Fiuuh....ini satu-satunya puisiku yang panjang.
"Tahun ini adalah musim dingin terbeku di Inggris.
Salju turun lebih deras dari hujan yang memenuhi Sungai Rhein.
Putihnya mengeras di boot dan mantel abu-abuku.
Aku gemetaran.
Mungkin Dia ingin membekukan seluruh Inggris.
Hatiku menghujat, tapi bibirku membeku dan melebam biru.
Tak ada kata terucap.
Salju semakin deras,
menyekap kakiku dengan dingin dan beku,
hingga enggan bergerak.
Aku butuh tempat yang hangat.
Kulihat sebuah rumah di depan.
Kuhampiri dengan cepat, berharap darahku belum terlalu beku
untuk membuatku berhenti bergerak.
Salju begitu tebal menutup atap dan terasnya,
seperti tak pernah dibersihkan.
Kusapukan tangan kananku menghapus embun yang menebal di kaca jendela.
Ah, ada orang di dalam.
Seorang perempuan tua sedang merajut di kursi goyang.
Dan--wow! Tungku yang menyala!
Aku tak sabar untuk mengecap kehangatan di dalamnya.
Aku mengetuk pelan.
Tidak ada jawaban.
Mungkin telinganya tidak terlalu bagus lagi untuk mendengar ketukanku yang pelan.
Aku mengetuk lagi.
Dua kali dan lebih keras.
Tetap tak ada jawaban.
Dingin mulai mencengkram urat dan ototku,
membuat kaku dan ngilu tulangku.
Aku mengintip dari jendela yang mulai mengembun lagi.
Dan--hei!
Perempuan tua itu bergeming, tetap intim dengan rajutannya.
Apakah ia tidak peduli jika ada orang membeku
di depan pintu rumahnya?
Aku kembali ke depan pintu.
Mengetuk tiga kali dengan cepat.
Pintu tetap tak terbuka.
Kebekuan memaksaku mencoba membuka pintu!
Dan--hei!
Tak terkunci.
Kudorong pintu perlahan.
Kurasakan hangat api tungku perlahan mencairkan kebekuan tubuhku.
Kupandangi perempuan tua yang masih tetap merajut.
Kusadari kekurangajaranku.
"Maaf, M'am!
Aku kedinginan di luar.
Jadi, aku ingin menghangatkan diri sebentar di sini
--jika kau tidak keberatan."
Ia bergeming.
"Kautidak akan membiarkan aku membeku
dan mati di luar, bukan?"
Ia tetap bergeming.
Oh, aku tidak tahu manusia macam apa dia.
Kuperhatikan wajah keriputnya,
kelihatan begitu tua dan kesepian.
Dan--matanya!
Baru sekarang kuperhatikan.
Matanya kosong,
tatapannya menerawang lantai kayu yang terus berderit
karena derak kursi goyang.
Mataku beralih memandang tungku.
Di atasnya terpampang sebuah foto seorang pria muda tampan
yang tersenyum gagah dengan seragam militernya.
Sebuah medali menghiasi foto itu.
Aku tersentak.
Lidahku keluh, walaupun hangat tungku sedikit mencairkan beku.
Aku tahu sekarang.
Perempuan tua itu sudah beku,
matanya begitu dingin dan aku tahu kenapa.
Mungkin sudah lama dingin membekukannya.
--foto itu telah berdebu.
Aku menutup pintu dan keluar.
Dingin kembali menyapaku.
Tapi, aku yakin perempuan tua itu lebih dingin daripadaku.
dikirim hiutara_baz 1 year 30 minggu yang laluTag:








