It’s Okay
Mata Kevin semakin jarang berkedip. Kening berkerut hingga kedua alis hampir bertemu. Kedua bibir yang terkatup imut turut manyun, menunjukkan betapa serius sesuatu yang ada dihadapannya. Seandainya Kevin sekarang sebagai Demokritus, mungkin dia saat ini sedang berjuang memutar pikiran sebelum menentukan, apakah atom dapat dibelah terus atau ada batasnya. Jika Kevin saat ini menjelma sebagai Superman, dia mungkin sedang memasang instinct, kira-kira kota mana yang sedang membutuhkan pertolongannya atau Louis sekarang sedang ada di mana. Bahkan, jika Kevin sekarang berupa Doraemon, mungkin dia sedang berpikir, alat ajaib apalagi yang akan dia keluarkan untuk Nobita. Mereka akan jarang berkedip karena otak sedang sibuk memerintah untuk berpikir. Otak tidak mempunyai banyak waktu untuk memerintah mata berkedip. Meskipun mungkin berkedip memang bukan sepenuhnya perintah dari otak. Kevin tidak sedang sepenting Demokritus, Superman, atau Doraemon, setidaknya untuk saat ini. Dia baru berusia 4,5 tahun dan duduk di taman kanak-kanak nol kecil. Dia juga hanya sedang bermain game. Tidak seorang pun mampu mengganggu konsentrasinya, tidak juga mamanya. Dynomite deluxe, game baru yang dikopikan oleh Om Ari, teman mamanya telah menyita seluruh perhatian Kevin. Kantor mamanya yang riuh oleh suara gosip ibu-ibu tidak mampu menggoyahkan pandangan Kevin terhadap Fossil challenge yang dia mainkan.
”Kevin, mainnya sudah sayang. Mama mau mengerjakan laporan. Kamu main sama Dean sana!”, mamanya yang semula ikut terlibat dalam pembicaraan ”all about woman” mungkin mulai tersinggung dengan obrolan itu atau sudah menyadari kembali tugas yang belum selesai.
Kevin tidak menghiraukan perintah mamanya. Setiap hari sepulang sekolah, dia selalu bermain game yang ada di dalam komputer mamanya. Mama Kevin sengaja memilihkan sekolah yang dekat dengan kantornya agar dapat antar_jemput sekalian. Sekolah yang dipilih itu pun cukup bermutu. Fasilitas, guru, dan jam belajar sekolah itu dapat dikategorikan berkualitas. Setara dengan biaya.
”Kevin, mama bilang Kevin mainnya udahan!”, mamanya mulai mengeraskan suara. Sementara Kevin tetap tidak menoleh sama sekali.
”Ke..vin!”, mamanya benar-benar mulai naik darah dan menarik tangan Kevin.
”Ah... mama! Ini game baru”, Kevin akhirnya beranjak juga dari kursi. Dia berlalu keluar dari pintu ruangan menuju halaman kantor mencari Dean.
Beberapa saat setelah Kevin bercanda dengan Dean, mamanya tiba-tiba mendatangi Kevin dan menginterogasinya.
”Komputernya Kamu apakan, Kevin? Laporan mama tidak bisa dibuka!”
”Aku main game. Aku tidak merusak komputer”, Kevin membela diri dengan polos.
”Iya, Kamu main game, tapi Kamu tadi mencet apa? Ayo ikut mama, tunjukkan Kamu tadi mencet yang mana”, mamanya kembali menarik tangan Kevin.
Sesampai di depan komputer, Kevin bingung. Dia hanya memencet ”tikus” seperti yang diajarkan Om Ari. Selama ini Kevin main game apa pun juga tidak pernah terjadi kesalahan. Komputer tidak pernah rusak oleh tangannya.
”Ayo, Kamu tadi mencet yang mana?”, mamanya terus mendesak.
”Mama, aku tadi hanya mencet tikus aja. Memang laporannya mama taruh di mana?”, Kevin tetap merasa tidak bersalah.
”Laporan mama ya ada di dalam sini. Ah...susah ngomong sama Kamu! Pokoknya password tidak bisa kebuka”, mamanya coba menjelaskan.
”Peswod itu apa, Ma?”
”Password itu kata kunci. Kata kunci itu terdiri dari kata-kata yang dulu mama buat. Kata-kata itu dipakai dan dituliskan di sini untuk membuka laporan mama. Ini mama sudah coba berulang-ulang tapi tetap tidak bisa”, mamanya menjelaskan panjang lebar sambil menunjukkan kotak password kosong dan berharap anak ini cukup cerdas untuk menangkap penjelasan itu.
”Oooo”, hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Kevin.
Mereka berdua diam. Mama Kevin terus mencoba berbagai kata untuk membuka file laporan itu.
”Loh, mama yang membuat peswod tapi kok aku yang disalahin?”, tanya Kevin masih tetap polos. Mama Kevin cukup kaget dengan ucapan Kevin. Dalam hati, ”Iya juga. Bukankah mau dipencet apa pun tidak ada hubungan dengan password. Ini cuma masalah lupa atau tidak. Atau...”
”Mama lupa barangkali. Mama dulu nulis kata apa? Mama nulis pakai huruf besar atau kecil? Aku di sekolah diajari huruf besar dan kecil. Huruf besar dipakai nulis pertama. Mungkin mama salah, pakai huruf kecil semua. Seharusnya pakai huruf besar dulu, Ma!”, Kevin nerocos dengan alibi polos.
Mama Kevin tidak komentar apa pun. Secara otomatis dia memencet caps lock. Kemudian, kata-kata yang sangat dia yakini sebagai password yang telah dicoba berulang-ulang dipencetnya kembali. Laporan langsung terbuka. Ekspresi muka mama Kevin langsung berubah. Dia tersenyum sendiri. Kevin tidak menyadari karena dia terlalu kecil untuk mengerti perubahan yang tidak terlalu kentara. Pada saat itu, tidak ada yang terlintas di kepala mama Kevin kecuali pikiran betapa bodohnya dia. Lebih bodoh daripada anak 4,5 tahun. Ini memang masalah sepele. Masalah kecil yang mungkin disebabkan masalah yang menurutnya besar dan mengacaukan pikiran. Apa pun alasannya, yang paling benar yaitu anaknya cukup cerdas walaupun mungkin hanya kebetulan saja.
“Hebat! Mama hebat! Top...top! Komputernya tidak jadi rusak! Kalau begitu Kevin main lagi, ya?”, Kevin bersiap lari keluar ruangan.
”Eh...tunggu! Kevin hanya boleh main sebentar. Setelah itu, Kevin harus tidur siang. Tidak boleh membantah!”
”Ah Mama...aku kan dari tadi belum main sama Dean. Tidak usah tidur siang. Kevin juga tidak ngantuk kok. Ya, Ma?”
”Tidak boleh. Pokoknya Kevin harus tidur”
”Mama galak! Lebih galak daripada bu guru dan mama Ayu!”, Kevin cemberut.
”Mama Ayu...mama Ayu! Mama Kevin cuma satu. Mama Kevin cuma Mama Nana! Ingat ya!”, Mama Kevin mulai emosi lagi. Sumber kekacauan di pikirannya ternyata tidak dianggap lebih buruk daripada dirinya oleh anaknya sendiri.
”Mama Ayu orangnya baik”.
Belum sempat Mamanya melontarkan ucapan bantahan lagi terhadap opini Kevin barusan, Kevin sudah keburu kabur.
Tag:










