Pejuang Cinta

72
points

Jika memang mencintai seseorang harus selalu menyakitkan seperti ini, aku lebih memilih untuk tidak mencintai siapapun. Terlebih lagi setelah apa yang terjadi padaku dalam 1x24 jam ke belakang.

Seseorang pernah mengatakan, "Ada dua golongan orang yang sedang jatuh cinta. Golongan pertama adalah orang-orang yang ketika dia mencinta kemudian dia bisa mendapatkan apa yang dicintainya. Golongan kedua adalah orang-orang yang ketika dia mencinta namun dia tidak mendapatkan apa yang dicintainya. Dia harus merelakan apa yang dicintainya untuk dimiliki oleh orang lain. Dan dia melakukan hal itu semata-mata karena dia menginginkan yang dicintainya bahagia walaupun hal tersebut harus mengorbankan kebahagiaannya. Dalam kata lain, bahkan yang dia lakukan ini terbilang demi cinta itu sendiri (ironis)."

Menurutku, benar apa yang orang itu bilang. Dan menurutku juga, bersyukurlah orang-orang yang termasuk ke dalam golongan satu seperti yang disebutkan di atas. Karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang beruntung. Yang tidak perlu merasakan bagaimana pengorbanan cinta yang sesungguhnya. Yang tidak perlu merasakan bagaimana rasanya diabaikan oleh orang yang kita cintai. Yang tidak perlu merasakan bagaimana pedihnya melepas seseorang yang kita cinta. Because what they want is what they got. Orang-orang golongan pertama adalah orang-orang yang mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Sedangkan aku, aku bukanlah orang yang mendapatkan apa yang kuinginkan. Yang kudapatkan adalah apa yang kubutuhkan. Ketika seorang yang kusuka tidak balas menyukaiku, maka aku akan menyimpulkan bahwa mungkin di balik kepedihan itu semua ada makna yang bisa kuambil. Mungkin saja, kelak aku akan menyadari bahwa orang yang kusuka itu bukanlah yang aku butuhkan. Bisa saja suatu saat, aku malah membuang dia karena aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Jadi jika seseorang yang kusukai tidak balas menyukaiku, maka dia bukanlah yang aku butuhkan.

Hidupku ironis. Aku menghabiskan hidup dengan karma yang selalu mengintaiku di setiap sudut kemanapun aku pergi. Karma hasil dari mempermainkan perasaan seorang remaja laki-laki yang sedang kasmaran. Dan sepertinya karma yang kumaskud tidak bisa luntur hanya dalam waktu belasan tahun. Sungguh dahsyat akibat dari mempermainkan perasaan seseorang yang sedang kasmaran. Hingga sampai sekarang malah aku yang selalu dipermainkan oleh jalan hidupku. Sampai-sampai tidak ada yang bisa kulakukan kecuali menertawakan diriku sendiri yang terus menerus menjadi golongan kedua.

Biar kuingat, selama aku di bangku kuliah saja sudah beberapa kali aku harus dengan terpaksa kembali menjadi golonganb dua. Walaupun tidak sebanyak dengan ketika masih duduk di bangku SMA, namun kali ini malah yang paling menyakitkan. Karena, entahlah aku pun tidak mengerti. Coba saja kau bayangkan, satu waktu kau memutuskan bahwa kau telah menemukan the right man. Dalam benakmu kau berkata, bahwa dirinya adalah cerminan dari dirimu, bahwa karektermu dengannya sangat cocok sehingga kau merasa sangat nyaman berada di dekatnya, bahwa kau merasa dia sangat bisa mengerti dirimu terlebih lagi dengan karakter kalian yang hampir serupa. Dan dalam satu hari, semua dugaan itu tiba-tiba saja berubah menjadi hanya sekedar imajinasi yang bahkan terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Keesokan harinya, orang yang kau kira sebagai the right man bilang padamu, "Sepertinya aku jatuh cinta lagi pada cinta pertamaku." Bayangkan apa yang kau rasakan pada detik itu.

Alhasil, the right man suddenly becomes 'I used to thought that he could be the right man'. Sungguh menyakitkan. Tak terkira bagaimana perihnya hati ketika mendengar pengakuan yang hanya sepersekian detik itu. Pengakuan yang tiba-tiba saja membuyarkan semua konsentrasi, mengaburkan semua fokus, terlebih saat itu hanya beberapa menit sebelum masuk ke dalam ruang ujian. Seakan hari itu menjadi hari terburuk dalam hidupmu, ujian hancur berantakan karena bahkan untuk berkonsentrasi pun sulit, ditambah lagi perasaan menyakitkan itu. Seakan dijauthkan dari lantai teratas gedung tertinggi di dunia. Yang pada awalnya kau seperti berada di tempat terindah di desa Edensor sana, kemudian tiba-tiba saja semuanya berubah menjadi acara pemakaman menyuramkan, dengan awan hitam yang menggelayut di atasnya, dan di atas gundukan tanah yang masih merah terpampang fotomu. Tak bisa terperikan bagaimana sakitnya rasa cinta yang tak terbalas.

Seandainya sedari awal aku tahu bahwa jatuh cinta sama artinya dengan membunuh dirimu secara perlahan. Membunuh dirimu dengan racun termanis di seluruh jagad raya ini. Lebih baik aku tidak pernah merasakan jatuh cinta. Bunga-bunga cinta memang indah, tapi dalam sekejap bisa menjadi mimpi terburukmu. Biar kuberitahu, bagi siapapun yang belum pernah merasakan jatuh cinta. Ingat, di saat kau mencintai seseorang, di samping kau mempersiapkan dirimu untuk segala hal baik yang akan terjadi, persiapkan juga mental terkuatmu, mental yang bahkan lebih kuat dari baja, untuk segala kemungkinan terburuk yang akah kau hadapi nanti.

Aku menulis ini bukan untuk menghancurkan mental orang-orang dari golongan dua. Karena walaupun semua pengalaman yang dialami oleh para golongan dua menyisakan luka yang sangat dalam bahkan trauma yang sulit untuk disembuhkan. Tapi sesungguhnya masih ada satu hal yang bisa dibanggakan oleh para golongan dua. Berbangga hatilah kalian, karena sesungguhnya kalian lah pejuang cinta sejati. Kalian adalah orang-orang yang dipilih untuk merasakan bagaimana pahitnya cinta. Kalian adalah orang-orang terpilih yang dipercaya untuk memperjuangkan cinta kalian hingga usaha terakhir yang bisa kalian lakukan. Kalian adalah orang-orang terpilih yang diberi kehormatan untuk melakukan pengorbanan terbesar dalam cinta. Dan yakinlah, bahwa dari semua pahit yang kalian rasakan suatu saat kalian akan merasakan bagian manisnya cinta. Bahkan akan jauh lebih manis dari yang bisa kalian bayangkan. Dan saat itulah kalian akan menemukan cinta sejati kalian.

Your rating: None Average: 6 (12 votes)
dikirim ThePretender 31 minggu 1 hari yang lalu
Tag: