Seperti inilah semuanya berproses; tanpa melibatkan satu unsur kesengajaan, saya dan kamu berkenalan dengan tidak menyebut nama satu sama lain secara formal, kemudian tanpa penegasan pada kata ‘pertemanan’ kita berjalan di bawah bayang-bayangnya yang berada pada titik opacity yang minim. Sampai sekarang.
Bahkan kita tidak punya kebersamaan yang intensitasnya mengalahkan pertemuan antara bulan dan bintang-bintang. Dan hanya ada satu-dua nama kamu tertulis di sisa-sisa catatan harian saya yang sudah dipak rapi, menunggu tukang loak datang untuk ditukar dengan beberapa lembar ribuan-dari pada harus dibakar.
Sayangnya saya lupa kapan tepatnya hari itu dimulai. Hari di mana pertama kalinya saya melihat kamu bukan sebagai seseorang yang biasa-biasa saja. Hari di mana satu detik bersama kamu terasa lebih berarti dari kebersamaan berjam-jam dengan orang-orang selain kamu. Dan hari di mana saya tidak bisa pulang dengan hati yang tenang sebelum bisa melihat kamu.
“Kenapa kamu masih di sini?” kamu bertanya seperti sedang mengumpan jawaban jujur - yang hanya bisa saya katakan pada saat saya hanya bisa melihat punggung kamu yang mulai menjauh.
Saya pikir, kejujuran itu masih terlalu dini untuk diungkapkan. Seperti segelas air es yang disajikan di pagi buta, saat perut kita masih sama-sama hampa.
Hingga menunggu waktu itu tiba, kebohongan adalah semacam majalah COSMOPOLITAN yang tersaji di meja ruang tunggu. Begitu menggoda untuk dinikmati.
Saya tidak tahu, apakah jatuh cinta bisa membuat kita merasa ada semacam ‘sense extension’. Mencoba menerawangi jiwa kamu seperti yang saya lakukan ketika mengintip dari jendela luar rumah seseorang untuk memastikan siapa yang ada di dalam. Bahkan terkadang saya merasa seperti sedang melihat diri saya sendiri lewat diri seseorang, yaitu kamu. Tapi mungkin, semua itu hanya perasaan saya saja.
Dan benarkah jatuh cinta akan lebih indah dengan hiasan kebohongan?
Karena ternyata kejujuran terlalu mahal. Tidak mudah kita temukan diantara carikan kertas, serakan sampah, atau gulungan benang merah, seperti kebohongan yang tersedia di mana saja.
Dan apa yang bisa dijanjikan kejujuran itu sendiri???
Argh, sudahlah. Tidak ada yang perlu saya akui. Tidak tentang kejujuran dan kebohongan yang tengah saya jalani. Lagi pula, kita bukan lagi anak SMA yang sesederhana itu menerjemahkan segalanya ke dalam bahasa CINTA. Selama kita tidak tahu definisi dari cinta itu sendiri, kita hanyalah dua insan yang sedang bermain-main dengan perasaan.***
Rating
Comments: 9
Rating:
Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
Jujur, cerita ini kurasa dewasa, sopan, dan pembaca diajak untuk membuat imajinasinya sendiri
Mas dadun berlatih terus ya
ya c bu..
kalo yang gag ngerti hal yang menginspirasi lo untuk bikin tulisan ini, emang agag -ngeblur-..
walopun kata2 lo emang selalu apik tertata rapih..
bagus bgtttzzz
sukaaa
eh mas mampir2 ke:: Emptiness :: atau :: Bola Kaca Pecah :: ya..
Thanks b4..
sampai sekarang aku masih bingun dengan pengertian solilokui yang sebenarnya. bisa kasih tau aku dun?
...nice, dun. Saya setuju dengan mbak Ratih^^
Jenis cerita yang mendidik pembaca untuk bermain dengan imajinasinya sendiri. Klo gw pribadi siy jadi penasaran. Pengennya ada sambungan. Tapi gak jg gpp siy.
Seperti biasa, diksinya sempurna.
Cumaaaa, jangan lupa awalan "di" untuk membentuk kata kerja pasif dipisah penulisannya.
CInta yang berputar-putar adalah cinta buta, apakah engkau dimabuk cinta?
Kali ini aku benar-benar komentar Dun,tapi tidak secara teknis dan tetek bengek nya itu yah.. hehehehe
Aku baca crita ini agak muter-muter ga jelas arahnya kemana. apa Aku yang bego' kali' ya??huehehehehe
trus satu lagi, klo bisa di bikin paragraf ya..biar ga pusing yang baca.
btw, tentang permintaan maaf kamu itu...GA AKU TERIMA..kecuali kartu ATM mu beserta pin kau kirim ke dompetku...huahahahaha
piss bro! n keep writing
kasih komentar ya..
pa aja boleh
yang bagus", yang buruk"...
yang objektif, yang subjektif...
apa pun akan dengan sangat senang hati saya terima
thanks b4
-dadUn-