“Mundur!!!!” jeritku keras, sampai pita suaraku sakit. Ini gawat, aku tidak menyangka akan datang lagi yang lain. Sial!
Sembari menjaga bagian belakang, kulihat prajurt-prajurit Lothier sudah sangat kacau. Tampang yang seakan inilah akhir hayat mereka, barisan semrawut yang sedang berusaha mundur, kondisi dan stamina yang menyedihkan… cih… masih lamakah Lord Villea?
Pohon-pohon hidup itu bergerak agak cepat mendekati para makhluk kecil yang sedang menunggu mereka. Aku berlari mundur dan bersembunyi di balik blokade, berpikir.
Sial, aku benar-benar bingung sekarang. Kali ini pohon hidup! Apa yang harus kulakukan?
“Sekarang bagaimana?” Noe mendekatiku dan bertanya dengan gugup.
Kulihat hanya Noe yang berani maju sampai batas blokade, sementara para kucing pengecut lainnya sudah jauh, mengintai dari jarak radius lima meter, seakan blokade ini bisa menyerang mereka tiba-tiba. Cih…
“Aku tidak yakin,” kataku, mengintai para barisan pohon yang hampir sampai., “Sampai saat ini, yang bisa kupikirkan hanya menggunakan api. Tapi, kita akan kesulitan dengan adanya cecunguk kecil biru itu.”
Aku tidak bisa berpikir jernih karena gugup, pohon-pohon itu telah bergabung dengan komplotannya dan kini menuju blokade. Terdengar dengung aneh yang terdengar seperti gaung sangakakala, dan kemudian, sulur-sulur seperti akar gantung bermunculan. Sulur itu menyatu satu dengan yang lainnya, membentuk sebuah gumpalan yang perlahan makin membesar.
“Mereka menyerang!! Tahan blokade!!” jeritku tiba-tiba. Aku menghempaskan badanku pada blokade dan menjejakkan kakiku kuat-kuat dalam gumpalan salju.
Prajurit yang lain dengan panik berlarian ke blokade dan berusaha menahan dengan tubuh masing-masing. Namun semua sia-sia saja. Terdengar bunyi benturan keras mengerikan dan tiba-tiba saja aku sudah melayang, lalu mendarat keras di tumpukan salju, membuat kepalaku terbentur dan berdenyut-denyut.
“Brengsek!” umpatku.
Seakan darahku disedot habis, kulihat blokade telah hancur berantakan. Lebih parah, bahu kananku mulai rewel merengek. Sakitnya luar biasa dan mulai menjalar kemana-mana. Mataku nanar. Semua terlihat seperti berayun-ayun buram.
“Ugh…. sial…,”
Aku menampar pipiku berusaha mengabaikan rasa sakit menyiksa itu, dan berlari memungut pedangku yang terpental beberapa meter dari blokade. Musuh kini telah memasuki perbatasan dan mulai merusak apapun yang mereka lihat. Pos perbatasan yang mulai dihantam berkali-kali, menara pengawas, dan bahkan reruntuhan blokade, semua dirusak.
Tak peduli itu semua, aku mulai bergerak melawan. Tidak bisa kubiarkan tanah kelahiranku dirusak makhluk-makhluk yang bahkan tak berbaju itu.
Satu pohon terdekat, terlihat sedang dengan gembira mencambuki atap pos yang ditutupi jerami kering. Aku mengendap pelan ke belakangnya, mengumpulkan tenaga di tangan kiriku, dan menebas salah satu sulurnya. Lolongan aneh terdengar, mengiris gendang telingaku, namun justru membuatku makin bersemangat. Sementara pohon bermuka jelek itu melolong-lolong dan menggoyang daun-daun lebatnya, aku mencabik-cabik batang tubuhnya. Sulit untuk langsung menebangnya, sedikit demi sedikit aku menorehkan sayatan panjang di entah bagian apapun tubuhnya.
Cukup asyik dengan kegiatan itu, aku tak memperhatikan keadaan sekeliling, dan itu kesalahan besar. Sesuatu menyambar kakiku, membuatku terjungkal mencium salju. Tak hanya itu, kurasakan cambukan yang seakan membakar punggungku. Aku berbalik cepat, mengabaikan darah yang mulai mengalir dari luka cambuk itu. Seakan membekukan otak, diriku telah dikepung empat pohon-pohon dengan tampang yang semakin jelek karena mengerut marah.
“Oh tidak….,” batinku, berusaha secepat mungkin mencari akal.
Pohon-pohon itu mengeluarkan dengung geram. Sulur-sulur dari akar gantung mereka mengumpul padat, bergoyang-goyang mengancam. Dedaunan lebat dipuncak kepala mereka berayun-ayun dan menimbulkan bunyi gemerisik mengerikan.
Aku bangkit terburu-buru—tanpa mengindahkan rasa perih di bahu kanan dan punggung—mulai berlari menjauhi pohon-pohon gila itu, sambil terus mengawasi mereka. Bogeman pertama diluncurkan. Aku berhasil berkelit cantik ke kiri sambil terus berlari. Namun tampaknya gerakanku yang sok anggun itu membuat mereka marah. Serentak bundelan-bundelan akar yang lain menerjang. Satu yang menargetkan kepalaku, berhasil kuhindari. Beberapa yang lain pun berhasil terlewatkan, hanya meninggalkan luka besetan yang tidak cukup dalam. Namun dua hentakan telak di kaki membuatku sekali lagi terjerembab. Mereka menggeleser kaki-kaki mereka yang aneh, mendekatiku.
Teriakan-teriakan terdengar disusul bunyi berkeretak aneh. Kemudian suara ayunan pedang dan lolongan menyedihkan. Aku berbalik dan—seakan bertemu Sang Dewi Loein—kelegaan luar biasa menyelimutiku. Si tua bangka Yuse tengah dengan ganas menancapkan kapaknya ke salah satu pohon, membuat si monster hampir roboh dan menggeliat-geliat kesakitan.
“Bangun, anak ingusan!” teriaknya, mengayunkan kapaknya lagi, dan menebang habis si pohon tak berdaya itu.
Haha! Mereka kembali! Guardians sudah kembali!
Dengan semangat baru—seakan sedang merayakan pesta panen—aku bangkit dan membantunya menghabisi pohon-pohon tak berotak itu.
“Mana Lord Villea?” teriakku, menebas sulur yang berusaha mengikat pinggangku.
Yuse menebang satu makhluk lagi dan melompat ke depanku, membantuku menghabisi musuh yang kini panik tak berdaya.
“Dia bersama kami,” sengalnya, menghindar gesit dari cambukan sulur.
“Terima kasih, pak tua! Tak kusangka bisa begini senang bertemu kau!” Aku menepuk pundaknya sekilas, meninggalkannya mengomel sesuatu tentang anak muda.
Apa yang kulihat saat itu benar-benar membuat hatiku seakan melambung sampai langit lapis ketujuh. Para monster kelabakan lari kesana kemari, sementara pasukan kami yang tiba-tiba jumlahnya menjadi berkali lipat mengejar dan menghabisi mereka. Pohon-pohon melolong aneh dengan daun-daun mereka yang terbakar dan tubuh yang terkoyak, terbacok disana-sini. Para monster es yang berusaha menolong komplotan mereka, tak berdaya dikepung beberapa orang sekaligus. Keadaan berbalik.
Dan kulihat beberapa meter disana, Lord Villea dengan jubah hitam yang berkibar, menebas semua musuh dihadapannya. Disekelilingnya, beberapa orang yang tak kukenal ditambah dua orang berkerudung putih terlihat membantunya bertarung. Aku—tak bisa menahan kebahagiaan yang seakan membuncah di dalam dada—berlari dan turut meramaikan suasana, membalas dendam pada monster-monster menyebalkan itu. Dalam kurun waktu tak lebih dari lima belas menit, pertarungan berakhir. Sorak sorai terdengar menggema, mengumandangkan kemenangan kami.
dikirim Zhang he 31 minggu 5 hari yang laluTag:








