengan Nu. Dan mereka pun terlelap pada sebuah mimpi. Mimpi yang sama.
Di mimpi itu sesosok makhluk yang mengerikan menjerit dengan suara yang sangat keras, kejam dan brutal. Sesosok makhluk hitam, tatapan matanya tajam dan tampak sayapnya yang sangat besar mengembang, seperti seorang yang baru bangun dari tidur yang sangat panjang. Sayapnya seperti sayap kelelawar. Makhluk itu dikelilingi oleh api yang membara dan seolah-olah ingin menerkam siapa saja yang mengganggunya.
Nu terbangun dari mimpi yang buruk. Ia terengah-engah dengan keringat bercucuran di malam yang dingin. Bayangan makhluk itu tetap ada dalam benaknya. Ia lalu beranjak dari tempat tidur dan melihat ke luar jendela. Tampak pekarangan yang gelap tak ada cahaya bulan, karena malam ini adalah bulan mati.
“Makhluk apa tadi?”, katanya sendiri. “Ini firasat ataukah hanya mimpi biasa?”
Verta juga mengalami hal yang sama, ia juga merasakan keanehan yang serupa. Apa makhluk itu sebenarnya? Bagi para peri seluruh mimpinya adalah kenyataan, dan apa yang dilihatnya di dalam mimpi bukanlah sebuah bunga tidur semata, tapi sebuah pesan yang akan terjadi di masa depan. Satu yang ia ingat, sepasang sayap yang lebar.
“Siapa makhluk itu? Apa dia sebenarnya?”, tanyanya dalam hati. “Masa depan, masa depan apa yang sebenarnya akan terjadi?”
Tak begitu jauh dari hutan Fogus, tampaklah sesosok orang dengan baju zirah hitam mengendarai seekor kuda hitam lengkap dengan armornya. Pedangnya yang sangat panjang dan besar diangkatnya bagaikan mainan. Seorang Dark Knight melaju kudanya memasuki hutan Fogus. Ketika masuk agak dalam ia pun berhenti.
Jagu tersentak. Ia bangun. Ia merasakan aura yang sangat aneh kali ini. Berbeda dengan apa yang ia rasakan ketika merasakan Nu, tapi rasanya kali ini lebih bengis, lebih berbahaya, dan ia juga mencium bau darah dari aura Dark Knight itu. Jagu memasuki benak Verta, “Pengganggu, seorang Dark Knight masuk ke Fogus”.
“Aku juga merasaknnya, apa yang diinginkannya?”, tanya Verta.
Verta segera keluar dari rumah. Diikuti Jagu. Mereka berdua sekarang berada di luar. Mencoba merasakan benak setiap makhluk yang ada di hutan itu. Perlahan tapi pasti Verta bisa melihat sesosok wajah yang mengerikan dari penglihatannya. Sesosok berwajah menyeramkan itu bukan yang dilihatnya di mimpi tapi lebih menyeramkan. Wajah seekor kadal dengan gigi-giginya yang seperti gergaji tersembunyi di balik helm baju zirah Dark Knight.
Jagu dan Verta langsung menyatukan kedua telapak tangan mereka dan membaca mantra, “Te Barriera!!”
Hutan Fogus yang tadinya senyap dan diiringi suara binatang malam, kini mendadak hening mencekam. Sebuah kubah yang sedikit-demi-sedikit mengembang kini terus membesar dari tengah hutan Fogus. Dan sang Dark Knight pun terlempar bersama kudanya keluar dari hutan Fogus. Sang Dark Knight bangkit lalu menyeringai, tampak ia melepas helmnya dan dengan wajah yang mengerikan itu ia memperlihatkan kalau dia sedang marah. Ia menancapkan pedangnya di tanah dan kemudian mengarahkan telapak tangannya ke hutan Fogus.
“Er Ignus!!”, dari telapak tangannya muncul sebuah bola api yang sangat besar kemudian menghantam pelindung yang melindungi hutan Fogus. Namun api itu tak bisa menembusnya.
Sang Dark Knight marah, lalu ia mengambil lagi pedangnya. Kudanya yang setia bangkit lagi dan menghampirinya. Sang Dark Knight kemudian naik ke pelananya, lalu memacu kudanya meninggalkan tempat tersebut, pergi menjauh ditelan gelapnya malam. Derap kaki kuda itu kian lama kian menghilang, dan suara binatang malam Hutan Fogus pun kembali bersuara. Verta dan Jagu saling berpandangan. Mereka kembali melihat dengan benak mereka, sampai benar-benar situasinya aman.
“Siapa dia?”, tanya Verta.
“Tidak tahu, tapi tugas kita sekarang hanyalah sebagai pelindung, kita harus melindungi hutan ini dari gangguan apapun, dan dari pengganggu siapapun”, kata Jagu.
“Orang yang haus darah, apakah dia budak dari Ramsus?”, pertanyaan Verta tak pernah dijawab oleh Jagu. Ia tak melepaskan mantra pelindung itu dan tetap dijaganya sampai pagi hari.
Keesokan harinya, Nu ikut pamannya ke pasar. Mereka bangun pagi-pagi sekali dan menebeng kereta kuda yang mengangkut persediaan kerajaan untuk persiapan perang. Mereka hari itu mau mengambil uang dari pedagang keju yang sehari sebelumnya telah dititipkan pamannya kepada pedagang itu.
Di jalan Nu menyaksikan para prajurit lalu lalang. Diantara mereka ada yang membawa tombak, ada yang menenteng pedang panjang. Baju besi mereka menimbulkan suara yang aneh. Kuda-kuda terlatih dan kaki-kaki terlatih menderapkan langkah mereka menuju kastil. Di jalan itu tak banyak pemandangan yang dilihat oleh Nu, selain ia melihat teman-temannya dan menyapa mereka.
“Paman, kau percaya dengan peri?”, tanya Nu kepada pamannya.
Pamannya mengerutkan dahi. “Kau tahu kalau aku tidak pernah melihat sesuatu yang belum pernah kulihat aku tak percaya? Aku belum pernah melihat peri dan aku tak percaya.”
“Tapi legenda tentang mereka ada kan?”, tanya Nu.
“Kenapa kau tertarik dengan peri?”, tanya pamannya.
“Aku tertarik,…..karena aku ingin mementaskan drama tentang peri pada perayaan nanti”, kata Nu sambil memberikan senyuman.
“Kau bisa bertanya tentang seorang wanita yang tahu masalah peri ataupun legenda-legenda kuno. Aku tahu seorang gipsi yang kemarin aku jumpai. Katanya ia bisa meramal dan katanya juga ia tahu cerita-cerita seperti itu”, kata pamannya. “Aku tak percaya karena aku melihat sendiri Dedgard adalah manusia biasa seperti kita, tak pernah mempunyai pasukan dari monster ataupun Iblis. Mereka semua sama seperti kita. Walaupun aku pernah juga simpang siur mendengarkan legenda-legenda itu. Tapi aku sama sekali tidak pernah percaya terhadap hal-hal seperti itu.”
Nu terdiam, ia masih teringat mimpi yang menyeramkan yang dilihatnya tadi malam. Mereka pun sampai di pasar. Kereta kuda berhenti. Mereka berdua mengucapkan terima kasih dan turun. Nu menanyakan di mana wanita gipsi itu kepada pamannya. Pamannya menunjukkan sebuah papan nama yang bertuliskan “Peramal”.
Nu agak ragu untuk pergi ke tempat itu. Tapi ia benar-benar ingin tahu ihwal mimpinya. Ia minta ijin pamannya untuk pergi ke sana, pamannya mengijinkan, entah apapun yang diinginkan oleh Nu. Mungkin memang benar Nu ingin tahu sesuatu karena ia ingin membuat sebuah drama.
Dengan keberanian yang kecil, ia masuk ke rumah gipsi itu. Rumah gipsi adalah sebuah tenda yang dibentuk seadanya dengan hiasan pernak-pernik khas gipsi. Di dalamnya, ia bisa melihat gantungan tulang belulang dan beberapa buku-buku tebal. Tak ada orang. Ia lalu melihat sebuah pintu yang ditutup oleh kain kelambu. Di sana tertulis, “Hanya orang yang ingin mencari jalan terangnya masuk ke sini”. Nu mengerutkan dahi, ia makin tertarik untuk masuk ke sana. Disibakkan kain kelambu itu dan di depannya, tampak sesosok wanita yang sangat cantik duduk sambil menatapnya.
“Masuklah dan duduklah anak muda!”, kata wanita gipsi itu. “Jangan takut, aku bisa melihat aura ketakutan pada matamu.”
“Ee…i…iya”, katanya. Nu lalu mengikuti saran wanita itu. Tapi menurut Nu, kecantikannya terlalu disembunyikan, seolah-olah ingin menyembunyikan ia usia berapa sekarang. Nu berpikir wanita ini bisa menyihir wajahnya agar terlihat cantik.
“Apa yang ingin kau tanyakan?”, tanya wanita itu.
“Aku ingin tahu tentang peri”, jawab Nu.
Wanita itu tersenyum, “Kenapa kau tanyakan itu nak?”
“Karena aku…..karena…..”, Nu tak bisa menjawab alasan yang sama di depan wanita itu. Ia takut kalau wanita itu bisa meramalnya bahkan untuk kebohongan.
“Ah…tidak usah kau ceritakan, yang penting kau ingin bertanya sesuatu”, kata sang gipsi. “Aku bisa menceritakannya, karena kau adalah pengunjung pertama, aku anggap kau boleh bertanya 3 hal dengan gratis. Sebab biasanya aku memasang tarif”.
Nu agak mendongkol.
“Peri adalah spirit. Mereka hidup dari kuncup bunga Farga. Luth memberikan mereka kehidupan, sehingga mereka akan patuh segala ucapan Luth. Mereka memilki masa hidup seribu kali lebih lama dari manusia. Mereka pada umumnya memiliki telinga panjang, mata yang tajam, dan mereka bisa mengetahui benak manusia. Mereka hidup di tempat-tempat yang dianggap memiliki elemential yang tinggi. Seperti hutan, sungai, padang pasir, rawa, danau, gunung dan gua.
“Para peri hidup lebih dari jutaan tahun yang lalu. Sebelum tanah ini tercipta. Mereka misterius untuk para manusia, bahkan untuk bisa mengetahui bagaimana sejarah peri dan manusia pada zaman dulu manusia tidak mengetahuinya. Para peri biasanya mendampingi para ksatria terpilih. Dan terkadang menjadikan mereka sebagai sepasang kekasih. Ada banyak cerita tentang para ksatria terpilih yang mereka menikah dengan para peri. Namun tidak pernah ada cerita tentang keturunan mereka. Dan sampai sekarang masih simpang siur.
“Para ksatria terpilih itu adalah mereka yang hidup setiap seratus tahun sekali. Mempunyai darah yang murni, dan biasanya mereka mempunyai ikatan yang kuat ketika pertama kali bertemu. Tapi juga tidak seluruh peri akan mendampingi seorang ksatria. Hanya peri-peri terpilihlah yang akan mendampingi mereka.”
Hening sesaat, lalu wanita itu bertanya, “Kau mau tanya apa lagi nak?”
Nu bertanya, “Aku tadi malam bermimpi sesuatu yang aneh. Tadi malam aku bermimpi sesosok makhluk yang matanya tajam, dan aku juga melihat makhluk itu mempunyai sayap yang sangat lebar. Sayapnya hitam seperti kelelawar. Dan tubuhnya dikelilingi oleh api. Apa sebenarnya mimpiku ini?”
Sang gipsi terbelalak, hampir-hampir saja matanya copot karena melotot. Ia membuka sebuah buku, kemudian memperlihatkannya kepada Nu. “Apakah ini yang kaulihat di mimpimu?”
“Ya…, seperti itu, tapi…sayapnya lebih lebar”, kata Nu.
“Kau anak yang spesial, suatu saat kau akan mengetahuinya. Orang yang memimpikan makhluk ini akan menjadi orang yang spesial. Dia akan menjadi pahlawan, kau akan menjadi pahlawan nak. Dan banyak yang akan mengangkatmu menjadi pemimpin. Kau akan memimpin melawan kejahatan. Ketahuilah, jangan kau katakan hal ini pada siapapun, mimpimu tidak boleh diketahui oleh siapapun, selain dirimu sendiri. Dan kalau kau nantinya bertemu dengan peri yang mempunyai sayap yang sama dengan makhluk ini, maka itulah takdirmu.”
“Apa maksudnya?”, tanya Nu.
“Di tubuhmu mengalir darah ksatria. Aku tahu, karena hanya seorang ksatria yang bisa bermimpi seperti itu. Kaulah ksatria terpilih setiap seratus tahun itu”, kata gipsi itu.
Nu, kemudian menghela nafas, “Tapi aku sama sekali tak mengerti apapun. Aku tak tahu ilmu perang, aku juga tak pernah memainkan pedang. Aku hanya bisa berburu.”
“Kau tak perlu khawatir, sebab suatu saat kau akan mendapatkan guru yang bijak, kau akan mendapatkan gurumu dan kau akan menjadi orang yang paling faham terhadap pertempuran daripada siapapun”, kata wanita itu. “Sebagai pertanyaan terakhir. Aku akan meramalmu dengan tulang-tulang.”
“Tidak, aku tidak mau diramal”, kata Nu.
“Tidak apa-apa, ini gratis”, kata wanita itu. “Tapi aku tak akan menjamin bahwa ramalanku benar.”
“Aku tidak pernah percaya ramalan”, kata Nu.
“Memang benar, tapi tulang-tulang ini adalah tulang-tulang khusus, kau tak akan percaya padaku, tapi tulang-tulang ini bisa menceritakan segalanya”, kata wanita itu.
Sang wanita gipsi mengambil sebuah tungku, lalu ia memasukkan tulang itu ke dalam tungku. Rentengan-rentengan tulang itu berdentangan di dalam tungku yang kecil. Sesaat kemudian, tiba-tiba terbakarlah tungku itu. Api menyala dan tulang-tulang itu seakan-akan bergerak.
“Apa itu?”, tanya Nu.
“Waahh……luar biasa, aku bisa melihat kau berada dalam sebuah petualangan yang hebat. Kau bertemu dengan kekasih sejatimu. Kau berperang, hidupmu akan sangat menderita dalam perjuangan ini. Kematian silih berganti kau jalani. Tulang ini menceritakan, kau akan menjadi seorang yang besar. Kau akan menjadi seorang raja”, kata wanita itu. “Tapi ada halangan besar. Sebuah kekuatan besar dengan sayapnya berwarna perak menghalangimu. Langit menjadi gelap, tanah menjadi tandus, dan nasib seluruh makhluk ada di tanganmu. Kau jadi harapan terakhir manusia!!”
Mendengar itu Nu hanya bisa menelan ludah.
“Tak ada yang bisa membohongi tulang-tulang. Kau adalah ksatria terpilih”, kata sang gipsi. “Aku akan mencarimu suatu saat nanti kalau kau sudah siap. Karena kau akan butuh bantuanku ke depannya. Seluruh penghuni Aldemaria akan tunduk padamu. Kau jangan khawatir.”
Nu tidak tahan, ia takut dan dengan cepat ia keluar dari tenda peramal itu. Dan ia sampai di luar tenda dengan jantung yang berdebar-debar. Apakah wanita gipsi itu bercanda?
dikirim arczre 36 minggu 2 hari yang laluTag:







