Kota Cinta, Toko Cinta

52
points

Senja turun perlahan di jalanan kota. Pantulan cahaya kuning kejinggaan yang terbias di kaca gedung-gedung bertingkat tampak sangat indah. Jika aku seorang pelukis, aku akan segera mengambil kanvas dan kuas untuk mengabadikannya dalam lukisan. Jika aku seorang penyair, aku akan segera membuat puisi dan syair-syair untuk merekam keindahannya. Jika aku seorang pemusik, aku akan segera memetik gitar mencipta lagu. Tapi aku hanyalah seorang pejalan kaki biasa yang menyusuri jalanan kota mencari cinta.

Konon kabarnya, di kota ini banyak dijual para perempuan dengan cintanya. Aku datang dari seberang pulau jauh sengaja ke kota ini untuk mencari cinta dari seorang perempuan. Perempuan-perempuan di kotaku telah lama menghilang, berhijrah ke kota ini untuk menghuni toko-toko cinta.

Aku telah sampai di sebuah barisan pertokoan yang sangat bersih dengan penataan ruang-ruang toko yang menawan. Dari tempatku berdiri, aku melihat sebuah papan neon box kerlap-kerlip yang bertuliskan : “Di sini, menyediakan cinta sejati, 100% tulus”. Papan neon box toko di sebelahnya bertulis kata-kata yang serupa : “Sedia, Perempuan yang akan mencintaimu seumur hidupmu” dengan foto-foto perempuan-perempuan muda nan cantik jelita terpampang di bawahnya.

Aku masuk ke dalam sebuah toko yang bertuliskan : “Mencari perempuan dengan cintanya yang sejati? Kunjungi saja toko kami. Beragam pilihan sesuai dengan selera anda!” berharap ada seorang perempuan dengan cintanya yang sejati bisa aku dapat dari sana.

Seorang lelaki besar bertato hati tertusuk panah di lengannya menghentikanku. “Hey, gembel. Mau apa kau masuk ke sini!” bentaknya. Tentu saja aku kaget dan marah. Bisa-bisanya dia membentakku dan mengatakan aku seorang gembel. Padahal aku sudah memakai baju terbaikku untuk datang ke kota ini. Sepatu kets yang aku pakai pun sudah aku cuci sehari sebelumnya. Tak lupa, celana jeans pun sudah aku setrika dengan rapi. Bisa-bisanya dia mengatakan aku seorang gembel. Seharusnya sebagai penerima tamu, dia menghormati tamu-tamu yang akan masuk ke tokonya.

Aku menahan diri untuk tidak membalas membentak dan beradu mulut dengannya. Dengan ramah aku pun menanyakan kepadanya apakah ada seorang perempuan dengan cintanya yang sejati yang bisa aku dapatkan.

“Kau bawa apa, gembel! Di sini tidak ada yang bisa didapatkan dengan gratis.” Dia malah menjawabku dengan pertanyaan.

Sekonyong-konyong aku menggaruk-garuk rambut kepala bagian belakang, padahal tidak terasa gatal. Aku bingung harus menjawab apa. Terlebih, ia masih saja memanggilku gembel. Lalu aku teringat selendang pemberian ibuku yang terlipat dengan rapi di dalam tas punggungku. Aku membuka resleting tas dan mengeluarkannya.

“Saya punya ini, mas. Selendang batik ini pemberian ibu saya. Selendang ini selendang keramat lho, mas. Selendang antik, selendang kuno. Harganya mahal.” kataku menawarkan selendang itu kepadanya.

“Hey, siapa yang mau memakai selendang bau ibumu ini! Kalau kau tidak mempunyai sesuatu yang berharga, jangan harap datang ke sini. Jangan harap kau bisa mendapatkan seorang perempuan dengan cinta sejatinya.”

Kembali aku teringat sesuatu. Aku teringat dengan sebuah tasbih yang diberikan bapakku sebelum keberangkatanku ke kota ini. Aku mencari dan mengeluarkannya dari dalam tas punggung.

“Saya punya ini, mas. Tasbih asli dari tanah suci, bukan beli dari Tanah Abang, atau pasar-pasar. Ini asli, mas. Dalam gelap, tasbih ini bisa bercahaya, fluorisensi, mas.”

“Hmm, lumayan juga. Memangnya bapakmu pernah ke tanah suci?” tanya lelaki besar itu sambil mengamati tasbih di tangannya.

“Oh, tidak, mas. Bapak saya tidak pernah ke Tanah suci. Bapak saya hanya pedagang kain kecil-kecilan di Tanah Abang. Tasbih itu oleh-oleh dari Pak Haji dari tanah suci. Karena bapak saya sering di Tanah Abang, jadi dia tahu kalau tasbih itu asli,” jawabku dengan malu.

“Huh! Dasar gembel. Pergi. Ini, bawa kembali tasbihmu!” Lelaki besar itu mengusirku.

“Sebentar, mas. Saya masih punya satu hal yang sangat berharga. Saya punya cinta, mas. Saya punya cinta yang tulus dari dalam hati saya.” kataku memohon. “Jangan usir saya, mas. saya ingin dicintai. Apalah arti diri saya tanpa seorang perempuan yang mencintai saya, mas.”

“Cinta saja tidak cukup. Ini bukan dunia sinetron atau film. Lagipula, darimana kau tahu kalau kau mempunyai cinta yang tulus dari dalam hati kalau tidak ada seorang perempuan yang kau cintai dan mencintaimu.” katanya sambil mendorongku keluar pintu. Aku pun tersungkur di atas trotoar di depan toko.

Aku bangkit berdiri. Ah, masih ada toko-toko yang lain, pikirku. Mungkin saja aku bisa menukar cintaku dengan seorang perempuan yang akan mencintaiku dengan cinta sejatinya. Di saat yang sama, sebuah mobil mewah perlahan berhenti di dekatku. Pintu mobil terbuka, seorang lelaki muda, tampan dan gagah berjas dan berdasi keluar dari sana.

Pintu toko yang sesaat lalu aku masuki segera terbuka. Lelaki besar bertato itu keluar. Dengan ramah ia menyalami lelaki muda berjas itu.

“Cari apa, tuan?” katanya dengan ramah.

“Saya mencari cinta. Adakah cinta yang 100 % murni di toko ini?” tanya lelaki muda itu dengan tenang.

“Ooh, untuk tuan, ada banyak cinta di sini. Jangankan 100 %, beratus-ratus 100 % pun ada. Tuan tinggal memilih yang mana sesuai selera tuan,” jawab lelaki besar bertato dengan manis dan lemah lembut. “Mari silahkan masuk tuan. Tuan tinggal memilih, kami sudah mempersiapkan segalanya sampai ke resepsi pernikahan dan persiapan kelahiran putra pertama tuan nantinya. Pokoknya ditanggung beres.”

Aku heran mendengar dan menyaksikan apa yang terjadi di depan mataku. Semudah itukah lelaki muda berjas itu mendapatkan cinta? Lalu aku melihat kepada diriku sendiri, mengamati seluruh tubuhku dan pakaianku. Ah, tidak ada yang salah denganku, hanya pakaian kami saja yang berbeda. Lalu, tak sengaja mataku menoleh kepada mobil mewah yang terparkir di sisi jalan. Aku baru sadar, kalau lelaki muda berjas itu memang berbeda denganku. Ah, mungkin ini bukan tempat yang cocok buatku. Aku pun lalu melangkah lagi, menyusuri trotoar jalan. Senja telah sepenuhnya tenggelam. Lampu kerlap-kerlip papan neon-box yang tergantung di depan toko-toko cinta semakin terang menyala.

Aku tertarik untuk memasuki salah satu toko yang bertuliskan : “Tidak punya apa-apa? Tak jadi soal. Di sini anda tetap akan mendapatkan cinta” pada papan reklame yang berhias lampu warna-warni di depan tokonya. Pintu kaca membuka tanpa suara saat aku mendorongnya perlahan. Tampak olehku seorang perempuan berkacamata yang tengah duduk di belakang meja, membuka-buka sebuah buku catatan besar dan tebal. Aku menghampirinya, pastinya, dia lah penjaga tokonya.

“Permisi, Bu. Apakah di sini ada cinta?” tanyaku.

“Cinta?” perempuan itu melirikku dengan tatapan mata dari balik kacamatanya tanpa mengangkat wajahnya sedikitpun. “Di sini kau bisa mendapatkan cinta tanpa harus membayar apa-apa.” lanjutnya. Terbit rasa senang dalam diriku mendengar kata-katanya. Ia kemudian berdiri dan membelakangiku mencari sesuatu.

Sementara ia mencari-cari sesuatu, aku menebar pandanganku ke sekeliling ruangan tempatku berdiri. Tampak olehku foto-foto pasangan-pasangan yang tersenyum bahagia tergantung di dinding. Aku berpikir, mungkin saja foto-foto itu adalah foto-foto orang-orang yang telah dipertemukan oleh toko ini. Namun serasa ada sesuatu yang menganjal di benakku saat memperhatikan foto-foto itu. Setelah ku pikir-pikir, aku baru menyadarinya, semua lelaki dalam foto itu memakai pakaian yang serupa, semacam jubah panjang yang menjuntai sampai ke bawah lutut dan sebuah topi. di leher mereka menggatung sebuah medali berwarna emas dan perak. Aku ingat, jubah mereka seperti jubah yang sering dipakai oleh hakim-hakim di pengadilan. Kalau aku tidak salah mengingat, jubah mereka disebut toga. Ya, toga. Semua lelaki dalam foto itu mengenakan toga.

Spontan aku melirik memperhatikan pakaianku. Ah, hanya kemeja biasa dan celana jins yang baru saja aku cuci sehingga tampak bersih. Mudah-mudahan pakaianku tidak jadi soal, pikirku.

Perempuan berkaca mata itu tampak telah menemukan sesuatu yang dicarinya, sebuah buku catatan, sepertinya itu adalah semacam buku registrasi.

“Silahkan tulis nama anda di kolom ini, nanti saya akan mencarikan cinta untuk anda,” kata perempuan berkacamata itu menyodorkan buku catatan itu kepadaku. Aku menerimanya.

Dengan perasaan senang aku menuliskan namaku di kolom yang telah ditunjuk oleh perempuan itu dan mengembalikan lagi buku registrasi kepadanya. Perempuan itu tampak mengernyitkan dahi saat membaca tulisan namaku di sana.

“Mas yakin mas tidak salah menuliskan nama?” tanyanya

“Tidak. Memang itu nama saya.”

“Kurang beberapa huruf barangkali?” tanyanya lagi.

“Tidak.”

“Indra Bumi, hmm nama yang bagus. Tapi akan lebih bagus lagi jika ada tambahan S... di belakangnya,” katanya.

“S... apa maksudnya?” tanyaku bingung.

“Ya, Indra Bumi es apa begitu. Es-ha atau es-te atau es-es-i atau es-ka atau es apa, saya tidak hafal semuanya.”

“Ooh, saya tidak punya es-es-es itu. Nama saya ya apa yang saya tulis di buku itu.”

“Atau A barangkali.” tanyanya lagi.

“Saya juga tidak punya A di nama saya,” jawabku polos.

“Ooh, jadi begitu ya, mas. Kalau begitu, anda salah masuk toko, mas. Di sini nama sangat penting. Mohon maaf saja, kami tidak bisa memberikan cinta untuk anda. Silahkan anda mencari cinta di toko lain.” ucap perempuan itu berpura-pura ramah.

Aku kecewa mendengarnya. Lalu aku memohon kepadanya agar aku diberi kesempatan untuk mendapatkan cinta. Aku mengeluarkan semua barang-barang yang aku bawa, selendang, tasbih dan mempertunjukkan kemampuan yang aku bisa. Aku berpuisi di hadapannya, aku berorasi di depannya, aku bermain sulap, aku menyanyi, aku menari. Namun perempuan itu sepertinya tidak terkesan oleh semua kemampuanku.

“Mohon maaf, mas. Silahkan mas tunjukkan kemampuan mas itu di toko lain, siapa tahu ada cinta untuk anda di sana.” katanya pelan.

“Saya juga punya cinta. Saya punya cinta yang besar dari dalam hati saya untuk perempuan yang nantinya saya cintai.” kataku memohon.

“Cinta saja tidak cukup, mas. Silahkan mas keluar, saya ada tamu.” katanya.

Aku menoleh ke belakang. Rupanya di pintu masuk telah menunggu seorang lelaki muda. Ia berpakaian persis seperti orang-orang di dalam foto. Dengan ringan ia berjalan menuju perempuan berkacamata. Jubahnya berkibar-kibar.

”Saya mencari cinta. Adakah cinta di sini?” tanyanya.

”Oh, sangat ada, Tuan. Silahkan tulis nama anda di buku registrasi ini.” perempuan berkacamata itu menyodorkan buku registrasi ke lelaki berjubah.

”Tolong dituliskan saja. Nama saya Joko es-ha, es-i-pe. Jangan lupa ya, mbak, es-nya ada dua.”

”Ooh, beres mas. Saya sangat suka lelaki seperti anda. Anda cerdas, anda berpendindikan.” kata perempuan muda sambil melirik sinis ke arahku.

”Ah, nggak juga. Sebentar lagi nama saya juga akan berubah kok, mbak. Es-nya diganti dengan de-er, de-nya besar.”

”Ohya? Wah, kalau begitu, Tuan datang ke tempat yang sangat tepat. Di sini banyak sekali cinta untuk anda.” kata perempuan berkaca mata dengan ramah dan lembut. Aku melangkah keluar, tidak ingin lagi mendengarkan pembicaraan mereka. Aku datang ke tempat yang salah, pikirku.

Kembali aku melangkah menyusuri jalanan kota, kota yang konon kabarnya disebut kota cinta. Konon, orang akan dengan mudah menemukan cinta di sini. Banyak toko-toko yang menyediakan cinta di sisi jalanan kotanya. Namun entah, aku tak habis mengerti kenapa dua toko yang sebelumnya aku masuki mensyaratkan sesuatu untuk mendapatkan cinta. Ah, sudahlah, semoga masih ada cinta di tempat lain.

Malam kian meninggi. Pasangan-pasangan yang keluar dari toko-toko cinta berhamburan berjalan di sisi jalan. Mereka tampak bahagia. Mereka tampak bersuka cita dengan pasangannya masing-masing. Tak sengaja pandanganku terarah pada sosok lelaki tua yang duduk bersila di sisi jalan, di bawah tiang lampu yang bersinar temaram. Aneh, pikirku, mengapa di kota cinta juga ada lelaki tua seperti dia. Lelaki tua itu tengah terpejam, namun aku yakin dia tidak sedang tertidur. Wajahnya tampak terjaga. Apakah ia buta? Aku menghampirinya untuk memastikan.

Aku berpura-pura menjatuhkan tasbihku di depan sila kakinya sambil memperhatikan lelaki tua itu.

”Anak muda, jangan berpura-pura. Duduklah di sampingku jika kau ingin mengetahui sesuatu tentangku.” kata lelaki tua itu tiba-tiba.

”Aku?” aku berpura-pura bingung. Benar saja, mata lelaki tua itu masih saja terpejam. Namun di wajahnya terlihat kesadaran dan keterjagaan penuh. ”Ah, maafkan aku orang tua.” kataku.

Terdorong oleh keingintahuanku akan orang tua itu, mengapa di kota cinta ada orang tua seperti dia, aku duduk di sampingnya.

”Banyak cinta di kota ini. Lihatlah, orang-orang berjalan dengan begitu bahagia dengan pasangan mereka masing-masing. Cinta telah mempersatukan mereka. Tak ada satupun di kota ini yang aku lihat sendirian kecuali anda, Pak Tua. Apakah anda bukan berasal dari kota ini?” tanyaku.

”Hahaha, anak muda. Aku tahu kau bukan berasal dari kota ini. Karena ku lihat kau sendirian. Aku tidak perlu mata untuk melihat semua yang terjadi di sekelilingku. Pandangan mata bisa menipu dan ditipu. Citra dan rekaan telah demikian pesat dibudidayakan untuk memanjakan mata di kota ini, kota yang kau sebut dengan kota cinta.” ucap lelaki tua itu. ”Kau salah anak muda. Aku telah lebih dulu ada sebelum mereka ada. Dulu aku bisa melihat dengan jelas dengan mataku yang sangat sehat sebelum toko-toko cinta di kota ini mulai dibangun.”

”Ah, kalau begitu ceritakan kepadaku asal mula dibangunnya toko-toko cinta itu, kenapa banyak sekali perempuan, bahkan semua perempuan di kota ini menjajakan dirinya di toko-toko itu.” kataku ingin tahu. Aku menatap matanya yang memejam dengan kelopak matanya yang berdenyut-denyut.

”Aku tidak akan menceritakannya. Aku takut kau juga akan mencolok matamu sendiri sepertiku setelah kau tahu awal mulanya. Aku hanya akan mengatakan satu hal, pandangan mata bisa menipu dan ditipu. Apa yang kau lihat dengan matamu hanyalah maya. Yang nyata adalah apa yang kau lihat dengan hatimu. Tidak semua perempuan menjajakan cinta dan dirinya di toko-toko itu. Namun perempuan-perempuan itu telah meninggalkan kota ini, menuju ke timur. Apapun yang kau punyai, apapun yang kau bisa, kau tidak akan mendapatkan cinta di toko-toko manapun di kota ini.”

”Benarkah, dari mana kau bisa tahu orang tua?”

”Hati bisa melihat dengan lebih jelas daripada mata. Mataku memang sudah tidak bisa melihat lagi, namun hatiku bisa melihatmu dengan sangat jelas. Kau punya hati yang mulia, anak muda, jagalah itu. Jangan kau mencari cinta di kota ini, meskipun kota ini adalah kota cinta. Jika pun kau mendapatkan cinta di kota ini, cinta itu akan segera hilang dan pergi.”

”Lalu, kemana aku harus mencari cinta, orang tua. Aku ingin dicintai. Aku ingin mencintai.” kataku memohon.

”Pergilah dari kota ini. Carilah cinta di kota di arah timur sana. Di sana kau akan benar-benar menemukan cinta. Berjalanlah ke timur, jemputlah terbitnya matahari, kau akan menemukan cintamu di sana.”

Aku berdiri dan berjalan ke arah timur sesuai petunjuk orang tua di bawah tiang lampu jalan. Dengan langkah perlahan aku meninggalkan kota cinta. Sesekali aku menengok ke arah lelaki tua itu. Ia masih saja duduk di sana. Aku tidak tahu apa yang ia lakukan di kota cinta. Mungkinkah ia adalah penunjuk jalan orang-orang sepertiku yang datang dari jauh ke kota cinta? Entah mengapa aku percaya begitu saja kepada lelaki tua itu. Namun, selalu ada keinginan untuk tetap tinggal di kota cinta, mencoba mencari cinta di toko-toko yang lainnya. Aku terus berjalan ke arah timur. Dari sanalah aku berangkat semula. Di sanalah cintaku berada, di sanalah aku akan dicintai dan mencintai.

-jatinangor-

Your rating: None Average: 6.5 (8 votes)
dikirim jalaindra 30 minggu 2 hari yang lalu
Tag: