Kisah Bagian 8: Ada Apa dengan Andiev? (B)

26
points
"

Ini adalah bab kedelapan. Itu artinya, masih tersisa sekitar delapan bab lagi. Dua bab terakhir masih belum rampung. Harap dukungannya. Karena cerita ini sudah ada tiga atau empat tahun yang lalu, dan telah berkali-kali mengalami perombakan.
Pernyataan lisensi: Teman-teman boleh menyalin cerita ini ke media simpan lokal. Penggandaan diizinkan selama dalam bentuk digital, tidak menghilangkan sumber atau penulis asli, dan tidak untuk melanggar norma dan peraturan yang berlaku, dan bukan untuk tujan komersial. Jangan mencetak cerita ini ke atas kertas! Pohon sudah banyak yang ditebang untuk itu.
Selanjutnya (5/6-04-2008 -- Andiev dijemput Astro dan Profesor Irene menunjukkan peta mahabesar. --): Kisah Bagian 8: Ada Apa dengan Andiev? (C) dan (D).

"

Terpaan air yang jatuh sungguh keras. Mantel biru yang dikenakan Digta menjadi berat, dan terdengar berisik. Ia juga harus memicingkan mata, karena percikan air yang menyerbu wajahnya tak kalah tajam.

Nyaris kakinya kehilangan pijakan, tatkala sebuah puing bergeser. Lapisan air yang mengalir di atas puing juga cukup membuat permukaan puing menjadi licin. Beruntung, Digta masih sempat meloncat dan mendarat dengan mulus. Memang sungguh berbahaya, bermain di antara puing gedung di bawah terpaan hujan. Setidaknya, ia juga sempat ditegur oleh seorang petugas. Tiba-tiba saja, pria itu muncul di balik puing yang lain bersama satu unit MIGEN.

“Lokasi ini berbahaya. Apa yang Anda lakukan?” Petugas itu mendekat. Bilasan air menggelunturkan warna pekat dari pakaiannya.

“Saya sudah mendapat izin dari polisi. Saya juga hanya akan sampai di batas ini.” Digta mengunjukkan sebuah kartu berwarna kuning.

“Baiklah kalau begitu. Sebaiknya, Anda jangan bertindak ceroboh. Puing-puing di sini licin karena hujan.”

Digta mengangguk. Petugas itu berlalu, bersama dentuman kaki MIGEN. Ada lima MIGEN lain yang terparkir di bawah tenda, agak jauh dari puing. Mereka dihibahkan oleh Borneolab kepada Badan Penanggulangan Bencana, Keselamatan, dan Kesehatan Wilayah Kota Besar.

Sepeninggal petugas itu, Digta menghela. Air yang turun tak berubah derasnya, langit masih gelap seperti jam enam sore. Padahal, sekarang baru jam empat tiga puluh menit. Dan gedung DINA, tak berubah. Semuanya tampak sebagai puing.

Rasanya, tak mungkin akan ada yang selamat, jika seseorang itu masih berada di lantai dasar DINA, ketika gedung tersebut runtuh. Harapan untuk melihat tangan yang melambai di antara puing pun rasanya pupus. Ayu mungkin sekarang sudah terbaring tenang di balik puing-puing itu, terkubur di tempat kerjanya, dan tidak akan melihat senyum orang yang pernah ia tolong.

Digta mengerjap. Aliran bening yang hangat mulai kembali membaur di pipinya, bersama dinginnya air hujan.

“Hubungan kita sebenarnya tidak seberapa dekat. Tapi, entah kenapa? Aku merasa kehilangan.” Aliran hangat itu sepertinya tidak terbendung. Sebelum benar-benar tumpah tanpa dapat ditahan, Digta bergegas berputar dan mengambil langkah. Pada saat itu, sayup-sayup suara yang ia kenal terdengar berulang-ulang.

Digta merogoh ponsel di sakunya. Ia menerima panggilan telepon dari Profesor Irene.

“Assalamualaikum, Dig....”

“Walaikum salam. Ada apa, Prof?”

“Kau sekarang ada di mana? Kata Bili, kau pamit ke luar rumah sakit.”

“Aku..., aku sekarang ada di lokasi gedung DINA. Ah! Maksudku..., puing.”

“Oh.... Bagaimana kabar Ayu? Sudah ditemukan?”

“Belum.... Ia belum ditemukan. Terlalu banyak puing yang harus disingkirkan untuk mencarinya. Lagi pula, sekarang hujan. Keadaan menjadi berbahaya.”

“Aku harap, ia selamat.”

“Aku harap juga begitu....” Digta memutar pandangnya. Puing-puing masih belum berubah. Harapan memang selalu ada, tetapi kemungkinan untuk tercapai terlalu sedikit.

“Oh iya, Digta. Aku baru saja mendapat telepon dari Amar. Proyek Mata Rantai dan Gerbang-2 telah rampung. Kita akan segera kembali ke Borneolab. Kau harus ikut aku.”

Digta menggangguk, seakan Profesor Irene dapat melihatnya. Dan setelah itu, telepon diputus. Sepuluh menit usai meninggalkan lokasi DINA yang telah berupa puing, sebuah mobil menjemput Digta di tenda darurat pusat informasi petugas penyelamat.

***

“Maaf, aku jadinya ikut bersama kalian.” Hilda tersandar di baris kursi belakang. Putri semata wayangnya terlelap di pangkuannya. Jemari gadis cilik itu menggenggam tangan Veren.

“Anak seusia dia memang harus selalu bersama kedua orang tuanya,” sambut Profesor Irene. “Lagi pula, mungkin kau bisa melakukan banyak hal di Borneolab. Di laboratoriumku, kau mungkin akan berjumpa dengan hal-hal yang telah lama kau tinggalkan setelah kau menikah.”

“Apa itu...?” Wanita lajang yang menyetir mobil di hadapannya membuat Hilda mengernyit.

“Aku menemukan konstelasi bintang cukup lengkap dari basis data Koloni Juran. Koloni Juran adalah koloni kecil, tetapi teknologi mereka sangat maju dan satu-satunya koloni yang memiliki jarak terjauh dari tata surya.”

“Konstelasi yang cukup lengkap? Seberapa lengkap?”

Veren beralih dari wajah putrinya. Ia menatap wanita yang sudah bersamanya hampir sepuluh tahun tersebut. Bola mata itu kembali lagi. Bola mata yang pernah ia lihat ketika pertama kali mereka berjumpa.

“Ada sekitar 1,3 triliun bintang, di tiga galaksi. Mereka sepertinya ingin menjelajahi angkasa raya, tetapi tidak tercapai karena Perang Kosmik lebih dulu berkobar.”

“Perang Kosmik....” Hilda tersedot ke dalam pikirannya. Profesor Irene pernah memberitahukan seberapa dahsyat perang itu, jumlah korbannya bukan main. Dan efeknya..., masih terasa hingga kini.

“Sebenarnya..., reuni kita kali ini bisa sangat menyenangkan. Hanya saja, keadaannya seperti ini.”

Hilda mengangguk. Usai mengangkat kepala, matanya terbentur ke sebuah area lapang di sisi kiri mobil. Digta yang sedari dijemput hanya tertunduk, turut menoleh.

“Lokasi itu, seharusnya....”

“Gedung DIVENN,” sahut Profesor Irene. “Sama seperti DINA, gedung itu juga telah menjadi puing. Bedanya, kita tahu penyebab hancurnya gedung DIVENN. Sementara DINA, masih perlu diselidiki.”

Di bawah terpaan derasnya butir-butir air, sebuah lingkaran raksasa berjarak hingga ratusan meter dari mereka terlihat masih jelas. Noda hangus melingkari kawah yang cukup untuk menyaingi lebar satu stadion.

“Niken ada di sana sekarang. Ia akan menyusul kita.”

Sepuluh menit berlalu. Mobil memasuki lantai dasar sebuah gedung dan memarkir diri. Kelima penumpangnya turun, termasuk putri Veren yang terlihat masih mengantuk. Kejadian semalam sungguh-sungguh menyiksa matanya. Tubuhnya menggigil tatkala hantaman besar mengguncang seisi bunker.

Gadis cilik itu mengucek mata. Profesor Irene mendekat dan menjongkok.

“Di tempat Kakak ada kasur. Tapi, mungkin tidak seempuk di rumah Yuni. Kamu boleh tidur di sana, tetapi kamu jangan sampai ngiler. Ya?”

Putri sahabatnya itu menyingkirkan tangan dari depan mata. “Ngiler?”

“Hm! Yang keluar dari sela bibirmu jika kau tertidur.”

“Hiii...!”

Profesor Irene tertawa kecil. Ia berdiri dan Hilda menyambutnya, “Kakak, ya?”

“Sudahlah, jangan dibahas.” Profesor Irene berbalik. Ia memandu mereka memasuki sebuah ruangan lebih luas dari LABTEK. Cahaya yang mengisi ruangan seperti terpancar dari segala arah, karena sekat-sekat yang ada terbuat dari lempeng-lempeng kaca. Belum lagi, puluhan lampu neon menyala di langit-langit. Selain sebuah landasan yang menyambut tepat di tengah ruangan, deret tiga sepeda motor juga sempat memuntir kepala mereka. Ketiganya tampak sebagai kendaraan yang kurang lazim. Bagian depan terlihat lancip dengan badan yang cukup rendah. Kedua roda yang terpasang, terlihat setengah kali lebih besar dari sepeda motor normal. Beberapa petugas berseragam oranye tampak sibuk mengecek kendaraan-kendaraan tersebut.

“Selamat datang. Inilah satu dari lima belas laboratorium utama milik Borneolab. Di sini, kami mengembangkan dua proyek sekaligus, Mata Rantai dan Gerbang-2. Kedua-duanya adalah proyek kerja sama kami dengan Pemerintah.”

Langkah mereka mendekati landasan logam itu. Semua mendongak dan terpaku. Kerangka-kerangka baja tampak menopang dua bingkai lengkung di langit-langit. Kedua bingkai tersebut saling menghadap, hingga nyaris membentuk lingkaran.

“Kedua benda di sana mengingatkanku pada sesuatu,” komentar Veren.

“Jika mereka mengingatkan Anda kepada mesin waktu kami yang telah hancur, Anda tidak salah. Benda ini juga memiliki fungsi yang sama.”

“Sama-sama mesin waktu?” Veren dan istrinya serentak menurunkan pandangan.

Profesor Irene mengangguk pelan.

“Sejak kapan kalian membangun mesin sebesar ini?” Veren bertanya.

“Semenjak kami menjalani sebuah riset, kami merasa perlu mengirim alat-alat berat langsung dari pihak Borneolab, dan proyek ini pun dimulai. Tepatnya, empat bulan lalu. Dan akhirnya, proyek ini rampung bersamaan dengan proyek lain kerja sama kami antara Polisi.

Lihatlah, mesin waktu pertama kami hanya mampu membuka gerbang maksimal tiga meter. Sementara mesin yang sekarang, ia mampu membuka portal selebar maksimal dua puluh meter. Kami bisa membawa MIGEN dengan leluasa. Dan riset kami akan berjalan semakin mantap.”

Profesor Irene menerawang. Setelah beberapa detik matanya menggantung di langit-langit, ia kembali ke keluarga Veren. “Dengan adanya mesin ini, kami berharap sangat banyak. Kami ingin memperlihatkan pada dunia, bahwa kita harus belajar dari sejarah. Peperangan adalah hal yang buruk. Bagaimanapun, perang semacam Perang Kosmik harus kita cegah untuk kembali terulang. Perang itu menghancurkan manusia dan peradabannya. Oleh karena itu, proyek ini kami namai Mata Rantai. Kami mencoba mencari rantai-rantai sejarah yang terputus, mengembalikan apa yang seharusnya kita miliki, termasuk teknologi yang hilang.”

Semua diam. Profesor Irene beralih pada Digta.

“Menurut laporan Amar, mesin ini sudah diuji coba tiga puluh menit sebelum ia mengontakku. Semua berjalan baik. Sekarang, aku ingin mesin ini segera diaktifkan kembali. Beritahukan itu pada semua staf.”

“Riset?” Digta terlihat bingung.

“Tidak ada waktu untuk riset. Giganium dan putri ilmuwan DIVENN adalah prioritas. Gunakan catatan mesin waktu pertama kita untuk sinkronisasi. Cari di dalam log file basis data. Aku ingin dalam dua jam, portal sudah siap.”

Digta mengangguk kencang. Langkahnya yang cepat membawa ia memisahkan diri dari rombongan. Sekelompok staf berseragam biru langit bercampur oranye menyambutnya di sebuah ruang di balik dinding kaca.

Profesor Irene kembali ke keluarga Veren. “Sekarang, kita tinggal menunggu Niken dan polisi.”

Your rating: None Average: 6.5 (4 votes)
dikirim dirgita 23 minggu 6 hari yang lalu
Tag: