Anak-anak sudah puas bermain air. Mereka naik dan giliran Ake mencopot baju dan melompat. Cipratan airnya mengenai papan catur di tepi kolam. Andiev yang sudah sejak lahir berpembawaan suka naik darah, mencak-mencak memaki Ake. Ake sendiri menangkap omelan Andiev sebagai sinyal tidak jelas. Ia sibuk menikmati betapa heningnya tenggelam seperti batu hingga dasar kolam.
Andiev kembali ke papan catur. Ikam menunggunya dengan rambut separuh basah.
Read more (1521 words)
“Bagaimana? Serangan-seranganku membuat Abang tidak dapat berkutik lagi, bukan?” Andiev tersenyum menyeringai. Ia mengusik konsentrasi Ikam di papan catur. Mata pemuda itu langsung melirik setajam pisau.
Sebelum keduanya saling membunuh, Dimas muncul mendekati mereka seraya menenteng gunting bunga.
“Ada pamanmu di luar.” Ia membuat Andiev mengernyit.
“Paman?”
“Katanya begitu. Ia ingin membawamu pulang. Orang tuamu sangat cemas.”
Kerut-kerut di dahi Andiev semakin kentara. Ragu-ragu ia untuk berdiri.
“Bagaimana pamanku bisa sampai di sini?”
“Lebih baik, dijumpai saja....”
***
Kira-kira, tinggal satu telapak tangan. Matahari akan menyentuh permukaan laut. Sonia sudah mengukurnya dengan telapak tangannya sendiri. Ia berdiri di tepi pantai, menunggu kedatangan Ilyas.
Ia berbalik. Pemuda itu telah tampak. Ia membawa dua tampuk es krim. Salah satunya di tangan kanan, ia sodorkan kepada Sonia.
“Sore-sore, kenapa mencari es krim? Beruntung penjualnya masih ada.” Ilyas lebih terdengar seperti menggerutu. Sonia menggigit sedikit es krim miliknya dan tersenyum. Bermaksud minta maaf, ia malah lagi-lagi mengerjai Ilyas.
Ia menangkap pergelangan tangan kanan sahabatnya itu. Dibawanya menjauh dari bibir pantai. Kira-kira dua meter dari jangkauan terdekat air laut, mereka mengambil tempat dan duduk di atas pasir.
“Yas, aku sadar bahwa aku selama ini suka menakalimu. Dan mengenai 'cincin tunangan' itu, aku ingin memberi tahu bahwa itu hanya bercanda. Aku mohon maaf.”
“Ng..., tidak perlu meminta maaf. Aku sudah memaafkanmu, kok.”
“Yang benar?”
Ilyas mengangguk kencang. “Iya!”
“Terima kasih!” Sonia merangkulnya. Ilyas sontak menjadi kaku.
“Ayo, sekarang kita mau ke mana lagi? Sebutkan saja tempat yang ingin kau tuju!” Sonia melepaskan rangkulannya. Wajahnya terlihat bersemangat.
“Pergi lagi...?”
“Iya.”
“Ke mana?”
“Ke mana saja yang kamu suka! Ayo, kita mau ke mana?”
“Ke rumah. Pulang ke rumah.”
Kening Sonia berkerut. “Pulang? Kenapa?”
“A..., anu.... I..., itu....”
“Tidak usah takut. Katakan saja.”
“Itu....”
“Apa?”
“Ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu.”
“Sesuatu?” Sonia tersenyum lebar. “Mulai, ya?”
“Apa maksudmu?”
“Aku jadi penasaran.” Sonia berdiri dan membersihkan celananya dari pasir. “Ngomong-ngomong, apa yang ingin kau berikan?”
“Apa kau sudah melupakannya?” Ilyas turut berdiri.
“Apa...?” Sonia berpikir sebentar. “Sudahlah! Biar itu menjadi kejutan. Kalau begitu, biar aku antar kau pulang!”
Lagi, ia menangkap pergelangan tangan Ilyas. Diseretnya semakin jauh dari ombak. Ia menghampiri mobil sedannya. Mereka naik, mesin menyala, dan roda-rodanya perlahan mulai bergerak.
***
Hampir dua puluh menit, mobil akhirnya tiba di depan jalan masuk pekarangan rumah Ilyas.
“Tunggu di sini.” Ilyas turun dari mobil.
“Aku ikut.” Sonia hendak menyusul.
“Jangan! Kamu di sini saja.”
“Ikut....”
“Kalau kamu ikut, tidak akan kuberikan.”
Sonia terpaksa tersenyum. “Baiklah....”
Ilyas menutup pintu dan beranjak ke rumahnya.
“Gila!” Sonia berbicara sendiri. “Ini perasaanku atau Ilyas memang benar-benar sudah mulai berubah? Atau jangan-jangan..., malah aku sendiri yang jatuh cinta padanya? Ah! Ngawur! Tapi, kalau dipikir-pikir lumayan juga. Tidak apa-apa. Calon suami seperti dia tampaknya baik.” Sonia malah cekikikan menahan tawa.
Di luar, celah pintu menarik Ilyas untuk segera mendekati teras. Terakhir kali ia ingat, ia pergi meninggalkan rumah dengan seluruh pintu dan jendela terkunci rapat. Tidak mungkin ulah Ake atau Ikam, karena beberapa hari lalu mereka menghilangkan kunci duplikat yang diserahkan pada mereka.
Tapi, apakah mereka begitu nekad? Ilyas terbelalak begitu kakinya berhenti tepat di depan pintu. Selain pintu itu telah sedikit tergeser, gagang pintunya juga terlihat retak menganga. Sepertinya, daun pintu didorong perlahan, hingga gagang pintu yang terkunci terbengkas.
“Ake? Ikam?” Ilyas mendorong pintu dan masuk. Sosok pria di kursi serambi dengan tubuh tegapnya mengagetkan Ilyas. Cahaya yang masuk dari celah pintu menerpa uap yang mengepul dari sesuatu di cangkir di atas meja.
“Selamat datang...,” sambut pria itu. Meski ia tidak menoleh, cambang di wajahnya tampak begitu jelas.
“Siapa Anda? Anda telah masuk rumah orang tanpa izin.”
“Tidak usah tahu siapa aku. Yang terpenting adalah... di mana gadis itu?” Ia menoleh. Sorot matanya terlihat tajam.
“Ga..., gadis yang mana?”
“Gadis remaja yang tinggal di rumahmu. Andiev!”
“Aku tidak tahu!”
Astro mendadak hilang. Sebuah tangan kekar mencengkeram tenggorokan Ilyas. Tubuhnya ditempel di dinding tak menyentuh lantai.
“Katakan yang sebenarnya....” Cengkeraman itu semakin kuat.
“Di..., dia sudah pulang...!”
“Bohong...!” Kembali, Astro menghentakkan tubuhnya.
“Me..., memangnya Anda siapa?”
Astro malah tersenyum. Tubuh Ilyas ia lempar hingga membentur dinding cukup keras. Suaranya terdengar hingga ke kuping Sonia. Gadis itu terlonjak kaget.
“Di mana dia?”
“Me..., menurut Anda di mana?”
Lagi-lagi, Ilyas diayun dan dilempar. Dan lagi, Sonia terkaget. Suara keras itu kembali terdengar ketika ia sedang berjalan mendekati teras.
“Aku tahu kau pintar. Jadi, jawab saja pertanyaanku dengan benar.”
“Karena aku pintar..., aku tidak ingin menjawabnya....”
“Keras kepala!” Lagi, Ilyas dilempar. Sonia yang sudah berdiri di depan pintu kembali terperanjat.
“Ilyas?” panggilnya.
Astro tertahan. Ia urung melumat wajah Ilyas dengan tinjunya. Pemuda itu malah dilepas dan ia keluar mencari pemilik suara yang terdengar tadi. Namun, tidak ada siapa-siapa di depan pintu. Hanya sebuah mobil di depan jalan masuk dan di sana juga tidak ada siapa-siapa.
Astro kembali. Sebuah balok kayu menghantam kepalanya tepat ketika ia baru saja membuka pintu. Balok tersebut patah, kepala Astro tetap utuh. Namun, matanya perih terkena debu balok yang patah. Buru-buru, Sonia melarikan Ilyas ke dalam mobil. Mereka pergi.
***
Dimas mendongak. Awan mendung telah berkumpul di atas kepalanya. Aroma air juga terasa ketika angin pelan-pelan berhembus. Dimas pun tak ingin buang waktu. Ia berhenti bergelut dengan tanaman dan mulai mengemasi perangkat berkebunnya.
Suara pintu mobil ditutup memutar leher Dimas. Ada Andiev di samping pintu sebuah sedan berwarna putih. Gadis itu segera masuk dan mobil mulai meninggalkan depan teras. Ake dan Ikam terlihat melambai dengan senyum berbinar-binar.
“Kenapa?” Dimas mendatangi mereka. Keduanya serempak berhenti melambai.
“Andiev...,” jawab Ake. “Dia akhirnya pulang.”
“Entah kenapa, hatiku senang sekali.” Ikam tidak dapat menyembunyikan senyum di bibirnya.
Berbeda dengan Ake dan Ikam, Andiev sama sekali tidak berbahagia meski tahu ia akan pulang. Bukan ayah dan ibu yang menjemputnya. Bukan pula paman yang memiliki hubungan keluarga, yang kini duduk di sampingnya menyetir mobil. Ia adalah Hein!
“Aku harap, kau tidak berbohong.” Setelah cukup jauh dari rumah Ikram, Hein bersuara. “Aku sudah beberapa kali dibohongi di sini. Dan aku juga akan melakukan hal yang sama padamu jika kau bertindak sama. Akan kupatahkan seluruh tulang di tubuhmu....”
Andiev menelan ludah. Kata-kata itu.... Nada bicaranya....
“Jadi, kau tidak berbohong, kan?”
“Jangan bawa-bawa keluargaku!” Andiev membalas.
“E...?”
“Ayah dan ibuku.... Jangan apa-apakan mereka.”
“Aku tidak berani menjamin jika aku pulang tanpa giganium. Jadi, ini yang harus kau ingat. Keluargamu ada pada kami. Jika kau bertingkah, tidak hanya kau yang kehilangan nyawa, orang tuamu juga.”
“Kita... tinggal dua kelokan lagi.”
Mobil akhirnya tiba di sebuah simpang. Instruksi Andiev membuat Hein mengambil jalur kanan. Dan setelahnya, mereka bertemu tikungan ke kiri. Agak jauh mereka masuk, Andiev meminta berhenti di depan sebuah rumah. Andiev mengenal rumah itu sebagai tempat yang pernah ia tinggali selama hampir tiga minggu. Ia berjumpa dengan Ilyas, Ake, dan Ikam di rumah itu.
“Jadi, di sini tempatnya?” Hein mematikan mesin mobil.
Andiev mengangguk sekali.
“Sebaiknya, kau bertindak cepat. Tampaknya sebentar lagi akan turun hujan.”
Kedunya turun. Hein terlebih dulu mengunci pintu mobil dan meminta Andiev berjalan di depannya. Gadis itu memandunya melewati jalan kecil di sisi kiri rumah Ilyas. Mereka menuju halaman belakang rumah.
“Aneh...,” guman Andiev. “Pintu rumah terbuka, mengapa tampak sepi? Jendela juga masih tertutup. Di mana Bang Ilyas?”
“Hei...!” Hein menegur. Andiev tersadar dan memfokuskan kembali arah jalannya.
Di dekat sumur, mereka berhenti. Andiev menjongkok di hadapan bunga yang sudah ia tanam selama lebih kurang dua minggu. Mawar tersebut tampak sehat. Ilyas mungkin merawatnya dengan baik, meski hanya membersihkan rumput-rumput di sekelilingnya. Ilyas pernah menyarankan untuk menanam bunga itu di dalam pot. Tetapi, entah kenapa Andiev lebih memilih menancapkan akarnya langsung pada tanah.
“Kita tidak punya waktu untuk mengagumi beberapa tangkai bunga.” Hein kembali menegur. Andiev memejamkan mata beberapa detik, lalu memperhatikan sekeliling. Ia berhasil mendapat sebilah kayu. Digunakannya untuk membongkah tanah yang ditumbuhi mawar miliknya. Disingkirkannya baik-baik, dan ia mulai menggali.
Tak menunggu cukup lama, cangkul kayu Andiev membentur benda plastik berwarna hitam. Semua tanah di atasnya disingkirkan dengan cepat. Koper hitam dibalut kantong plastik transparan akhirnya diangkat dari lubang.
“Itu dia?” tanya Hein.
“Iya....” Andiev menyobek kantong pembalut koper.
“Kembali ke mobil.”
Andiev segera berdiri dan menenteng tas setinggi lututnya tersebut. Hein terus mengekor. Pria itu akhirnya melejit ke depan, ketika ia hendak masuk ke dalam mobil.
Kunci telah terulur ke dalam slot. Namun, pergelangan tangan Hein mendadak tak dapat diputar. Sebuah tangan lain menggenggam tangannya. Dan ketika ia menoleh, sebuah kepalan tangan menghantam wajahnya dengan sangat keras.
Hein terjerembab. Hidungnya panas. Kunci yang ia genggam kini beralih ke tangan pria lain.
“Astro...?” Hein berdiri. Pria itu tak menggubrisnya. Ia berhasil membuka pintu mobil, memaksa Andiev untuk masuk, dan menyalakan mesin.
Hein ditinggal begitu saja.
Kalau membaca cerita bersambung, nanti komennya di bagian the end aja deh.