CoDE: Chimera - Chapter: Living Cerebrospinal Circuit

55
points
"

Bagian ketiga dari proyek Chimera. PS: I am the soul of my book. Paper is my body, and ink is my blood >_<

"

Ruangan tersebut terlihat kokoh dan lapang. Di seluruh permukaan dinding, juga lantai dan langit-langit, tampak ribuan garis berpendar temaram membentuk sebuah pola yang mirip dengan pola yang biasa terlihat pada sebuah papan rangkaian elektronika.

Secara acak cahaya-cahaya kebiruan mengalir melalui lintasan-lintasan tersebut, sementara di tengah ruangan, sebuah bola raksasa melayang bebas. Sesekali kilatan-kilatan cahaya memancar darinya mengenai dinding ruangan.

Berdiri mengelilinginya, terlihat empat sosok makhluk yang sama sekali berbeda satu sama lain.

Sosok pertama lebih tinggi dari yang lainnya, sepintas ia terlihat mirip dengan manusia dengan dua buah lengan yang panjangnya hampir sama dengan tinggi tubuhnya.

Dua sosok yang lain terlihat sangat mirip dengan makhluk-makhluk bersayap. Hanya saja sementara yang satu memiliki empat lengan, satu yang lainnya tidak memiliki lengan sama sekali, sebaliknya puluhan makhluk kecil mirip serangga terbang mengelilinginya.

Yang terakhir, bertubuh paling kecil, sangat mirip dengan sosok seorang perempuan, dengan rambut hitam yang cukup panjang dan tubuh yang seakan-akan dibalut jaket berwarna kelabu. Namun jelas sekali, keempatnya bukanlah manusia.

Tiba-tiba sebuah lubang terbuka di lantai di dekat pojok ruangan. Sebuah panel bergerak naik dan di atasnya sesosok lelaki, dengan pakaian hitam dan tubuh penuh luka, tengah membidikkan sebuah senjata yang mirip dengan senapan besar ke arah empat sosok di tengah ruangan. Di wajah lelaki tersebut tampak sebuah senyum yang lebih mirip dengan sebuah seringai.

Namun belum sempat lelaki tersebut menembakkan senjatanya, sosok yang memiliki lengan panjang dengan cepat mengayunkan lengannya dan menembakkan sesuatu mirip cairan kehitaman ke arah sang lelaki.

Secara reflek sang lelaki melompat kesamping.

Sesaat kemudian ia telah kembali membidikkan senjatanya dan kali ini tanpa membuang waktu menembakkannya berkali-kali kearah makhluk-makhluk tersebut.

Beberapa tembakannya berhasil mengenai salah satu diantara mereka. Dan dengan itu makhluk bersayap yang tidak memiliki lengan tergeletak dengan kepala pecah dan beberapa lubang di tubuhnya.

Sang lelaki tersenyum puas melihat hal tersebut, ketika tiba-tiba saja makhluk bersayap yang memiliki empat lengan telah berada di hadapannya.Dengan keempat lengannya makhluk tersebut memegangi kedua lengan sang lelaki, mencegahnya menembakkan senjatanya. Dan beberapa saat kemudian makhluk tersebut telah membawa sang lelaki terbang ke atas, mencoba menjatuhkannya dari ketinggian.

Namun belum terlalu tinggi makhluk tersebut membawa sang lelaki terbang, Ia merasakan rasa sakit yang amat di lengannya. Laki-laki tersebut telah menggigitnya. Segera saja ia melepaskan lelaki tersebut, yang dengan ketepatan tinggi berhasil membidikkan dan kemudian menembakkan senjatanya ke arah sang makhluk sebelum ia sendiri jatuh ke lantai.

Blam Blam Blam

Sang lelaki kembali menyeringai saat tembakannya mencabik-cabik tubuh sang makhluk.

Bruaakkk

Tubuh Sang lelaki membentur lantai. Senjata di genggamannya terlepas dan terlempar tak jauh dari tempatnya tergeletak.

Dengan susah payah sang lelaki mencoba bangkit. Tertatih ia berjalan ke arah senjatanya tergeletak.

Langkahnya tiba-tiba terhenti saat sebuah tangan dengan kuat memegangi bagian belakang kepalanya sebelum akhirnya melemparkan dirinya ke salah satu sudut ruangan.

Bruakkkk

Tubuh sang lelaki membentur dinding ruangan, namun kali ini ia tak bangkit kembali.

Dengan tenang sosok yang memiliki lengan panjang berjalan menghampiri sang lelaki. Lalu dengan salah satu lengannya ia mencengkram kepala sang lelaki kemudian mengangkatnya kehadapannya. Sementara itu perlahan lengannya yang lain berubah bentuk. Seperti sebuah lilin mainan, lengan tersebut kini telah menyerupai sebuah tombak yang berwarna kehitaman.

Makhluk tersebut baru saja mengangkat lengan tombaknya dan bersiap mengayunkannya, ketika ia merasakan sebuah cengkraman yang sangat kuat di lengannya yang lain.

Di hadapannya sang lelaki kembali membuka matanya dan dengan tangan kirinya ia mencengkram pergelangan tangan sang makhluk. Makhluk tersebut menarik lengannya dan saat itu pula sang lelaki mengayunkan kepalan tangan kanannya ke wajah sang makhluk.

Krakkk

Pukulan sang lelaki berhasil memecahkan tengkorak kepala makhluk yang mencengkramnya dan sekejap kemudian makhluk tersebut pun tumbanglah.

Kembali sang lelaki mencoba berdiri. Tubuhnya yang semula dipenuhi luka kini berlumuran darah, salah satu pelipisnya sobek dan luka di kepalanya pun telah mengeluarkan darah.

Di hadapannya kini hanya tersisa sesosok makhluk, makhluk dengan bentuk tubuh menyerupai seorang perempuan, yang tampaknya sama sekali tak terpengaruh dengan kematian rekan-rekannya. Dengan matanya yang gelap, makhluk tersebut hanya memandangi sang lelaki ketika ia tertatih-tatih berjalan mengambil senjatanya. Makhluk tersebut bahkan sama sekali tak bergerak saat sang lelaki membidikkan senjatanya ke arahnya.

Untuk beberapa saat mereka berdua hanya berpandangan hingga pada akhirnya sang lelaki memutuskan menurunkan senjatanya.

Sang lelaki kemudian berjalan menghampiri bola raksasa di tengah ruangan. Setelah memutarinya ia berhasil menemukan sebuah panel di salah satu sisi bola tersebut. Lalu dengan sekuat tenaga, dipukulnya panel tersebut.

Zaaapppp

Sekejap garis-garis bercahaya di seluruh sisi ruangan padam sebelum akhirnya kembali menyala. Sementara itu bola raksasa yang tadinya melayang perlahan mendarat di lantai.

Entah bagaimana bola tersebut meleleh, cairan yang dikandungnya meluber keluar dan di dalamnya tampak sesosok gadis kecil tengah meringkuk sambil memejamkan matanya.

Rambut gadis itu pendek dan berwarna kebiruan, tubuhnya di balut pakaian ketat berwarna hitam sementara pada wajahnya tampak garis-garis kecil yang berpendar temaram. Garis-garis tersebut perlahan padam dan saat itulah gadis tersebut membuka matanya yang juga berwarna kebiruan.

Gadis tersebut sama sekali tak melawan saat sang lelaki mengangkatnya dan kemudian menggendongnya.

Sang lelaki kemudian berjalan menghampiri panel tempat ia memasuki ruangan namun di tempat tersebut makhluk yang menyerupai perempuan telah berdiri menghalanginya.

Sang lelaki menurunkan gadis di gendongannya. Sang gadis berdiri dan memandangi sang lelaki dan seolah mengerti ia berlari menjauh.

Sang lelaki mengambil senjatanya dan tanpa banyak bicara menembakkannya pada makhluk yang menyerupai perempuan tersebut. Namun belum sampai peluru tersebut mengenai sang makhluk, makhluk tersebut telah mengayunkan tangannya dan entah bagaimana membelokkan alur peluru tersebut.

Sang lelaki terkejut melihatnya dan ketika ia tersadar makhluk tersebut telah berlari menghampirinya, memegang lengan kananya dan dengan kekuatan luar biasa dilemparkannya sang lelaki ke ujung ruangan.

Namun ternyata kekuatan genggaman makhluk tersebut sangatlah besar sehingga ketika tubuh sang lelaki terlempar, lengan tersebutpun putuslah. Sang lelaki kini terkapar di lantai tanpa, lengan kanan dan senjatanya.

Sambil melemparkan lengan dalam genggamannya ke ujung lain ruangan, makhluk tersebut kemudian berjalan menghampiri sang lelaki. Namun baru saja ia mengulurkan tangannya, sang gadis telah berdiri di hadapannya sambil merentangkan kedua tangannya.

Saat itu juga, dinding-dinding logam bermunculan dari lantai, mengurung tubuh sang gadis dan sang lelaki. Panel di bawah mereka berdua bergerak dan dalam sekejap mereka berdua telah turun meninggalkan ruangan tersebut.

Sampai disitu pengelihatan tersebut pun berakhirlah. Sang lelaki kembali membuka visornya. Zen berdiri di hadapannya, sementara bersembunyi di belakang tubuhnya, gadis yang baru saja ia lihat tampak sedang mengintip, memandangi Alex yang duduk disamping tubuh Saga.

Your rating: None Average: 6.1 (9 votes)
dikirim 145 21 minggu 6 hari yang lalu
Tag: