Wajah pucat itu diam tak bergerak. Tubuh ringkihnya tergeletak lemas selayaknya mayat. Masu meraih tangan itu, dingin, namun masih terasa denyut kehidupan di pergelangannya. Selang-selang yang menyalurkan cairan infus dan oksigen, terlihat menyatu dengan tubuh Loniel, menopang nyawanya terus berjuang hidup.
Seminggu setelah peristiwa di Pantai Mutiara. Loniel tergolek lemah di ranjang berlapis linen putih itu. Sementara tubuhnya diberi asupan dan luka-lukanya yang mulai infeksi dirawat, kondisinya semakin membaik. Hari-hari yang berlalu ditandai dengan perubahan warna rona wajahnya. Pucat itu semakin pudar, perlahan berganti semburat merah menyegarkan. Masu terus disana, menemani Loniel yang masih terpejam membisu.
Memasuki pertengahan musim dingin, Loniel mulai membuka matanya. Suaranya belum dapat keluar, namun sorot matanya yang masih agak lemas, menyiratkan harapan. Loniel sering hanya memandang Masu lekat-lekat, sambil menggenggam erat tangan kuat Masu. Tangan yang memberinya satu kesempatan lagi untuk hidup.
Malam itu, malam kedatangan Masu kembali di kota kecil ini. Tubuh Loniel yang tak lagi sanggup bertahan, dipaksa berjalan keluar, menembus udara beku, tanpa alas kaki, berbalut gaun tidur. Ia ingat di tebing itu, sudah diputuskannya untuk melompat. Saat ia memandang bulan terakhir kali, pandangan matanya mulai berputar-putar. Telinganya berdenging. Suara Masu yang berusaha memompa semangatnya semakin menjauh berganti dengungan menyakitkan, seakan merupakan panggilan kematian. Lalu sinar perak bulan mulai redup dan menghilang. Matanya diselimuti kegelapan, dan ia tak ingat apa-apa lagi, hanya suara teriakan Masu menggema memanggil namanya…Kini ia masih hidup, satu-satunya yang bisa ia pikirkan hanya Masu yang telah menyelamatkannya.
“Loniel…,”
Masu berbisik pelan, tersenyum hangat. Loniel membuka matanya, kembali dari lamunannya.
“Masu pergi sebentar, tak apa? Aku akan mengambilkan baju-bajumu…segala keperluanmu…. oh dan segala bacaan-bacaan dongeng yang kau suka itu,” tambahnya, nyengir.
Loniel hanya tersenyum lemah, namun itu jawaban yang cukup bagi Masu. Ia mengecup kening Loniel sekilas dan pergi.
Apartemen Loniel terletak tak jauh dari Pantai Mutiara dan juga rumah sakit tempat Loniel dirawat sekarang, hanya beberapa blok. Ini pertama kalinya Masu akan kesana. Dahulu, ada niat untuk mengunjungi Loniel, namun ditahannya, dengan pertimbangan akan ada perasaan yang macam-macam. Kali ini, Masu ingin melihatnya.
Begitu memasuki ruangan Loniel, disitulah ruang tamu kecil, dengan sofa biasa dan meja dengan panjang tak lebih dari dua meter. Disebelahnya, dapur sederhana dengan meja makannya yang berukuran kecil. Di ujung, kamar mandi persegi bersebelahan dengan beranda. Kamar Loniel berada di seberang dapur.
Memasuki kamar itu, seluruh saraf tubuh Masu seakan tak bisa bergerak, hatinya mencelos. Pemandangan itu seperti ruang tempat terjadi pembunuhan. Karpet krem itu bernoda darah dimana-mana. Cermin di meja rias telah retak, juga dengan percikan darah. Sprei ranjang berwarna pink muda yang berantakan, dengan bekas darah yang seperti tergeser, bantal-bantal teronggok di lantai, buku-buku yang berserakan—robek disana-sini, dan yang paling mengenaskan, sebilah silet yang tergeletak di meja itu, dengan darah kering dimana-mana, bahkan sampai ke gagangnya. Bukti siksaan batin dan penderitaan Loniel, yang membuat Masu tak bisa berpaling. Semua kembali berputar di kepalanya. Tubuh kurus Loniel, sayatan-sayatan di sebagian besar lengan dan kakinya, wajah tirus itu, kenangan bahagia dahulu, Loniel terhuyung jatuh dari tebing…
Menggeleng keras berusaha menghilangkan bayangan yang terus berputar itu, Masu cepat-cepat mengambil asal beberapa baju Loniel di lemari pakaian dan bergegas keluar. Namun tiba-tiba matanya menangkap sesuatu, buku pink dengan kait dan gembok yang terbuka, di lantai di samping meja. Masu tak bisa menahan keinginannya untuk tahu.
Halaman pertama. Nama Loniel ditulis besar-besar dengan spidol hitam. Dibawahnya tulisan dengan spidol merah, “Private!”.
Halaman kedua.
04 Sept, Hari baru = sucks??
Hari ini aku sampai di kota baru menyebalkan ini. Kota kecil aneh, dengan penduduk yang aneh-aneh! Ahh! Menyebalkan! Kata ibu memulai hari baru yang bahagia? Baah! Hari baru bahagia apanya! Yang jelas aku belum kenal siapapun, masih harus beres-beres barang, bersihkan apartemen kecil terkutuk ini… Grrrh… Sucks!
Masu membacanya, empat September… Hari Loniel sampai di kota ini. Ia membalik halaman selanjutnya.
Halaman ketiga.
18 Sept, Hoo, kopdar pertama di kota baru!
Ehehee, aku dapat undangan kopdar! XD Ah mau ikutt! Aku mau ketemu cowok ganteng, mau kenalan-kenalan! Hihihi, harus dandan yang bener.. 5 jam pun tak ladeni lah >.< berjuang demi cowok ganteng! Besok!
Masu tersenyum. Sifatnya yang bersemangat itu…, rasanya sudah lama sekali….
Halaman empat.
19 Sept, aih! Masu Almer!
Wah kopdarnya asik banget! Aku kenalan dengan Masu Almer. Hooo.. cowok yang aneh. Penampilannya biasa aja, tapi senyumnya gak tahan deh! >.< Ih… jadi pengen ketemu lagi. Pengen ke kantornya besok >.< jadi harus dandan lagi.. aih
Hati Masu tersayat. Ya, 19 September…. Ia ingat bagaimana hari itu Loniel begitu cantik. Rambutnya digerai, mengenakan busana kasual berwarna cerah dan wajahnya dipoles make-up tipis natural. Bagaimana mungkin ia lupa...
20 Sept, ke pantai!
Yap yap. Sukses! Kita ke pantai, mengobrol sampai malam. Hii, senengnya! Dia baik. Um, belum tentu juga sih… ah untuk memastikan, besok kesana lagi! XD
21 Sept, lagi, ke pantai!
Fuuu, sama seperti kemarin XD idem idem…
29 Sept, lagi, ke pantai…lagi?
XD iya! Ke pantai lagi. Selama ini juga ke pantai terus-terusan. Haa, bosen ya? Aku enggak! Setiap hari obrolannya berubah-ubah, menyenangkan!
4 Okt, pantai mutiara…milik berdua
Ah, Masu hari ini beri nama untuk pantainya! Pantai mutiara…weh, keren. Serasa milik berdua saja ituh! Ah tapi Masu curhat… dia bilang dia suka orang lain. Aih… tapi nggak papa! Selama aku masih ke pantai terus XD
14 Okt, mama papa…Loniel sayang.
7 Okt, aku terima kabar papa mama kecelakaan, meninggal… Seminggu aku tak bisa tidur, aku mimpi buruk. Aku mau papa mama! Balikin mereka!! Tuhan jahat!!!
Masu tersentak disitu. Ia tak ingat Loniel pernah menyebut sekalipun tentang orang tuanya. Tidak mungkin… selama ini Loniel menyimpannya sendiri saja?
28 Okt, papa mama jahat
Aku ingin mereka datang, ke mimpiku! Aku sudah mohon sama mama papa, sama Tuhan, berjuta kali, berkali-kali aku berdoa, kenapa tidak datang juga! Jahat! Semua jahat! Aku ditinggal saja…gak apa! Aku benci kalian, aku bisa hidup tanpa kalian!
1 Nov, gagal… Uh, ujianku gagal… Skripsiku ditolak. Aku dimarahin profesor-profesor botak itu. Aku paling payah di kelas.. 2 Nov, masih gagal… Aku sudah belajar. Tapi kenapa masih tak bisa? Rasanya otakku mau meledak…aku gak bisa menghapal ini semua. Terlalu sulit… uh…bantu aku…
7 Nov, lagi… Aku mau nangis saja rasanya. Pelajaran ini susah sekali… aku gak betah… aku suka kotaku yang dulu… uh…aku mau pulang…ke mama papa
Masu benar-benar tak bisa percaya yang dibacanya. Begitu banyak yang dialami Loniel, dan ia diam saja. Masu ingat saat itu satu bulan menjelang tugas dinasnya, ia banyak cerita ke gadis itu, tentang pekerjaan, tentang “orang lain”, dan gadis itu masih tersenyum menanggapi? Tidak mengomel, malah terus memberiku semangat? Loniel….
18 Nov, kenapa ini? Hari ini Masu lagi-lagi gak bisa ke pantai. Dia jadi sering gak ke pantai… Yah, aku kesana saja sendiri. Tapi kenapa ya rasanya sakit? Aku nangis disana…tak ada yang lihat pun. Kenapa ini? Masa…?
Masu mengingatnya…. Saat itu pekerjaannya sedang mencapai puncaknya, dan “orang itu”, sedang dekat dengannya. Hati Masu kini diliputi penyesalan yang menyakitkan.
20 Nov, terus… Masu masih terus tak ke pantai. Dia ada janji dengan ini, dengan itu, lembur…. Yak, terus saja. Tinggalkan aku nangis disitu terus. Aku mau blajar aja! Gak peduli dia…
27 Nov, idiot Sudah tak sering ketemu, berusaha belajar, tetap tidak bisa. Uh…aku ngapain sih di kota ini? Aku pilih jalan yang salah…Aku gak sanggup di jalan yang ini. Aku mau kembali ke kotaku yang dulu…sudah tak bisa pun. Mama papa sudah tak ada…Uh…aku harus apa sekarang? Gak kuat…
4 Des, Masu… Ah, beberapa hari bersamanya lagi. Aku senang. Aku curhat padanya sedikit… dia bisa mengerti, dia hibur aku. Aku senang sekali…Aku suka Masu. Aku sadar aku jadi tergantung pada Masu. Tak ada dia, aku jadi payah… Uh, gimana ini…
13 Des, tergantung = cinta? Ah, hari ini, tes kecil di kampus sukses. Aku sedikit banyak bisa kerjakan! Semua karna Masu beri aku semangat! Aih…aku benar2 tergantung sekarang…tapi…hanya tergantungkah? Kenapa seminggu ini kalau Masu cerita tentang tuh “orang” aku jadi ingin nangis ya? Uh… tak peduli! >.<
16 Des, Masu mau pergi besok… Masu mau dinas besok… uh, akan lama. Waktu pulang yang nggak pasti. Aku bisa apa? Nggelayut minta diajak? Aku cuma bisa nangis…
Masu memejamkan matanya, menahan sakit yang bersarang di dadanya.
17 Des, Masu pergi Pagi-pagi pergi… Sudah tak ada lagi…
19 Des, miss u Masu… Masu…kau sudah dimana sekarang? Nomormu jadi tidak aktif di luat kota..aku mau cerita banyak…ujianku kacau lagi… uh, semakin sulit, aku semakin tertinggal. Stres…aku gak sanggup belajar lagi…aku mau kembali ke rumah… tapi kemana?aku harus gimana? Aku gak kuat…
1 Jan, awal tahun Ini jam 12. Selamat tahun baru, Masu… kau dimana? Masih tidak bisa pulang sejenakkah? Aku sudah gak tahan…aku gak nafsu makan. Beratku sudah turun 8 kg…aku gak kuat…aku butuh kamu disini…Masu……
Lembar-lembar selanjutnya tak ada lagi tulisan berarti, hanya dipenuhi coretan-coretan dan darah. Masu menyadari dari awal diary sampai akhir, tulisan Loniel semakin berantakan. Kertasnya semakin lecek, dan semakin banyak bekas terkena air. Masu terhenyak disitu, menyesali apa yang telah terjadi, menyesali takdir yang membawanya kepada Loneil, menyesali akibat yang terjadi pada gadis lemah itu. Tak bisa memutar waktu, tak bisa mengembalikan orang tua Loneil, juga tak bisa mengubah takdir, Masu merasa bimbang. Di satu pihak, dirinya ingin bersama Loniel, melindunginya, menjaganya. Di pihak yang lain, nalurinya meraung. Ia tak bisa bersama Loniel. Tak ada rasa cinta dan ia tak ingin Loniel tersiksa karena mencintainya, yang sudah pasti tak bisa ia balas. Loniel bukanlah untukknya… Hatinya yang bimbang membuat Masu tersiksa. Menaruh diary itu di tempat semula, ia memberesi keperluan Loniel dan pergi meninggalkan tempat berdarah itu dengan pikiran berkecamuk…
dikirim Zhang he 30 minggu 5 hari yang laluTag:








