BEGITU tiba di kontrakannya, Hendra yang baru pulang kerja malam itu langsung berlari ke kamar mandi yang letaknya di bagian belakang. Sebelumnya, dia harus melewati sebuah lorong sempit yang cukup gelap. Saat itu, suasana di situ cukup mencekam. Rumah kontrakannya masih sepi karena Anis sang istri pada jam-jam tujuhan masih sibuk mengambil kuliah kelas karyawan. Resti, tetangga yang biasa mengasuh Adit, anak mereka yang masih satu setengah tahun pun tak ada di situ.
Read more (1803 words)
Ternyata Anis sudah pulang, pikir Hendra saat dilihatnya pintu kamar mandi tertutup dan terkunci dari dalam. “Nis, lagi ngapain? Cepetan dong! Akang kebelet nih,” kata Hendra sambil menggedor pintu kamar mandi. Tapi, tak ada jawaban dari dalam. Yang ada malah hening. Bulu kuduk Hendra jadi berdiri.
“Nis, ayo dong! Kamu jangan becandain akang! Akang udah bener-bener nggak tahan nih! Buka pintunya!” sekali lagi Hendra memohon meski kini hatinya mulai dihujani ketakutan. Dan lagi-lagi tak ada jawaban dari dalam. Ketakutan Hendra meningkat saat lampu kamar mandi di dalam tiba-tiba mati. Lalu, saat dia memaksa membuka pintu, ternyata pintu pun tak terkunci lagi. Pelan-pelan Hendra membukanya, memastikan siapa yang ada di dalam. GREEET... demikian suara pintu yang engselnya sudah mulai berkarat itu, menambah tingkat kengerian. Degup jantung Hendra pun terdengar bagai tabuhan bedug kala takbiran.
Kosong! Kamar mandi itu benar-benar kosong! Jelas ini membuat Hendra takut dan sedikit melupakan rasa sakit di perutnya. Tapi dia tetap ingin tahu siapa yang sedang mempermainkannya. Siapa tahu ada maling yang sedang bersembunyi di situ. Maka, tangan Hendra pun menekan saklar yang tak jauh dari pintu. Kamar mandi itu tidak terlalu seram jika terang. Hendra memastikan bahwa di dalam memang tak ada siapa-siapa. Dia lega sekaligus was-was. Jika memang tak ada siapa-siapa, berarti yang tadi...? Ah, itu mungkin fantasi mistisnya yang berlebihan akibat sakit perut yang melilit. Tapi ketika dia benar-benar masuk untuk melaksanakan hajatnya buang air, dia melihat sesuatu yang menyeramkan. Tepat saat dia menutup pintu, sosok itu muncul begitu saja dari balik pintu.
“Aaa...!!!” teriak Hendra hingga ia tak sadarkan diri.
***
“Akang sekarang percaya kan sama aku?” kata Anis pagi itu saat memberikan sarapan berupa nasi kuning yang dibelinya dari warung nasi di depan kepada Hendra. “Yang aku bilang tentang misteri di rumah kontrakan ini tuh bener-bener ada. Paling enggak, sekarang Akang nggak nganggap aku pembohong lagi.”
“Akang juga heran,” ungkap Hendra sambil tetap merinding kalau harus mengingat kejadian semalam. “Padahal akang ini termasuk orang yang nggak percaya sama hal begituan. Tapi yang akang alami tadi malem tuh bener-bener nyata di depan mata. Wujudnya tuh perempuan, rambutnya panjang nutupin muka, bajunya putih dan sosoknya bener-bener nyeremin. Dia tiba-tiba aja muncul dari balik pintu.”
“Makanya jadi orang tuh jangan sok pemberani deh! Udah dikasih liat aja baru tahu rasa. Ketakutan sampe pingsan pula. Gimana, berarti sekarang kita udah sepakat dong buat pindah rumah lagi?”
“Pindah rumah lagi? Em... kayaknya nggak secepat itu deh, Nis. Kita di sini belum genap dua bulan. Uang kontrakan bulan ini udah dibayar, sementara kita hanya tinggal enam hari aja di bulan ini. Sayang kan?”
“Ya habisnya mau gimana lagi? Akang mau kita terus-terusan ngalamin hal-hal aneh dan nyeremin di sini? Aku nggak mau! Aku takut!”
“Nis, kita ini kan orang beragama. Jadi, kita nggak perlu takut apa pun kecuali Tuhan. Dan yang jelas, meskipun semalem akang bener-bener ngeliatnya dengan mata-kepala akang sendiri, akang tetep nggak percaya sama hal begituan!”
Tiba-tiba saja Adit yang sedang tertidur pulas bangun dengan suara tangis menjerit. Kontan membuat Hendra dan Anis kaget. Mereka segera berlari ke kamar untuk memastikan anak semata wayang mereka baik-baik saja.
“Cup cup cup, sayang...” Anis menggendong Adit, mencoba menenangkannya. Lalu dia memandang Hendra, “Ini gara-gara Akang sih. Kalo ngomong tuh bahasanya dijaga! Mungkin makhluk penunggu rumah ini ngerasa tersinggung karena omongan sompral Akang.”
***
Sepulang kerja malam berikutnya, Hendra disuguhi rengekan istrinya tentang rencana untuk segera pindah rumah.
“Kang, semuanya udah jelas kan? Rumah ini tuh emang ada apa-apanya. Kita wajib segera pergi dari sini.”
“Baiklah, kalau itu bisa bikin kamu seneng, kita bakalan pindah dari sini. Tapi nggak sekarang. Kamu tahu cari kontrakan baru tuh susah. Apa lagi kalau mendadak seperti ini.”
“Aku nggak mau tahu. Pokoknya malam ini juga kita harus ninggalin rumah ini!”
“Lantas kita mau ke mana? Kita mau tinggal di mana?”
Anis terdiam. Di benaknya tak ada lagi jawaban tentang tempat yang akan ditujunya, kecuali rumah mama dan papanya.
“Inget, Nis, ini tuh bukan yang pertama buat kita. Udah hampir tiga kali kita kayak gini. Pindah kontrakan buru-buru, hasilnya kayak gini. Akang nggak mau ini terus-terusan terjadi sama kita.”
“Siapa yang mau kayak gini? Kalau boleh milih, sejak awal aku nggak pernah mau tinggal di rumah kost atau pun kontrakan. Aku juga udah bilang dan selalu bilang sama Akang, lebih baik kita nggak pernah ninggalin rumah mama dan papa. Karena di situlah satu-satunya tempat yang paling aman dan nyaman buat aku, buat kita.”
“Nis, Akang malu kalau kita terus-terusan tinggal sama mereka. Belum lagi, di sana tuh bukan cuma kita satu-satunya keluarga yang tinggal. Ada kakak kamu yang juga udah berkeluarga. Nggak enak dong kita hidup bersama mereka. Akang pengen kita hidup mandiri. Dan selama tabungan kita belum cukup untuk beli rumah pribadi, nggak ada salahnya kita coba merintis semuanya dari nol. Kita belajar hidup susah dulu dengan cara ngontrak rumah.”
“Tapi kalau kita selalu dapet kontrakan yang bermasalah, bukannya kemandirian yang kita dapet. Yang ada malah stress. Akang inget, pertama kita dapet rumah kost? Semua barang-barang kita hilang satu per satu digondol maling yang nggak lain tetangga kamar kita. Lalu, kita mutusin buat tinggal di kontrakan susun. Masalah datang lagi. Hampir tiap hari aku bertengkar dengan tetangga rese. Dan sekarang, saat kita tinggal di rumah kontrakan tunggal, kita mesti ngalamin kejadian horor yang bener-bener ngeganggu jiwa dan raga kita. Ini yang Akang sebut sebagai mandiri?”
“Entahlah, akang juga bingung. Kenapa kita selalu bermasalah dengan tempat yang kita tinggali. Tapi mudah-mudahan, dengan segala masalah ini, kita bisa lebih bersikap dewasa dan mandiri tentunya.”
“Basi, Kang!” Anis nampak marah dan kesal. Lalu meninggalkan suaminya di ruang tengah.
Semalaman ini Hendra tak bisa tidur. Kepalanya seakan berubah menjadi komidi putar yang mengangkut penuh masalah yang nyaris tak terselesaikan. Di saat masalah yang satu belum kelar, muncul masalah lain yang tak kalah dahsyat. Beberapa hari yang lalu, ibunya interlokal dari kampung, memberitahukan bahwa adiknya terserang demam berdarah dan butuh biaya. Sebagai anak pertama, Hendra tentunya merasa terpanggil untuk memberikan uluran tangannya. Tapi, jangankan untuk itu, untuk kebutuhannya sehari-hari saja, Hendra benar-benar keteteran. Ditambah lagi, saat ini istrinya merengek untuk pindah rumah. Jelas perlu uang lagi untuk sewa rumah kontrakan yang baru. Sedangkan gajinya bulan ini sudah separuh dibayarkan untuk kontrakan dan tetek-bengeknya.
Sempat terpikir untuk kembali saja tinggal di rumah orang tua Anis yang memang menjanjikan. Hanya perlu bermodal muka tebal saja untuk tinggal di sana. Segala kebutuhan akan terpenuhi. Tidak perlu lagi keluar uang untuk bayar sewa rumah, listrik, air, telpon dan makan-minum. Tapi, Hendra bukan tipe lelaki seperti itu. Dia cukup tahu diri. Apa lagi, di mata orang tua Anis, dirinya bukanlah apa-apa. Tak lebih dari seorang lelaki miskin yang telah menghamili anak bungsunya sebelum ijab-qabul pernikahan.
Klontrang!!! Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari arah dapur. Hendra terjaga dari renungannya. Dia yang saat itu sedang rebahan di ruang tengah, bangkit dan beranjak ke arah sumber suara. Pelan-pelan kakinya melangkah. Dapur yang gelap membuat bulu kuduknya berdiri dan jantungnya diliputi ketakutan. Kembali Hendra teringat akan kejadian seram yang kemarin malam dialaminya. Terngiang kembali kisah-kisah mistis yang dialami istrinya, juga cerita-cerita yang sempat dia dengar dari tetangga yang tahu banyak tentang rumah itu. Orang-orang di situ bilang, konon di rumah itu dulunya pernah tinggal seorang nenek dan cucu perempuannya yang kemudian hilang setelah mengalami perampokan. Tidak ada yang tahu jejak mereka. Yang jelas, sejak kejadian itu, rumah kontrakan tersebut menjadi anker. Hanya saja pemilik rumah bersikap tutup mulut.
“Astagfirullah...” Hendra menguatkan batinnya. Lalu mulutnya bergerak-gerak membaca ayat kursi dan surat-surat pendek Al-Quran yang dia hafal guna memohon perlindungan dan kekuatan Tuhan.
Lalu muncul sekelebat bayangan putih. Tercium juga semacam bau melati di ruangan itu. Udara pun bertambah dingin. Hendra menggigil. Kini perasaannya semakin tak karuan. Dua kali dia mengalami peristiwa menyeramkan ini. Tak ada lagi alasan baginya untuk tak percaya. Bahkan dirinya tak bisa mengendalikan ketakutannya. Hampir dia pingsan lagi. Namun sekuat tenaga ditahannya. Hingga si putih itu pun pergi entah ke mana.
***
Minggu siang itu sebuah pick up terparkir di halaman rumah kontrakan itu. Barang-barang seperti lemari pakaian kecil, komputer, sound system, TV, kulkas kecil, pakaian, dan perabotan lainnya terkecuali kursi, tempat tidur dan lemari serta perabotan besar milik rumah itu, satu persatu diangkut ke pick up tersebut. Rumah kontrakan itu kini nampak lengang.
“Akang, makasih ya. Akang udah bikin aku bahagia dengan pindahnya kita dari rumah ini dan kembali ke rumah mama sama papa.” Tak pernah ada wajah bahagia yang Anis tampakkan kecuali wajah bahagianya hari itu. Kepindahan ini seperti sebuah keinginan terbesar yang diidam-idamkannya.
“Mama...” Anis langsung berlari menyambut mamanya yang datang bersama papanya. “Anis kangen banget sama Mama. Sama Papa juga.” Mereka pun saling berpelukan. Seperti keluarga yang terpisahkan dan tak pernah bertemu puluhan tahun saja. Padahal, baru juga tiga hari yang lalu Anis mengunjungi mereka.
***
Di rumah itu, Anis kelihatan amat sangat bahagia. Bisa berkumpul kembali bersama keluarganya adalah hal termanis dalam hidupnya. Tinggallah Hendra yang masih memasang wajah muram.
“Kang, sudahlah. Mungkin untuk sekarang-sekarang ini, tempat terbaik kita adalah di sini. Tinggal sama orang tua bukan berarti kita nggak bisa mandiri dan dewasa. Kedua kata itu udah jadi sesuatu yang bakal kita lalui dalam hidup. Cepat atau pun lambat. Hanya caranya yang berbeda pada masing-masing orang.”
Mendengar kata-kata istrinya itu, Hendra tersenyum. “Sekarang akang ngerti, nggak semua proses dalam hidup ini berjalan seperti yang kita bayangkan. Akang cuma perlu bersikap lebih terbuka aja.”
***
Sore harinya, Hendra kembali ke rumah kontrakan itu karena sang pemilik kontrakan menelponnya, memberitahukan bahwa masih ada benda yang tertinggal. Benda itu adalah sebuah kotak dus seukuran dus mie instant. Hendra sempat menyangkal benda itu miliknya. Seingatnya, semua barangnya sudah terangkut ke rumah orang tua Anis.
“Ya Allah...” Hendra benar-benar kaget mati saat melihat isi dus itu. Di dalamnya ternyata ada seperangkat kostum setan. Ada wig hitam dan putih panjang, jubah putih bermeter-meter, dan sekotak alat make up. Hendra tiba-tiba teringat dengan hal serupa saat dirinya pindah dari kontrakan pertama. Saat itu, ditemukan sekardus perabotan seperti piring-mangkuk-gelas yang sudah pecah, sendok-garpu yang sudah patah, beberapa sandal putus dan pakain robek juga kotor yang mirip dengan barang-barang mereka yang hilang. Ingatan Hendra tentang kepindahan dari kontrakan keduanya pun seakan dikembalikan. Saat dia dan Anis hendak pergi, sempat terdengar celetukan dari tetangga mereka, “Akhirnya pergi juga tuh cewek rese biang onar dan salah paham!”
Sepanjang perjalanan pulang, Hendra tak henti-hentinya berpikir. Kenapa? Kenapa harus dengan cara seperti ini, Nis? ***
| Kamis, 09 Nopember 2006 22:35 |
ceritanya oke, sempet ngeri juga pas baca awalnya..mudah2an nggak bikin aq takut ke kamar mandi sendirian...
saya suka cerita yang sangat membumi ini. semuanya cukup ok menurutku, seperti cerita pendek di koran sih, nuansanya... cukup rapu penulisannya ... cuma mungkin ada beberapa bagian dialog da deskripsi yang bisa dibikin lebih luwes.
kamu berhasil membuat ku takut. untung suasana di kantor ramai.
ternyata benar dugaanku .. hehehe
wah ane tertipu...
Cara penyampaiannya itu loh, asik
kasi komentar lagi yak!
pa aja boleh
yang bagus",, yg jelek",,
yang objektif,, yg subjektif juga boleh
thanks b4
-dadUn-