Perempuan di Sepertiga Malam

54
points

Perempuan di Sepertiga Malam

“Ayo menari lagi, segitu aja kok sudah loyo”. Teriak perempuan itu mengajak aku kembali ke lantai dansa.
Tarian perempuan itu makin menjadi. Lekukan tubuhnya makin gemulai dan ia semakin larut dengan geraknya.
Kerlip lampu warna-warni semakin samar. Aroma anggur semakin meruang. Apalagi asap rokok lintingan semakin menyesakan dadaku. Tetapi perempuan itu semakin mendalam dan terbuai alunan musik underground.
Perempuan itu terus menari tanpa beban. Samar-samar lampu diskotik memperjelas wajah perempuan itu. Kulitnya nampak halus. Hidungya mancung. Umurnya kira-kira 25 tahun. Keremangan ruangan ini membuat sihuoete dari tubuhnya nampak begitu indah terpajang di dinding.
Tiba-tiba terjadi kegaduhan. Yang menari, yang mojok, yang hanya duduk menjadi beriak, berhamburan berlari ketakutan kesanan kemari. Alunan musik seolah menjadi selaras dengan keadaan yang sedang terjadi. samar-samar terdengan pekikan “angkat tangan! Polisi!”. Sial penggerebekan, batinku.
Tanpa kusadari aku segera beranjak, menarik tangan perempuan itu, naluriku mengatakan, ia harus diselamatkan.
“Ayo lari?”
“Ke mana Mas?”
“Ke mana saja, yang penting aman dulu, urusan lain kita atur belakangan”. Jawabku sambil terus menariknya mengikuti langkahku.
Baru beberapa langkah.
“Jangan bergerak! angkat tangan! Polisi! KTP anda?” polisi itu menodongkan senapannya ke arah wanita. Ia menjadi tegang dan gugup mau mengelurkan KTPnya. Tapi segera kutepis.
“Ini Istri saya pak, namanya Ratna, ini surat nikah kami”. Aku merogoh tas pinggangku, lalu mengeluarkan surat nikah.
Polisi itu memeriksanya beberepa kali. Lalu menyamakan wajah Ratna dengan perempuan yang sedang ketakutan di sampingku berkali-kali.
“Itu foto kami lima tahun yang lalu, wajar kalau agak beberbeda, juga beberapa bulan yang lalu surat itu jatuh waktu hujan”. sambil segera kuambil surat itu dari tangan Polisi.
“Tapi sedang apa anda berdua berada di tempat seperti ini?” tanya salah seorang polisi sambil dia menarik bajuku untuk digiring ke mobil patroli.
“Ah…Bapak ini bercanda, ini kan tempat hiburan, jadi sudah jelas dong sedang apa kami berada di sini”. Kataku kesal, sambil melepaskan pegangan tangan Polisi dari bajuku.
“Kenapa dengan istri anda?”
Aku jadi bertambah kesal, sebab ia pertanyaannya hanya buang-buang waktu. Dengan nada tinggi dan sedikit amarah aku menjawab pertannyaan tolol itu “ Anda ini tolol atau bodoh? Saya mau ke sini dengan siapa itu hak saya, kenapa saya dengan istri saya, karena kami sedang ingin hiburan, jelas!”
Tanpa banyak bicara lagi kutinggalkan dua polisi itu. Aku berjalan melewati pintu belakang dengan santai.

“Woi jangan pergi atau saya tembak!” teriak polisi itu.
Aku tak memperdulikannya lagi. Kemudian aku mengajak perempuan itu lari. Sebab kukira perkara sudah selesai dan memang selesai.
“Tarr………!” suara senapan nyaring sekali memecah malam.
Aku dan perempuan itu masih melesat berlari menorobos gelap. Aku pikir itu hanya tembakan peringatan. Tapi, duagaan ku salah. Peluru yang baru saja keluar dari senapan itu menembus tulang iga ketiga di bawah ketiak dan membuat lubang dari punggung perempuan yang sedang berlari denganku.
Tubuh indah itu terjatuh berlumuran darah, ia menjadi lemas tak berdaya. Wajahnya pucat pasi menahan rasa sakit. Dengan segera aku menghampirinya dan memeluknya.
“Bertahanlah Nona, aku akan panggil ambulan”. Kataku sambil berusaha mengeluarkan handphone dari saku celanaku.
“Tidak usah Mas, aku sudah cukup bahagia bisa bertemu dengan Mas lagi. Sengaja aku menyusul Mas ke Jakarta. Aku Ratna, Mas! Jaga dirimu baik-baik”. Ia menghembuskan nafas terakhirnya. Di pelukanku. Ya, di pelukanku.
“RATNA....!!!”
________________________________***_________________________________

Namaku Angga. Lengkapnya, Dimas Rangga Pratama. Sengaja aku tinggalkan desa untuk menggapai cita-cita. Tapi sungguh, ini benar-benar nyata. Aku lupa, aku meninggalkan istri di desa.

Ciamis, Juli 2005

Your rating: None Average: 6.8 (8 votes)
dikirim Angin Peuting 31 minggu 5 hari yang lalu
Tag: