Kisah Bagian 10: Garis Waktu

"

Saya sungguh berterima kasih kepada semua pihak yang telah menyumbangkan komentar untuk cerita ini. Sekali lagi, terima kasih.

Pernyataan lisensi: Teman-teman boleh menyalin cerita ini ke media simpan lokal. Penggandaan diizinkan selama dalam bentuk digital, tidak menghilangkan sumber atau penulis asli, dan tidak untuk melanggar norma dan peraturan yang berlaku, dan bukan untuk tujan komersial. Jangan mencetak cerita ini ke atas kertas! Pohon sudah banyak yang ditebang untuk itu.

"

Malam beranjak larut dan hujan setia turun dengan deras. Beberapa deret meriam raksasa di sela-sela beberapa gedung, serta belasan unit jin menyedot padangan Profesor Irene pada riset yang pernah ia jalani. Kelebat-kelebat cahaya halus juga sesekali melintas di langit. Terkadang, beberapa dentuman meriam menyambut serbuan garis-garis cahayanya. Tak ketinggalan pula, beberapa unit jin segera lepas landas.

“Sebaiknya, kau tetap di sini.” Profesor Irene menarik tirai dan berputar membelakangi jendela. Sahabatnya yang sudah puas ia ajak berkeliling di separuh fasilitas Borneolab, merapatkan selimut di tubuh Yuni hingga sebatas leher. Putrinya terlelap di tempat tidur Digta, di ruang pribadi Digta dan Profesor Irene. Fasilitas perusahaan.

Hilda hanya mengangguk. Ia juga menyadari kondisi di luar sana. Hujan air tak kunjung reda, hujan batu di mana-mana, dan Indonesia menurut desas-desus dalam siaga perang.

“Operasi penyerbuan bunker nuklir milik Cincin Zeus sudah berakhir satu jam lalu. Beberapa bunker terlambat untuk diamankan, satu buah jatuh di Bulan dan tiga lainnya menghancurleburkan sisa puing Cincin Zeus.” Keduanya melirik Digta di sudut ruangan. Ia membuka jas laboratoriumnya dan terlihat santai dengan kaos berwarna merah muda. Sembari berbicara tadi, ia rupa-rupanya membaca sebuah buku harian.

“Satu jam lalu? Sayang, kita tidak melihat ledakannya.” Hilda hati-hati menyingkir dari sisi putrinya.

“Yap,” sambut Profesor Irene. “Letupan api dari lebih dua puluh bunker nuklir pasti terlihat hingga atmosfer. Tapi ngomong-ngomong..., buku itu....” Ia mendekat pada Digta. “Aku pernah melihat buku itu sebelum ini.”

Perang Dunia Ketiga.... Banyak yang meramalkan, tetapi tak satu pun yang mengharap itu akan terjadi.... Namun, bagaimanapun, Aku kini berada di antara dentuman perang itu....”

Digta membaca beberapa baris dan Profesor Irene teringat benda temuan pada riset beberapa bulan lalu.

“Ini adalah sepenggal tulisan favoritku.” Buku harian tersebut ditutup. “Kata-kata terakhir di catatan lembar terakhir. Ada noda darah di sampul belakang. Dan....”

“Foto mahasiswi yang sangat mirip dengan stafku yang keras kepala.” Profesor Irene menyambung. Digta menoleh. “Aku masih ingat detil diari yang ditulis mahasiswi semester akhir tersebut. Dan aku juga masih ingat untuk melarang staf riset membawa benda-benda dari masa manapun.”

“Jangan berburuk sangka dulu, Prof.... Ini adalah hasil duplikasi dengan bantuan MIA.”

“MIA? Setahuku, alat pindai-cetak tri-matra tersebut sudah rusak.”

“Ya, begitulah. Namun, aku sempat memperbaikinya dan memindai buku harian mahasiswi ini. Usai aku cetak, MIA rusak lagi.”

Buku harian tersebut ditaruh di atas meja. Digta lalu tersandar dan menengadah dengan mata terpejam. Tangan kanannya naik dan merasai keningnya yang hangat.

Dua puluh empat jam terakhir..., mengerikan.... Meteor, Bili, Ayu....”

“Kau harus istirahat, Digta.”

Ia membuka mata, dan telah melihat Profesor Irene mengutak-atik komputer di meja yang sama di sisi kanannya.

“Profesor juga....” Ia menyahut.

***

Profesor Irene hanya tersenyum. Matanya sudah terlanjur terpaku pada monitor yang dipenuhi ikon folder berwarna ungu. Jemarinya cepat mengarahkan kursor pada sebuah ikon. Ia klik dua kali dan file-file catatan langsung terhampar. Di sinilah ia menyimpan catatan hasil riset, khususnya riset peradaban lima tahun sebelum Perang Dunia Ketiga dan lima tahun sejak perang itu berkobar. Buku harian yang telah Digta salin dengan teknik penyalinan struktur atom tadi, memberi inspirasi untuk membongkar berkas-berkas lama.

Total, ada lima belas riset dengan topik berbeda yang terbagi menjadi tiga kelompok riset utama. Tim riset Profesor Irene membagi mereka dalam kategori Perang Dunia Ketiga, Masa Koloni, dan Perang Kosmik. Dari riset-riset tersebut, tim di bawah naungan Borneolab ini berhasil menyusun sebuah cerita, skenario raksasa yang telah mereka sebar di berbagai media.

Dulu, delapan abad yang lalu, abad 23. Sudah seratus tahun lebih Bumi hidup dengan mengonsumsi energi terbarukan. Banyak perkebunan sebagai sumber biofuel, banyak kincir air di waduk-waduk dan air terjun, serta banyak kincir angin di daerah terbuka tak subur. Bumi mulai berbenah. Hijau di mana-mana, meski telah terlambat untuk beberapa hal. Musnahnya beberapa ras floura dan fauna, lubang di atmosfir yang terlanjur menganga seperti orang mengantuk, dan batu es di kutub yang tidak bisa dibekukan sediakala semudah layaknya menumpuk salju di lemari es.

Wabah misterius selanjutnya terdeteksi di Amerika Selatan. Wabah yang kini ditangani oleh Departemen Virologi Borneolab itu merusak kebun-kebun di benua tersebut, lalu merambat ke Amerika Utara, terbang ke Asia, dan hinggap ke Eropa. Kurang dari satu tahun, produksi biofuel terhenti. Bumi kembali terjerumus pada masa yang dikenal dengan krisis energi, krisis yang sebelumnya pernah dialami planet ini tak lebih dari dua abad sebelumnya.

Wacana untuk menggunakan energi nuklir akhirnya kembali muncul ke permukaan. Namun, seperti yang dapat diduga, penduduk masih enggan menerima. Mereka masih alergi dan takut kekuatan yang didapat dari proyek tersebut disalahgunakan.

Di bawah tekanan protes, Aliansi Amerika, Timur Raya, dan Eropa yang sedianya akan mengembangkan energi nuklir balik menuding. Telunjuk mereka lentik di depan hidung negara-negara yang menentang keras kebijakan mereka. Mudah bagi negara-negara yang menentang, seperti Indonesia dan tetangga-tetangganya, karena mereka memiliki tambang minyak bumi yang masih dapat difungsikan. Melarang negara-negara lain untuk tidak mengeksploitasi nuklir hanyalah satu dari beberapa strategi untuk mencari keuntungan. Atau, strategi melemahkan lawan.

Kondisi semakin keruh. Entah mengapa, di minggu ini banyak orang yang melempar batu di genangan air yang seperempatnya adalah lumpur. Apakah mereka tidak tahu, jika semakin banyak batu di dalam genangan air, maka airnya akan meluap?” Satu entri dari buku harian seorang gadis yang tercatat sebagai mahasiswi Universitas Indonesia. Ketika buku harian tersebut ditemukan, Jakarta telah menjadi puing.

***

Jenewa, empat bulan usai Bumi kembali panas. Meja runding yang telah berkali-kali diadakan, tidak pernah menyelesaikan masalah. Begitu pula dengan pertemuan kali ini. Perundingan Jenewa justru sebagai ajang melempar ancam. GUACCO (Group of Nuclear Acceptor Countries) meminta tanggung jawab dari pihak-pihak yang selama ini menentang kebijakan mereka. GUACCO meminta jatah minyak bumi, batu bara, serta gas alam dari negara-negara yang masih memiliki stok, sebagai syarat utama negara mereka tidak dijatuhi puluhan rudal. Pusat-pusat pertambangan akan menjadi target bombardir, supaya semua pihak di planet ini merasai penderitaan yang sama.

Namun, pihak seberang tidak dapat menyanggupi. Stok yang tersedia cukup terbatas. Belum lagi, ada desakan dari Greenpeace untuk mengusut asal-usul wabah misterius penghancur kebun serta cara menanggulanginya.

Alhasil, telur sudah di ujung tanduk.

***

Waktu yang sama, teknologi antariksa sudah bergerak maju. Terdapat setidaknya lima stasiun angkasa besar yang mengorbit Bumi, dan masih sepuluh lagi yang lain, dalam ukuran kurang dari setengahnya. Krisis energi membuat beberapa keluarga kaya menerbangkan sanak keluarga mereka ke atas, memberi bantuan pengembangan stasiun, dan menikmati lancarnya pasokan energi solar (matahari).

Ketika peperangan pecah di bawah mereka, semakin banyak orang yang terbang ke langit. Beberapa adalah keluarga yang memiliki uang sangat banyak, sebagian besar adalah rakyat biasa, baik diterbangkan oleh pemerintah, atau pemberian dari orang-orang kaya yang masih memiliki hati.

Kurang dari satu bulan, negara-negara GUACCO berhasil menundukkan negara-negara seberang. Mereka juga berhasil menguasai tambang minyak bumi, lalu meneruskan proyek pembangkit energi nuklir sebagai program jangka panjang. Begitu proyek rampung, mereka meneruskan ekspansi teknologi antariksa. Koalisi GOACCO berhasil membuat stasiun angkasa baru, tak jauh dari kelompok stasiun lain sebagai tempat pengungsi. Pengungsi-pengungsi di sana, kini sudah menikmati hidup ribuan kilometer dari atas tanah dan enggan untuk pulang.

Dua tahun setelah proyek stasiun angkasa koalisi GOACCO rampung, tersiar kabar bahwa terjadi penggabungan pemerintahan dari negara-negara GUACCO. Semakin banyaklah orang-orang yang terbang ke langit, mengungsi kembali. Orang-orang yang tidak setuju, akan dibantai.

Kian hari, stasiun milik GUACCO semakin besar, serta tidak hanya satu buah. Total, ada lima stasiun berjejer dengan bentuk menyerupai bangun segitiga terbalik. Label SAPPHIRE terlihat jelas dari salah satu sisi stasiunnya. Dan Masa Koloni, telah dimulai sekarang.

***

Stasiun itu rupa-rupanya pusat pemerintahan yang dinamai Koloni Sapphire. Bumi adalah planet inang dan semua yang ada di sana, harus tunduk di bawah kekuasaan Dewan Tertinggi Koloni. Merasa terancam, pelan-pelan stasiun lain bergeser menjauh, dan membentuk koloni sendiri.

Menurut riset, terdapat lima koloni raksasa selama Masa Koloni. Dua di antaranya adalah Koloni Sapphire dan Koloni Cincin Zeus. Kedua koloni tersebut tidak pernah sepaham, dan terus terlibat pertikaian sepanjang Masa Koloni. Sementara Koloni Sapphire terus memperluas kekuasaan, menyerbu koloni-koloni kecil, menjadikan mereka koloni satelit, Koloni Cincin Zeus mengirimkan pasukan untuk menghambat mereka, menghancurkan instalasi-instalasi militer di koloni satelit, untuk mengembalikan kekuasaan koloni-koloni satelit yang telah dijajah.

Selama masa itu, banyak teknologi yang berkembang. Di bidang medis, tim riset Profesor Irene dibuat kagum oleh One-stop Medical Serving Toolkit, paket pelayanan medis lengkap dalam satu tempat. Mulai dari pengecekan penyakit dengan alat pindai superdetil, hingga pembedahan tanpa tangan manusia yang menyentuh daging yang tersayat. Semuanya ditangani komputer, dan dokter-dokter ahli hanya duduk di kursi layaknya programer. Tak buang kesempatan, teknologi tersebut tengah diadopsi oleh Departemen Medikal Borneolab.

Departemen Alat Berat dan Militer juga turut serta dalam mengadopsi hasil temuan Profesor Irene. MIGEN adalah hasil karya tersebut. Diadopsi dari mesin tempur yang menjadi primadona selama Masa Koloni. Bentuk asli MIGEN berasal dari model mesin dinamai generation force. Mesin tersebut berbentuk robot raksasa setinggi hampir tujuh puluh meter dengan seorang juru pandu sebagai pengendara. Banyak sebutan bagi mesin ini, mulai dari genforce hingga jin. Sebutan terakhir cukup banyak dipakai di mayoritas koloni, karena selain bentuk mesin yang sering tidak jelas (mampu bertransformasi untuk beberapa jenis), kedatangannya juga membuat tengkuk merinding (ia adalah mesin tempur).

Profesor Irene juga sempat mencatat, bahwa sistem jin berkembang dalam tiga versi besar. Dimulai dari HIS, HIM, dan terakhir adalah HER. Mesin dengan sistem HIS (Hyper Injection System) memiliki sistem memori untuk menghapal tindakan pilot jika program HIS diaktifkan. Jika sistem merasa telah merekam delapan puluh persen kemampuan pilot, maka jin bisa aktif sendiri apabila mendeteksi musuh yang mendekat.

Hyper Injection Mechanism serta Hyper Explode Reaction ialah perkembangan lebih lanjut dari HIS. Pada versi HIM, kokpit jin sudah dilengkapi radar hologram. Peta pertempuran tampil di hadapan pilot secara real-time. Untuk HER, jin telah memiliki banyak bentuk transformasi dan beberapa di antaranya tidak perlu pilot sama sekali. Pada perkembangan sistem HER, Koloni Sapphire benar-benar mengembangkan sayap untuk memperoleh koloni satelit lebih banyak. Salah satu pertempuran yang melibatkan jin versi HER adalah usaha Koloni Sapphire untuk menundukkan Koloni Mille. Pada saat itu, jin dengan kode Umbrulla dikendarai secara langsung oleh sistem operasi bernama Neon. Ia mampu melumpuhkan sekitar delapan buah HER milik Sapphire yang berhasil menerobos barikade Stasiun Pertahanan Angkasa Mille.

Jin adalah satu dari teknologi yang juga diadopsi Departemen Robotika Borneolab. Selain jin, mereka juga mengembangkan teknologi robotika yang telah berkembang sebelum Perang Dunia Ketiga. Ion atau intelligence on net adalah perkembangan teknologi robot lebih lanjut. Ion terbagi menjadi beberapa kategori. Di antaranya adalah ion tempur (ion combat), sebagai robot pengganti prajurit di medan perang. Ion jenis ini tidak berkembang dengan pesat. Jenis lain adalah ion humanir (ion humanear) atau ion yang mendekati manusia. Mereka diprogram dengan bahasa dan dilengkapi algoritma untuk berbuat kesalahan, bahkan melupakan sesuatu. Tak ketinggalan, juga ada ion selfer. Ion ini dibuat untuk membuat ion lain. Neon yang tak lain adalah sistem operasi, sebelum mentransfer dirinya ke mainframe Umbrulla adalah sesosok ion humanir dalam tubuh gadis remaja.

Dan terakhir, Departemen Komputika mendapat hadiah sistem komputer tercanggih sejagad raya. Disalin oleh tim riset satu tahun sebelum Perang Kosmik terjadi. Sistem komputasi untuk mainframe itu hampir serupa dengan sistem komputer untuk basis data jagad raya milik Koloni Juran. Beberapa operator ditaruh di dalam ruangan penuh cahaya tanpa barang lain, selain kursi dan meja kecil di tengah-tengah ruang dengan posisi saling membelakangi. Komputer dinyalakan, dan ruangan itu dipenuhi oleh bingkai-bingkai hologram. Selain dilengkapi pelacak fokus mata, juga dilengkapi pelacak getaran elektris di udara. Sistem komputer seperti ini membuat proses kerja operator penangan basis data menjadi sangat cepat. Mereka bisa memindah data dengan menyeret ujung jari, bahkan seperti melempar sebuah batu ke direktori tujuan.

Sayang, tidak satupun peningkatan teknologi tersebut yang tersisa ketika perang besar berkobar. Koloni Sapphire telah benar-benar geram dengan tindak tanduk dan tingkah polah Koloni Cincin Zeus. Dengan segala kekuatan militer, mereka menyerang. Banyaknya koloni kecil yang di bawah pengamanan Koloni Cincin Zeus, serta banyaknya pula koloni satelit milik Koloni Sapphire, membuat perang meluber hingga seluruh jagad raya. Delapan miliar penduduk lenyap dalam hitungan kurang dari empat puluh delapan jam. Perang ini dikenal dengan Perang Kosmik oleh penduduk Bumi. Pada saat kejadian, mereka hanya melihat ratusan ribu unit jin melesat ke langit, lalu bola-bola api berjatuhan, dan sebuah benda besar jatuh ke laut. Setelah guncangan menghilang, ribuan pesawat kecil mendarat di tanah. Asal mereka dari berbagai penjuru jagad dan orang-orang di dalamnya adalah pengungsi dari koloni-koloni yang telah hancur, sebagian besar adalah pasukan militer.

Usai Perang Kosmik, Bumi benar-benar mengulang dari awal. Jumlah penduduk yang kurang dari satu miliar, menjadikan banyak tempat kembali sepi dan berhutan. Baru seratus tahun terakhir, Bumi benar-benar mencapai pembangunan yang dibilang “modern”. Namun, penampilan Bumi pada saat itu tak berbeda jauh dengan penampilan Bumi pada abad 21.

Rindu untuk mengetahui kebudayaan nenek moyang, sejarah-sejarah sebelum Perang Kosmik, serta teknologi-teknologi yang hilang, Profesor Irene sebagai staf riset senior Borneolab, membangun mesin waktu untuk mengembalikan semua itu.

EDIT!
Pemberitahuan, sehubungan ada masalah pada modem yang saya miliki, Kisah Bagian 11 dan 12 tidak akan diposting hingga waktu yang belum ditentukan. Dan untuk jawaban bagi beberapa pertanyaan, juga belum dapat saya jawab sekarang.
Terima kasih.

dikirim dirgita 17 weeks 5 days yang lalu
Tag: