Seharusnya lebih panjang, namun setelah beberapa pertimbangan bagian ini akhirnya dibagi menjadi beberapa chapter. PS: Beware The Jabberwock!!!
"Di suatu tempat di dekat menara di pusat kota. Beberapa makhluk bersayap tampak sedang mengelilingi sebentuk kubah abstrak berdiameter kira-kira 30 meter. Cukup lama mereka berada disana, seakan-akan sedang menunggu sesuatu keluar dari dalam kubah tersebut. Namun akhirnya satu persatu makhluk bersayap tersebut kembali berterbangan meninggalkan benda tersebut.
Dan sampai beberapa saat kemudian, tampaknya memang tak terjadi perubahan pada kubah tersebut. Hingga tiba-tiba muncul sebuah retakan kecil di suatu bagian kubah yang berdekatan dengan jalan.
Perlahan-lahan retakan tersebut semakin membesar dan sampai titik tertentu akhirnya bagian tersebut runtuh, menghasilkan sebuah lubang yang cukup besar yang menghubungkan bagian dalam kubah tersebut dengan dunia luar.
Dari lubang tersebut, bergantian, dua sosok berjalan keluar. Salah seorang diantaranya lelaki dengan rambut kelabu dan pakaian kecoklatan serta sebuah tas kecil tergantung di pundaknya. Sementara yang lain, jauh lebih pendek dari sang lelaki, seorang gadis berpakaian hitam dan rambut hitam sepundak.
Sang lelaki kemudian berjongkok disisi sang gadis dan membersihkan debu dan pasir yang menempel dirambut dan pundak sang gadis.
"Kau tak apa-apa Alex?" tanya sang lelaki sambil memeriksa kalau-kalau ada luka di tubuh sang gadis.
Ia kemudian tersenyum puas, "Hmm, kau baik-baik saja sepertinya. Ayo, kita sudah terlalu lama berada disini"
Namun belum sempat ia berbalik sang gadis memegang lengannya sambil menunjukkan sebuah bola logam yang tampaknya seakan-akan baru saja terbakar.
Sang lelaki mengambil bola tersebut dari tangan sang gadis dan memeriksanya sejenak sebelum akhirnya mengembalikannya kembali pada sang gadis. "Sepertinya benda itu sudah rusak." Ia kemudain menggaruk-garuk kepalanya, "Sayang sekali, tapi itu berarti kita tak bisa menggunakan cara yang sama dengan yang tadi kita pergunakan apabila makhluk-makhluk tersebut kembali mengepung kita."
"Ru... Sak..." Alex memandangi benda di tangannya,"Rusak?"
"Itu berarti tak bisa digunakan sebagaimana mestinya"
"Rusak!" Alex melemparkan benda tersebut.
Sang lelaki menghela nafasnya. Ia kemudian memungut kembali benda tersebut dan meletakkannya di tangan Alex. "Simpanlah, Orang-orang di Organisasi mungkin bisa memperbaikinya."
"Perbaiki?"
"Tak semua benda yang rusak harus dibuang, kadang dengan memperbaikinya kita bisa membuat benda tersebut berfungsi seperti sedia kala." Sang lelaki kembali tersenyum,"Ayo kita tak tahu kapan makhluk-makhluk itu akan kembali kemari." Kali ini sang lelaki mengulurkan tangannya pada sang gadis.
***
BLAM BLAM BLAM
Dengan senjatanya sang lelaki membuat sebuah lubang pada dinding menara, lalu dengan hatihati ia menuntun sang gadis memasuki menara tersebut.
Di dalam, tak jauh berbeda dengan keadaan di luar, ruangan yang baru mereka masuki bahkan jauh lebih gelap dibandingkan kondisi di luar menara. Di sana satu-satunya sumber cahaya hanyalah dari panel-panel di beberapa sudut ruangan yang memancarkan sinar-sinar redup. Dan karena sangat luasnya ruangan tersebut, sinar-sinar tersebut malah membuat kegelapan teras lebih pekat.
Sang lelaki mengambil sebuah visor(kacamata?) dari dalam tasnya dan mengenakannya sebelum melanjutkan berjalan. Sementara di sisi lain sang gadis seakan-akan tak terganggu dengan kegelapan tersebut.
Di tengah ruangan tersebut, diantara kabel-kabel raksasa, tampak sebuah tiang yang sangat besar berdiri tegak. Di sekeliling tiang tersebut, sebuah tangga spiral menghubungkan ruangan tersebut dengan ruangan di atasnya.
Perlahan-lahan mereka berdua menaiki tangga tersebut, melewati puluhan lantai hingga akhirnya mereka sampai pada ruangan yang tampak sangat berbeda dibandingkan dengan ruangan-ruangan di level yang lebih rendah. Tangga yang tadi mereka naiki, juga tiang raksasa, berakhir sampai di sana.
Ruangan tersebut tampak jauh lebih lapang, langit-langitnya pun jauh lebih tinggi Dan alih-alih sebuah tiang raksasa, puluhan pilar berukuran besar menjulang sampai ke langit-langit. Pada permukaan pilar-pilar tersebut ratusan simbol bersinar temaram. Namun meskipun demikian ruangan tersebut jauh lebih terang dibandingkan ruangan-ruangan sebelumnya.
"Kalian terlambat..." dari balik sebuah pilar tak jauh dari mereka berdua, seorang lelaki berambut putih dengan zirah kebiruan berjalan keluar. Lelaki yang berambut kelabu membuka visornya dan tampak olehnya mata lelaki berambut putih tersebut ternyata berwarna kebiruan.
Drap drap drap
Dari balik pilar yang lain sebuah otomata (semacam robot?) berjalan menghampiri lelaki berambut putih tersebut. Di tangannya tampak sesosok lelaki berambut hitam dengan pakaian yang mirip dengan yang dikenakan Alex tengah tak sadarkan diri. Otomata tersebut kemudian meletakkan lelaki tersebut di lantai tak jauh dari lelaki berambut putih.
"Sekitar empat puluh tiga jam yang lalu lelaki ini tiba seorang diri di sini. Dan tanpa mempedulikan peringatanku ia memaksa naik ke ruangan pusat pengendalian generator utama."
"Saga..." tanpa di duga Alex mencabut senjata dari punggungnya kemudian membedikkannya pada lelaki berambut putih tersebut. Namun entah kenapa, senjata yang mirp dengan senapan kaliber besar tersebut tampaknya tak bisa digunakan.
"Tunggu dulu!Alex!" lelaki berambut kelabu mencoba menghentikan sang gadis namun sang gadis telah lebih dahulu melesat menghampiri sang lelaki.
Dengan tangan kanannya sang gadis mencoba memukul lelaki berambut putih tersebut. Tetapi belum sempat pukulannya mengenai sang lelaki, otomata di samping lelaki tersebut bergerak lebih cepat dan dengan tangannya ia berhasil menangkap Alex. Kini gadis tersebut hanya bisa meronta-ronta dalam genggaman sang otomata.
Kali ini giliran lelaki berambut kelabu yang mencabut senjatanya.
"Tak apa-apa Lu, lepaskan gadis tersebut."
Otomata tersebut dengan segera meletakkan Alex di samping tubuh Saga.
"Saga... Saga..." Alex mengguncangkan tubuh Saga mencoba membangunkannya.
Lelaki berambut kelabu meletakkan kembali senjatanya, ia kemudian berlari menghampiri Alex dan Saga.
"Maafkan atas kesalahpahaman yang kutimbulkan." lelaki berambut putih tersebut membungkukkan tubuhnya, "Namaku Zen, Perwakilan Sistem Pengawas Menara Generator Utama sekaligus Penguasa Kota ini."
dikirim 145 22 minggu 2 hari yang laluTag:







