CoDE: Chimera - Chapter: Artificial Space Distortion

23
points
"

Uhh banyak kesalahan penulisan, thanks for all....

"

Zen berdiri seorang diri di tengah ruangan berpilar. Dengan sebilah pedang dalam genggaman tangan kanannya dan zirahnya yang putih, ia terlihat bagaikan seorang ksatria dari abad pertengahan.

Sayup-sayup terdengar suara dari langit-langit ruangan, makin lama makin keras, hingga pada suatu saat suara tersebut berubah menjadi sebuah ledakan.

BLAAAMMMM

Salah satu bagian langit-langit pun runuhlah. Diantara kepulan asap sesosok makhluk melompat turun. Dan ketika asap tersebut akhirnya menghilang, berdiri di antara reruntuhan makhluk yang telah merobohkan Saga.

Kemudian dari lubang yang sama, beberapa makhluk bersayap terbang melayang turun. Kali ini makhluk-makhluk tersebut hanya memiliki sebuah tangan yang karena panjangnya hampir selalu ditekukkan.

Zen dengan tenang memandang makhluk-makhluk tesebut. Perlahan-lahan sebentuk helm tempur tumbuh dari zirah yang dikenakannya menutupi hampir seluruh bagian kepalanya.

Tanpa dikomando makhluk-makhluk bersayap tersebut mengarahkan lengannya dan menembakkan sebentuk cairan kehitaman ke arah Zen berdiri.

Namun Zen sama sekali tak menghindar, sesaat seluruh tubuhnya seakan berubah transparan dan cairan kehitaman tersebut menembus tubuhnya begitu saja.

"Kalian berevolusi lebih cepat dari dugaan kami." Zen mengacungkan pedangnya ke arah makhluk-makhluk terebut, "Tapi di ruangan ini, kalian butuh lebih dari itu untuk mengalahkanku."

Setelah itu Zen, dengan kecepatan tinggi berlari menghampiri makhluk-makhluk tersebut. Pedangnya terayun beberapa kali dan empat atau lima dari makhluk-makhluk tersebut pun roboh, masing-masing dengan tubuh terbelah.

Makhluk-makhluk bersayap yang lain dengan segera terbang menyebar sambil sesekali menembakkan cairan kehitaman ke arah zen. seperti sebelumnya, tubuh Zen untuk sesaat memudar dan cairan tersebutpun menembus tubuhnya begitu saja.

Zen memandang ke sekeliling, ia lalu melompat menghampiri makhluk bersayap terdekat dan sekali lagi mengayunkan pedangnya.

Crashhhh

Tubuh sang makhluk terbelah sebelum akhirnya jatuh kembali ke lantai.

Zen mendarat dengan sempurna. Namun baru saja ia menolehkan wajahnya sebuah tendangan telah bersarang di tubuhnya membuatnya terlempar cukup jauh.

Bagaimanapun Zen dengan segera memperbaiki keseimbangan tubuhnya. Sambil menancapkan pedangnya di lantai ia berhasil memperlambat laju tubuhnya menghindarkannya dari menabrak sebuah pilar di ruangan tersebut.

Sesaat ia memandangi bagian zirahnya yang terkena tendangan. Di sana tampak jelas sebentuk retakan telah muncul. Mengalihkan pandangannya ia melihat makhluk yang baru saja menendangnya, makhluk yang sama dengan yang mengalahkan saga, berdiri memandanginya.

Zen kembali berdiri dan memandang kesekelilingnya namun ia tak bisa menemukan satupun makhluk bersayap. "Mencoba bersembunyi huh?" gumamnya pada dirinya sendiri, "Tapi yang jadi masalah adalah yang satu ini." Ia kembali memalingkan pandangannya pada makhluk yang baru saja menendangnya.

Mengambil ancang-ancang Zen kemudian berlari mnghampiri makhluk yang mirip seorang perempuan tersebut. Ia baru saja mengayunkan pedangnya saat beberapa cairan kehitaman meluncur menghampiri tubuhnya.

"Cih," gerakan Zen terhenti sesaat dan tubuhnya kembali memudar. Cairan tersebut kembali melewati tubuhnya, namun kali ini begitu tubuhnya kembali seperti semula saat itu juga sebuah pukulan mendarat di wajahnya dan kembali melemparkannya cukup jauh.

Brakkkk

Tubuh Zen membentur salah satu pilar di ruangan tersebut, dan ketika ia mendarat di lantai makhluk-makhluk bersayap tersebut telah menembakkan cairan kehitaman yang dengan sukses melekat menutupi hampir seluruh tubuh Zen.

Kilatan listrik mendadak bermunculan dari cairan tersebut dan melumpuhkan tubuh Zen. Sesaat kemudian cairan tersebut mengeras. Sementara itu potongan-potongan logam mulai berjatuhan dari retakan pada helm Zen.

Makhluk yang menyerupai perempuan berjalan menghampiri Zen dan dengan satu pukulan ia pun menghancurkan kepala Zen.

Cahaya dalam ruangan tersebut padam. Makhluk yang mirip perempuan tersebut kemudian berjalan menuju tangga di tengah ruangan.

Namun langkahnya tiba-tiba saja terhenti. Tak jauh dari tangga, tergeletak sebuah kotak logam kecil dengan beberapa titik bercahaya di tengah ruangan. Titik-titik tersebut satu persatu padam dan ketika titik terakhir padam, sebuah cahaya terang muncul dari kotak tersebut menyinari hampir seluruh ruangan.

***

Di luar menara, di pinggiran kota sebuah otomata yang cukup besar berjalan perlahan. Ssesekali, beberapa makhluk bersayap terbang melewatinya tanpa sekalipun mempedulikannya dan tak lama kemudian otomata tersebut telah tiba di luar kota.

Dengan kaku otomata tersebut bersimpuh. Sambil mengeluarkan suara desisan bagian belakang tubuhnya terbuka dan di dalamnya tampak empat sosok tubuh tengah meringkuk.

Alex meloncat keluar pertama kali, di ikuti gadis dengan rambut kebiruan. Paling akhir, lelaki dengan rambut kelabu keluar dengan Saga dalam gendongannya.Tepat saat itu, Saga membuka kedua matanya.

Lelaki dengan rambut kelabu memandanginya dengan takjub. Dengan hati-hati ia menurunkan Saga dari gendongannya kemudian membaringkannya.

"Saga... Saga...," Alex berlari kecil menghampiri Saga kemudian memeluknya. Sementara itu gadis berambut kebiruan dengan ragu-ragu ikut berjalan menghampiri Saga yang saat ini tengah membelai lembut kepala Alex.

"Sepertinya sistem restorasinya kembali berjalan begitu keluar dari kota," entah dari mana seorang anak kecil berambut putih dengan jubah kelabu muncul dari dalam kota.

"Zen..." lelaki berambut kelabu menoleh kearah bocah tersebut.

"Kalian harus segera meninggalkan tempat ini," sang bocah berhenti melangkah tepat di batas kota, "Saat ini generator utama kota telah mati, dan kami selaku penguasa kota harus melakukan

hibernasi."

"Apa yang akan terjadi dengan kota ini?" tanya lelaki berambut kelabu

"PENGUASA DUNIA akan mengambil alih kota."

"Apa yang terjadi dengan para penduduk?" Saga dengan tertatih, dibantu oleh Alex telah kembali berdiri.

"Avei adalah satu-satunya penduduk yang tersisa." bocah tersebut memandang gadis berambut kebiruan.

"Apa yang terjadi dengan para penduduk?" ulang Saga.

"...," bocah tersebut memandang Saga dengan tajam, "Puluhan ribu jam yang lalu, sesuatu datang kepinggiran kota, dan dengan nyanyiannya ia memanggil seluruh penduduk keluar. Lalu mereka pergi begitu saja, kemana mereka pergi, kami pun tak dapat memastikannya"

"Zen..." gadis yang dipanggil Avei berjalan menghampiri sang bocah, namun Saga segera menggenggam tangannya.

"Kita harus segera pergi."

"Ummm," gadis itu menoleh ke arah Saga kemudian menganggukkan kepalanya.

Tak lama kemudian mereka berempat telah berjalan meninggalkan kota tersebut. Sesaat lelaki berambut kelabu berbalik, sambil tersenyum ia melambaikan tangannya pada sang bocah.

Sang bocah tersenyum, "Sampai jumpa lagi Clotho..." bisiknya sebelum tubuhnya menghilang.

***

Di tengah kota, separuh bagian atas dari menara telah berubah bentuk. Di sana kini, yang tampak hanyalah sebuah bola raksasa dengan ratusan tonjolan abstrak di seluruh permukaannya.

Beberapa jam berlalu. Dengan bunyi nyaring sebuah retakan besar muncul di bagian atas permukaan bola. Dari celahnya sesosok tubuh merayap keluar.

Sosok tersebut kemudian berdiri tegak di puncak menara.Sepasang sayap logam muncul dari balik punggungnya. Untuk beberapa saat lamanya sosok itu memandang daerah di kejauhan sebelum akhirnya ia terbang meninggalkan menara tersebut.

Your rating: None Average: 5.8 (4 votes)
dikirim 145 25 minggu 1 hari yang lalu
Tag: