Mencoba bikin cerita teenlit.. Mohon bantuannya!
"Satu bulan menjelang natal.
Di seluruh penjuru tak ada hal lain yang dibicarakan selain hal-hal berbau Santa Klaus, hadiah, kaus kaki, dan kalkun panggang. Dengan cuaca yang semakin dingin dan terkadang menurunkan butiran salju, suasana justru menghangat. Begitupun malam bersalju ini. Keramahan terpancar hampir di setiap sudut kota, dengan gembira menunggu datangnya natal. Lampu-lampu penerang jalan kini mulai dipasangi untaian lampu kecil berantai yang bersinar warna-warni. Hiasan-hiasan natal yang tidak kalah meriah juga tersebar di seluruh tempat.
Mui melihat ke arah jalan; dua lantai dibawahnya, dari jendela besar yang bertengger di samping ranjangnya.
“Aku heran dengan orang-orang di bawah sana itu, li. Apa sih yang mereka banggakan dari natal?”
Sobat karibnya, Elli, hanya menggumam tak jelas, terus menekan-nekan tombol kontroler video game dan dengan seru melanjutkan keasyikannya.
“Natal kan hanya tanggal merah biasa?” oceh Mui tidak peduli, “Santa Klaus? Sejak kapan ada rusa-rusa ringkih yang kuat membawa terbang bapak gendut baju merah itu beserta karung hadiahnya? Harusnya mereka berjalan maju pun tidak sanggup. Dan kalkun panggang itu menjijikkan. Mayat hewan dibakar itu dibilang enak?” cerocosnya, seakan tak tahan bila tidak mengomeli orang-orang bodoh itu.
Elli, yang sedari tadi dimaksudkan untuk mendengarkan Mui mengomel, tiba-tiba berteriak pilu. Di layar TV terpampang jelas tulisan ‘Game Over’ besar.
"Sekarang aku harus ulangi dari awal lagi nih! Gara-gara Mui! Kau sih! Mengoceh tak karuan soal rusa gendut berbaju merah. Siapa yang peduli! Aneh-aneh saj…,”
Bantal yang sedari tadi dipeluk Mui, menghantam Elli keras, meninggalkannya mencak-mencak tak karuan.
Dengan malas Mui mengamati kesibukan di bawah sana, berusaha mengerti apa arti natal bagi semua orang yang kini bergembira itu. Di ujung jalan, toko bunga yang biasanya tidak begitu ramai, malam ini dipenuhi pengunjung. Begitupun keadannya dengan toko roti disampingya, toko-toko mainan, dan lainnya. Beberapa sosok preman dengan motor-motor besarnya tengah mangkal di jalan masuk taman, membuat orang-orang tidak berani masuk. Mui melihatnya, enam lelaki berbadan besar, masing-masing di atas motor, tertawa-tawa sambil membawa botol minuman dan merokok.
“Lihat itu, Elli. Bahkan para preman tak berguna itu bergembira. Apa sih sebenarnya natal?” Mui kembali bertanya dengan bingung, mengernyit memandang perkumpulan motor itu.
Elli merebahkan dirinya di atas ranjang, tersenyum memandang Mui.
“Kau itu, ya….logis saja. Sebenarnya bukan urusanmu mereka ingin bergembira atau mengomel sepertimu sekarang ini. Mengapa kau yang pusing?”
“Bukannya pusing,” Mui menopang kepalanya dengan kedua tangan di ambang jendela, “Hanya bingung. Sebenarnya apa itu natal? Yang bahkan bisa membius seluruh penduduk kota menjadi antusias.”
Elli bergeser, merangkul sahabatnya itu, turut melihat ke arah lalu-lalang manusia di bawah.
“Natal adalah saat bersama orang yang kau kasihi, Mui. Kau membalas kebaikan mereka, mempersiapkan yang terbaik untuk hari bahagia itu. Habiskan waktu bersama keluarga, itu yang terbaik.”
“Kau tahu kan aku sudah tak punya keluarga, dan satu-satunya yang kumiliki hanya kau,” jawab Mui sedih.
Elli menyandarkan kepalanya ke bahu Mui.
“Dan untuk itulah kau kuundang ke rumahku di tanggal 25 nanti. Tidakkah kau mau merayakannya?”
Mui menggeleng keras kepala.
“Kau tahu,” lanjut Elli, “Setiap orang menghabiskan waktu bersama yang terkasih di saat natal, dan bahkan para preman itu, Mui. Lihat, mereka saling sayang satu dengan yang lainnya, maka mereka berkumpul bersama, menunggu natal.”
“Kau salah. Mereka itu sedang bersenang-senang mengganggu orang-orang. Lihat saja! Itu bukanlah rasa saling sayang, Li.”
Elli tersenyum.
“Aku bertaruh, mereka saling menyayangi, Mui. Awasi saja mereka, dan kau akan melihat perasaan itu, bahkan dalam diri seorang preman.”
Elli beranjak keluar kamar, meninggalkan Mui dengan seluruh tanda tanya di hatinya.
dikirim Zhang he 31 minggu 5 hari yang laluTag:








