wanita-wanita

138
points
"

untuk perempuan-perempuan yang pernah terpuruk..

"masih ada esok,,"

"

Aku memandang wajahnya lekat. Jiwaku resah mendengar kisahnya. Dengan keraguan yang menggelayut dalam matanya dan air mukanya yang gelisah, aku tidak yakin dia akan menyelesaikan ceritanya, tapi entah dorongan dari mana, dia menuturkan juga pengalamannya yang membuat hatiku koyak.

Perempuan di hadapanku terlihat lega, sekaligus takut-takut setelah menyelesaikan ceritanya. Mataku nanar setelah mengetahui kisah hidupnya. Kisah hidup perempuan manis yang selalu tampak ramah dan ceria, yang berusaha keras menjaga dirinya dari setiap jamahan pria-pria tak bertanggung jawab, yang menutup auratnya sempurna, yang cerdas, yang aktif, yang rendah hati, yang sebelumnya tak pernah sebersit pun kukira bahwa ada fragmen dalam hidupnya yang terkoyak yang pernah menghancurkan jiwanya, walaupun kini ia berhasil bangkit.

“Aku sudah terjamah. Aku benci!” Tuturnya menyelesaikan kisahnya.

Aku memandangnya tak percaya. Jika sebuah peristiwa dalam kisah hidupnya adalah sebuah aib baginya, lalu apa pula kisah hidupku?

Aku menimang-nimang, mulai membandingkan kilasan cerita yang ia tuturkan dengan peristiwa yang kualami tiga bulan yang lalu. Jika dia, perempuan berjilbab nan manis itu merasa telah ternoda karena sebuah tangan kotor milik seorang dokter tak bertanggung jawab di sebuah rumah sakit, maka aku adalah perempuan yang lebih hina lagi. Jika jiwanya saja bisa begitu terguncang karena tangan kotor milik dokter itu telah dengan seenaknya menyentuh, meremas, dan menikmati sisi kewanitaannya ketika dia dalam keadaan tergolek lemah setengah sadar di rumah sakit, maka jenis perempuan apakah aku ini, yang liar, menjijikan, dan tak pantas disebut perempuan baik-baik? Jika kejadian yang menimpanya hampir lima tahun lalu, jauh sebelum dia akhirnya memutuskan untuk mengenakan pakaian muslimah, masih saja menggoreskan luka dalam di hatinya, maka hatiku telah hancur lebur mengingat peristiwa manis sekaligus pahit yang kualami akhir Desember lalu.

“Jika itu saja kau sebut sudah terjamah, lalu kau sebut apa peristiwa yang terjadi padaku?” Kalimat itu keluar begitu saja tanpa kusadari.

Sejurus dia memandangku lekat. Di balik mata kecilnya aku melihat kejernihan dan kepolosan seorang muslimah yang baik hati. Apakah aku sanggup menceritakan kepahitan ini? Sedang riak wajah gadis dihadapanku menyiratkan keingin-tahuan dan tanda kesiapan mendengar setragis apapun kisah yang akan kuceritakan.

Lalu, tanpa bisa dibendung lagi, seolah air bah yang mengalir deras karena bendungan tak lagi mampu menahan tekanannya, kalimat-kalimat jujur tentang segala kegundahan hatiku, tentang merananya aku, tentang kekecewaan, tentang hinaan dan deraan yang lama kupendam, kusimpan dan kusembunyikan dibalik senyuman yang kupaksakan, akhirnya meluncur deras tanpa bisa lagi kutahan dan kusembunyikan.

Hanya sebuah perkenalan biasa yang akhirnya membawa petaka. Sebuah kesenangan yang berakhir duka. Seorang pria mempesona yang menyeretku pada siksa. Dia begitu tampan, bersahaja, dan menyenangkan. Kedalaman matanya membiusku, tutur katanya menggetarkanku, setiap sentuhannya membakarku. Malam itu setelah seharian menemaninya berkeliling kota, tanpa kami masing-masing sadari, kami telah berada di sebuah ruangan, hanya berdua, saling tertarik, saling menginginkan, dan aku terlena, melupakan semua perkara dan fakta bahwa pria yang melenakan ini adalah pria yang baru kukenal, pria yang esok atau lusa akan meninggalkanku kembali ke negaranya. Dan benar saja, setelah malam itu, aku tak pernah mendengar kabarnya lagi.

Aku menutup wajahku malu. Perempuan dihadapanku tak bergerak, terpaku saja mendengar kisahku. Sedetik kemudian aku merasakan sebuah rangkulan hangat. “Menangislah.” Katanya lembut, dan aku menangis sejadi-jadinya. Menyesali kebodohanku, meratapi nasibku, menangisi mahkotaku yang hilang sebelum semuanya halal. Aku bukan lagi wanita suci, aku bukan lagi gadis berbudi, aku tak ada bedanya dengan sampah.

“Kita perempuan adalah objek yang sangat mudah mengalami pelecehan baik kita sadari maupun tidak.” Perempuan itu berkata lembut, “jika kita tidak menjaga diri baik-baik, semua akan berakhir fatal,” Kata-katanya menghujam, “apa yang menimpamu adalah sebuah kesalahan dan dosa, untuk menebusnya kau harus kembali pada-Nya dan bertaubat.”

“Tapi, aku hina,”

“Pintu maaf Allah begitu luas terbentang terbuka. Dan yakinlah, Allah akan memaafkanmu.”

Apa iya? Aku menimang-nimang dalam hati, tapi pandangan tajam menghujamnya seolah menembus ke dalam mataku lalu menancap tepat di hatiku.

“Aku temanmu, aku akan mendukungmu, yakinlah, dunia belum runtuh, kau hanya perlu bartaubat dan tidak mengulangi kesalahanmu.” Kata-katanya masih lembut.

Aku menunduk sambil diam-diam berjanji dalam hati, mulai kini aku akan menutup auratku, menjaga diriku dari mata-mata liar dan tangan-tangan jahil pria-pria tak bertanggungjawab. Lalu aku merasakan sebuah tarikan halus, aku menurut saja ketika perempuan lembut itu membimbingku ke mushala. “Shalat taubat, yuk.” Ajaknya. Dan aku menggangguk.

Your rating: None Average: 7.3 (19 votes)
dikirim kenary 35 minggu 5 hari yang lalu
Tag: