Everlasting Arms Episode 1: Chapter 9; Two Battle

12
points
"

Wakakakakak

makin lama makin kacaw....

Mohon caci makinya

"

Chapter 9: Two Battle

Istana Veta-lantai teratas

Adam meloncat menghindari sebuah peluru granat. Dengan sigap ditembakkannya Shockwave ke arah pasukan di depannya. Tapi sebuah tembakan lain tepat menghujam punggungnya.

Dia terlempar beberapa meter. Shockwave-nya terlempar entah kemana. Diambilnya dua buah handgun dari tasnya dan kembali melanjutkan pertempuran.

Tiba-tiba sebuah Panter (siegekit terhebat bangsa Terran) menembakkan sebuah rudal kearahnya. Pada saat yang tepat dia menembak rudal itu. Ledakan yang ditimbulkan membuat armor Adam rusak parah. Darah mengalir dari tangannya.

“Sial! Aku tidak akan bisa bertahan kalau musuhnya sebanyak ini.” Adam mengeluarkan senjata terakhirnya. Sebuah pedang. Armor tangan kanannya berubah menjadi meriam kecil. “Semoga Aura bisa bahagia tanpaku.”

Adam maju menerjang. Tangan kirinya menyabetkan pedang sedangkan tangan kanannya terus menembak.

“Adam…” Sebuah teriakan memaksa Adam berbalik.

Dari arah pintu dilihatnya Aura dan Flux sedang berdiri terpaku. Pasukan penjaga Terra yang mengira Flux sebagai pasukan Aconite melepaskan tembakan. Tapi tembakan itu justru melesat ke arah Aura.

“Aura, awas!” Adam melompat. Menjadikan dirinya sebagai tameng. Tembakan itu membuat helm armornya terlempar jauh.

“Adam!!!” Aura menangis memegangi Adam.

“Kamu tidak apa-apa bukan?”

“Tidak…” Aura menjawab sambil menitikkan air mata.

“Ukh…” Adam mencoba bangkit. “Aura, segera pergi dari sini!”

“Tapi.”

“Cepat pergi!” Adam kembali menggenggam pedangnya dan kembali menerjang.

“Flux, lindungi Aura!”

“Baik.”

“Siapkan senjata tapi jangan menembak!”

Flux mengeluarkan sepasang Gatling Gun . Bersiap dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi.

Adam terus menerjang hingga akhirnya dia tiba di depan pintu. Dia melemparkan sebuah granat dan meledakkan pintu itu. Cahaya menyilaukan memancar menyelimuti semua yang sedang bertempur.

“Terran, hentikan pertarungan.” Sebuah suara menghentikan gerakan bangsa prajurt Terran. “Ada apa sampai seorang prajurit menerobos sampai tempat ini.” Terdengar suara halus dari dalam cahaya. Suara Pemimpin Tertinggi Terran.

“Maaf yang mulia.” Adam Berlutut dengan terengah-engah.”Kita harus membuat kesepakatan. Aconite akan menghancurkan planet ini.”

“Kenapa kami harus mempercayaimu?”

“Karena aku sendiri yang mengetahui hal itu.” Aura angkat bicara.

“Dan siapa kamu?”

“Aura.”

“Kenapa seorang Terran melindungi musuh?”

“Aku hanya mencoba menghentikan peperangan.”

“Alasan bagus. Bagaimana denganmu prajurit Ranger?”

“Aku di sini untuk melindungi sesuatu yang harus kulindungi.”

“Apa itu?”

“Orang yang kusayangi.”

“Alasan yang juga bagus.”

“Ukhhhh…” Adam terjatuh. Luka di sekujur tubuhnya memberikan rasa sakit yang tak terbayangkan. Perlahan-lahan kesadarannya hilang. Dan dia pun terjatuh ke pangkuan Aura.

***

Zona Tempur Space Station Celestial


“Tyrano Skuad, Laporkan status amunisi!”

“Di sini Tyrano Subleader, Eko. Amunisi habis.”

“Di sini Tyrano 2, Syarif. Amunisi juga habis.”

“Di sini Tyrano 5, Jessie. Baru saja aku menembakkan amunisi terakhirku.”

“Di sini Tyrano 6, Adhy. Amunisi habis.”

“Di sini Tyrano 3, Kasmir. Kalian ini boros sekali. Ha…ha…ha… amunisiku masih banyak kapten sayang. Sepertinya Akmal juga masih punya banyak.”

“Disini Tyrano 7, Akmal. Amunisi masih banyak.”

“Bagaimana denganmu John?”

“Masih cukup untuk bertahan, Kapten.”

“Bagus, Kalian bertiga lindungi kami. Yang lain segera isi amunisi!”

“Siap!”

“Oh iya Kapten Sayang.”

“Ada apa?”

“Ngggg… Ah… Tidak jadi.”

“Apaan sih. Ingat, jangan panggil aku sayang-sayang atau kau akan kuhukum karena membangkang.”

“Ha…ha…ha…”

“Kenapa tertawa?”

“Ha…ha…ha…Rasanya kata-kata itu sering kudengar.”

“Begitu pertempuran selesai, kamu akan langsung kuhukum.”

“Akan aku tunggu kapten sayang. Ha…ha…ha…” Kasmir tertawa panjang.

***

Dock 2


Lima pesawat Tyrano Skuadron mendarat cepat di landasan pacu Dock 2. Beberapa mekanik langsung menghampiri mereka dan menambahkan amunisi.

Tak lama kemudian, kelima pesawat itu kembali meluncur untuk melanjutkan pertempuran.

Eko menekan beberapa panel di kokpitnya ketika wajah Syarif muncul di layar.

“Eko, menurutmu MAU Ranger itu akan kembali?”

“Entahlah. Tapi jika memang dia itu penghianat, aku sendiri yang akan menghabisinya.”

“Oh…”

***

Your rating: None Average: 4 (3 votes)
dikirim addang13 31 minggu 2 jam yang lalu
Tag: