Usai diperiksa, Profesor Irene memisahkan diri dari rombongan. Matanya seolah tak mampu berkedip. Sebuah kawah besar menganga di depan gedung DINA. Noda hangus melebar melebihi luas stadion sepak bola.
Digta juga menyaksikan puing-puing di sekitar gedung. Ia berputar ke belakang dan mendongak. Seluruh jendela di gedung DINA tidak lagi berkaca. Beberapa bagian telah runtuh.
“Apa kalian tidak takut berlama-lama di sini...?” Digta bergerak menjauh.
Read more (1178 words)
Niken telah selesai diperiksa. Pemindai paramedis menyatakan, tidak ada tulang yang cacat. Hanya telapak tangannya saja yang mengalami luka lecet. Ia bergegas dibawa ke mobil paramedis.
Veren mendatangi Ayu.
“Di mana Bili?”
Ayu menggeleng kecil.
“Maksudmu? Dia...?”
“Aku tidak tahu apakah dia sudah mati atau belum. Yang pasti, ia tidak bersama kami. Sewaktu kejadian, ia berada di luar LABTEK.”
***
Cerukan besar di tengah kota sudah cukup membuat Profesor Irene terpana. Usai melewati sebuah bongkahan beton yang cukup besar, ia lagi-lagi mematung. Sesosok logam dengan tinggi hampir tujuh puluh meter berdiri tenang di antara reruntuhan. Meski dalam keadaan utuh, mesin tempur milik TNI tersebut diliputi noda hangus.
“Jin...?”
“Bagaimana bisa ada di sini?” Digta menyusul Profesor Irene.
“Maaf, aku terpaksa membawanya kemari.” Suara Imam membalikkan keduanya. “Mesin turbojetnya mengalami masalah usai kuadu dengan sebuah serpihan asteroid.”
“Kau anggota TNI, bukan?”
Imam mengangguk.
“TNI memiliki jin?”
“Bisa dilihat sendiri.”
“Sejak kapan?”
“Saya tidak tahu sejak kapan. Yang pasti, saya sudah menjadi pilot jin tiga tahun terakhir.”
“Dunia pasti tidak menerima ini. Indonesia....”
“Sebagian besar dunia pasti menerima. Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Arab Saudi, Jepang, dan Australia. Mereka hanya beberapa dari puluhan negara di Bumi, yang diam-diam ternyata memiliki armada jin.”
“Begitukah...?” potong Digta.
“Ya. Dan rencananya, negara-negara yang tergabung dalam Federasi Amerika, Timur Raya, serta Australegiun akan menyerang Cincin Zeus. Mereka seperti kebakaran jenggot usai diberi tahu oleh Pemerintah Indonesia. Bunker-bunker itu. Cukup mengagetkan.”
“Jumlahnya lebih dari tiga puluh buah. Bumi akan sulit untuk selamat.”
“Anda sudah tahu?”
“Karena saya yang melakukan riset.”
Mata Imam jatuh pada sebuah label pada jas Profesor Irene. Ia segera sadar. “Oh, maaf! Anda ternyata berasal dari Borneolab.”
“Indonesia ikut menyerang?” sela Digta.
“Sepuluh jam lagi peluncuran akan dimulai. Sebagai salah satu negara dengan kemampuan militer yang cukup baik, tentunya kami ikut dalam misi ini. Dan seharusnya, pesawat pengangkut jin telah tiba sekarang. Mereka mungkin akan terlambat. Tetapi aku harus tetap bersiap-siap. Permisi....”
Imam beranjak.
***
Perban yang membalut telapak tangan kanan Niken telah diganti. Bahkan, turut ditambah antiseptik untuk mencegah infeksi. Usai pengobatan, Niken menjauhkan diri dari mobil paramedis. Ia meraih ponsel dari saku jas kerjanya dan menghubungi sebuah nomor.
Menunggu panggilan tersambung, langkahnya terus terayun. Ia sampai pada sebuah pohon di sisi halaman depan DINA. Ada istri dan anak Veren di tempat teduh tersebut. Digta dan Profesor Irene juga terlihat bergegas mendekat. Mentari pagi terlalu panas. Sekitar gedung telah menjadi areal terbuka yang cukup luas.
Sepetinya, panggilan Niken tidak berhasil. Berkali-kali ia menghubungi nomor yang sama, berkali-kali pula ia mendapat pesan peringatan dari operator. “Sedang terjadi perbaikan atau masalah jaringan ,” katanya.
“Menara ponsel apakah rusak?” Niken menyapu pandangan pada area sekeliling. Sepertinya, menara ponsel memang tidak terlihat. Mungkin, rubuh saat serpihan asteroid itu jatuh.
“Tapi, apa hubungannya dengan ponsel? Aku menghubungi nomor kantor. Sinyal penuh. Mungkin, jaringan PSTN yang rusak.”
Letih menunggu tetapi tetap tak tersambung, Niken mencari nomor lain. Ia hubungi dan segera diangkat.
“Niken, ini benar kau?” Ia segera disapa seorang wanita.
“Alice? Ya, ini aku.”
“Syukurlah, kau selamat. Kau..., kau tidak akan percaya ini....” Suara wanita itu bergetar. Seperti menahan sesuatu.
“Alice? Kau tidak apa-apa?”
“Aku tidak apa-apa. Tetapi teman-teman kita..., mereka..., mereka tewas.”
Deg! Niken terhenyak. “Tewas...?”
“Pecahan asteroid tadi malam jatuh tepat di atas gedung. Puluhan karyawan dan penduduk tidak terselamatkan....”
Seketika itu, Niken merasa lemas. Kakinya lunglai, hingga tubuhnya jatuh terduduk di bibir halaman.
“DIVENN... hancur...?”
***
Lengang. Tetapi koridor itu berdebu dan serpihan di sana-sini. Ayu beruntung menemukan sebuah dinding dengan retak menganga. Ia berhasil menyelinap masuk ke dalam gedung DINA, tanpa diketahui petugas keamanan. Gedung itu sudah cukup ringsek. Sewaktu-waktu bisa runtuh.
Kali ini pun, gadis dingin tersebut masih berusaha melacak Bili. Dan masih tanpa perubahan, sinyal dari Bili tidak terlihat. Ia sudah mencari ke tenda Emergency Medical Center tak jauh dari gedung. Banyak pemuda berambut jabrik di sana, tetapi orang yang ia cari tidak terlihat.
Ayu membuka pelindung monitor gelang multifungsi miliknya. Sebuah menu didominasi warna hijau langsung terhampar. Sebuah tombol di monitor ia sentuh. Menu lain kembali muncul. Setelah menekan tombol kedua, layar menghitam. Batang proses berwarna hijau dengan cepat bergerak dari kiri ke kanan.
Lima titik sinyal radio petugas penyelamat sudah Ayu temukan. Ia kembali ke menu utama dan mengaktifkan fitur earing . Serta merta, earphone yang sudah ia pakai, mengeluarkan suara.
Proses menguping berjalan mulus. Ayu berhasil mengetahui posisi tiga tim penyelamat. Mereka berada di lantai atas. Dan mereka jugalah yang memberi tahu petugas keamanan. Gedung bisa runtuh kapan saja. Terdapat retak menganga di beberapa bagian gedung di lantai atas.
Sementara dua tim lain, berada di lantai dasar. Lantai yang sama dengan Ayu. Dari mereka, diketahui bahwa mereka mencari tiga orang. Satu wanita dan dua laki-laki. Dua di antaranya staf tata usaha DINA dan satu pegawai LABTEK.
Koridor berujung pada aula. Ayu sedikit menahan langkah. Langit-langit di tempat itu berlubang hampir seluas aula. Sebuah bongkah beton besar bertopang pada sebuah tiang. Sepertinya, bongkah beton itu jatuh dari bagian teratas gedung.
“Hei, Nona! Apa yang Anda lakukan di sini?”
Ayu menoleh. Seorang petugas penyelamat berjalan tergesa.
“Segera keluar dari gedung ini, Nona! Di sini tidak aman. Ayo, ikut saya!”
Tanpa mengangguk, tanpa pula menggeleng. Ia ditarik petugas penyelamat untuk menjauh dari aula. Dan Ayu hanya melangkahkan kakinya.
“Di sini TIM 4. Kami sudah menemukan satu korban. Kami akan pergi.” Earphone sang petugas bergetar. Terjadi komunikasi antartim penyelamat di gedung.
“Apakah ia temanku?” Ayu mendadak berbicara. Proses earing yang masih aktif, tidak begitu saja membawa suaranya.
Petugas itu menoleh. Ia heran.
“Korban yang baru saja TIM 4 temukan.... Apakah ia temanku?”
“Bagaimana...?” Sang petugas terlihat kaget, namun segera ia sembunyikan reaksinya itu. “Temanmu? Siapa, Nona?”
“Bili. Seorang pemuda dengan rambut jabrik. Staf LABTEK-DINA.”
Sang petugas segera memencet tombol earphone radio. “Apakah ia staf LABTEK yang kita cari?”
“Bukan. Seorang wanita. Staf TU. Keadaannya kritis.”
“Terima kasih.”
Langkah petugas penyelamat semakin cepat.
“Anda harus segera keluar. Kami tidak ingin ada korban lain selain kami jika gedung ini runtuh. Sebisa mungkin, kami akan mencari teman Anda.”
Baru berkata, sebuah bongkah beton besar menerobos langit-langit tepat di depan jalan. Petugas penyelamat hanya bisa kaget. Ayu membiarkannya bingung mencari jalan keluar. Ia malah berputar ringan dan melangkah menjauh.
“Kita putar arah. Lebih baik kita menemui penyelamat yang masih mencari temanku.”
“Anda tidak bisa pergi begitu saja! Keselamatan adalah prioritas!” Petugas penyelamat menyusul. Ia waspada menatap langit-langit.
Earphone milik sang petugas kembali bergetar. “Kami menemukan seorang pemuda terperangkat di dalam lift. Sebuah tiang menindihnya. Dan lift tempat ia berada sudah setengah terperosok. Kami perlu personil tambahan.”
“Apa ia berambut jabrik?” Ayu berucap seraya terus melangkah.
“Apa ia berambut jabrik?” ulang petugas.
Sesaat hening. “Ya.”
“Di mana lokasinya?”
“Di mana kalian?”
“Menurut map, kami berada di dekat lift menuju LABTEK.”
Salam kenal Kakak Senior ^o^
tulisan kakak hebat. Aku suka sekali. Suka duakali malah. Ceritanya menggigit. Tapi kok bagian c lebih duluan terbit?
By the way, aku juga nulis cerita xang latar belakang PD III. Tapi settingnya luar angkasa. Kalau aku posting, tolong dikomentari ya Kak.
Ceritamu semakin berkembang, unsur seru mulai bisa ditemui dalam dialog cerita. Contohnya TNI punya pasukan Jin.
Terus menulis, ditunggu lanjutannya.