Chapter 1
Mimpi… aku berada dalam mimpi.mimpi yang terus-menerus berulang... harapanku hanya satu dalam mimpi ini. Ku harap aku akan melihat langit yang berbeda saat nanti aku terbangun.
Untuk kesekian kalinya, Adam mencocokkan papan nama warnet di depannya dengan SMS di handphonenya.
‘G-Net. Jalan Pahlawan No. 30’
Kota itu memang tidak bisa dibilang besar tapi di akhir pekan seperti ini, banyak orang yang hilir mudik menghirup udara segar yang belum tersentuh polusi.
“Srekk.” Dia membuka pintu warnet itu. Hawa AC langsung menyapa kulitnya. Pelan-pelan dia mendekati meja kasir.
“Ada yang bisa saya bantu?”
Pegawai yang berumur kira-kira 17 tahun menyapa Adam dengan ramah. Adam membaca papan nama di dadanya pegawai itu. ‘Syamsul’.
Adam merogoh ranselnya lalu mengeluarkan sepucuk surat. Syamsul menerimanya dengan heran. Belum selesai membacanya, ia langsung berlari terburu-buru kelantai dua.
“Bos!!! Bos!!! Dia sudah datang!!!”
Terdengar suara langkah seseorang berlari dari lantai atas. Seorang wanita muda menghambur memeluk Adam erat. Ditariknya tangan Adam naik ke lantai dua tanpa memperdulikan tatapan heran beberapa pelanggan warnet.
“Adam! Kakak rindu sekali sama kamu. Kapan kamu sampai?”
“tadi malam.”
“Kenapa kamu gak nelpon?”
“Malas.”
“Kamu pasti capek.” Wanita itu mengangkat koper Adam ke sebuah kamar. “Kamu tidur aja dulu di kamar kakak. Nanti sore kita urus kepindahan kamu. Sekalian ketemu ama Om Bahri.”
“Hmmm.”
***
“Selamat ulang tahun!”
“Ini hadiah dari aku.”
“Wow. Thanks yah Rin.”
“Jadi kita makan apa nih?”
“Kamu tuh yang dipirin cumin makan mulu.”
“Biarin.”
“Udah. Lebih baik kalian tenang. Eva, mending kamu buka kado itu deh.”
“Ide bagus tuh.”
“Tary memang hebat. Bisa berpikir jernih gitu.”
“Iya. Gak kayak Ayu yang mikirnya cuman makan. Benar gak Eva?”
“He…he…he… makasih atas pujiannya.”
“We… aku gak muji tau.”
“Udah. Kalian berdua ini gimana sih.”
“Udah Eva. Buka aja.”
“Betul tuh Eva.”
Eva merasa sangat beruntung memiliki teman yang pengertian seperti mereka. Dia memandang keempat orang sahabat terbaiknya. Ayu yang agak tomboi, sabuk hitam karate dan berambut pendek. Teman yang setia dan pengertian. Dia mengenakan bando merah dan selalu memakai tas punggung kecil dengan motif sayap malaikat buatan sendiri. Katanya sih itu hadiah dari cinta pertamanya.
Rini yang feminim dan cantik dengan rambut panjang sebahu. Diantara mereka berlima, dialah yang paling anggun dan ‘berkelas’. Anak tunggal dari pemilik SURYA GROUP. Perusahan yang bergerak di bidang pertambangan minyak lepas pantai terbesar di Indonesia.
Tary yang pintar dan berwibawa. Tidak pernah keluar dari sepuluh besar umum SMU Nusa. Tidak ada pelajaran yang tidak diketahuinya.
Rina sang ketua kelas. Teman Eva yang baik hati dan selalu menjadi tempat curhat temannya yang lain.
Eva menghela nafas.
Ingin rasanya terus seperti ini
Eva sedang membuka kotak hadiah besar yang kira-kira isinya boneka saat matanya tertuju pada sebuah kotak kecil. Mungil. Dibungkus dengan kertas kado merah muda. Ukurannya pun hanya sebesar tempat pensil.
“Waw. Kecil amat.” Ayu, teman Eva mengomentari kado mungil itu. “Ada namanya gak?”
“Hmmmm.” Eva membolak-balik kado itu. ”Gak ada namanya. Aku buka yah.”
Keempat orang teman Eva merapat memperhatikan kado yang sedang dibuka oleh Eva. “Srekkk.” Eva merobek bungkusan kado itu lalu mengeluarkan isinya.
“Apa ini?”
“Aneh.”
“Masa isinya cuman ini.”
“Kalian berdua napa sih. Gak usah protes. Eva, isinya apa?”
Eva memperhatikan isi kado mungil itu. Sebuah kartu ucapan kecil.
‘Selamat ulang tahun untuk kita berdua. Sebentar lagi tiga permintaanmu akan terkabul. Salam sayang, belahan jiwamu’
“Wew. Isinya singkat amat.”
“Belahan jiwa itu maksudnya apa sih Eva?”
***
“Bagaimana kabar kakamu?”
“Sehat.”
“Kamu sendiri?”
“Hmmmmm”
“Kamu senang di situ?”
“Lumayan.”
“Oh…”
“Jadi?”
“Apa?”
“Bagaimana kabar ibu?”
“Sudah agak mendingan.”
“Ayah?”
“Ha…ha…ha… Dia masih marah-marah.”
“Oh…”
“Itu kan gara-gara kamu tidak minta izin sama dia.”
“Hmmm.”
“Jadi, kakakmu bilang apa?”
“Dia tidak mau.”
“Kalau kamu?”
“Entahlah. Kalau terpaksa mungkin.”
“Terpaksa bagaimana?”
“Aku mau kalau dia ada.”
“Oh…. Kamu sudah ketemu dia?”
“Belum.”
“Ya sudah. Jaga kesehatanmu.”
“Iya.”
“Sampaikan salamku sama kakakmu.”
“Iya.”
“Begitu dia setuju, kamu langsu8ng pulang.”
“Baik.”
***
“Eva! Pelan dikit napa sih.” Teriak Rini dengan nafas ngos-ngosan.
“Yang lambat itu kamu.”
“Makanya olah raga dikit.”
“Malas.”
“Makanya gendut.”
“Siapa yang gendut !!!”
“Kamu dong.”
“Ini bukan gendut. Cuma sedikit gemuk.”
“Genduuut!”
“Eva !!!”
“Ya udah. Kita istirahat dulu.”
Eva dan keempat temannya berhenti lalu duduk di bangku taman. Ayu mengeluarkan air mineral dari sakunya. Rini dan Rina melompat-lompat kecil bersama Tary, merenggangkan tubuh. Eva sendiri duduk termenung. Mengkhayalkan kartu ucapan selamat yang diterimanya kemarin.
“Eva, mikirin apa sih.” Tanya Ayu penasaran.
“Ah, gak ada.” Eva menjawab agak kaget.
“Pasti lagi mikirin kartu ucapan kemaren.” Tebak Rini.
Eva terdiam. Memang benar apa yang dikatakan oleh temannya. Pikirannya masih diselimuti kartu ucapan itu. Dan Eva tahu, hanya satu orang yang mungkin mengirimkan kartu ucapan itu. Hanya satu orang.
“Ayo pulang. Lapar nih.”
***
Rating
Comments: 7
Rating:
Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
dialognya bagiku memusingkan...
sorry... T_T
Nih, paragrafnya dibenahin lagi....
Dan tambahan, betulin juga penulisan judulnya. Kalo aku telusuri lewat link yang ada di header atau footer, mungkin tidak masalah. Tetapi jika aku mencari lanjutan cerita lewat list di profil atau tag yang kamu berikan? Nah, berbenahlah....
lmyn cieh...... tp tllu pnjg n cpet bsn bacanya ...hehe......
little bit bingung..
harusnya ditulis jeda waktunya, sama kejadiannya dimana?
aku nangkepnya itu momennya lompat-lompat kan??
yup. foreshadownya ada di kartu ucapan itu. tapi kosakatanya dibenahi bung. i think you would like to say "feminin" and not "feminim". kata yang kedua artinya masih rancu. ok, ini sepele, tapi penting. kita kan bekerja dengan kata-kata!
Cukup menarik. Coba tambahkan deskripsi suasana dan settingnya pada beberapa dialog. Berguna untuk mempermudah pembaca membayangkan suasana dan situasi adegannya.
^^
Cukup menarik. Coba tambahkan deskripsi suasana dan settingnya pada beberapa dialog. Berguna untuk mempermudah pembaca membayangkan suasana dan situasi adegannya.
^^