Hygia Sophia (Chap. 3 : Bertahan Hidup)

44
points

Setelah tenaganya sudah cukup terkumpul, Adam berusaha berdiri. Tiba-tiba rasa sakit seperti mencengkram lututnya. Ia kemudian jatuh terhuyung dan duduk lagi. Dilihatinya lututnya yang sakit. Celana panjangnya robek dan lututnya terluka. Bentuknya mirip sayatan panjang tapi tidak mengeluarkan darah. Dirobeknya bajunya sebagian kemudian dengan itu dibuatnya perban sederhana. Diikatnya dengan kencang agar rasa sakitnya tidak lagi terasa saat ia berjalan nanti.

Ia mencoba berdiri lagi.

Tempat apa ini? katanya dalam hati.

Dari tempatnya berdiri sebuah tebing terjal menjulang dengan beberapa pohon tumbuh di sela-sela batuu. Akar-akarnya yang kokoh mencengkram lubang-lubang tebing yang kropos termakan usia. Adam mengayunkan langkahnya. Jalannya agak terseok akibat lukanya tadi. Sambil berjalan ia masih memperhatikan pulau tempatnya kini berada.
Pulau itu tampaknya tidak berpenghuni, liar, asing, dan semua kesan lain yang timbul saat melihatnya. Hanya gerombolan burung-burung besar yang terbang dan hinggap di puncak pohon tua, tempat mereka membangun sarang. Mungkin hanya itu penghuninya.

Jika diperhatikan dengan lebih teliti, pulau itu terbagi menjadi tiga daerah yang saling berlawanan. Karakteristik maupun bentuk geografisnya aneh. Pulau itu sangat berbeda dengan pulau-pulau kebanyakan, lebih mirip seperti gunung berapi yang masih aktif dan sewaktu-waktu dapat memuntahkan laharnya dengan tiba-tiba jika sudah tiba pada titik nol.

Daerah yang pertama merupakan daerah terjal. Banyak tebing-tebing curam dan batuan gunung memenuhi tempat itu. Selanjutnya―-di atasnya, merupakan tanah yang kelihatannya subur. Pohon-pohon besar berdaun lebat banyak menancapkan akar-akarnya di tempat itu. Di puncaknya hanya terdapat padang tandus. Tanahnya kering, terlihat gersang. Hanya semak-semak berduri dan rumput ilalang yang sudah menguning banyak terlihat dari tempat Adam kini berdiri. Ya... walaupun tidak tampak jelas, tapi memang itulah adanya.

Adam menemukan sebuah goa terletak dekat sebuah karang meja yang sudah mati. Kerikil-kerikil pantai yang tajam, siap menghalangi jalannya menuju tempat itu.
Bibir goa itu bulat, gelap, dan terasa dingin saat memasukinya, sama seperti goa-goa pada umumnya. Ada semacam stalagtit yang berdiri kokoh di mulut goa. Stalagtit itu bagai taring yang siap menancap di tubuh siapapun yang berusaha masuk ke dalam goa, seolah-olah mulut penguasa rimba.

Jauh ke dalam, goa itu mirip terowongan waktu menuju ke dunia lain yang menghubungkan suatu masa, dimana tangis dan peperangan tidak terdengar berkumandang lagi. Mungkin juga dunia yang belum pernah dilihatnya. Sebuah dunia imajinasi yang sangat hebat seperti yang ada pada film-film animasi buatan Hollywood.

Banyak stalagtit dan stalagmit menggantung maupun berdiri di sisi-sisinya. Suara tetesan air terdengar nyaring, jatuh dari ujung-ujung batu stalagmit membentuk sebuah kolam kecil menampung tetes-tetes air. Tapi anehnya semakin berjalan ke dalam, dinding-dinding goa itu semakin bersinar. Bercahaya bagaikan lampu petromak yang bersinar di malam hari. Sinarnya yang kehijau-hijauan memantul ke segala arah. Di hadapan Adam sudah tidak ada jalan lagi. Harapannya untuk menemukan sebuah dunia yang ada dalam angan-angannya sirna seketika.

Konsentrasinya kembali lagi pada dinding goa itu. Rasa ingin tahu memacu otaknya untuk mengetahui mengapa dinding goa itu bersinar. Dirabanya dinding goa itu. kesan pertamanya adalah licin, lembab, dan halus terasa di telapak tangannya. Sinar di dinding itu kini berpindah ke tangannya. Ternyata tumbuhan-tumbuhan seperti lumut yang menempel pada dinding goa tersebut memancarkan sinar kehijau-hijauan. Di depannya, karang meja yang sudah mati dan memutih membentang panjang. Usianya ungkin sekitar puluhan hingga ratusan tahun.

Didudukinya karang tersebut.

“Lumayan...” gumamnya. “Mungkin karang ini bisa kugunakan untuk tempat tidurku malam ini. Lagipula permukaannya datar. Tapi...” katanya kemudian.

Berhenti sambil mengelus-elus kedua tangannya.

“Tapi di sini dingin. Aku pasti tak tahan jika harus diam di sini terus, apalagi kalau malam hari. Mungkin suhunya akan lebih buruk dan lebih dingin dari pada ini,” Adam mengeluh.

“Sebaiknya aku mencari sesuatu yang bisa kujadikan alas, terlebih lagi selimut untuk kugunakan malam ini, kalau tidak kayu bakar.”

Balutan kain lusuh masih terikat dan melingkar di lututnya. Jalannya yang pincang, meninggalkan jejak di pasir pantai. Seperti sebuah garis lurus yang terus membentang tiada henti, membagi antara batas laut dan daratan. Kini jalannya semakin dipercepat tatkala dilihatnya kumpulan rumput seperti ilalang tumbuh di dekat sebuah batu besar tak jauh dari bibir pantai. Rumput itu meliuk-liuk tertiup angin. Dicabut dan dilihatinya salah satu rumput itu. Sebuah senyuman terpancar dari bibirnya, kemudian tanpa berfikir panjang dicabutinya rumput-rumput itu dengan tenaga yang masih tersisa.

“Ini bisa kujadikan alas untuk tempat tidurku nanti,” katanya. “Rumput ini hampir sama dengan jerami, tapi batangnya lebih besar dan lebih lentur.”

Setelah terkumpul banyak, salah satu rumput yang paling panjang diambil dan dijadikan tali untuk mengikat semua rumput itu. Selain angin yang bertiup pelan, ada sesuatu yang sedang memperhatikannya. Seperti terdengar suara dengusan sesuatu yang sedang mengincar jiwanya. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri, menegang seperti terkena aliran listrik. Arahnya dari balik timbunan semak-semak berduri jauh di belakang. Namun saat Adam berbalik menengok tempat tersebut, makhluk itu sudah hilang.

Sempat sekilas tadi terlihat olehnya bayangan seekor mahluk menyerupai anjing, berbulu hitam lebat dengan dua tanduk di kelapanya. Tapi mungkin itu hanya perasaannya saja. Mungkin hanya penglihatannya sedang tidak baik saat itu. Pekerjaannya yang tadi sempat tertunda, dikerjakannya lagi.

Setelah sampai di dalam goa, mengatur rumput-rumput itu menjadi alas tidurnya, Adam keluar. Perutnya berbunyi, sepertinya cacing-cacing yang bersemayam dalam sana kelaparan. Memang dari tadi ia belum makan apapun.

Adam menyisir sepanjang bibir pantai yang terhampar luas di hadapannya.

“Mungkin aku bisa mendapatkan sesuatu yang bisa kumakan untuk mengganjal perutku hari ini,” katanya pelan.

Di sebuah batu berukuran besar, didapatinya sebuah tas ransel terapung, terseret-seret oleh gulungan ombak kecil. Diambilnya tas itu, lalu dibawanya ke daratan. Ia duduk di bawah sebuah pohon kelapa yang tampaknya sudah cukup tua. Hanya beberapa butir kelapa tua berwarna kecoklatan bercampur warna abu-abu, menggelantung di tiga ruas tangkainya. Adam membenarkan posisi duduknya bersiap membuka tas itu.

“Ini mungkin milik salah satu penumpang pesawat,” ujarnya.

“Bagaimana keadaan mereka semua?” ia teringat kembali.
“Apakah diantara mereka semua ada yang selamat seperti aku?” ia terdiam, “Tapi itu tak mungkin. Sudah jelas tak ada yang selamat jika kejadiannya seperti itu. Tapi mengapa aku masih hidup? Apakah karena Tuhan masih sayang padaku?” Adam menengadah ke langit.

Resletig bergeser. Beberapa baju dan celana yang basah dikeluarkan dari dalam tas itu. Di bawah tumpukan baju itu ada dua buah kotak plastik. Satunya berwarna hitam dan satunya lagi berwarna coklat dengan garis-garis di tengahnya.

Pertama-tama kotak berwarna hitam dulu yang diambilnya. Kotak itu besar tanpa ada sesuatu yang menguncinya sebagai pengaman. Adam membukanya dengan mudah. Sebilah belati bersembunyi dalam sarung kulit berwarna coklat yang ukurannya tak sebanding. Di samping sarung belati itu, terdapat juga semacam ikat pinggang yang mungkin gunanya untuk melilitkan belati bersarung itu di pinggang pemiliknya yang dulu. Belati itu tidak panjang, hanya sekitar 10 senti dengan ukiran kepala singa pada gagangnya yang di cat emas. Selain belati itu, ada juga gulungan benang pancing beserta mata kail, ada juga gulungan tali tambang berukuran kecil tapi kuat―tidak seperti tali tambang kebanyakan yang umumnya berukuran besar.

Setelah puas melihati isi kotak pertama, kini giliran kotak kedua dibukanya. Kotak itu lebih berat dari kotak pertama tadi. Kotak itu masih basah dan rembesan air masih terasa saat kotak tersebut diangkat dari dalam ransel. Seperti pada kotak pertama, tidak terdapat sesuatu yang mengamankannya. Bahkan lilitan selotip pun tidak ada. Dibukannya kotak itu dengan tidak sabar, tapi hati-hati. Sepasang sepatu kain dengan tali sepatu yang sudah tersimpul, meringkuk dalam kotak tersebut.

Belati itu dililitkan ke pinggangnya yang ramping dan ternyata memang cocok.

Tiba-tiba ide itu muncul seketika. Pisau yang mirip belati itu dikeluarkan dari sarung tempatnya tadi berada. Kedua kakinya diluruskan meski masih terasa sakit. Celana panjang yang sudah lusuh dan robek pada lututnya itu diangkat, kemudian disayat pada bagian lututnya hingga melingkar dan bertemu lagi pada titik sebelumnya. Begitu juga bagian celana panjang sebelahnya. Sekarang dia bisa bergerak dengan leluasa. Rasa sakit di lututnya makin berkurang karena tidak bergesekan lagi dengan kain celana panjangnya yang kaku dan keras.

Dilihati lagi kedua potong kain jeans tadi. “Sia-sia kalau dibuang,” katanya pelan.

Dengan hati-hati, kedua potongan kain tadi dimasukkan ke lengannya begitu juga pada lengan yang satunya lagi. Pada kedua ujung kain jeans tersebut diikatkan tali. Dililitkannya tali itu agar tidak longgar, tapi tidak terlalu kuat agar aliran darahnya tidak mengumpal di dalam. Tidak lupa ia punguti ranting-ranting kayu dekat situ, lalu ia kembali ke goa.

Di dalam goa, batang-batang kayu yang tadi dibawanya disusun satu-persatu, ditegakkan menyerupai sebuah piramida Mesir yang tidak terlalu besar. Rumput-rumput yang tidak terpakai ditaruh di atas kayu-kayu yang telah disusunnya.

Sebuah batang kayu diambil kemudian diruncingkan dengan pisau belatinya, tapi tidak seruncing saat anak-anak meraut pensil mereka. Batang kayu yang berada di bawah menjadi tumpuan. Seperti yang sering dilihat Adam di televisi dalam acara bertahan hidup di alam liar, ia melakukan hal yang sama. Terlebih lagi dulunya, ia pernah bergabung dengan organisasi pramuka di sekolahnya saat SMA, tapi itu juga tidak bertahan lama karena suatu alasan. Jadi menyulut api dengan cara itu sudah gampang dilakukannya.

Diputar-putarnya kayu itu dengan kedua telapak tangannya, cepat dan saling berlawanan arah, pasti serta kuat. Asap mulai keluar, lalu diikuti bara api. Api tercipta, membuat suasana dingin dan lembab yang sebelumnya menyelimuti goa berubah hangat. Beberapa kayu lagi dimasukkannya ke dalam api unggun buatannnya itu, membuat kobarannya bertambah besar.

Matahari makin meninggi, bayangan juga sudah berganti arah. Bajunya yang lusuh sudah berganti dengan baju yang tadi diambil dari tas ransel tersebut. Ia duduk di pasir pantai dan sedang mengerjakan sesuatu. Tangannya dengan cekatan mengikat benang pancing pada sebuah kayu panjang yang tadi diambil dari sebuah pohon yang tidak terlalu besar. Ranting-tantingnya yang kecil dan masih lunak dibabat dengan pisau belati hingga habis dan mulus tak berbekas. Mata kail juga sudah diikat kuat menggunakan simpul mati. Kini pancingan sederhana telah selesai.

“Sekarang hanya tinggal mencari umpannya,” pikirnya kali ini.

Matanya dengan teliti melihat setiap celah-celah batu karang di bibir pantai. Ombak-ombak setinggi lutut terus menghantam kakinya. Dengan sekejap, tangannya mengambil sesuatu dari dalam permukaan air. Gumpalan pasir pantai memenuhi tangannya. Dengan tangan satunya yang sedang memegang pancingan, ia membersihkan pasir itu dengan hati-hati. Disingkirkannya pasir yang masih memenuhi telapak tangannya.

Seekor cacing menggeliat-geliat kepanasan terkena cahaya matahari. Cacing itu berbeda dengan cacing yang biasa ditemuinya di daratan. Warnanya yang ke merah-merahan, bentuknya yang panjang memang terlihat seperti cacing pada umumnya. Tapi seperti ada duri-duri yang mengelilingi tubuh cacing tersebut. Duri itu lunak, sangat berbeda dengan yang ada di bayangannya. Tanpa pikir panajang, dengan cekatan ia memasukkan mata kail menembus rongga tubuh cacing itu.

***

Di luar bulan sabit hanya memancarkan sebagian sinarnya. Hanya beberapa bintang yang turut serta menjadi penghias langit pada malam itu. Di dalam goa, Adam sedang berbaring. Perutnya buncit, antara kekenyangan dan kepuasan akibat terlalu banyak makan ikan hasil pancingannya tadi siang. Bunyi gemeretak batang kayu yang dilalap api terdengar ketika Adam memasukkan lagi beberapa batang kayu agar suasana makin terasa hangat. Kembali ia berbaring. Sekarang, ia sedang merenung, memikirkan nasib orang tuanya yang pastinya kuatir akan nasibnya saat ini. Di dinding goa terukir sebuah garis vertikal. Adam mengukirnya untuk menandakan bahwa sudah sehari ia berada di pulau tersebut, terkucilkan dari dunia luar.

Kini ia seperti kembali ke zaman purba. Tak ada teknologi canggih yang dapat digunakan, semuanya manual tanpa bantuan mesin.

Saat pikirannya telah jauh melayang, tiba-tiba ada suara melengking. Terdengar seperti teriakan kesakitan yang menggema di kegelapan malam di luar goa. Adam bangkit. Ia mencoba lebih menajamkan indera pendengarannya itu, berharap suara tadi terdengar lagi olehnya. Tapi tak ada. Suara itu menghilang, entah apa penyebabnya.

“Mungkin hanya suara gesekan daun atau ranting yang tertiup angin,” pikirnya.

Kembali ia merebahkan tubuhnya. Bau khas tercium dari rumput kering yang dijadikannya alas tersebut. Bau rumput seperti aroma terapi, dapat menenangkan pikiran dan jiwanya serta melepaskannya dari semua masalah yang timbul. Membuat matanya kian mengatup.

~To Be Continue~

Your rating: None Average: 6.3 (7 votes)
dikirim abc 24 minggu 6 hari yang lalu
Tag: