SUATU HARI DI TOKO BUKU

42
points
"

Kehidupan mengajarkan kita banyak hal. Perubahan ke arah yang lebih baik tentu akan membuat kita lebih berperan andil di dalamnya sehingga dunia terasa bagaikan surga....

"

Kakiku tak bisa diam. Apalagi yang harus ku lakukan agar kaki ini bisa diam duduk tenang di satu tempat. Tapi, itulah kebiasaanku hingga pukul sembilan nanti malam. Coba bayangkan, sekarang baru pukul satu siang. Biasanya aku menghabiskan waktu luang di toko buku untuk membaca buku-buku terbitan baru, walaupun hanya sekedar membaca sinopsis, aku sudah senang. Bagiku satu kata adalah ilmu yang sangat berharga. Aku hanya anak kos dengan uang bulanan pas-pasan, untuk membeli buku bagus sangatlah menguras kantongku yang tipis.
“Ana….” Suara lantang itu membuat batang leherku berputar sembilan puluh derajat kearahnya.
“Dita” Aku kaget. Alamak! Cantik nian budak itu sekarang. Mataku masih tertegun padanya. Dita mendekat dan memelukku.
“Sudah lama tidak bertemu Na!” Sapanya lembut membuat urat rinduku tersentak.
“Aku kangen sama kamu Dit, sudah hampir dua tahun kita tidak bertemu” Kami saling tertawa.
“Kamu cantik sekali” Ucapku spontan yang semakin kagum dengan kecantikannya. Bagian yang sedikit terbuka di bagian dadanya dengan paduan jins ketat membuatnya bergaya ala model zaman edan ini.
“Hai sayang?” Seorang laki-laki paruh paya datang mendekati kami.
Kekagumanku berubah jadi keheranan yang membuat otakku bertanya seribu bahasa. Siapa pria yang berumur di depanku ini. Dia merangkul Dita dengan mesra. Pria itu memperkenalkan dirinya padaku.
“Na! Kami duluan ya” Ucap Dita datar.
Mereka kelihatan buru-buru. Aku hanya bisa menganggukkan kepala dengan penuh rasa penasaran yang hebat. Dita sudah jauh berbeda. Ternyata global ini telah meluluhlantahkan peradaban menjadi revolusi yang modern, canggih, mutakhir dan sagala hal yang serba instant. Tidak hanya penampilan, tatakrama, cara bergaul, bahkan harga diri pun raib di telannya. Gadis lugu itu kini jadi permainan dunia. Mataku masih melotot pada sepasang kekasih itu. Dengan lembut pria itu mencium keningnya.

Your rating: None Average: 6 (7 votes)
dikirim enda 35 minggu 4 hari yang lalu
Tag: