“Aku rasa, Kak Sonia hanya bercanda.” Andiev mencoba menanggapi keluhan Ilyas. Sore itu, mereka duduk-duduk di pinggir kolam renang. Di dalam kolam, beberapa anak kecil tengah bermain. Sementara di seberang kolam, dua teman Ilyas tengah bersantai. Dua pemuda itu duduk-duduk di kursi sembari menikmati seteko jus jeruk.
“Bercanda?”
“He-e!”
“Masa, bercanda sampai seperti itu? Apa karena ia sudah lama tinggal di luar negeri?”
Maaf, untuk kali ini singkat saja. Kurasa kali ini ada semacam ketidakmerataan antara kejadian-kejadian yang besar dengan yang kecil.
Terus terang, baru sekarang saya bisa secara keseluruhan menangkap gambaran ceritanya tentang apa. Gumana kalo Bung Dirgita sekarang lebih menaruh fokus dari sudut pandang satu tokoh saja?
Kurasa, masih ada banyak sekali hal yang masih perlu dijelaskan.
Saya sungguh-sungguh berterima kasih atas komentarnya. Well, akan saya jelaskan beberapa di sini.
(1)
Bukan mengada-ada, tetapi rasanya saya terharu atas komentar Alfare dan elbintang. Akan saya coba di pertarungan selanjutnya. Syukurlah karena diberi tahu sekarang. Soalnya, masih ada sebuah pertarungan panjang lain, yang sepertinya perlu polesan agar tidak tampil sangat hambar.
(2)
Mas bamby_cahyadi, djava_wong, alfare, dan elbintang. Cerita ini mulanya dibuat untuk mengikuti sayembara penulisan naskah film sekitar empat tahun lalu (iklannya tayang di stasiun TV nasional juga di internet). Setelah dikirim dan tidak ada kabar, ceritanya saya rombak habis dan jadilah seperti sekarang ini. Perlu waktu satu tahun bagi saya untuk membuatnya menjadi seperti sekarang. Mulanya tidak ada Ayu dan Prof. Irene, sekarang ada. Mulanya DINA kokoh mengkilap, kini ludes tinggal puing. Mulanya hanya cerita usai Perang Dunia Ketiga, kini bergeser cerita yang muncul usai Perang Kosmik (akan dijelaskan sebab PD III dan PK di bab 10 – silakan kritik jika ada hal yang tak logis). Dulunya hanya cerita yang berdiri sendiri, kini seperti ujung sebuah kerucut, di mana semua konsep cerita yang saya buat selama delapan tahun terakhir berkumpul di sana (jin, Masa Koloni, ion, Perang Dunia Ketiga, dll).
Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih atas kesediaannya membaca cerita ini dan juga komentar panjang ini. Oh iya, maaf jika untuk beberapa waktu saya absen dari karya teman-teman. Lagi sibuk soalnya. Sibuk menulis program komputer. Hehe.
Pemberitahuan penting!: Silakan baca pula Kisah Bagian 6 (C). Cerita itu nyaris tak terposting. Dan tentunya, diposting terlambat.
Ada yang hendak menkritik atau memberi saran? Atau hanya sekedar berkomentar? Saya ucapkan terima kasih banyak!
Pernyataan lisensi: Teman-teman boleh menyalin cerita ini ke media simpan lokal. Penggandaan diizinkan selama dalam bentuk digital, tidak menghilangkan sumber atau penulis asli, dan tidak untuk melanggar norma dan peraturan yang berlaku, dan bukan untuk tujan komersial. Jangan mencetak cerita ini ke atas kertas! Pohon sudah banyak yang ditebang untuk itu.
Maaf, untuk kali ini singkat saja. Kurasa kali ini ada semacam ketidakmerataan antara kejadian-kejadian yang besar dengan yang kecil.
Terus terang, baru sekarang saya bisa secara keseluruhan menangkap gambaran ceritanya tentang apa. Gumana kalo Bung Dirgita sekarang lebih menaruh fokus dari sudut pandang satu tokoh saja?
Kurasa, masih ada banyak sekali hal yang masih perlu dijelaskan.
Untuk bagian A, ceritanya oke. Belum ada comment.
penasaran ngikutin dari cerita awalnya
Alfare, elbintang, bamby_cahyadi, dan djava_wong.
Saya sungguh-sungguh berterima kasih atas komentarnya. Well, akan saya jelaskan beberapa di sini.
(1)
Bukan mengada-ada, tetapi rasanya saya terharu atas komentar Alfare dan elbintang. Akan saya coba di pertarungan selanjutnya. Syukurlah karena diberi tahu sekarang. Soalnya, masih ada sebuah pertarungan panjang lain, yang sepertinya perlu polesan agar tidak tampil sangat hambar.
(2)
Mas bamby_cahyadi, djava_wong, alfare, dan elbintang. Cerita ini mulanya dibuat untuk mengikuti sayembara penulisan naskah film sekitar empat tahun lalu (iklannya tayang di stasiun TV nasional juga di internet). Setelah dikirim dan tidak ada kabar, ceritanya saya rombak habis dan jadilah seperti sekarang ini. Perlu waktu satu tahun bagi saya untuk membuatnya menjadi seperti sekarang. Mulanya tidak ada Ayu dan Prof. Irene, sekarang ada. Mulanya DINA kokoh mengkilap, kini ludes tinggal puing. Mulanya hanya cerita usai Perang Dunia Ketiga, kini bergeser cerita yang muncul usai Perang Kosmik (akan dijelaskan sebab PD III dan PK di bab 10 – silakan kritik jika ada hal yang tak logis). Dulunya hanya cerita yang berdiri sendiri, kini seperti ujung sebuah kerucut, di mana semua konsep cerita yang saya buat selama delapan tahun terakhir berkumpul di sana (jin, Masa Koloni, ion, Perang Dunia Ketiga, dll).
Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih atas kesediaannya membaca cerita ini dan juga komentar panjang ini. Oh iya, maaf jika untuk beberapa waktu saya absen dari karya teman-teman. Lagi sibuk soalnya. Sibuk menulis program komputer. Hehe.