Saya sungguh berterima kasih kepada semua pihak yang telah menyumbangkan komentar untuk cerita ini. Sekali lagi, terima kasih.
Pernyataan lisensi: Teman-teman boleh menyalin cerita ini ke media simpan lokal. Penggandaan diizinkan selama dalam bentuk digital, tidak menghilangkan sumber atau penulis asli, dan tidak untuk melanggar norma dan peraturan yang berlaku, dan bukan untuk tujan komersial. Jangan mencetak cerita ini ke atas kertas! Pohon sudah banyak yang ditebang untuk itu.
Sudah puluhan mobil mengambil tempat di area parkir milik Borneolab. Profesor Irene terlihat sibuk oleh beberapa anggota yang berpangkat cukup tinggi. Sepertinya, mereka memperbincangkan proyek kerja sama Polisi dan Borneolab. Veren yang sudah mendapat bocoran, kehilangan tanda tanya yang sering muncul, apabila ia berjumpa orang-orang berseragam biru tua tersebut.
GERBANG-2, menurut Profesor Irene itu adalah nama proyek kerja sama Polri dan Borneolab. Ini adalah kali kedua mereka berkolaborasi dan merupakan proyek ambisius. Polisi tidak ingin kalah bersaing dengan DINA yang memiliki fibernetik.
“Proyek ini adalah pengembangan lebih lanjut dari proyek GERBANG terdahulu,” jelas Profesor Irene pada Veren. “Kami mengadopsi teknologi BIMA yang dimiliki Polri pada abad 22. Pada masa itu, Polisi Republik Indonesia memiliki unit kecil uji coba. Unit tersebut menggunakan pakaian tempur dengan sistem navigasi yang cukup canggih. Teknologinya hampir sama dengan teknologi hyper injection system milik generation force.”
“Bisa memaksimalkan kemampuan tubuh?”
Profesor Irene mengangguk. “Tapi, kami telah men-develop kemampuannya. Tidak hanya dapat memaksimalkan kemampuan tubuh, tapi juga meningkatkan beberapa ratus kali. Semua itu dicapai dengan membuka segel injeksi tenaga yang kami namai Gerbang. Untuk proyek pertama, kami hanya dapat membuka hingga Gerbang Kedua. Tetapi pada GERBANG-2, kami bisa membuka sampai Gerbang Keempat. Itu setara dengan efek samping fibergen3 milik DINA.”
“Fibergen3? Anda tahu?”
“Tentu saja.”
Veren tersenyum hambar.
“Untuk apa digunakan Gerbang?” Hilda akhirnya bersuara.
“Kami tidak ingin ada kerusakan tubuh. Jadi, polisi-polisi itu dapat mengatur kemampuan yang diperlukan pada saat mereka bertugas. Jika terdesak, mereka bisa membuka Gerbang yang sesuai.”
Veren mengangguk-angguk. Polisi-polisi itu ternyata memiliki sarana penunjang kerja unit mereka, dengan perangkat hasil adopsi teknologi BIMA abad 22, milik polisi sendiri pada masa itu.
“Jika ini GERBANG-2, GERBANG pertama ke mana? Kami tidak pernah mendengar.”
“Gerbang terdahulu sudah rampung empat bulan sebelum ini. Setahu kami, kami juga tidak mengetahui sepak terjang GERBANG pertama dalam menyelesaikan sebuah tugas. Yang kami tahu, usai uji coba, pihak polisi menginginkan proyek ini berlanjut dan akhirnya rampung pada hari ini.”
Veren lagi-lagi mengangguk. Menurut Profesor Irene, tiga buah sepeda motor yang ada di laboratorium itu adalah bagian dari GERBANG-2. Kendaraan beroda dua tersebut juga memiliki sistem navigasi layaknya kendaraan tempur pasukan elit. Bahkan, teknologi Gerbang juga ditanam pada mereka.
“Tapi ngomong-ngomong, aku belum melihat pakaian tempur GERBANG-2.”
“Kami tidak dapat menampilkannya sekarang, karena susunan elektronnya sedang ditata ulang.”
“Ha?”
“Satu jam lagi baru selesai.”
“Dipikir-pikir, kau seharusnya tidak menceritakan proyek rahasia ini kepada kami. Veren jadi terlihat penasaran.”
Veren sontak menoleh. Hilda tersenyum tipis.
“Apakah aku pernah berkata bahwa ini adalah proyek rahasia? Ini sama sekali bukan proyek rahasia meskipun berskala cukup besar. Hanya saja, polisi meminta proyek ini jauh dari penciuman media massa. Oleh karena itu, aku berani bercerita pada kalian.”
“Oh....”
Sesi penjelasan berakhir. Sembari menunggu polisi dan beberapa anggota DINA, Profesor Irene mengajak Hilda dan putrinya menuju sebuah ruang lapang, terpisah dari laboratorium utama oleh sebuah pintu baja setebal lima sentimeter. Di ruang tersebut, Profesor Irene mengaku telah menyalin seluruh berkas peta bintang dari basis data Koloni Juran. Penyalinan tersebut memakan kapasitas lebih dari sepuluh ribu terabyte media simpan di mainframe laboratorium.
“Pegang putrimu. Pastikan ia tidak berada jauh darimu.”
Hilda menggenggam tangan putrinya erat-erat.
“Kita mulai....”
Lampu mendadak redup. Yuni memilih untuk mendekati pinggang ibunya.
Kelihatan! Hilda bisa melihat titik-titik kecil bersinar redup sedikit demi sedikit mulai memenuhi ruang. Dan setelah tiga kali berkerjab, Yuni mendapati sekelilingnya telah berubah, seperti jutaan bintang terhampar luas di depan matanya, dan ia berdiri di tengah-tengah ruang hampa.
“Ini....” Hilda tergagap.
“Konstelasi yang kuceritakan.”
“Aku pikir..., konstelasinya akan muncul di dinding ruangan ini. Ternyata, malah muncul tepat di depan mata.”
Profesor Irene mengambil senyum.
“Tidak hanya di sini, Hilda. Kau bahkan bisa melakukan zooming hingga miliaran kali. Kau akan mendapat hasil akhir yang menakjubkan.”
Hamparan titik-titik bersinar yang mengumpul di beberapa bagian, melebar dan membesar sangat cepat. Yuni sedikit pusing. Ia merasa melewati terowongan cahaya dengan kereta api supercepat. Setelah beberapa detik, semua berhenti bergerak. Tidak hanya titik-titik kecil yang tampak, bahkan benda-benda bulat sebesar bola tenis juga terlihat melayang di sekeliling mereka.
“Ini memang benar-benar sudah menakjubkan....” Ujung mata Hilda terfokus pada sebuah planet berwarna oranye. Benda bulat sebesar jeruk itu tampak melayang tenang. Rotasinya bagai tarian yang indah.
“Itu belum apa-apa. Aku punya ketertarikan sendiri untuk fungsi zooming yang dimiliki peta ini.”
“Maksudmu?” Hilda berpindah ke sosok sahabat karibnya semasa kuliah dulu. Mereka tinggal dalam satu asrama.
“Aku bisa mengambil potret panorama setiap planet. Seakan-akan, aku berdiri di atas permukaannya pada saat aku mengambil gambar.”
Lima bingkai ukuran satu kali dua meter muncul di tengah-tengah ruang. Dua di antaranya menggambarkan suasana matahari tenggelam pada planet yang memiliki bintang ganda. Tiga sisanya, memperlihatkan langit cerah beserta daratan dan perairan yang terhampar luas. Cukup sulit bagi Hilda untuk menerima, bahwa kelima foto raksasa di depannya, sama sekali bukan gambar yang diambil dari panorama Bumi.
“Dan..., ini yang lebih membuatku tertarik....”
Semua foto menghilang. Kamar lapang itu tiba-tiba berubah seperti terowongan cahaya. Semua benda langit bergerak cepat. Yuni merasa pusing melihat cahaya-cahaya itu, belum lagi ketika mereka seperti menghunjam sebuah planet berwarna hijau. Yuni terpejam.
Titik pandang yang semula tegak lurus dengan horison, bergeser menjadi datar. Kelam jagad hampa telah lenyap berganti langit biru muda dan hamparan air yang cukup luas.
Yuni membuka mata dan sedikit bingung. Di ujung kakinya tidak terlihat lantai marmer. Itu pasir!
“Irene, apa lagi ini?” Hilda sulit untuk berkedip. Di depannya, biru air begitu kontras dengan biru langit di atasnya. Di sisi kiri, terlihat sebuah matahari yang cukup cerah. Dan di sisi kanan, tampak garis lebar dan tiga benda bulat menghias langit.
“Kita mendarat di sebuah planet,” jawab Profesor Irene.
Sedikit mencermati, Hilda akhirnya sadar, bahwa garis lebar di sisi kanannya adalah cincin planet ini. Lebarnya mungkin lebih dari seratus kilometer. Dan tiga benda langit berwarna pucat itu, sepertinya planet lain atau mungkin satelit alami planet yang mereka darati.
“Sulit dipercaya. Ini semua grafis komputer?”
Profesor Irene sedikit mengangguk. “Meski ilusi optik, sensor yang dimiliki mainframe-nya, memberi kesan bahwa kita bersentuh langsung dengan sekeliling yang tercipta.” Profesor Irene menunduk. Kakinya kanannya bergeser maju mundur beberapa kali, menyisakan garis di pasir.
Puas menatap laut, Hilda berputar. Baru ia sadar bahwa di belakang mereka berdiri kokoh sebuah tebing. Cukup tinggi untuk membuat Hilda sakit leher saat mendongak. Di sisi teping, sepertinya menempel beberapa tumbuhan sejenis rumput dan pohon.
“Sudah puas? Mungkin, kau mau melihat jagad raya sekali lagi.”
Semua kembali bagai terowongan cahaya. Yuni memejamkan mata karena takut kepalanya pusing. Setelah beberapa detik, ruangan kembali gelap. Hanya cahaya dari jutaan titik di sana yang menerangi mereka.
Hilda memutar leher ke kanan dan kiri. Teks-teks pelengkap muncul seiring arah fokus matanya menumpu. Pada saat itu, ia sadar. Mereka berada di dalam komputer dengan sistem eye-tracking yang baru pertama kali ini ia rasakan kinerjanya.
“Dua hal penting yang kami dapat sekaligus ketika kami bertandang ke Koloni Juran. Pertama, adalah basis data peta bintang cukup detil. Dan kedua, komputer dengan sistem pelacak fokus mata. Kita kini berada di dalam destop komputer tersebut.”
Hilda mengangguk. Banyak teks-otomatis-muncul yang telah ia baca. Profesor Irene juga menyerahkan sebagian kontrol dan Hilda mempelajarinya dalam hitungan menit. Sahabatnya tersebut ingin ia membuka hal-hal penting yang belum pernah mereka lihat selama riset.
“Basis data dan hasil analisis mereka membuatku terkesan. Pekerjaan ini pasti memerlukan waktu yang sangat lama dan biaya tidak sedikit.”
Profesor Irene mengangguk. Bagaimanapun, setelah satu minggu riset di Koloni Juran, itu telah cukup memberi gambaran proses kerja Divisi Analisis Jagad Raya.
“Yap, tiga triliun bintang dan tiga galaksi.”
“Bukan, bukan hanya tiga galaksi, tetapi tiga gugus galaksi. Mereka mencoba memetakan superkluster.”
Profesor Irene mendelik. “Superkluster?”
“Kumpulan gugus galaksi. Mereka sepertinya sangat ingin membentuk simulasi peta bintang jagad raya. Tetapi, mereka hanya berhasil memetakan tiga triliun bintang di tiga galaksi. Ketiganya galaksi bertetangga, yakni Galaksi Bimasakti, Galaksi Andromeda, dan Galaksi Kabut Magelan Kecil.”
“Aku tidak pernah menemukan catatan semacam itu di komputer utama mereka.”
“Mungkin, karena hanya disisipkan dalam basis data ini sendiri. Aku menemukan log dari salah satu anggota, sepertinya ketua tim.” Hilda menampakkan sebuah bingkai holografik. Bingkai tersebut melayang di sisi kanannya dan berisi teks berwarna putih menyala.
“Kau menemukan catatan lain?”
“Ada. Kurasa, ini adalah catatan terakhir. Disebutkan bahwa setelah mereka berhasil memetakan bintang di tiga galaksi, mereka mulai memetakan tata surya dan benda-benda angkasa lain. Tercatat delapan juta tata surya. Empat ribu di antaranya memiliki bintang ganda, tiga ratus memiliki bintang tiga, dan dua puluh lima berbintang enam.”
“Maksudnya?”
“Ada lebih dari delapan juta tata surya di tiga galaksi tersebut yang memiliki matahari lebih dari satu.”
“Matahari sampai enam...?” Bukannya Profesor Irene tidak tahu tentang keberadaan tata surya berbintang lebih dari satu. Tetapi, ia lebih membayangkan jadinya apabila tata surya tersebut berbintang ganda, hingga berbintang enam. Sepertinya, tidak akan ada istilah malam di sana.
“Kau ingin melihat bagaimana kondisi tata surya tersebut? Aku bisa men-zooming peta ke semua lokasi yang disebutkan. Kalau tadi kita bertandang ke planet Zironoa, mungkin kita bisa melihat-lihat kondisi Opostus dan Nebuva.”
Profesor Irene hendak menjawab, tetapi bunyi sebuah alarm kecil menyela mereka.
“Profesor, ada Letnan Kolonel Marfin dan Mayor Jenderal Lubis di ruang tunggu. Mereka ingin berbicara dengan Anda.” Itu suara Digta. Kedua nama yang ia kenal sebagai utusan polisi membuat ia berpikir sejenak.
“Maaf, aku harus pergi dulu. Silakan kau menelusuri lagi peta raksasa ini.” Profesor Irene pamit. Dan selebihnya, ia sibuk hingga enam puluh menit kemudian.
Selanjutnya (19/20-04-2008 -- Fibergen menyiksa tubuh Alisya dan Gaya. Saatnya semua tahu, apa penyebab Perang Dunia Ketiga dan Perang Kosmik. JANGAN BIARKAN PERANG TERULANG! --): Kisah Bagian 9: Sakit dan Kisah Bagian 10: Garis Waktu.
Tag:











