Judul aslinya Lord of Dragons, berhubung ada yang kasih komentar agar pakai bahasa Asia Kuno, ya...jadilah Dongh Man Panna, gabungan dua bahasa berbeda.
"Dongh Man Panna
(Penguasa Naga)
....
“Lalu, apa yang membuatmu sampai sejauh ini dari Mahelya?” tanya Raojhin dengan dua tangan mendekap di depan dada setelah memasukkan pedangnya kembali ke sarung kulitnya yang terpasang di pinggang.
Ni Ratma merentangkan dua tangannya, ada kilatan cahaya berwujud rantai-rantai panjang, melilit sampai ke bawah kaki. Tampaknya ia sedang dalam masalah yang belum selesai.
“Aku sengaja menunggumu di sini, dan selalu berdo’a agar kau berhasil lolos dari tebing itu….”
Alis Raojhin terangkat, “Apa maksudmu?”
“Belenggu Setan ini sudah mengikatku lebih dari 30 tahun. Hanya lima pedang yang bisa mematahkannya, salah satunya adalah pedang kembarmu itu,”
Raojhin terdiam sebentar sambil mengamati rantai-rantai yang semakin kelihatan jelas dari besi baja saat tertimpa cahaya matahari menerobos masuk ke celah-celah daun bambu.
“Oo…aku tahu. Kau ingin minta bantuanku?” tebak Raojhin dan memang tidak salah. Ia hanya menanggapi dengan sedikit mencibir dan senyum tak berekspresi. Sementara Ni Ratma menghela nafas panjang, “Benar sekali, muridku….”
Raojhin melompat tiga kali ke atas batang bambu yang melengkung landai.
“Enak saja! Aku bukan muridmu! Kau bahkan tidak pernah menolongku selama aku menderita di bawah sana. Dan sekarang, mudah sekali kau meminta tolong….”
“Hh…karena rantai bayangan ini, aku tidak bisa pergi lebih jauh dari 1000 langkah. Karena itu, yang bisa kulalukan hanya bisa menunggu salah seorang pemilik pedang yang bisa mematahkan rantai ini,” Ni Ratma berjinjit-jinjit ke arah Raojhin bertengger di batang bambu.
“Memangnya aku peduli? Kau juga tidak peduli padaku, kalau aka mati…apa kau mau tahu!” Raojhin tak peduli Ni Ratma mendongak ke atas dengan muka memelas.
“Ketika aku merasakan kau berada di tebing itu, aku selalu berdo’a agar kau selamat dan berhasil keluar dari sana!”
“Huh!!” Raojhin mendengus kesal.
“Begini saja, jika kau mau menolongku untuk meminjamkan pedangmu, maka aku akan menggantinya dengan sesuatu miliku yang paling berharga, bagaimana?”
“Bodoh! Kau sendiri dalam keadaan terikat, bajumu juga lusuh…apa yang bisa dianggap berharga darimu?” Raojhin melompat turun dan berniat melanjutkan perjalanan,
“Lagipula…aku sudah tidak ingin apa-apa lagi…hidupku hanya dendam!”
“Aku tahu…dendam! Yap, dengan apa kau akan membalas dendam? Dengan pedang kembarmu itu?” Ni Ratma terkekeh lama sampai jongkok menahan perut, “Kau bahkan tidak tahu mantera pembuka pedang itu!” kata Ni Ratma sengaja memancing penasaran.
“Mentera pembuka pedang?” Raojhin berbalik lagi.
Ni Ratma manggut-manggut saja diseling sisa tawanya. Sangat tidak nyaman terdengar. Itu yang membuat Raojhin berpaling lagi dan berniat untuk melanjutkan langkah.
“Kau bahkan tidak tahu, bukan? Pemilik Narebae Naburae tidak tahu jiwa sesungguhnya pedang itu, memalukan!” Ni Ratma sedikit mengejek sambil terus mengikuti Raojhin.
“Narebae Naburae?” Raojhin berlagak tidak peduli meskipun ada rasa penasaran tentang nama aneh yang disebut-sebut lelaki itu.
“Kau bahkan tidak tahu nama pedangmu! Itu karena Guru belum sepenuhnya mewarisi pedang kembar itu padamu, tetapi kau lebih dulu kabur darinya!” kata Ni Ratma terdengar mengejek lagi. Dan itu membuat Raojhin melirik sebentar.
“Ha…ha…ha! Jangan kau kira aku tidak tahu masalahmu!”
Raojhin jadi kesal karena merasa diikuti terus, “Aku tidak kabur, nasibku saja yang sial saat bermain ke kota sehingga….tertangkap para Gattorian…dan….”
Raojhin terdiam bersamaan langkahnya yang terhenti.
“Guruku tidak pernah mengajariku mantera pembuka pedang…,” ia mengalihkan pembicaraan, “Andai saja pedang ini benar-benar sangat hebat dan bisa melindungi kami…maka…,” Raojhin terdiam lagi. Hanya sepasang bola matanya yang belum berhenti memandangi gagang pedang kembar di pjnggangnya.
“Maka…nasibmu dan teman-temanmu tidak akan berakhir di Tebing Tanpa Batas!” Ni Ratma melanjutkan kalimat Raojhin.
“Apakah kau tahu nama sesungguhnya pedangmu itu?” Ni Ratma berhasil juga menggencat langkah Raojhin setelah menyebut satu nama, “Pedang Narbu!”
“Pedang Narbu…,” tenang namun menegangkan. Raojhin berbalik lagi pada Ni Ratma. Hampir sulit percaya akan kata-kata si Tua yang baru dilihatnya sekali ini mengucapkan satu nama pedang yang selama ini hanya didengarnya dari cerita teman-teman seperguruan dulu.
“Tidak mungkin, kau bohong!” Raojhin tak ingin terpancing. Ia menampik cengkeraman Ni Ratma. Sebentar lelaki tua itu terkekeh karenanya.
“Mengapa guruku tidak ingin mengajarkan mantera itu padaku?” Raojhin semakin kesal karena ditertawakan. Sambil melompati bebatuan sepanjang ke arah seberang sungai kecil yang dilalui, ia masih bertanya.
“Karena…ia tidak ingin pedang itu jatuh ke tangan yang salah. Sekalipun kau adalah salah satu murid andalannya, kau belum terpercaya!” kata Ni Ratma. Ia berhenti mengikuti Raojhin.
“Terserah kau saja, jika memang tidak menginginkan mantera pedang itu. Toh, aku masih bisa menunggu pemilik 4 pedang legenda lainnya untuk menghancurkan rantai ini. Mungkin 10 tahun lagi…100 tahun lagi…atau aku lebih dulu…,” kalimat si Tua Ni Ratma tak berlanjut. Suaranya agak gentar dan terdengar makin lirih.
“Sudahlah, pergi saja!!! Tetapi jangan berharap kau akan pernah berhasil melawan orang-orang yang kau benci hanya dengan mengandalakan pedang gundul itu!” lanjut Ni Ratma sangat kembali lantang.
(Bersambung)
dikirim alifwood 19 minggu 6 hari yang laluTag:







