Everlasting Arms Episode 1; Chapter 7-The Real Betrayal

27
points
"

.................

argh
stress menjelang uan

"

Chapter 7: The Real Betrayal

Sektor SRFI1548DA5 di Luar Orbit Planet Terra

Semua anggota Tyrano Skuadron telah duduk di belakang tangkai kemudi MFU masing-masing. Mata Syarif terpaku sesaat pada kokpit 3 MAU. Pada Flux.

Suara animasi komputer MFU mulai menghitung mundur dengan suara halus. Semua menunggu dengan berdebar-debar.

“…LIMA…EMPAT…TIGA…DUA… SATU… BERANGKAT!”

MFU Tyrano Skuadron langsung meluncur dengan cepat. Keluar dari dock 2 dengan formasi v.

“Kapten, apa perintahmu?” terdengar suara Eko dari alat komunikasi.

“Pertahankan formasi. Tunggu aba-aba selanjutnya dariku.” Lalu dia mengontak Aquatids. “Tyrano Leader ke Aquatids. Apa perintah anda komandan?”

“Tunggu sebentar. Kami sedang mencoba menghubungi Celestial.”

Tyrano Skuad, tahan posisi kalian. Tetap dalam perisai Aquatids.”

“Siap!”

Sementara itu, di ruang kendali Aquatids, semua orang sedang sibuk berusaha menghubungi Celestial. Hasilnya, nihil.

“Komandan, hubungan dengan Celestial tidak dapat dibuat. Sepertinya komunikasi kita telah di-jam (Pengacauan transmisi gambar dan suara) oleh Aconite.”

“Sial! Bagaimana ini?” Laksamana Adiguna memukul kursi komandonya.

“Mungkin aku bisa membantu.” Kata Adam tiba-tiba.“Tapi aku perlu bantuan Flux.”

“Hah!? Baiklah, kamu boleh coba.”

Tak lama kemudian, Flux telah selesai mengutak-atik komputer komunikasi dan tanpa butuh waktu lama, mereka telah dapat melakukan kontak dengan Celestial

Aquatids ke Celestial. Aquatids ke Celestial. Laporkan status anda.”

“Di sini Celestial, garis pertahanan kedua telah ditembus. Tidak ada yang tersisa dari garis pertahanan pertama dan kedua.”

Sistem pertahanan Space Station Celestial terdiri atas 3 lapis. Lapisan pertama terdiri dari Shyncro Cannon yang disimpan pada sabuk asteroid. Lapisan kedua berupa MFU dan lapisan ketiga adalah Perisai elektromagnet.

“Sial!” Dengan emosi, Laksamana Adiguna membanting topi yang dia kenakan. “Apa yang sebenarnya Aconite rencanakan.”

“Mu...mungkin kami bi...bisa ca...cari tahu.” Kata Aura dengan agak malu.

“Hah?”

“Benar juga. Laksamana, berikan kami izin untuk menuju zona tempur.”

“Baiklah. Izin diberikan. Tapi kalau kau mencoba kabur, kau tak akan kumaafkan.”

“Baiklah. Aura, Flux, ayo kiya pergi!”

Dengan cepat mereka bertiga menuju MAU dan naik ke posisi masing-masing.

“Kolonel Adam, Leader Armada 13 Ranger. MAU Stardust siap meluncur.” Adam melapor sambil mengutak-atik seluruh peralatan di MAU-nya.

“Kolonel Adam, silakan meluncur.” Terdengar petugas pengawas dock menyahut.

“Aura, Flux, ayo kita berangkat.”

MAU itu bagai ditembakkan dari landasan, melesat cepat meninggalkan Aquatids. Beberapa saat mereka melesat di keheningan antariksa. Di belakang ada Aquatids, di depan ada pertempuran.

Stardust pada Tyrano Leader. Bagaimana keadaan kalian?”

“Apa yang kamu lakukan di sini? Kalau kamu mencoba kabur, tanpa segan-segan aku akan menembakmu.” Terdengar suara Eko dengan nada marah.

“Ha…ha…ha… tenang saja Letnan. Kami hanya ingin mengetahui rencana Aconite. Tolong lindungi kami.”

“Kasmir, Akmal, dan Jessie, lindungi mereka. Yang lain, ikut aku! Kita serang mereka tanpa ampun.” Dian memberi perintah lalu membelokkan MFU-nya.

“Siap!”

Mereka pun terjun dalam pertempuran. Dari kejauhan terlihat titik yang melesat mendekat bersama dengan sinar menyilaukan menyambar.

“Letnan, Awas!!!” Seru Dian pada Eko sambil menghentakkan MFU-nya menikung dan menanjak, langsung menembak.

Kilatan dahsyat menyilaukan mata saat peluru dari MFU Dian menghantam rudal Aconite Destroyer.

“Terima kasih Kapten!” Eko sempat berteriak “Tyrano Skuad, ayo bantai mereka!”

MFU yang dikemudikan Eko melesat mengejar sebuah Aconite Destroyer. Adam sendiri terus meluncur ke tempat tujuan.

Begitu MAU milik Adam tiba di zona tempur, mereka langsung terkejut. Jumlah pasukan Aconite diluar perhitungan mereka. Sepertinya semua Aconite ada di tempat itu.

“Adam, aku sudah tahu rencana mereka.”

“Benarkah itu Aura?”

“Mereka berniat menjatuhkan Celestial ke Planet Terra.”

“Apa! Kalau begitu kita harus menghubungi Aquatids

Adam menekan beberapa tombol lalu mencoba mengontak Aquatids.

“Kode Merah!” Teriak Adam pada alat komunikasinya. “Stardust pada Aquatids, Kode merah! Segera panggil bala bantuan! jumlah mereka terlalu besar!”

Tapi tak terdengar jawaban dari Aquatids.

“Sial! Alat komunikasi kita dijamming.” Dia menekan beberapa tombol mencoba mengontak Tyrano Skuadron. “Stardust ke Tyrano Leader.”

“Ada apa Stardust.”

“Seseorang telah merusak alat komunikasi MAU-ku. Apa kamu bisa mengontak Aquatids?”

“Sayang sekali kolonel. Alat komunikasi jarak jauhku juga kacau.”

“Sial! Padahal kita sudah tahu rencana mereka.” Adam memukul layar control MAU-nya. “Oh iya. Kalian lindungi aku. Aku akan mencoba kembali ke Aquatids.”

“Ditengah-tengah hujan peluru ini?” tiba-tiba terdengar suara Syarif.

“Apa boleh buat.”

“Baiklah kami akan melindungimu.” Kata Kasmir dari alat komunikasi. “Slay, ayo ikut.”

Keempat MAU itu melesat cepat kembali ke Aquatids. Tapi perjalan itu tidak mudah. Beberapa Aconite Destroyer ternyata mengikuti mereka. Tiba-tiba Syarif membelokkan pesawatnya.

“Biar aku yang menahan mereka.”

Di layar radar MAU Adam tampak titik yang merupakan MFU Syarif melengkung membelok meninggalkan formasi. Tapi beberapa titik merah yang merupakan Aconite Destroyer berhasil melewati MFU Syarif.

“Kali ini giliranku. Slay, kamu lindungi mereka.”

Begitu Aquatids tampak di radar dan masuk dalam jangkauan alat komunikasi, Adam langsung mengontak Laksamana Adiguna.

“Laksamana, mereka berniat menjatuhkan Celestial ke planet Terra. Segera minta… akh…” perkataannya terputus oleh sebuah tembakan rudal yang tepat mengenai badan MAU-nya. “Flux, siapa yang menembak?”

“Sersan Slay dari Tyrano Skuadron.” Flux menjawab setelah menekan beberapa tombol di hadapannya.

“Apa? Kenapa dia menembaki kita?” pada saat yang sama, Adam mengubah luncuran terbangnya nya, dari layar radar dia melihat beberapa peluru tembakan dari Sersan Slay hampir mengubah mereka menjadi sampah luar angkasa.

Dengan manuver yang cantik, MAU kolonel Adam bergeser ke kiri tetapi kemudian melesat menukik untuk tiba-tiba lagi bergeser ke kanan. Beberapa peluru yang kembali ditembakkan Sersan Slay meledak namun hanya sekedar membuat silau mata Adam beberapa saat. Dan sambil menghindar dengan terbang miring, Adam sekaligus melepaskan empat buah peluru kendali.

Dari layar radar terlihat pesawat penghianat itu melakukan gerakan melambung dan dengan cepat meluncur ke tengah-tengah keempat peluru kendali tadi. Sebuah gerakan yang tidak akan dilakukan oleh pilot tanpa pengalaman yang cukup. Keempat peluru kendali tadi langsung menukik ke satu titik.

Namun, mendadak saja pesawat Sersan Slay melesat hebat, dan keempat peluru kendali itu bertubrukan sendiri. Menyisakan ledakan dahsyat dengan sinar menyilaukan. Zat plasma akibat ledakan keempat peluru kendali itu menambah daya tolak MFU Sersan Slay sehingga MFU itu melesat engan kecepatan berlipat ganda.

Beberapa saat saja, MFU Sersan Slay telah tampak oleh mata. Cepat Adam memiringkan pesawat ke kiri… tepat saat semburan meriam sinar Sersan Slay tiba.

Blar!!! Tembakan itu telak mengenai kagian kiri MAU Stardust. Tepat di samping kokpit 2 tempat Aura berada.

“Aura! Aura! Kamu tidak apa-Apa?”

Tidak ada jawaban dari kokpit 2. Amarah Adam memuncak. Dengan emosi dia menekan sebuah tombol di layar pengendalinya.

“Flux, ubah ke Mach Mode!(Mach sebenarnya adalah satuan untuk kecepatan suara. Mach Mode di sini maksudnya adalah salah satu mode MAU yang digunakan untuk bertempur. MAU Stardust memiliki 3 mode. Normal mode, Mach Mode, Armor Mode.)”

MAU Stardust berubah bentuk. Kokpit 2 dan 3 bergerak ke arah badan pesawat. Sebuah pendorong roket muncul dari bagian belakangnya.

“Semua senjata siap Kolonel.”

“Isi Plasma Cannon!”

“Plasma Cannon terisi.”

“Baiklah, kemana si brengsek itu pergi!”

Adam memperhatikan radar. Mencari-cari titik cahaya yang baru saja melukai seseorang paling berharga dalam hidupnya. Begitu dia menemukan MFU yang dia cari, dia langsung melesat mengejar. Dengan gerakan zig-zag, dia menembakkan plasma cannon.

Duar!!! MFU Sersan Slay hancur berantakan. Lalu dia mengubah arah penerbangannya ke Planet Terra.

“Kolonel, mau ke mana kamu?” Terdengar suara Eko dari alat komunikasi.

“Aku akan turun ke Terra. Salah seorang anggotamu baru saja menembaki kami.”

“Apa maksudmu?”

“Aura terluka parah dasar brengsek! Kalau kamu mencoba menghalangiku, kau akan aku hancurkan!” Adam berteriak marah lalu mendorong tuas di sampingnya.

MAU Adam langsung melesat cepat menuju planet Terra.

***

Your rating: None Average: 9 (3 votes)
dikirim addang13 32 minggu 3 hari yang lalu
Tag: