Egdus....tolong tenangkanlah pikiranku yang sedang kacau.... please..
"“Apa-apaan ini!! Segini lagi?! Kau niat belajar tidak sih? Atau otakmu yang tidak becus?!”
Aku terdiam, menunduk memandang ujung kakiku. Ayah memandang kertas ujianku yang bertuliskan angka dua besar merah di pojoknya.
“Kerjamu itu tiap hari tidak ada yang benar! Mau jadi apa kau nanti kalau sudah besar?! Hidupmu akan sengsara! Jaman semakin maju, kau akan terlibas dengan yang lain!”
Darahku mendidih mendengarnya bicara seperti itu. Tangan ini mulai gemetar tak terkendali. Aku harus berjuang keras tidak berteriak dan menumpahkan cacian.
“Bodoh! Kerjamu cuma menulis cerita-cerita tak bermutu itu! Tahu tidak kami berjuang keras bekerja menyekolahkanmu! Goblok.… kau pikir biaya sekolah itu murah!?”
“Sudah, pak….,” ibuku angkat bicara, tampak sedikit takut.
“Tidak bisa begini! Anak ini kalau didiamkan akan semakin hancur! Ia harus diberi pelajaran!”
“Sesuka kalian lah….,” jawabku dingin.
Aku berbalik keluar dan membanting pintu dengan keras. Begitu di luar langsung kuayunkan kakiku, berlari cepat, tak mempedulikan mereka berteriak memanggilku.
Angin dingin yang menyabet-nyabet wajahku terasa menyakitkan, namun aku tak peduli. Kaki-kaki ini semakin tidak terkendali, terus berlari tak mau berhenti. Aku ingin ke ujung dunia, sendiri saja, tidak bersama orang-orang menyebalkan itu!!
Sakit rasanya hati ini, beban berat di punggung serasa makin membebani batin. Tak tahan dengan semua ini, air mataku tumpah mengalirkan penderitaanku. Menangis dalam diam, aku terus berlari menjauh.
Kakiku membawaku sampai di perempatan jalan yang sepi—entah dimana. Deretan blok-blok gedung berlantai lima berderet rapi, memancarkan sinar temaram dari jendela-jendelanya. Jalanan terasa lengang, tak satupun makhkuk hidup terlihat, hanya lampu penerang jalan yang terlihat, berderet rapi memancarkan sinar terangnya. Letih dan pegal mulai terasa. Terengah, aku duduk saja di trotoar, memeluk lututku.
Tangisku masih belum terbendung. Hari-hari melelahkan yang selama ini menyakiti mentalku dan menurunkan seluruh semangat hidupku, kini berdesakan keluar. Tidak ada yang mengerti diriku yang sebenarnya…. Tidak bahkan orang tuaku sendiri. Apa yang mereka tahu? Hanya ingin nilai-nilai bagus? Belajar tiap hari? Mempelajari pelajaran yang bahkan tidak akan dipakai sehari-hari? Mereka tidak mengerti yang kumau, yang kusuka, atau apapun itu. Mereka tidak peduli! Mereka hanya ingin aku menuruti kemauan mereka, namun mengapa tidak bisa menuruti kemauanku!
Aku membenamkan kepala dalam lenganku, terisak—mengeluarkan segala sakit yang bersarang. Suasana yang tenang, tak bersuara sedikit pun, membuat batinku nyaman. Angin malam yang dingin membekukan tulang, tiba-tiba berubah menjadi hangat, menghangatkan tubuhku yang hanya berlapis selembar kaus dan jeans.
Cring….
Tersentak, aku menoleh. Seekor kucing manis berbulu coklat merah, dengan bel kecil di lehernya, berjalan santai mendekatiku. Ekornya yang lebat berbulu terangkat ke atas, meliuk-liuk cantik. Telinganya yang runcing berbulu putih bergerak-gerak lucu. Mata yang hijau bening itu menatapku tajam. Berjarak satu meter dariku, kucing itu berhenti, diam saja tak melakukan apapun.
“Halo, kucing pengelana..…,” sapaku, terdengar konyol.
Kucing itu duduk, tetap memaku pandangannya padaku.
Aku memalingkan wajah, menopang kepalaku di atas lengan dengan lesu, setengah berharap yang mendatangiku adalah manusia, pada siapa aku bisa berkeluh kesah. Namun, kucing itu membuatku tertarik. Keberaniannya mendekati manusia, dan sikap anehnya….
Aku menoleh padanya, tersenyum.
“Kau jadi-jadian ya?”
Tak bereaksi, kucing itu menjilat-jilat kakinya perlahan.
“Yah….tetap saja, aku berterima kasih, kucing,” ucapku—tak yakin aku masih waras, berbicara dengan kucing, “Mungkin lebih baik bersama binatang, daripada bersama manusia.”
Cring….
Kucing itu bergerak perlahan, dengan hati-hati mendekatiku. Kini berjarak setengah meter.
“Hey, kucing… Menurutmu, menjadi penulis, sulitkah?”
Masih diam, menjilati kakinya lagi.
Aku mendesah. Ingatan akan hari-hariku setiap hari yang begitu membebani, kembali meracuni pikiran. Aku ingat bagaimana orang tuaku berharap aku sekolah sampai tinggi, menyandang gelar sarjana, dan nantinya mengangkat orang tua. Hatiku saat itu memberontak. Aku tidak suka sekolah! Sekolah yang dipenuhi manusia-manusia menyebalkan, mengajakku mengobrol hal-hal yang membosankan dan tidak penting. Mempelajari hal-hal sampah!
“Aku benci…..,” kataku lemah, “Tidak satupun mengerti diriku. Mereka yang menganggap diri mereka teman? Sampah! Orang tua yang hanya bisa menyuruh-nyuruh! Mereka semua tidak mengerti…….”
Air mataku kembali mengalir.
“Kau tahu…, aku berusaha menjadi seperti yang mereka harapkan. Aku sudah berusaha…..untuk jadi kuat. Aku melakukan apapun itu yang kubisa. Tapi kekuatanku juga ada batasnya!” jeritku, “….mereka tidak tahu bagaimana menderitanya……,”
Cring…..
Si kucing mendekat, duduk di sampingku, mengusap-usapkan kepalanya pada kakiku. Tiba-tiba merasakan gelora rasa sayang padanya, kubelai punggungnya. Ia mendengkur pelan, menikmati belaianku.
“Hihi… kau lucu ya.” Aku mengelus kepalanya, “Begitu saja datang, mendengarkanku mengoceh tak karuan. Siapa namamu manis?”
Kuperiksa kalung di lehernya, ukiran belnya, di bagian belakang kalungnya, namun tak ada tanda-tanda yang menyiratkan namanya.
“Ah, biarlah. Aku jadi teringat cerita yang sedang kugarap. Bagaimana kalau namamu sekarang Egdus?”
Terperangah kaget, aku melihatnya seakan mengangguk samar. Matanya memandangku sejenak, dan mengeong pelan.
Aku menggendongnya dan meletakkan kucing kecil itu di pangkuanku. Entah mengapa, aku merasa sungguh sayang padanya, padahal baru saja kutemui ia beberapa menit yang lalu.
“Egdus… ya, itu nama tokoh utama dalam karyaku. Kau tak boleh mengeluh sekarang. Itu nama yang bagus!”
Egdus menjilat ujung jariku yang tengah mengelusnya.
Aku tersenyum senang. Memeluknya erat, aku memandang langit bertabur bintang. Entah….bebanku terasa hilang. Aku merasa bebas…sebebas angin. Hanya saja, aku tak bisa terbang seperti angin, ke langit diatas sana.
Ikut denganku… bebanmu hilang.
Hampir saja kulempar Egdus ke seberang jalan. Matanya memandang tepat ke mataku, diam tak bergerak.
“Kau?? Yang bicara tadi???”
Ikut......
Aku merasa ngeri. Suara itu, suara laki-laki yang sungguh jernih, mengalun tenang dan pelan, seakan berasal dari otakku. Aku merasakan dorongan yang kuat untuk menurutinya. Aku merasa begitu tenang….. terhanyut dalam suaranya.
“Ya….,”
Kurasakan gelora hangat, muncul dari perutku, menyebar sampai ke dada. Sungguh nyaman rasa ini…..bebanku semua terangkat. Hatiku melayang-layang kabur. Latar perempatan jalan itu berubah, menjadi kabut pekat berwarna abu-abu. Aku melihat Egdus yang berbaring santai dalam pelukanku. Matanya terpejam, mendengkur-dengkur perlahan. Ah… rasa nyaman ini… aku tak ingin kembali. Aku tak ingin kembali ke rumah itu, kembali sekolah… kembali bersama teman-teman dan orang-orang yang bebal, tak mengerti diriku. Ingin tetap disini…….tempat yang damai ini…..
Cringg…..
>>>>>>>>>>>
Jakarta, 21 Desember 2000, seorang siswi SMA H, ditemukan meninggal tergeletak di atas trotoar, di Jl. Nila II. Penyebab kematian gadis bernama lengkap Alicia Ruanni (17) itu, sampai saat ini masih belum diketahui. Tubuhnya telah membujur kaku, dengan kaus putih dan jeans hitam, tanpa alas kaki di tepi jalan. Di tangannya yang menggenggam, ditemukan sebuah kalung leher dengan bel kecil berwarna hitam. Pemilik bel itu masih dalam tahap penyelidikan. Tidak ada saksi mata, dan tidak ada tanda-tanda kekerasan, juga tidak ditemukan bukti lain di lokasi sekitar TKP (Tempat Kejadian Perkara .red), selain bulu-bulu kucing berwarna coklat yang bertebaran. Kematian ini sungguh masih merupakan misteri bagi pihak kepolisian, karena bukti yang janggal dan penyebab yang tidak pasti. Namun Bapak Muwadi, selaku Kepala Penyelidikan berjanji, akan mengusut kasus ini sampai tuntas. Anggota keluarga…. (selengkapnya Hal. 3)
>>>>>>>>>>>>
“Wah wah, Valle, mengerikan sekali. Gadis itu mati begitu saja tanpa tanda-tanda yang jelas? Dan bel itu, rasanya seperti milikmu, sayang.”
Cring…..
Seekor kucing coklat merah, bermata hijau menggeliat dan bergelung nyaman di sisi pemiliknya, mengeong keras. Bel hitam di lehernya berdenting pelan saat si kucing bergerak.
“Ya, ya, manis… tidak mungkin kau yang disana... toh kalungmu masih ada. Namun mengapa aku merasa kau ada hubungannya dengan kasus di koran ini ya?”
Kucing itu memejamkan matanya dan mendengkur.
Meong……
dikirim Zhang he 31 minggu 4 hari yang laluTag:








