Semoga kita senantiasa mendapat hikmah dari setiap bencana yang terjadi.
"SENANDUNG MUSIM
Mudah bagimu tuk tinggalkanku
Sekadar lenyap tak beriak
Bolong-bolong kosong kian dalam digaruk rindu
Satu rasa bermakna warna
Menjadi haus, waswas, dan syahdu
Kehilangan kasih jernihmu perenungan panjang bagiku
Satu kesedihan demi nomor lain kepedihan
Berurut, himpitan dan himpitan
Betapa tidak,
Siapa yang membasuh debu kembali suci
Meski kotor tetap sorban,
Selendang panjang yang menjuntai,
Dari kolong kaki sampai atap kepala
Betapa duka,
Apa nanti yang kan mengalir di tenggorokku
Sementara udara surut-sorot
‘Nan mulut mengatup-katup
Cinta, besar, terik, pahala
Logika tertinggal saat bencana
Dibelah gempa, dihanyut laut, disatir petir
Nalar mati terkapar
Oh, betapa tak ada gejolak lain sedahsyat meregukmu
Dan kita berpadu pada tubuh,
Yang enggan tuntas digilas panas
Mari kembali menjadi candu
Mari memadan di jagat hitam
Manakala langit mengarang buram
Penantian akanmu mengedip terang
Disini,
Hanya di pengertian tentang alam
Tag:








