sekedar excerpt
"Hari telah senja saat rakyat Vincha yang mengungsi dari kota mereka yang telah dikuasai oleh kekuatan kegelapan Zwehly perlahan memasuki wilayah Slirkh. Ibukota Slirkh masih berjarak satu hari perjalanan lagi. Berhari-hari mereka telah berjalan melewati hutan-hutan dan padang-padang untuk mencapai kota Slirkh, tempat mereka akan berdiam untuk sementara waktu. Dengan pergerakan yang cepat, pasukan Valharald yang sebelumnya melakukan penghadangan dan perlawanan di kota Vincha telah menyusul barisan rakyat Vincha di bawah pimpinan Einar yang telah berangkat sebelumnya. Valharald tampak di depan barisan, sementara para ksatria cahaya masing-masing mengawal di tempat yang telah ditunjuk oleh Valharald. Di sampingnya, raja Asgeir tampak telah lelah di atas kudanya yang berjalan pelan, mengikuti ritme perjalanan orang-orang di belakangnya. Nimrodir tampak diam, tak banyak berkata-kata.
“Teruslah berjalan, sampai aku perintahkan untuk istirahat,” kata Valharald dengan tenang kepada Nimrodir, yang dijawab dengan anggukan. “Sementara aku akan ke barisan belakang memberi pesan kepada Azkhara dan yang lain.” Valharald melanjutkan. Ia lalu memutar kudanya dan memacunya ke barisan belakang.
Di barisan samping, tampak Fionn dan puluhan orang prajurit berkuda dan puluhan prajurit jalan kaki mengawal barisan dari samping kanan. Masih di barisan samping yang sama, jauh di belakang mereka, Cuchulainn dan Ingemar dengan puluhan prajuritnya. Fionn menoleh ke belakang untuk melihat keadaan prajurit-prajurit di barisannya, kemudian ia menebar pandangannya barisan rakyat Vincha yang memanjang jauh ke belakang. Pandangan kemudian terhenti pada sosok Gwyneira yang mengawal barisan dari samping kiri. Gadis seperjalanannya dari Goght itu tampak anggun di atas kudanya. Gwyneira tidak menyadari kalau Fionn tengah memperhatikannya. Ia menatap lurus ke cakrawala di depannya. Pucuk-pucuk pepohonan tinggi tampak mulai menggelap.
Jauh di barisan belakang, Urias, Tighearnan dan Azkhara mengawal barisan dengan beberapa ratus prajurit jalan kaki. Urias tampak tengah terlibat pembicaraan dengan Tighearnan. Mereka belum begitu saling mengenal, sedangkan Azkhara tampak dengan khidmat duduk di atas kudanya. Lalu tiba-tiba matanya melihat seorang prajurit jalan kaki yang tampak berjalan dengan sempoyongan karena kelelahan. Azkhara segera memacu kudanya mendekati prajurit itu. Ia turun dari kudanya dan menyuruh prajurit yang ternyata masih muda itu untuk naik ke atas kudanya, dan ia akan menuntunnya. Mulanya prajurit muda itu menolak karena merasa risih, tapi Azkhara meyakinkan bahwa ia dengan senang hati ingin membantu, dan Azkhara sesekali ingin berjalan kaki. Peristiwa kecil ini dilihat oleh semua prajurit yang ada di barisan belakang. Alih-alih membuat para prajurit yang lain iri, mereka malah semakin menegakkan punggung mereka untuk tegak berjalan.
Peristiwa kecil itu juga terlihat oleh Valharald dari kejauhan. Ia tersenyum tipis melihat apa yang dilakukan oleh Azkhara. Ia segera memacu kudanya cepat untuk menghampiri orang tua itu.
“Valharald, apa tidak sebaiknya kita buat istirahat dan buat perkemahan, sebelum hari bertambah gelap?” kata Azkhara seketika sesampainya Valharald di dekatnya.
“Tidak di sini, kawanku. Bertahanlah sampai kita melewati celah sempit di depan kita,” jawab Valharald dari atas kudanya. Tampak olehnya, Urias dan Tighearnan tengah menghampirinya. “Bagaimana keadaan kalian? Kuharap kita masih bisa melanjutkan perjalanan sampai melewati celah di depan kita,” katanya saat keduanya telah berada dekat.
“Valharald, apa rencana kita selanjutnya. Aku lihat banyak orang telah mulai kelelahan. Apakah tidak sebaiknya kita berhenti dan membuat perkemahan di tempat ini. Aku pikir, padang ini cukup luas untuk kita,” kata Tighearnan.
“Memang cukup luas, tapi tidak berarti cukup aman. Di tempat terbuka seperti ini, musuh akan dengan mudah menyerang kita. Kita akan berjalan sampai melewati celah sempit di depan kita, barulah setelah itu kita beristirahat untuk membuat perkemahan. Urias, bawalah beberapa prajurit untuk bergabung dengan prajurit yang dibawa oleh Gavin dan Owain. Kereta pembawa tenda akan bersama kalian. Dahuluilah kami untuk melewati celah sempit di depan kita, setelah itu, carilah tempat yang sekiranya aman dan luas untuk mendirikan tenda-tenda. Tunggulah kami sambil mendirikan tenda-tenda, agar sesampainya kami di sana, rakyat Vincha bisa cepat beristirahat.” Valharald memberi petunjuk. “Dan, berhati-hatilah kalian, kita tidak tahu pergerakan pasukan Zwehly telah sampai sejauh mana,” lanjutnya.
“Baiklah,” kata Urias. Ia lalu membelokkan kepala kuda tunggangannya dan memacunya ke arah barisan prajurit belakang. Ia berseru kepada salah satu barisan prajurit belakang untuk mengikutinya. Beberapa puluh prajurit yang diseru segera mempercepat langkah kudanya mengikuti Urias mendahului rombongan melewati sisi kiri. Orang-orang Vincha yang tengah berjalan pelan, melihat mereka dengan tatapan ingin tahu dan was-was. Namun Urias membalas tatapan-tatapan itu dengan tatapan mata penuh harapan dan senyuman yang menenangkan.
Pasukan yang dibawa oleh Urias bertemu dengan pasukan Owain dan Gavin yang telah bersiap-siap dengan berpuluh-puluh kereta pembawa tenda. Mereka segera berangkat mendahului rombongan rakyat Vincha untuk melewati celah sempit di antara tebing dan hutan di depan mereka. Valharald tampak menyusul di belakang mereka, setelah memberikan beberapa petunjuk kepada pasukan pengawal di barisan belakang.
Tak berapa lama, pasukan Urias, Owain dan Gavin melewati Nimrodir dan raja Asgeir. Mulanya Nimrodir agak heran dan bertanya-tanya, namun setelah ia melihat kereta tenda yang juga melewatinya, ia paham dengan sendirinya.
“Berhati-hatilah kalian,” serunya kepada para ksatria.
Setelah meninggalkan rombongan, pasukan pendahulu itu semakin mempercepat derap kudanya. Tak berapa lama, mereka sampai di pintu celah sempit yang dimaksud oleh Valharald. Benar saja, jalan yang membentang di depan mereka memang jalan sempit yang di sisinya menjulang dinding tebing yang sangat tinggi, sementara di sisi lainnya adalah rimbunan hutan yang telah gelap karena hari mulai beranjak malam. Jalan sempit itu hanya cukup untuk dilalui oleh tiga prajurit berkuda dalam satu baris, dan kereta pembawa tenda. Gavin, sebagai ksatria yang paling tua di antara ksatria yang lain, mulai mengatur pasukan. Beberapa puluh prajurit mulai berbaris mengatur diri untuk melewati jalan sempit itu, sementara sisanya berhenti untuk mempersilahkan kereta pembawa tenda berjalan di depan mereka.
Sambil berjalan, Urias melayangkan pandangannya ke sepanjang bagian atas tebing, dan menjelajahi kegelapan hutan dengan matanya. Ia bergumam lirih. Owain yang berada di dekatnya penasaran.
“Urias, apa yang kau bisikkan? Sepertinya kau memikirkan sesuatu,” katanya.
“Owain, lihatlah apa jalan sempit di depan kita, dan lihatlah pula dinding tebing yang menjulang tinggi di sampingnya. Tidakkah kalian berpikir apa yang aku pikirkan?” tanyanya.
“Apa yang kau pikirkan, Urias?” Tanya Owain.
“Pertahanan yang sangat sempurna. Valharald memang telah memperhitungkannya dengan cermat. Jika rombongan rakyat Vincha telah melewati jalan sempit ini, aku yakin untuk selanjutnya mereka akan aman sampai di Slirkh meskipun pasukan Zwehly mengejar. Dengan tiba di sini lebih dulu, kita sangat beruntung. Kita akan menempatkan beberapa pasukan di atas tebing di arah sana, dan beberapa pasukan lagi bersiap di kedalaman hutan, sementara rakyat Vincha meneruskan perjalanan sampai ke Slirkh. Aku yakin dalam beberapa hari sebagian pasukan Zwehly akan sampai di sini, dan itu adalah kesempatan bagi kita untuk membinasakan mereka di tempat ini,” ujar Urias
“Benar sekali katamu, Urias.” Owain mengiyakan. "Celah sempit ini akan memperlambat perjalanan. Lihatlah, kita hanya bisa melewatinya dengan beberapa orang dalam satu barisan. Demikian halnya dengan pasukan Zwehly jika mereka melewati tempat ini. Terlebih, dengan beberapa pasukan yang akan kita tempatkan di atas tebing, kita unggul.”
“Kalian benar. Sebaiknya kita cepat sampai di ujung celah ini,” seru Gavin yang rupanya mendengar pembicaraan mereka. Sempitnya jalan, membuat celah itu tidak bisa dilalui dengan cepat. Celah sempit itu cukup panjang. Mereka melaluinya dengan hati-hati dalam keremangan. Cahaya obor yang dibawa oleh beberapa prajurit memberi cahaya secukupnya untuk penerangan jalan. Suara angin yang mendesir memukul dinding-dinding tebing bersahutan dengan suara derap kaki kuda yang pelan dalam keremangan. Raungan srigala terdengar dari atas tebing, ditingkahi oleh kaokan gagak-gagak yang terbang menjauh dan suara-suara burung hantu dari kedalaman hutan.
Gavin yang berada di barisan paling depan tampak berhati-hati memajukan langkah kudanya. Kekhawatiran yang paling besar dalam dirinya adalah jika tiba-tiba suara-suara yang ditimbulkan oleh derap kaki kuda pasukannya membuat dinding tebing bergetar dan batu-batu dari atas tebing berjatuhan dengan tiba-tiba. Ia memerintahkan pasukan di belakangnya untuk berjalan dengan hati-hati.
Setelah beberapa saat lamanya pasukan pendahulu berjalan melewati celah sempit itu, akhirnya mereka tiba di ujungnya. Jalanan menjadi lebih lebar dari sebelumnya. Gavin merasa lega. Dinding tebing sudah berakhir, berganti hutan yang pepohonannya agak renggang, dan tanahnya cukup datar untuk mendirikan tenda-tenda. Setelah berjalan agak jauh dari ujung celah itu, Gavin memerintahkan pasukannya untuk berhenti, ia menemukan tempat yang dirasa tepat untuk mendirikan tenda-tenda. Urias dan Owain segera bergabung dengannya di barisan depan.
“Gavin, apakah kita akan mendirikan tenda-tenda di tempat ini?” tanya Owain.
“Jika kalian tidak keberatan dan sependapat denganku. Atau mungkin kalian punya pilihan lain?” tanya Gavin balik.
“Di tempat mana pun asalkan kita telah keluar dari celah sempit itu, aku yakin akan aman bagi kita.” Urias menanggapi.
“Baiklah. Turunkan tenda-tenda dari kereta. Sebarkan pasukan untuk mendirikan tenda-tenda, buatlah perapian-perapian. Urias, kau di sebelah utara; Owain, kau di barat, sedang aku di sebelah timur. Kita harus bergegas,” perintah Gavin dari atas kuda tunggangannya. Bergegas keempatnya menyebar dengan membagi pasukan yang mereka bawa ke empat penjuru untuk mendirikan tenda-tenda. Tenda utama terletak di tengah-tengah perkemahan, dengan perapian yang besar menyala di depannya.
Butuh waktu sampai tengah malam agar tenda-tenda selesai didirikan. Tak berapa lama, tampak ratusan titik-titik cahaya dari arah celah sempit yang sebelumnya dilalui oleh Gavin dan pasukan pendahulu. Rombongan rakyat Vincha dan sisa pasukan perlahan tengah melewati celah sempit. Gavin dan Owain segera menaiki kudanya untuk menunggu mereka di ujung celah dan menuntun mereka ke arah perkemahan.
Pertama kali terlihat Valharald, Nimrodir dan raja Asgeir, berkuda di barisan paling depan, dengan beberapa prajurit pembawa obor. Di belakang mereka, ribuan rakyat Vincha menampakkan wajah-wajah lelah dalam keremangan cahaya obor. Gavin dan Owain segera menuntun rombongan ke arah perkemahan. Valharald dan Nimrodir tersenyum puas dan bangga. Sementara raja Asgeir memutar kudanya dan menepi untuk memastikan seluruh rakyatnya sampai dengan selamat.
dikirim jalaindra 34 minggu 5 hari yang laluTag:









