Kisah Bagian 9: Sakit

9
points
"

Sempatkanlah untuk membaca bagian sepuluh.
Pernyataan lisensi: Teman-teman boleh menyalin cerita ini ke media simpan lokal. Penggandaan diizinkan selama dalam bentuk digital, tidak menghilangkan sumber atau penulis asli, dan tidak untuk melanggar norma dan peraturan yang berlaku, dan bukan untuk tujan komersial. Jangan mencetak cerita ini ke atas kertas! Pohon sudah banyak yang ditebang untuk itu.

"

Hilang. Getaran halus yang terasa di laboratorium muncul tenggelam beberapa kali.

“Anda baik-baik saja?” Seorang petinggi polisi lain melihat gelagat aneh pada Profesor Irene. Sudah beberapa detik usai ditanya, wanita di sampingnya hanya menutup mulut.

Profesor Irene segera menggeleng. Getaran-getaran halus di ujung kakinya kembali mengusik. Ada apa? Asteroid dan puing-puing semakin banyak yang jatuh? Ini baru hari kedua!

“Profesor....” Seorang staf laboratorium dengan seragam oranye memanggil. Ia menoleh. “Profesor merasakan itu...?”

Ia mengangguk sedikit. Dan sebuah dentuman serasa menarik jantung mereka ke atas. Laboratorium hening seketika. Veren yang memperhatikan persiapan Digta di pusat kontrol menerawang, seakan waspada langit-langit akan runtuh. Sementara di dalam supercomputer hasil kloning mainframe Koloni Juran, Hilda semakin memeluk anaknya di pinggang.

“Ah! Ada pesan masuk dari resepsionis!” Digta menekan ENTER. Sebuah bingkai dengan satu paragraf teks membentang di monitornya.

Pihak ABRI meminta maaf atas gangguan yang terjadi. Mereka berusaha menempatkan senjata-senjata berat di sekeliling Borneolab sebagai tindak penjagaan. Mereka tidak ingin kehilangan fasilitas penting di sini, seperti yang telah menimpa DIVENN dan DINA.”

“ABRI...?”

“Kita bisa meminta kontak visual dengan pihak keamanan,” saran seorang staf. Digta mengangguk dan mempersilakan ia. Tak sampai lima detik, monitor-monitor besar di laboratorium telah dikapling. Tampil dua puluh lima gambar dari kamera pengintai yang berbeda. Gambar-gambar itu membelalakkan mata mereka.

“Itu...?”

“Jin....”

“Banyak kapal induk. Senjata-senjata berat tersebar di mana-mana.”

“Kita dalam siaga perang?”

Sebuah pesan lain kembali masuk. Digta segera mengontak Profesor Irene.

“Aktifasi dan sikronisasi Mata Rantai sudah selesai. Siap membuka portal.”

“Tentukan koordinat dan lakukan sekarang.”

“Baik!” Digta mengetikkan sebaris perintah di jendela terminal. Ia menekan ENTER dan batangan proses menindih di atas jendela tersebut.

Di langit-langit ruang utama, dua bingkai lengkung masing-masing memisah menjadi dua bagian lain. Keempat bingkai lengkung yang tercipta kemudian berputar satu lingkaran penuh dan turun membentuk bingkai vertikal. Sisi-sisi bingkai yang berhadapan memunculkan cahaya. Udara mulai bergelombang seperti hawa panas.

“Portal berhasil dibuka. Lokasi yang diambil adalah lokasi yang sama dengan portal mesin waktu terdahulu.”

“Kau bisa melihat kondisi di sana?”

“Ya, bahkan sangat jelas. Di sini..., aku bisa melihat..., seperti bekas ledakan.”

“Ledakan?”

“Ledakan yang besar.”

***

Alisya memekik di rumah sakit. Suaranya nyaris bersahutan dengan guntur seusai petir. Lima perawat dan tiga orang dokter sudah bermandikan keringat untuk menahan rontaannya di ranjang pasien. Usai pingsan di tengah jalan, lima belas menit ini ia tersadar dan mendadak berubah drastis. Matanya kembali merah dan ia meraung sejadi-jadinya.

“Aku... tidak mampu lagi...!” Seorang perawat tersandar di sisi kamar. Kedua tangannya terlihat keras untuk mengepal.

“Apa yang terjadi? Otot gadis ini layaknya serat baja!” Seorang dokter masih tetap mencengkeram pergelangan Alisya, dibantu seorang perawat.

“Ia terus bergerak. Aku sulit untuk menyuntikkan penenang.”

Tiga perawat lain akhirnya jatuh. Seorang di antaranya sempat terdorong nyaris terlentang. Alisya semakin mengamuk. Suaranya semakin berisik dan membangunkan hampir seluruh pasien.

Gaya juga tidak dapat menjernihkan isi kepalanya. Mendengar Alisya yang terus menjerit, membuat ia seperti cacing di atas abu. Sontak ia berdiri dari kursi dan menerobos ke dalam kamar. Kedua tangannya berhasil menggantikan empat tenaga manusia yang telah hampir kehabisan napas. Ia mencengkeram pergelangan tangan Alisya yang berusaha menyobek kulitnya sendiri.

“Cepat! Suntik dia!” Gaya turut menjerit. Namun, Alisya semakin menjadi meronta. Gaya turut mengimbangi. Hingga akhirnya, kaki ranjang pasien tidak mampu menopang lagi tekanan yang ia terima. Kaki ranjang patah dan kasurnya terjerembab. Gaya akhirnya berhasil mengunci tangan Alisya. Ia menekan kedua pergelangan tangan sahabatnya itu sekuat tenaga, hingga merekahkan ubin kamar.

“Suntik!”

Dokter bergerak cepat. Ia mengulur jarum ke kulit lengan kiri Alisya dan menembuskan cairan bening dari tabung suntiknya. Alisya menjerit. Urat-urat di lehernya bermunculan lebih banyak. Dan seketika, ia pingsan.

Untuk beberapa detik, semua terlihat membekukan wajah. Gaya masih menunggu reaksi balasan dari Alisya. Tangannya masih setia mencengkeram.

“Apa-apaan ini...?” Seorang dokter akhir terdengar mengeluh.

“Kita harus mencari ranjang baru.” Dokter lain keluar dari kamar.

Gaya terduduk. Sahabatnya tak lagi bergerak. Wajahnya basah oleh keringat dan rambut panjang Alisya tergerai menutupi hampir sebagian wajah.

“Apa yang terjadi...?” gumam Gaya. Ia tak sadar bahwa seorang perawat mendekati dari belakang.

“Terima kasih atas bantuan Anda,” ucap perawat itu. Gaya hanya mampu mengangguk dan perawat itu segera menyusul dokter tadi.

***

Tiga puluh menit setelahnya, Alisya telah mendapat ranjang baru dan seorang perawat kembali berjaga di kamarnya. Sementara Gaya, ia terlihat merenung di koridor. Duduk di kursi panjang seorang diri. Kedua tangannya mengepal di atas pangkuan.

“Tangan ini.... Apa yang terjadi?” Sekilas gambar seperti terulang di matanya. Ia menahan tangan Alisya hingga meruntuhkan tempat tidur pasien, bahkan melubangi ubin kamar. Sesuatu yang mengerikan seperti merasuk di kedua tangannya.

“Aku....”

“.... Obat itu sudah merenggut beberapa sisi kemanusiaanku. Dan aku tidak ingin kehilangan lebih banyak lagi?” “Apa yang kau bicarakan?” “Bertambah kuat, bahkan melebihi manusia normal, apakah masih bisa dikatakan manusia? Secara fisik, kita memang masih manusia. Tetapi secara kemampuan, kita telah berubah menjadi mesin penghancur. Kita monster.”

“Monster....” Kedua tangannya semakin mengepal.

***

“Kau baik-baik saja?” Polisi wanita yang muncul tadi sore datang menegur. Ia mengambil tempat di sisi kanan Gaya.

Gaya menggeleng, lalu berkata, “Kau pernah memberitahuku bahwa tulang rusukku patah. Tetapi menurut dokter, tulang-tulang di tubuhku baik-baik saja. Apa yang sebenarnya terjadi?”

Iris menghela dan membalas, “Usai aku memberitahumu, tulang rusukmu yang patah perlahan kembali utuh. Aku tidak ingin memberi tahu, karena kurasa itu hanya akan membuatmu shock.”

“Aku sudah benar-benar menjadi monster....”

“Apa yang kau katakan? Kurasa, itu hanyalah ulah dari residu fibernetik yang tertinggal. Kuharap kau tahu, karena kau dulunya adalah asisten Dokter Karim. Residu tersebut tetap di dalam tubuh hingga satu tahun. Dalam range masa tersebut, efek-efek fibernetik yang seharusnya hilang akan tetap muncul meski sedikit. Yap, meskipun masih ada pengecualian khusus untuk kemampuan otot. Itu permanen.”

“Tetapi, tidak untuk daya sembuh, bukan? Meski mengenakan fibernetik generasi kedua dalam dosis utuh sekalipun, aku perlu waktu dua minggu lebih untuk pulih.”

“Pasti ada penjelasan untuk itu. Salah satu anggotaku yang terluka tadi sore, wajahnya juga sudah berangsur pulih sangat cepat.”

“Satu-satunya alasan adalah aku telah menjadi monster. Persis seperti yang pernah dikatakan oleh Alisya.”

“Tidak benar.”

“Aku pikir, menjadi lebih kuat akan lebih baik. Tapi ternyata, semua terasa aneh.”

“Aneh, ya?”

Gaya menoleh.

“Mungkin, sama anehnya ketika pertama kali aku menggunakan Gerbang?”

“Gerbang?”

“Pakaian zirah yang kau lihat tadi sore. Dengannya, apa yang sebelumnya tidak bisa kulakukan, kini dengan mudah dapat kucapai. Menjadi kuat tidaklah salah, karena ada yang harus dilindungi, bukan karena sesuatu yang kita benci.”

Gaya tertegun. Sesaat setelahnya, ia beranjak berdiri dan pamit untuk pergi entah ke mana.

***

Berhasil melarikan diri, Sonia membawa Ilyas ke rumahnya dan mengobati luka memar di sekujur punggung sahabatnya itu. Tak lupa, ia juga menelepon Dimas untuk memperingatkan Ake dan Ikam.

“Jika ingin pulang, ke rumahku saja,” pinta Sonia. Selain memberi kabar tersebut, ia juga mempertanyakaan keberadaan Andiev.

“Ia sudah dijemput pamannya,” jawab Dimas. Sonia sempat terbelalak.

“Cepat sekali ia sampai,” benak Sonia.

“Memangnya, kenapa?” Dimas bertanya di ujung telepon.

“Ciri-ciri orangnya bagaimana?”

“Ng....” Dimas masih sempat mendongak. Matanya menerawang, mengingat ketika ia melihat awan mendung tepat di puncak kepalanya. “Tinggi, putih, rambutnya pendek, yang pasti laki-laki.”

“Wajahnya dipenuhi rambut?”

“Ng? Berewokan?”

“Iya!”

“Tidak.”

Sonia mendesah. Sepertinya lega, tetapi dadanya masih terasa sumpek.

“Ke mana mereka pergi?”

“Kan, sudah dibilang Andiev dijemput pulang.”

“Terima kasih! Dan ingat, sampaikan pesanku tadi pada Ake dan Ikam. Mereka masih ada di sana, kan?”

“Ada. Mereka belum naik dari kolam renang.”

Sonia mengucap salam dan menutup telepon. Ilyas seperti masih bimbang, ketika ia memberi tahu bahwa ada orang lain yang menjemput Andiev di rumah Dimas. Ake dan Ikam yang asyik bermain di kolam renang meski hari sudah turun hujan dan beranjak sore, enam puluh menit selebihnya sudah menampakkan batang hidung mereka di rumah Sonia. Hanya sesaat mereka terlihat simpati oleh keadaan Ilyas. Selebihnya, mereka mencoba televisi lima puluh inci di ruang keluarga rumah Sonia.

Sementara mereka menonton, Sonia mencuci piring di dapur. Tidak ada pembantu, ia tidak menuruti saran ayahnya yang masih di Australia. Ilyas yang muncul saat ia hampir selesai berberes, membuat ia berputar dan berkacak pinggang.

“Kau kusuruh tidur, mengapa ada di sini?”

Ilyas mendongak dan sedikit gemetar. “Aku haus....”

Galak Sonia mereda. Ia berputar dan mengambil sebuah gelas. “Biar aku ambilkan.” Dan gelas tersebut tersodor pada Ilyas usai diisi air.

Pemuda itu tampaknya memang benar-benar haus. Gelas kaca yang cukup besar tersebut sudah kosong dalam beberapa teguk. Wajar saja Sonia menawarkannya segelas air minum lagi. Ilyas balas menggeleng.

“Kembali ke kamar. Tidur!” perintah Sonia dan segera membelakanginya. Bukannya pergi seperti yang dipinta, Ilyas mematung menatap ubin dapur di bawah kaki Sonia. Ia mencoba menyusun beberapa kalimat.

“E..., Sonia...!”

Sonia meletakkan piring terakhir di rak, mematikan keran, dan mengelap tangannya dengan serbet. Ia berputar lagi dan sedikit jengkel. Sahabatnya itu masih di dapur. Ia mulai menaikkan tangan di pinggang dan seolah-olah hendak mengaum. Buru-buru Ilyas memotong.

“Bisa antar aku pulang nanti subuh?”

Kening Sonia berlekuk-lekuk. Tangannya pelan-pelan terulur ke bawah. “Pulang...?”

Ilyas mengangguk kecil, mencoba melihat air wajah Sonia. “I..., iya....”

“Permintaanmu yang aneh-aneh saja hari ini.” Sonia mengomel dengan suara terlampau tajam. Ia bicara seolah-olah tidak pernah meminta yang aneh-aneh hingga Ilyas pusing sendiri. “Setelah melarangku menelepon polisi – takut rumahmu dipasangi pita kuning dan kau tidak masuk – sekarang meminta pulang?”

“Aku, kan, memintanya untuk besok....” Ilyas merungut.

“Tidak! Kau sakit.”

“Aku harus sekolah. Seragamku ada di rumah semua.”

“Tiga hari ini, kau dan teman-temanmu itu tidak boleh sekolah. Diam di sini. Biar aku yang memintakan izin.”

“Tapi....”

Tangan kiri Sonia mulai naik ke pinggang. Tangan kanannya mengangkat hingga sebatas leher. Telunjuknya berputar lalu menunjuk lurus ke pintu dapur, seraya berkata, “Sekarang, putar tubuhmu dan kembali ke kamar!”

Ilyas menciut. Mau tak mau ia berputar seperti telunjuk Sonia dan mulai beranjak dari dapur. Hanya beberapa langkah ia dapat berjalan dengan benar. Selanjutnya, pergelangan kakinya terasa nyeri. Sebelum terjerembab, Sonia segera menyambut bahu kanan Ilyas dengan pundaknya.

“Lihat, bagaimana kau bisa sekolah jika berjalan saja mesti dipapah seperti ini? Kau mau, sepanjang hari kita terus seperti ini?”

“Kan, masih ada Ake dan Ikam.”

“Baru berkenalan dengan mereka saja, aku sudah bisa menebak bagaimana sifat mereka. Dua kutil itu terlalu baik. Mereka pasti berebut ingin memapahmu, hingga akhirnya bikin susah sendiri.”

Ilyas sedikit mengiyakan.

“Terserah kau saja, ingin sekolah atau tidak besok. Yang pasti, jika kau sekolah, aku yang harus menjagamu. Suka ataupun tidak suka. Mau ataupun tidak mau.”

Ilyas hanya mampu menahan napas dan otaknya berputar dalam proses tak berujung. Pekikan dua sahabatnya di ruang keluarga sontak memutar kepala keduanya. Cepat-cepat Sonia memapah Ilyas untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Begitu wajah Sonia muncul, telunjuk Ake lentik ke televisi. Sebuah berita menyorot kekacauan di pusat kota tadi sore. Sebuah gedung tampak mengepulkan asap dari salah satu sisinya yang berlubang. Dan ketika kamera berpindah ke bawah, sosok orang yang pernah mereka lihat membelalakkan mata Ilyas dan Sonia dalam detik nyaris sama.

“Alisya?”

Sepenggal narator berkata, “Tak seorang pun tahu siapa mereka dan apa tujuan mereka di kota ini. Tak ada pula satu pun rekan pers yang berhasil melacak keberadaan mereka usai kekacauan tadi sore, hingga berita ini diturunkan....

Kedua mata Sonia memicing. “Masa, tidak ada yang tahu? Alisya, kan, polisi....”

“Jika tidak ada yang tahu, berarti polisi rahasia,” sambut Ake.

“Tapi, aneh. Gaya memberi tahu kita.”

“Jangan-jangan, bohong.”

Semua menatap Ilyas.

Your rating: None Average: 4.5 (2 votes)
dikirim dirgita 24 minggu 6 hari yang lalu
Tag: