Dongh Man Panna (Sansekerta-Hindi)

34
points

Dongh Man Panna
(Penguasa Naga)

Gattorian, demikianlah mereka menyebut para ksatria pada zaman itu. Yakni sebutan untuk orang-orang tertentu yang memelihara hewan unik berkekuatan super. Kepopuleran tuan-tuan Gattorian ini hampir menyamai kaki tangan Raja setingkat kapten, karena mereka juga turut memimpin balatempur pasukan kavaleri.

* * *

Suatu hari kala menjelang sore di pedalaman hutan-hutan bambu tua yang tidak seperti biasa dari hari-hari sebelumnya. Ada satu dua langkah membuyarkan kerumunan burung siul bertengger di rerimbunan bambu. Sesekali terlihat ular keluar masuk di anatar timbunan daun-daun kering di tanah tidak becek dan tidak pula tandus. Angin sepoi berhembus agak kencang semenjak sosok melangkah itu semakin memasuki hutan.
Krieeeet……
Derit-derit bambu silih berganti, melengkingkan nada-nada lucu, sedih, juga seram. Satu bayangan gesit berloncatan di antara puluhan bambu, ia bergelayut, kemudian melompat lagi dan melompat lagi.
“Keluarlah, jangan membuntutiku terus!!!” Raojhin yang mukanya tertutup rambut bagian depan terurai sampai ke dada, menoleh ke belakang. Sesaat ia melirik ke berbagai arah. Fokus pikirannya agak rancu karena suara gemersik bambu-bambu yang berisik.
Kraiik…!!!
Satu batang bambu terdekat meringkik tajam dalam keheningan hutan. Raojhin segera menarik gagang dari sarung pedangnya yang berbahan kulit dan sangat keras. Tanpa basi-basi lagi, secepat tangkapan matanya, ia langsung meluncurkan sebelah pedang ke satu arah satu bambu itu.
Crash…….!!!
Pedang sebelah kiri-nya tertancap persis ke bamboo itu. Namun tampaknya, satu jejak bayangan melesat lebih cepat, mengelak dari serangan pedang tersebut dan meninggalkan suara bambu yang perlahan meretak, kemudian semakin terbelah.
Seperti menghisap dari kekuatan tangan, Raojhin menarik kembali pedang yang masih berada di batang bambu itu.
Siut!!!
Pedang melayang gesit tepat ke tangan kirinya..
Kraggg...jbash…!!!
Satu hempasan pohon bambu roboh seketika. Setelah itu suasana kembali hening, kecuali angin kembali berhembus sepoi-sepoi seperti sedia kala.
“Tuan Macan Putih yang sudah lama hilang…akhirnya kembali!” menyusul suara membahana diseling kekeh bernada ringkih. Raojhin yang merasa pernah menjadi si Tuan Macan Putih, berbalik ke arah tidak disangka. Tiba-tiba dari atas rerimbunan bambu yang berada persis di hadapannya, telah berdiri sosok bertubuh kerdil. Sekilas seperti bayangan hijau gelap dan seluruh tubuhnya berbulu jabrik.
“Siapa kau?” tanya Raojhin, nadanya cukup tenang menghadapi sosok aneh dan asing, bahkan masih tidak cukup pasti apa atau siapa makhluk itu. Dua kali lompatan turun, akhirnya makhluk itu mendarat semakin dekat ke hadapan Raojhin berdiri. Setelah itu, baru terlihat jelas ternyata sosok tersebut menyerupai kera hijau berukuran setengah tubuh Raojhin. Namun tiba-tiba, hanya beberapa kejapan mata, ia berangsur-angsur jadi seorang lelaki tua berpawakan tinggi besar, rambut dan janggutnya sama panjang sampai batas punggung dengan pakaian jubah menyapu tanah. Alas kaki yang dikenakannya juga hampir tertutup jubah bagian bawah.
“Raojhin, sang Tuan Macan Putih…itu namamu dulu sekali....tujuh tahun lalu…,” wajah si Lelaki Tua beralis tebal itu menyeringai tanpa ekspresi tegang. Sementara suaranya yang datar dan berat, terdengar agak mendesis.
“Siapa kau? Dari mana kau tahu namaku?” Raojhin sangat keheranan lantaran baru pertama kali ia kembali ke muka bumi, apalagi namanya adalah sesuatu yang sangat dirahasiakan.
Kemudian lelaki tua itu agak meloncat-loncat agar lebih mendekat lagi pada Raojhin. Melihat gelagat mencurigakan, Raojhin langsung bersiaga dalam satu dua jurus pedang sambil melangkah mundur.
“Aku bukan orang jahat seperti mereka yang telah membuatmu menderita di Tebing Tanpa Beralas,” lelaki tua itu berhenti sampai sejarak dua langkah terhadap pemuda itu bersiaga dengan tangan di gagang pedangnya.
“Namaku, Ni Ratma Hassantari…,” ia menyebut satu nama yang terdengar bukan nama orang biasa.
“Ni? kau orang bermarga Ni? Orang Mahelya?” Raojhin belum yakin sejaligus merasa lelaki itu sedang berusaha untuk menipu.
“Benar!” lelaki tua itu mengangguk kecil sambil melempar senyum keriputnya, dan bukan menyiratkan keramahan sama sekali.
“Jika benar begitu, berarti kau adalah….”
“Masih kerabat perguruanmu!” sahut lelaki yang mengaku dirinya seorang Mahelya bermarga Ni. Raojhin mengamati benar-benar sekujur tubuh lelaki tua asing itu.
“Lalu darimana kau tahu namaku?”
Ni Ratma berdehem sebentar, lalu berdecak pinggang sambil menyeru lantang, “Umurku sudah 200-an tahun ketika kau baru lahir, Raojhin…dan…nama itu…aku yang memberinya!”
“Apa?! Bohong!!” sangat terkejut, kalimat Ni Ratma memainkan emosi Raojhin.
“Tidak mungkin, guruku yang memberi nama ini. Dan namaku sangat rahasia, tidak ada seorang pun kecuali…,”
“Kecuali, lima saudara gurumu Ni Gaumma!”
Tatap mata tajam Raojhin luruh sesaat selama mengingat lima bersaudara kerabat gurunya yang dimaksud. Apalagi lelaki itu dengan benar sekali menyebut nama guru besarnya di kaki pegunungan Mahelya.
Otot-otot Raojhin mengendur. Ia mengakhiri kuda-kuda jurus pedangnya.

Your rating: None Average: 5.7 (6 votes)
dikirim alifwood 20 minggu 16 jam yang lalu
Tag: