Read more (1875 words)
Aku memandangi photo yang ada disamping tempat tidurku. 4 tahun sudah kita menjalin kasih. Aku teringat saat pertama kali kita bertemu.Gang menuju tempat kost-an kita. Ketepatan kost-an kita bertetangga. Kala itu hari sudah gelap seakan hujan akan turun dan secara bersamaan kita turun dari angkutan umum yang berbeda dan berjalan dengan langkah yang cepat menuju gang yang sama menuju kost-an kita. Dan tanpa sengaja kaki kananmu mendarat dijalan yang becek dan keciprat mengenai aku. Dengan segera kamu memintamaaf. Semua berawal dari sana. Entah mengapa kita sering pulang pada waktu yang bersamaan. Senyummu yang khas selalu menghias wajahmu . Hari pertama,kedua dan seterusnya terasa biasa saja. Sampai suatu ketika kamu jatuh sakit dan semua teman satu kost-an kamu pada ada jadwal kuliah. Mereka menitipkan kamu saat itu dan kebetulan aku tidak ada jadwal kuliah. Seolah segala sesuatunya telah diatur. Aku tersenyum sendiri.
Pukul 12.00Wib waktu itu aku mendatangi kost-anmu untuk memberimu makan siang. Aku membelikan sebungkus nasi.
“Permisi…Permisi” Aku memanggil dari luar kost-anmu
“Ya…”Terdengar suara kamu dari dalam dengan tak jelas
Aku membuka pintu yang memang sengaja tidak dikunci oleh teman-temanmu. Aku menuju kamar yang berukuran kecil ketika aku mendengar suara batukmu. Kamu terbaring lemah di atas tempat tidurmu yang beralaskan karpet biru tua. Dengan wajahmu yang pucat dan lusuh. Riak wajahku menunjukkan betapa kasihannya dirimu.
“Kamu makan ya..” Aku mencoba menawarkan
“Aku ga selera makan…mulutku terasa pahit” Ucapmu dengan suara yang lemas
“Kamu harus makan. Selain obat, makan juga harus teratur agar kamu lekas sembuh” Aku mencoba memberinya pengertian
“Candra…Candra Wibowo” Ucapmu sambil mengulurkan tangan kepadaku
“Roca Hananto” Aku menyambut uluran tanganmu
“Kamu makan ya” Bujukku kembali
“Atau kamu ga kuat ya untuk mengunyah, kalau begitu sebentar aku masakan bubur untukmu ya” Aku segera beranjak tanpa menunggu persetujuan dari kamu.
Aku kembali kekost-an ku untuk memasak bubur. Kira-kira 20 menit kemudian aku datang kembali dengan membawa bubur dan jus tomat. Aku tidak tahu apa kamu suka.
“Kamu makan ya” Kataku sambil menyuapkan bubur yang masih hangat
Tanpa berbicara kamu memakan setiap suap yang aku berikan dan sampai habis. Aku sangat bahagia ternyata kamu menghargai masakanku yang rasaanya hanya pas-pasan. Tak berapa lama akhirnya kamu tertidur. Dan aku menuju ruang tamu sambil mengerjakan tugas kuliahku. Aku berpikir bahwa kamu sudah akan baikan. Ternyata aku mendengar kamu mengigau karena tingginya suhu badan kamu. Tak banyak pikir aku segera memapah kamu kedalam becak dan membawamu ke Puskemas terdekat untuk segera mendapat perawatan. Aku sangat panik dan gelisah. Entah mengapa hatiku begitu sensitif hari ini hingga airmataku menetes karena melihat begitu tersiksanya kamu. Dokter yang ada disana dengan sigap langsung merawatmu dan segera memasang impus. Setelah semuanya selesai aku segera bertanya kepada Dokter yang saat itu merawat kamu.
“Bu Dokter…”Panggil ku
“Ya…”Wanita yang masih muda itu tersenyum manis
“Candra ga apa-apa. Malarianya kambuh” Katanya dengan santai sambil tersenyum
“Bu Dokter mengenalnya?” Tanyaku heran
“Ya…dulu kami pernah pacaran…tapi itu dulu” Katanya dengan senyum
“Jadi ga usah khawatir ya…Kamu pacarnya?” Wanita itu mencoba menyakinkanku
“Tidak…saya tetangganya” Kataku dengan cepat
“Oh…”Wanita itu menjawab dengan sederhana
“Kalau begitu boleh saya masuk Dok?” Tanya ku
“Tentu…silakan” Wanita itu mempersilakanku masuk
Aku melihat sekujur tubuh kamu penuh dengan keringat. Aku meminta handuk kepada perawat dan membersihkan wajah dan tubuh kamu dari keringat itu. Selama 3 hari kamu dirawat di Puskesmas, aku selalu datang menjenguk. Akupun tak mengerti dengan semua ini. Aku merasa khawatir jika tidak melihat kamu. Sore itu aku dan teman-teman membawa kamu pulang karena dokter telah menyatakan kamu sudah sembuh. Teman-teman satu kost-an kamu selalu menggoda kita berdua sepanjang jalan. Mukaku memerah. Aku tahu itu karena aku merasakan panas dibagian wajahku meski saat itu matahari tak begitu terik. Aku melihat kamu hanya tersenyum tanpa banyak bicara. Akhirnya kita sampai juga.
“Ok. Kalau begitu aku pulang dulu ya” Kataku kepada mereka
“Pulang dulu…cuitttcuittttt…masih mau berlama-lama nich ceritanya” Goda salah satu teman kamu
“Maksudku aku pulang”Jawabku dengan malu
“Makasih banyak ya Ca..”Katamu sebelum aku melangkah pergi. Aku pulang dengan senyummu yang selalu hangat.
Kita sering jalan berdua, berangkat kuliah bersama dan terkadang kita janjian untuk jalan. Kamu begitu sopan dan begitu pintar untuk memperlakukan seorang wanita. Tidak susah bagiku untuk mencintai kamu. Kita menjalani semuanya dengan hubungan tanpa status. Tak ada pengungkapan dari kamu. Hingga akhirnya kamu menyelesaikan kuliahmu dengan gelar Candra Wibowo ,ST. Sementara aku masih berkutat dengan tugas akhirku. Kamu selalu membantuku untuk mengetik setiap kata yang ada pada kertas buram tulisan tanganku. Waktu itu aku tertidur karena begitu lelah. Saat terbangun aku terkejut kamu masih ada di depan komputer dengan jari jemari yang lincah menari diatas keyboard. Aku melihat kearah jam dinding yang terletak disudut tempat tidurku, jam itu menunjukkan pukul 03.15 Wib. Ya Tuhan. Aku segera bangkit berdiri dan mendapati kamu.
“Candra…biar aku yang melanjutkan” Kataku sambil mengambil tumpukan kertas buramku dari tangan kamu.
“Tidak..biarkan aku yang menyelesaikannya” Katamu dengan senyum diwajahmu
“Tidurlah” sambungnya lagi
“Aku tadi sudah istirahat sekarang kita gantian ya” Ucapku lagi
Tanpa sengaja mata kita saling bertatapan. Begitu lama. Kita tersadar saat kertas buram yang ada ditangan kamu terjatuh.
“Maaf”Dengan sopan kamu berkata
“Kamu istirahat ya” Kataku lagi.
“Aku khawatir kalau kamu nanti sakit”
“Tidak, waktuku tidak banyak lagi”
“Tidak banyak?” Tanyaku heran
“Ya, aku mendapat panggilan kerja di Kalimantan” Katanya
Aku terdiam sejenak. Disatu sisi aku bahagia kamu dapat panggilan untuk bekerja, disisi lain aku akan kehilangan waktu bersama kamu.
“Aku berangkat hari Jumat”Katamu lagi
“Ohh…Aku turut bahagia”Kataku menutupi perasaan sedihku
“Aku pasti akan mengantar keberangkatanmu”
“Terimakasih ya”Lagi-lagi kamu berkata dengan senyuman kamu yang khas
“Jadi tolong biarkan aku melakukan ini untukmu”
“Ok. Kalau begitu aku akan buatkan susu hangat ya buat kamu” Aku langsung menuju dapur tanpa menunggu kata dari kamu.
Jumat : Pukul : 10.00Wib
Aku,kamu dan teman-teman sampai di bandara Polonia tepat pukul 10.00 Wib. Pesawat menuju Kalimantan Barat akan berangkat pukul 10.45 Wib. Tinggal 30menit lagi. Tapi tanda-tanda untuk katakan cinta belum ada dari kamu. ahh..mana mungkin kamu menyukaiku. Dasar Roca…sadar…sadar…Aku berguman sendiri dalam hati.
“Tinggal 10 menit lagi” Kataku
“Sudah sana…kamu check-in ntar ketinggalan lagi” Kata salah satu teman kamu
“Ok..” Kamu menyalami kami satu persatu hingga akhirnya tepat pada giliranku. Aku mengulurkan tanganku. Entah mengapa tiba-tiba mataku terasa panas dan dadaku terasa susah untuk bernafas. Sesak. Aku hanya diam dan tak berani menatap kamu. Teman-teman kita hanya diam seolah mereka mengerti dengan perasaan kita saat itu. Kamu memeluk tubuhku dan berkata dengan tegas.
“Tunggu aku…Aku pasti akan kembali untukmu”
Airmata itu tak terbendung lagi dan jatuh sudah membahasihi pipi. Aku semakin menangis mendengar himbauan kepada setiap penumpang agar segera memasuki ruang tunggu.
“Perhatian. Panggilan buat para penumpang Pesawat Garuda boing 774-A tujuan Pontianak harap segera memasuki ruang tunggu. Terimakasih”
“Aku pasti akan menunggumu” Kataku dengan suara yang sangat pelan seakan berbisik
“Kamu baik-baik ya…Jangan lupa jaga kesehatan” Katamu sambil berjalan
“Kamu juga” Kataku
Kamu semakin jauh meninggalkanku pergi. Airmataku semakin meleleh membahasi pipiku.
“Aku akan menunggumu…Mas” Aku memanggil kamu dengan sebutan itu untuk yang pertama kalinya
Kamu tersenyum dengan senyumanmu yang khas. Akhirnya kamu memasuki ruang tunggu. Salahsatu temanku merangkulku dan menghapus airmataku.
“Tenang…Candra pasti datang. Dia itu tipe cowok yang setia. Aku yakin” Kata salahsatu teman kamu
“Terimakasih ya”Kataku sedih
Selasa, 08 April 2008 ; Pukul : 13.01 Wib
Aku tersadar dari lamunanku. Mengapa kamu tidak pernah lagi menghubungiku. Bahkan berkali-kali aku mencoba telepon kamu selalu diabaikan. Apakah kamu sudah punya yang lain? Atau mungkin kamu tak mencintaiku lagi. Saat ini aku bekerja di salahsatu perusahaan swasta di Kepulauan Riau sebagai Akuntan sesuai dengan jurusanku. Itu semua berkat bantuan kamu yang menyelesaikan tugas akhirku. Aku ingin kamu tahu itu.
Terakhir aku mendengar bahwa kamu akan pulang ke Medan. Salahsatu teman dekat kamu memberitahu kepadaku. Aku segera mengajukan cuti kepada atasanku. Dan sekarang aku berada di Medan di tempat kost-an kita dulu. Aku selalu ingat kata-katamu bahwa kamu akan menjemputku. Aku selalu menunggu. Sudah 3 hari aku berada disini. Aku sudah kabari kamu. Aku sms bahkan berusaha untuk menelpon kamu tapi sepertinya sia-sia. Aku sengaja menyewa kamar kost-an aku dulu dan menyuruh untuk membersihkannya setiap hari. Karena tempat ini sangat berharga dalam hidupku. Dan aku yakin bahwa kamu akan datang untukku. Di tempat ini. Apakah cinta itu sudah tidak adalagi? Airmata itu menetes lagi.
Sampai akhirnya tanpa sengaja kita bertemu digereja. Aku sangat bahagia melihat kamu, Mas. Tapi sepertinya tidak denganmu. Aku melihat kamu diatas kursi roda itu. Dan dengan seorang wanita yang dulu merawatmu. Dokter wanita itu. Ya dia. Dia mendorong kursi rodamu. Aku semakin tak mengerti. Kamu seakan tidak mengenalku. Aku mengejar kamu. Dan berhenti dihadapanmu.
“Mas…ini aku Roca” Kataku dengan bahagia berharap kamu akan menyapaku dengan senyummu yang dulu
“Roca??”Tanyanya seperti kebingungan
Aku semakin panik dan hatiku sangat hancur. Airmata itu menetes dan menetes lagi seakan tak berhenti
“Ini aku Mas, Roca..kumohon jangan menyiksaku seperti ini”Aku menggenggam tanganmu
“Jalan…Dok” Katamu kepada Dokter wanita itu
“Mas…Kumohon” Aku menangis didepan gereja dan semua mata tertuju kepada kita
“Ya…Tuhan tolong kuatkan aku” Kataku sambil menangis dan terduduk dihadapannya
Aku berlari mengejarnya. Aku tak peduli lagi dengan diriku. Aku meraih Dokter wanita itu dan memohon kepadanya untuk memberikan kita waktu untuk bicara. Akhirnya Dokter wanita itu menyetujuinya dan pergi meninggalkan kita berdua. Aku sedikit lega.
“Mas…” Kataku sambil menangis dan memeluk tubuhmu yang semakin tipis
“Aku sangat merindukanmu” Kataku semakin mengencangkan pelukanku
“Mas…Aku mohon berbicara denganku” Airmata itu terus saja mengalir
“Roca…Kamu sudah tahu sekarang gimana keadaanku. Aku cacat!!!. Jadi tolong melupakan aku ” Katamu dengan suara yang sedikit parau. Aku tahu kamu juga menahan sedih itu.
“Hahh!! Mas pikir segampang itu. Apa Mas akan berlaku sama kalau aku yang ada diposisi Mas. Mas akan meninggalkan aku??” Aku menatap wajahmu
“Kalaupun iya tapi aku tidak..”Jawabku tegas mencoba untuk menyakinkan kamu kalau aku masih mencintai kamu . Aku berkata sambil menghapus airmataku yang terus meleleh
“Aku mohon Mas…Jangan seperti ini. Aku tetap Roca. Roca yang mencintaimu Mas” Aku kembali memeluk kamu. Ingin memberikan rasa nyaman dan percaya diri pada kamu.
“Terimakasih Roca. Tapi aku tak bisa” Katanya sambil berlalu
“Mas!!! Mas!!!Katakan bagaimana aku bisa melupakan dan membencimu??”Aku berteriak memanggil kamu
“Mas!! Aku mohon” Aku semakin terisak hingga Dokter wanita itu datang dan memelukku.
“Mungkin saat ini dia masih belum bisa menerima keadaannya” Kata Dokter wanita itu menghiburku
“Tapi aku bisa menerimanya Dok…”Aku mencoba menyakinkan
“Bersabarlah…Dia juga masih sangat mencintaimu. Hanya saja dia masih bingung harus bagaimana?”
“Apa sebenarnya yang terjadi Dok???”
“Dia cacat karena kecelakaan kerja. Kakinya ketimpa balok besar saat berada di daerah proyek. Itu yang mengakibatkan dia harus duduk di kursi roda karena kedua kakinya tak berfungsi lagi”
“Aku harap kamu bisa mengerti” Dokter itu menjelaskan kepadaku
“Ya…tapi yang pasti aku akan tetap menunggunya sampai dia menjemputku”
“Seperti yang dia pernah ucapkan padaku. Tolong sampaikan ya Dok..” Dengan suara yang bergetar dan aku akan berusaha untuk menyakinnya.
“Ya, bersabarlah” Kata Dokter itu sambil memelukku
“Terimakasih ya Dok..Tolong jaga Mas Candra” Kataku sambil berlalu dengan tangisanku
Kini aku hanya bisa menunggu dirimu…
“Masih disini menantimu
berharap cinta kita kan bersatu
masih disini menunggumu
menanti dirimu kembali
untuk ku?” By Ungu
Kepulauan Riau
Selasa, 08 April 2008
Pukul : 14.45Wib
Be the first person to continue this post
uhug uhug ceritanya mengharukan sekali....jaya ikut sedih..?
Bagusnya!
jadi sedih mbacanya...
masih setia walaupun dia cacat?
uh...jadi terharu dech ah... :(
Ceritanya nanggung nih...Kaget juga waktu baca akhir cerita yang masih belum terselesaikan...
waktu baca judulnya jadi inget lagunya Ungu..hehehe, tapi ralat ya, bukan "disini" tapi "di sini"
trussss....cara nulisnya, EYD segala macem dibenahi lagi...yayaya....pasti tambah bagusss
jadi pengen nangis neh..T_T