Dia menatap dirinya di cermin, dan tersenyum puas sekali. Bukan karena dia merasa tampan atau merasa memiliki body yg oke. Dia tersenyum untuk sebuah kemenangan yg selalu yakin akan dia dapatkan, karena dia merasa dia mempunyai segalanya
Senyumnya makin lebar ketika dia tahu apa yang harus dia lakukan untuk mendapatkan kekuasaan yg dia inginkan
Dia berjalan dengan angkuh di sepanjang lorong bangunan kantor tempat dia bekerja, hampir semua orang menunduk hormat padanya, wajahnya menunjukkan kepuasan yg nyata. Puas telah berhasil menunjukkan siapa dirinya di depan semua orang, dan makin puas telah berhasil mempermalukan orang yang membuatnya tak bisa tersenyum di depan orang banyak. Dia mempermalukan orang dengan kerendahan dan kehalusan bicaranya yg membuat semua orang terpaku dan bertanya : sebenarnya orang seperti apakah dia ???
Dia duduk di kursi belakang meja kerjanya, pikirannya berkecamuk hebat...mencari jalan supaya kekuasaan mutlak di tangannya. Dia akan senang sekali orang mematuhinya karna takut bukan karena dia punya sesuatu yg patut dihormati. Dia hanya tau, kekuasaan lah pemenangnya.Menurut dia semakin orang takut padanya...semakin bagus!
Dia berkata : bekerjalah sesuai porsi anda. Tapi ketika dia bercermin setiap pagi dia lupa bertanya pada dirinya sendiri apakah dirinya telah bekerja sesuai porsi dia ato tidak. Dia lupa, dia telah melebihkan porsi untuk dirinya sendiri. karena dia ingin semua ada di tangannya.
Dia orang yang paling dermawan, dia seorang pemimpin yg bisa membuat anak buahnya menjadi pintar dalam bekerja. Lalu....apakah kelebihan itu sebagai imbalan untuk rasa gila hormat dan kekuasaannya ???
Dia...memang istimewa.
Rating
Comments: 6
Rating:
Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
pesan moralnya kena, tapi....
yang bukan yg.
Dia berkata : bekerjalah sesuai porsi anda. sebaiknya Dia berkata : "bekerjalah sesuai porsi anda."
ini baru awal cerita yak ? prolog gitu ?
dia yg perfeksionis n arogan...
good..
Gb..
dia akan selalu menjadi dia....
....tentang pemerintahankah?
bagus, kak. baca dan komen ceritaku juga ya
Benar yg kamu bilang, kadang kita tidak merasa bahwa pemimpin yg bisa mengambil hati kita itu lebih berbahaya drpd pemimpin yg arogan.