Aku tertegun menatap bocah kecil tak berdosa itu. Pakaiannya lusuh dan dekil dengan topi butut dikepalanya. Kulitnya hitam legam dan sedikit bersisik, mungkin karena terlalu sering berjemur dibawah sinar matahari. Tiba-tiba aku teringat akan adik kecilku di rumah, kurasa usianya sama dengan adik laki-lakiku. Terseok-seok dia memanggul barang dagangannya dan menjajakannya kepada setiap orang yang dia temui, berharap ada seseorang yang sudi membelinya.
Hatiku terenyuh, mencoba untuk menahan bendungan air mataku agar tidak tumpah. Oh Tuhan, sungguh ironis. Bocah seusianya harus berjuang mencari nafkah. Seharusnya dia bisa menikmati masa kanak-kanak yang indah tanpa beban. Ya keterpaksaanlah yang membuatnya seperti ini. Fiuh! kuhela nafas panjang menikmati pemandangan di hadapanku. Gendang telingaku menangkap suara nyaringnya "Coet na Bu, Pa...coet na Tante, Om" tawarnya dengan semangat empat lima ketika melintasi kendaraan angkutan umum yang saya tumpangi. Dia tidak memperdulikan peluhnya bercucuran dari pelipisnya, namun aku tahu asanya terhempas ke udara, karena tak ada satupun yang membeli dagangannya. Segera dia tepikan langkahnya seiring lampu merah akan berubah menjadi hijau.
"Terimakasih Tuhan selama ini Engkau telah memberikan rahmat yang tak terkira kepada keluarga kami" ucapku dalam hati.
Rating
Comments: 5
Rating:
Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
T_T
taubat...
amiin. maka jangan lihat ke atas terus. tapi lihatlah ke bawah.ya
krn apa yg kita trma itulah yang terbaik ^_^
btw,knp gak km aja yg beli satu coet na? wkwkwkwk
AMIN....
terima kasih ya Allah....