PINTU GERBANG
Di ruang tamu yang tak seberapa lebar. Asap rokok membumbung, membentuk sulaman tabir tipis. Beberapa orang terlihat sibuk, dan yang lainnya tampak lebih khidmat.
Bibir Azam memucat. Wajahnya sangat tegang, dalam setelan jas warna abu-abu. Sebuah peci bertengger di atas kepalanya. Tangan kirinya bersilang di atas kedua pahanya. Beberapa butiran keringat menghias dahinya, ketika seorang penghulu nikah menjabat tangannya.
Azam melirik seorang gadis yang berada di sebelahnya. Gadis itu sempat tersenyum. Azam terus memandanginya dari sudut matanya.
Gadis itu masih saja tersenyum. Lesung pipinya terlihat jelas. Sesaat kemudian, ia menundukan wajahnya. Sebuah jilbab putih bercadar, menutupi wajahnya. Kedua tangannya mendekap seperangkat alat shalat. Terbungkus rapi, berupa sepasang merpati. Namanya Amelia.
Sudah setahun ini Azam mengenal Amelia. Sikap Amelia tetap sopan, baik, murah senyum, dan sedikit pemalu. Ia sangat bersyukur dapat menikahi Amelia. Tiba-tiba lamunannya dibuyarkan oleh suara sang penghulu nikah.
“Saya nikahkan, Azam bin Ismail, dengan seorang wanita bernama, Amelia binti Kusuma, dengan mas kawin; seperangkat alat shalat dibayar tunai!”
Tangan penghulu itu, menarik tangan Azam. Sebagai tanda, agar Azam segera membalas kata-katanya.
“Saya terima nikahnya, Amelia binti kusuma, dengan mas kawin; seperangkat alat shalat dibayar tunai!” Jawab Azam dengan tegas.
“Bagaimana, sah!”
“Sah…!” Jawab para saksi secara bersamaan.
“Anakku, Azam dan Amelia. Kini kalian telah resmi menjadi pasangan suami istri. Binalah keluarga kalian dengan kasih dan sayang. Jadikanlah keluarga kalian, sebuah keluarga sakinah yang penuh rahmat. Azam, jadilah imam yang baik untuk istri dan anak-anakmu, serta bertanggung jawab. Sedangkan kamu Amelia, jadilah seorang istri yang tetap beristiqomah di jalan allah, yang berbhakti pada suami dan yang membesarkan anak-anak kalian dengan kasih sayang.” Kata penghulu nikah itu, dengan nada suara yang sangat bijak.
Azam dan Amelia saling berpandangan. Begitu bahagianya mereka berdua. Mata Amelia nampak berkaca-kaca, tak kuasa menahan haru dalam dada. Kini mereka mulai merenda hidup baru.
Para sanak saudara mulai beranjak dari duduknya, bersiap memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai. Mereka semua juga merasa bahagia.
Penghulu nikah menepuk pundak Azam dan Amelia. Ia tersenyum. Ia menghampiri ayah Amelia. Bercakap-cakap sebentar, lalu ia berpamitan pada seluruh orang yang dikenalnya.
Azam mengiringi langkah penghulu itu dengan tatapan matanya. Ia tersenyum, saat penghulu itu menghilang ditelan sebuah tikungan. Kini Azam duduk di pelaminan, bersama istri tercintanya.
Hari semakin tinggi. Para undangan sama sekali tak berkurang. Udara panas tak menghalangi niat baik ini. Azam dan Amelia semakin lelah. Tapi, kelelahan Azam selalu terhapus oleh senyum Amelia. Menunggu waktu yang begitu suci, malam nanti.
* * *
Azam baru saja putus dengan pacarnya Rina. Ia lebih memilih kecintaannya pada Allah, dibandingkan cintanya pada Rina. Jiwanya masih labil. Emosinya belum kembali seperti sedia kala. Meskipun begitu, ia masih memiliki harapan. Jika suatu saat nanti, ia dapat menemukan jodoh yang terbaik untuk dirinya.
Wajah Azam terlihat tak bergairah. Ia begitu kecewa dengan sikap Rina. Hatinya hancur. Ia tak percaya, Rina rela melakukan hal itu. Ataukah Rina memang seperti itu? Sebuah kata yang selalu tertulis di benaknya.
Kemarin Azam memergoki Rina, ia bersama laki-laki lain. Rina telah menghianatiku! Teriak Azam di dalam batinnya. Rani sudah memasrahkan tubuhnya dijamah laki-laki itu. Azam tak dapat memaafkannya.
Mata Azam menerawang jauh keluar ruangan. Matahari bersiap bersembunyi di ufuk barat. Suara binatang malam mulai berdendang. Jangkrik, katak, cicak, juga nyamuk. Sekilas, mereka hanya sebagai figuran saja.
Adzan maghrib lantang terdengar. Azam mengemasi kegalauan hatinya yang tercecer. Ia beranjak perlahan. Dibukanya keran air di kamar mandinya. Ia bersiap memohon petunjuk, atas duka yang yang menggayutinya. Air keran membasahi kedua telapak tangannya yang saling menangkup, mengawali ritual suci itu.
* * *
“Baru pulang kerja, mbak?” Tegur Azam pada seorang gadis di sebelahnya.
“Iya nih, mas.”
“Kok, jam segini baru pulang,mbak?” Azam kembali bertanya, kali ini terlihat lebih serius.
“Iya, nih. Di kantorku lagi banyak lemburan. jadi terpaksa deh, pulang agak malam.” Jawab gadis itu sedikit mendongkol.
“Kalau begitu sama dong.” Kata Azam dengan nada gembira.
“Ngomong-ngomong, mas pulang kemana?” Tanya gadis itu.
“Ke Cilandak, kalau mbak sendiri kemana?” Azam menolehkan wajahnya ke arah gadis itu, memandangi matanya.
“Ya, kerumah, lah! Masak mau pulang ke kampung, kan nggak mungkin banget.” Gadis itu tersenyum, manis sekali.
Sial! Anak ini senang becanda juga rupanya, batin Azam. Ia terlihat kikuk, salah tingkah. Sepertinya, ia harus berhati-hati menghadapi gadis ini.
“Maaf, cuma bercanda kok. aku mau pulang ke Srengseng Sawah.”
“Oooo,….”
“Berarti kita searah dong, mas.”
“ Nama mbak siapa?” Azam mengulurkan tangan kanannya, penuh harap. Matanya masih terpaku di wajah gagdis itu.
“Sarah. Mas sendiri, siapa namanya?” Jawab gadis itu.
“Azam. Tapi nggak pake mas. He….he…he…” Jawab Azam, sambil tertawa.
“Yeeee…, itukan buat menghormati orang yang baru kita kenal. Tapi, kalau kamu maunya begitu, ya udah!” Cibir sarah mendengar permintaan Azam.
“Nah, begitu dong.”
Percakapan Azam dan Sarah terpotong. Sebuah angkot telah berhenti di depan mereka berdua. Angkot kembali melaju, setelah mengangkut mereka berdua di dalamnya. Percakapanpun berlanjut. Diselingi canda dan tawa kedua mahluk berbeda jenis itu.
Waktu cepat berlalu. Ribuan meter telah mereka lewati. Angkot itu akhirnya berhenti di depan sebuah gang yang lumayan besar. Para tukang ojek tersenyum penuh harap. Sarah berpamitan pada Azam, sambil menyodorkan uang lima ribu-annya pada sang sopir. Sarah sempat melambaikan tangannya ke arah Azam, sebagai tanda sebuah perpisahan.
Hati Azam begitu gembira. Sebuah rasa telah bersemi kembali. Sejak Azam menjabat tangan Sarah. Mungkinkah ini terlalu berlebihan, atau Azamkah yang terlalu Pe-De?
Sejak saat itu, Azam dan Sarah sering terlihat pulang bersama. Tapi, Azam menganggap kalau hal itu sebuah pertemanan biasa. Persahabatan yang berkembang kearah yang lebih jauh, akankah?
* * *
“Ya, pak. Saya melamar anak bapak sebagai seorang istri.” Azam mempertegas suaranya.
“Apakah Sarah sudah mengetahuinya, dan apakah kamu sudah memikirkannya masak-masak?”
“Sudah. Tapi Sarah belum mengetahuinya. Karena saya dan Sarah tidak berpacaran. Saya takut, karena pacaran dapat mengundang fitnah. Semoga bapak memiliki pandangan yang sama dengan saya.” Jawab Azam.
Azam sangat tegang. Ia tahu, berhadapan dengan siapa dia kali ini. Ia menunggu beberapa saat. Suasana berubah menjadi hening. Ia menjadi ragu. Hatinya semakin deg-degan.
“Baiklah, seminggu lagi datanglah kemari. Sarah sendiri yang akan menjawab lamaranmu ini.” Kata ayah Sarah dengan nada yang sangat bijak.
Legalah hati Azam. Ia masih memiliki sesdikit peluang. Wajahnya kembali berseri. Melukiskan kegembiraan yang tiada terkira.
Pembicaraan beralih, kebidang pekerjaan Azam. Terkesan begitu berbasa-basi. Namun, Azam tak menganggapnya sebagai hal sepele.
Malam semakin merenta. Saatnya Azam berpamitan, meninggalkan ayah Sarah seorang diri di ruang tamu. Ia berharap lamarannya diterima oleh Sarah. Ia keluar dari rumah itu, seiring doa yang tak pernah putus dari bibirnya.
Seminggu telah berlalu. Azam kembali berada di ruang tamu yang sama. Ia datang menjemput jawaban atas lamarannya minggu lalu.
Ya, Azam berharap dapat mempersunting Sarah sebagai istrinya. Ia ingin membangun kehidupan baru, hidup yang penuh berkah dalam sebuah keluarga yang sakinah. Tapi, bayang-bayang penolakan masih bermain di pelupuk matanya.
Sarah datang menemui Azam. Ia begitu cantik hari ini. Azam mengenali jilbab yang dikenakan Sarah. Jilbab yang dia pakai saat pertama kali bertemu dengan Azam, di depan sebuah apotik. Sejuk, tenang, damai, dan memaksa Azam menyebut kebesaran Allah Yang Maha Pencipta.
Azam berpikir, dialah gadis yang selama ini ia cari. Jika lamarannya diterima, ia seperti mendapatkan surga dunia-akhirat. Ia begitu percaya diri.
“Azam. Apakah kau sudah benar-benar yakin , dengan pilihanmu sekarang ini?” Tanya Sarah, suaranya begitu lembut. Memecahkan keheningan antara Azam dan Sarah.
“Ya, seratus persen yakin, dong!” Jawab Azam tegas.
“Apa nggak nyesel nih?”
“Nyesel. Ya, nggak lah. Aku udah ikhlas dunia-akhirat kok.”
Sarah menundukan wajahnya. Terlihat sangat sedih. Ia tak berani menatap Azam.
Entah kenapa Azam menangkap gelagat yang kurang baik dari tingkah Sarah. Apakah Sarah akan menolakku? Azam bertanya pada dirinya sendiri. Ya, ia pasti menolakku, pikir Azam. Hatinya makin deg-degan. Sarah terdiam sesaat.
“Maafkan….”
“Maafkan apa, Sarah?”
“Maafkan aku, Zam.”
Azam tersentak kaget. Seluruh persendiannya seperti mau copot. Hatinya begitu hancur. Tak ada lagi kegembiraan di wajahnya.
“Tak mengapa. Tapi, tolong jelaskan padaku!” Suara Azam terdengar pasrah.
“Aku nggak bisa menjelaskannya, Zam.”
“Jelaskan padaku, Sarah!” Azam menggoyang-goyangkan pundak Sarah.
“Aku nggak bisa, Zam!”
“Aku paham dengan pendirianmu, Sarah.”
“Maafkan aku, Zam.” Sarah berlari meninggalkan Azam, sambil terisak-isak. Telapak tangannya menutup mulutnya yang terbuka karena isakan-isakan itu.
Azam begitu kecewa. Ia pasrahkan semuanya pada Allah Yang Maha Mengetahui. Ia melangkahkan kakinya. Terasa begitu berat, seperti ada tali yang mengikat kakinya. Sesampainya di dekat pintu gerbang, ia berhenti sejenak. Ia kembali memandang rumah yang akan menjadi kenangan terburuk baginya. Kemudian tangan kanannya meraih pintu gerbang, bersiap untuk membukanya.
Tiba-tiba ….
“Azam ….!” Teriak seseorang di belakangnya.
“Maafkan aku….yang tak bisa menolak pinanganmu!”
Azam terpaku. Tangan kanannya masih berada di pintu gerbang. Ia tak percaya. Ia mungkin salah mendengar.
“Apa yang baru saja kau ucapkan, Sarah?”
“Aku tak bisa menolak pinanganmu, Zam!”
Azam membeku. Matanya berkaca-kaca. Bibirnya bergetar. Ia tak tahu harus berbuat apa, saat Sarah beranjak mendekat.
“Mulai sekarang, kau bisa memanggilku Amelia. Bukan Sarah!” Pinta Sarah dengan penuh keikhlasan.
“Amelia …., tapi kenapa harus seperti ini?” Tanya Azam begitu penasaran.
“Pernikahan dan pintu gerbang memiliki banyak persamaan, Zam.” Amelia menunjuk pintu gerbang itu, dan menganalogikannya dengan hati yang ada pada dirinya.
Azam menundukan wajahnya. Ia mencoba mengerti perkataan calon istrinya itu. Maknanya terlalu dalam. Yang tak bisa di cerna dalam semalam. Kini dilihatnya pintu gerbang itu. Ya, memang ada kemiripan. Kesamaan dalam bentuk fungsi mungkin?
Azam kini harus bersiap menjadi imam yang baik untuk keluarganya. Bersiap membuka gerbang hatinya hanya untuk seorang saja. Ya, hanya Amelia.
****SELESAI****
Tag:











