Pemberitahuan penting!: Silakan baca pula Kisah Bagian 6 (C). Cerita itu nyaris tak terposting. Dan tentunya, diposting terlambat.
Ada yang hendak menkritik atau memberi saran? Atau hanya sekedar berkomentar? Saya ucapkan terima kasih banyak!
Pernyataan lisensi: Teman-teman boleh menyalin cerita ini ke media simpan lokal. Penggandaan diizinkan selama dalam bentuk digital, tidak menghilangkan sumber atau penulis asli, dan tidak untuk melanggar norma dan peraturan yang berlaku, dan bukan untuk tujan komersial. Jangan mencetak cerita ini ke atas kertas! Pohon sudah banyak yang ditebang untuk itu.
“Aku rasa, Kak Sonia hanya bercanda.” Andiev mencoba menanggapi keluhan Ilyas. Sore itu, mereka duduk-duduk di pinggir kolam renang. Di dalam kolam, beberapa anak kecil tengah bermain. Sementara di seberang kolam, dua teman Ilyas tengah bersantai. Dua pemuda itu duduk-duduk di kursi sembari menikmati seteko jus jeruk.
“Bercanda?”
“He-e!”
“Masa, bercanda sampai seperti itu? Apa karena ia sudah lama tinggal di luar negeri?”
“Mmm..., bisa jadi, sih....”
Ilyas terdengar menghela.
Andiev mengunjukkan sebungkus keripik kentang. “Nih!”
Ilyas menggeleng. Andiev menarik tangannya dan kembali menjumput keripiknya.
“Diev...,” tegur Ilyas.
“Ha? Apa?”
“Kamu terlihat agak gemuk.”
Dengan cepat, Andiev menatap tajam.
“Selama kamu tinggal di sini, kamu jago ngemil, ya?”
“Enak saja!”
Di luar, sebuah mobil sedan metalik mengambil tempat di depan teras. Sonia yang baru menjejakkan kakinya, sudah mengincar Dimas di kebun. Dari jalan masuk, ia sudah bisa melihat pemuda itu sibuk menata beberapa tanaman bunga.
“Sedang sibuk?” sapa Sonia berbasa-basi. Dimas menoleh dan mengangguk. Jika tidak pernah kemari, Sonia pasti tidak akan pernah tahu, bahwa seorang pemuda yang pendiam di kelas, adalah adik seorang dermawan.
“Bunganya cantik-cantik. Kau sendiri yang merawatnya?”
Dimas mengangguk. Hal yang sama yang pernah ia lakukan saat teman Ilyas dulu terpaksa hijrah ke sisinya.
“Tapi, beberapa hari ini, Andiev juga sering membantuku,” suara Dimas akhirnya keluar.
Bibir Sonia membulat. “Oh iya, ngomong-ngomong soal Andiev, dia masih ada di sini, kan? Belum diadopsi?”
“Andiev masih mempunyai orang tua. Dia tidak ingin diadopsi. Tentunya, ia masih ada di sini. Ia dan Ilyas ada di kolam renang.”
Kolam renang?
“Apa?” Sonia setengah menjerit.
“Ada yang aneh?”
“Ti..., tidak. Boleh aku masuk ke rumahmu? Aku ingin bicara dengan Andiev.”
Dimas mengangguk. Sonia segera berbalik dan melesat mendaki anak tangga di teras. Ia menerobos sebuah ruangan dan akhirnya berhenti di ambang pintu.
Benar. Ada Andiev dan Ilyas di kolam renang. Tetapi, mereka tidak berenang seperti yang terlintas di dalam isi kepala Sonia. Meski begitu, tingkah mereka berdua tetap membuat mata Sonia melancip setajam pisau.
Mereka pegang-pegangan tangan?
Entah mengapa di hari ini, Sonia selalu berpikiran layaknya mafia. Ilyas tidak bermaksud lain, selain mencegah Andiev bertindak curang. Mereka bermain suit, dan sudah berkali-kali gadis cilik itu mengelabui Ilyas. Kertas ia ubah batu, batu ia ubah gunting, dan gunting ia ubah jarum.
“Kalau takut kalah, bilang saja!” ejek Ilyas. Sewaktu mereka mengobrol, ia tak sengaja menyinggung perihal pendidikan Andiev. Andiev mengaku bahwa ia sudah duduk di kelas dua SMP. Bagi Ilyas, pernyataan itu belum cukup apabila tanpa bukti. Dan, mereka pun suit. Jika kalah, akan diberi petanyaan.
“Oke..., oke.... Aku kalah. Mana? Mana soalnya?” Andiev memang mengalah, tetapi masih sedikit menantang.
“Ini soal Sejarah. Tahun berapa Perang Dunia Kedua terjadi?”
Wajah Andiev berkerut. “Aku menyerah.”
“Tahun 1945.”
Mereka suit lagi.
“Abang kalah!” Andiev menjerit. Kedua tangannya terangkat ke atas, seperti prajurit mendengar kabar merdeka.
Ikam di seberang tersedak gelas jus jeruk.
“Soalku juga soal Sejarah. Kapan Perang Dunia Ketiga terjadi?”
Giliran Ilyas memasang tampang remuk redam. “PD-3, kan, belum pernah ada....”
“Salah! Perang Dunia Ketiga terjadi sekitar tahun 2300....” Andiev berhenti di tengah jalan, seakan teringat sesuatu. “Oh iya. PD-3, kan, memang belum pernah ada.”
“Makanya, bangun!” Ilyas menepuk permukaan kolam. Airnya menyerbu wajah Andiev.
“Wajahku basah. Aku ingin Abang menyekanya lagi.”
Sonia mendelik. Ilyas mengernyit. Di mata Sonia, Andiev masih terlalu kanak-kanak, tetapi tingkahnya sudah mampu menyentil perasaan aneh di sudut hati Sonia. Sebelum kejadian waktu itu terulang tepat di depan mata, Sonia buru-buru berdehem.
Keduanya menoleh. Andiev langsung menyambut dengan tampang polosnya, dihiasi senyum nyengir kuda. Sementara Ilyas, wajah pucat pasi sudah menjadi sambutan resmi jika melihat kedatangan Sonia.
Memangnya, aku hantu?
“Aku ada urusan dengan Andiev.” Sonia menarik sahabat curhatnya menjauh. Ilyas terus mematung, meski kedua gadis itu telah menghilang.
“Ilyaaaaas! Ikam sekaraaaaat!” pekik Ake.
Keduanya menuju ruang makan. Sebuah meja yang cukup panjang membuat Sonia segera duduk di salah satu kursinya yang berjejer. Ia sempat menghitung, ada dua belas kursi yang melingkari meja. Sesuai dengan orang-orang yang tinggal di rumah besar ini. Ada Bang Edi, adiknya yang bernama Dimas yang pendiam itu, sekaligus sepuluh anak yatim piatu yang mereka asuh.
Kalau semuanya pas dua belas, Andiev ditaruh di mana?
Sonia mengangkat kedua alis. Ia berusaha tidak ingin ambil pusing, tetapi ia masih merasa perlu tahu.
“Eh, kalau makan malam, kamu ditaruh di mana?” seloros pertanyaan meluncur membalikkan kepala Andiev. Gadis yang lebih muda tiga atau lima tahun dari Sonia itu membuka sebuah lemari pendingin di dapur. Karena dapur dan ruang makan yang tidak begitu jauh, bahkan tidak dihalangi sebuah sekat, Andiev bisa mendengar pertanyaan itu dengan sangat jelas.
“Maksudnya?”
Sonia malah diam dan memasang senyum. Matanya melirik kursi-kursi kosong di depannya. Untuk beberapa detik, Andiev malah ikut menghitung kursi-kursi itu. Setelah usai menghitung, otaknya berputar ke kejadian tadi malam.
“Oh...,” ingatnya dengan suara halus. “Kalau malam, ada Bang Edi. Jadi, aku tidak mungkin duduk di sana.”
“Lalu?”
Andiev menarik sebotol air mineral dingin. Pintu kulkas ia tutup.
“Aku diserahkan tempat khusus.” Ia menghampiri Sonia, duduk di kursi yang saling berhadapan, menarik sebuah gelas, dan menuang air dingin yang baru saja ia ambil. Kegiatannya segera disusul oleh Sonia.
“Tempat khusus?”
“Dapur. Aku menikmati dinner-ku di dapur. Setidaknya, itu bukan tempat yang jelek. Ada banyak makanan di sana.”
“Pantas..., kamu sekarang terlihat agak gemuk.”
Andiev mendelik untuk beberapa detik. Selanjutnya, ia menarik gelas dan mendinginkan hatinya. Setelah beberapa saat berdiam, Andiev mulai membuka pembicaraan.
“Aku mohon, Kakak jangan berbuat yang aneh-aneh lagi terhadap Bang Ilyas. Aku kasihan kepadanya.”
“Aku juga sebenarnya tidak tega. Tapi, ya..., karena tingkahnya yang seperti itu, aku jadi tidak bisa menahan diri.
Ah, sudahlah! Rencananya, hari ini aku ingin meminta maaf. Akan kuceritakan bahwa itu semua bercanda. Dan juga, akan kuajak ia jalan-jalan lagi. Pergi ke mana saja yang ia suka, sebagai permohonan maafku.
Kau tahu, tidak? Tadi pagi, repotnya minta ampun. Belum lagi kamar berantakan, kunci kamar hilang, eh, Ayah mendadak menelepon hanya untuk bertanya apakah aku sudah bangun atau belum. Aku juga sempat jatuh ketika mencoba turun dari jendela kamar, karena simpulan spreinya kurang kencang. Aku rasa, aku kualat terhadap Ilyas.”
“Nah, kan?”
“Sudahlah. Sekarang, aku mau pergi. Bawa Ilyas jalan-jalan.”
“Ingat, Kak. Jangan diapa-apakan lagi. Nanti, aku juga yang repot.”
“Tidak akan diapa-apakan, kok. Janji.”
“Ini janji antara kita. Sesama wanita.”
Sonia menjeling.
“Apa?” balas Andiev.
Sesama wanita...?
dikirim dirgita 24 minggu 13 jam yang laluTag:







