I
WAKTU itu, matahari sudah meninggi saat aku melewati jalan yang meninggalkan banyak jejak kenangan di pikiranku. Masih bisa kulihat jejaknya di antara ribuan jejak lain yang bertebaran tak berharga.
Di jalan itu. Ya, jalan itulah yang dahulu mengawali kisah cintaku, dan tanpa kusadari jalan itu pula yang turut mengakhirinya. Sebenarnya, ruas itu tidak tampak seperti jalan. Lebih seperti trotoar pemisah badan jalan. Namun dengan ukuran yang lebih besar. Di sisi kanannya merupakan jalan utama, dimana pada jam-jam sibuk seperti ini kendaraan bagai barisan semut pekerja. Sementara di kirinya, aliran sungai kecil menjadi penenang dan meredam kebisingan yang tercipta walau tidak sepenuhnya. Suara gemericik air mengalun bagai sebuah symphony surga yang akan melayangkan jiwa ke langit tertinggi. Hingga ke langit ke tujuh.
Matahari kian menyengat kulit, meskipun saat itu aku mengenakan kaos putih tipis berbalut jaket coklat tua. Sementara kupluknya menutup bagian kepalaku menghindari sengatan mentari. Namun tetap saja kurasakan hawa panas mengalir hingga ke pori-pori kulit kepala, kemudian diikuti pusing yang menyebar tiba-tiba. Saat itu, kepalaku bagai pantat penggorengan yang terus-menerus dilahap lidah api hingga memerah dan membara karena kepanasan. Bisa saja meleleh.
Tanpa sadar kuhitung tiap langkahku. 1... 2... 3... 4... 5... namun saat langkah ke sembilan belas aku berhenti. Kutengok sungai di kiriku. Airnya yang jernih memantulkan cahaya matahari langsung menyilaukan pandanganku. Membuat kedua pupil mataku perih. Saking jernihnya, terlihat bagai dataran cermin hidup. Aku bisa berkaca di tengah riakan air sambil melihat tonjolan batu-batu di dasarnya atau gerombolan ikan kecil yang bersusah payah berenang melawan arus yang tak seberapa derasnya.
Aku termenung, sementara pohon pinus yang tumbuh di situ menjadi pelindungku dari sengatan sang mentari. Aroma melegakan memenuhi rongga-rongga pernapasan. Sedikit demi sedikit tiap lapisan udara kian menyegarkan bak hembusan angin pegunungan maupun deburan ombak yang berakhir di bibir pantai. Aroma pucuk muda, getah, lempengan kulit, daun, dan buah pinus tercium bagai bau amonia menyebabkan pikiranku jauh menerawang.
Ingatanku tentang kenangan masa lalu mulai tersusun kembali, layaknya menemukan potongan puzzle terakhir untuk disatukan menjadi sebuah gambar yang utuh. Di benakku, terbayang jelas sosok wajahnya; bibirnya yang tipis berbalut pelembab senada warna kulit bibirnya, tulang hidungnya yang kokoh dan lancip pada ujungnya menegaskan bahwa ia keturunan orang-orang berkualitas. Matanya sipit yang begitu memikat menjadi daya tarik tersendiri. Terakhir adalah rambutnya yang hitam sebahu menjadi frame untuk semua keistimewaan itu.
***
Kuingat jelas saat kali pertama bertemu dengannya. Saat itu aku begitu terpana. Mulutku tak bisa berkata-kata seakan indera itu direkatkan oleh perekat terkuat di bumi, dan tak menduga bahwa seorang bidadari dengan bentuk fisik begitu sempurna hadir di depanku. Dalam jangkauan wilayah kedua biji mataku. Hadir begitu saja tanpa menunjukkan suatu bentuk kehadiran maupun penampakan misterius dengan percikan kembang api atau gumpalan kabut yang mengaburkan sosoknya untuk pertama kali, atau bahkan hadir di dalam mimpi sebelumnya dengan sebentuk sosok yang begitu mengagumkan. Mengenakan gaun indah berumbai dengan sulaman benang emas bermotif abstrak di tiap sisinya bak seorang putri kerajaan awan.
Untuk pertama kalinya, ia memperkenalkan namanya Qhay Lilia, namun tak pernah kusebutkan nama itu di depannya untuk hari-hari selanjutnya pertemuan kami yang terkadang terjadi secara tidak disengaja dan tanpa disadari. Aku lebih suka memanggilnya singkat dengan penggalan nama “Kai.” Menurutku itu lebih baik. Lebih menunjukkan ciri fisik maupun kepribadian gadis berwajah oriental itu.
Namaku sendiri Samuel, tapi panggil saja aku dengan sebutan “Sam” tanpa embel-embel apapun di belakangnya. Fisikku seperti pria kebanyakan dengan tinggi 170 senti, berambut pendek bergelombang, berkulit sawo matang, dan bermata tajam bak elang yang siap menerkam.
Menurut teman-temanku, aku adalah tipe orang bebas―tipe yang kebanyakan berkepribadian pemberontak dan sering diartikan orang sebagai sosok yang menentang peraturan dimana pun itu. Tapi itu hanya sugesti yang dilatarbelakangi bentuk fisikku saja. Intinya, aku adalah orang yang baik walau terkadang agak dingin jika memang mood-ku saat itu tidak dalam keadaan menyenangkan. Selebihnya, aku sama seperti orang-orang lain. Seperti anak muda kebanyakan. Sebagai informasi, saat ini aku terdaftar sebagai mahasiswa jurusan ilmu komunikasi di sebuah universitas swasta di Bandung.
Pertemuan kami dimulai saat aku hendak berangkat kuliah. Seperti biasa, aku selalu melewati poros jalan yang sama setiap hari, baik berangkat ke kampus maupun kembali ke tempat kos. Tempat yang menurutku paling nyaman di dunia setelah rumah orang tuaku tentunya. Aku bukan tipe orang yang sering keluyuran kemana-mana. Jalan-jalan kesana-kemari tanpa tujuan yang jelas. Setelah kuliah selesai, aku langsung pulang sebab katering Bu Dede telah menunggu untuk di santap. Seperti bayangan kalian saat ini. Akulah anak pingit. Peraturan ketat kedua orang tuaku semasa duduk di bangku sekolah membuat pribadiku seperti itu.
Jam tangan digital sudah menunjukkan pukul 09.30 saat pagi itu aku mulai memacu langkahku.
“Penyebabnya pasti karena nonton sepak bola tadi malam,” keluhku membenci kelakuanku sendiri.
Aku sampai tidak memperhatikan jalan di depanku. Yang kuperhatikan hanyalah detik-detik yang terus berganti di jam tanganku, hingga kemudian tubuhku menghantam sesuatu. Aku jatuh. Sedikit terpental. Masih sempat kudengar beberapa benda juga turut berjatuhan dan setelahnya terdengar suara seseorang mengeluh. Nyeri juga kurasakan di bagian pantat dan tanganku. Sambil membersihkan setiap sisi celana jeans, aku bangkit dan bermaksud meminta maaf kepada orang yang tak sengaja kutabrak tadi. Namun tak tahu mengapa mulutku tiba-tiba tak bisa mengatakan susunan kata-kata itu. Padahal hanya permintaan maaf dan setelahnya selasai permasalahan.
Rambutnya yang dibelai angin, membuatku tak sepenuhnya melihat kecantikan wajahnya. Tapi entah mengapa perasaanku kuat berkata, wanita ini adalah seorang bidadari. Ya... dia seorang bidadari yang begitu anggun dan cantik. Pokoknya begitu memikat.
Kubantu ia mengambil buku-bukunya yang berserakan. Kutiupi jilidnya hingga debu menjauh dari tempat itu.
“Ma... maafkan saya,” kataku pada akhirnya. “Tadi saya buru-buru.”
Untuk yang pertama kalinya, wanita itu menatap wajahku secara langsung. Kurasakan semburat adrenalin menyembur ke seluruh tubuhku. Saraf-sarafku kembali tak berfungsi saking gugupnya.
“Tidak apa-apa,” ujarnya lembut.
Rupanya, suaranya lebih menakjubkan dari lengkingan sekelompok duyung atau pekikan lumba-lumba dalam arus samudera bahkan nyanyian paus di kedalaman lautan.
“Bukan sepenuhnya salahmu,” tambahnya. “Aku juga terburu-buru tadi, jadi tak melihat jalan di depanku.”
Entah mengapa mulutku terkunci sekali lagi dan secara spontan aku langsung pergi. Aku tak mau jika ia mengetahui bahwa aku benar-benar mengaguminya saat itu juga. Saat pertemuan pertama kami. Saat pertama kali mendengar suara dan terbius menatap wajahnya.
Belum jauh kakiku melangkah, wanita itu akhirnya memanggil.
“Hei... tunggu dulu!” serunya.
Aku langsung berhenti dan beberapa detik kemudian ia sudah kembali berada di depanku. Adrenalin sekali lagi mengalir deras ke seluruh tubuhku.
“A... ada apa?” tanyaku gugup. Bodoh sekali, kenapa aku segugup ini? gumamku dalam hati, mengutuk kebodohanku sendiri.
“Kalau aku boleh tahu, namamu siapa?,” ia mengurai senyuman seolah-olah ingin merayuku.
Hah! Dia mau tahu namaku? Apa tidak salah? Apa dunia ini sudah mau kiamat?Aku tak percaya orang semenawan dia mau tahu namaku. Ah, dunia ini ternyata begitu indah! Batinku berkomentar girang. Kupandangi tiap lipatan bibirnya yang mungil. Kuhirup aroma tubuhnya yang dibawa angin langsung ke indera penciumanku hingga kurasakan kedamaian tercipta di hatiku. Kekhawatiranku seketika lenyap. Tak lagi kupikirkan keterlambatanku nanti. Semua itu masa bodoh. Tak penting. Aku masih ingin di sini. Masih ingin menikmati semua ini. Aku ingin mengabadikan sosok, senyuman, dan wangi tubuhnya dalam ingatanku. Kalau bisa dalam hatiku juga.
“Namamu siapa?” tanyanya mengulangi.
Nadanya sedikit ditinggikan namun senyuman masih segar terurai di bibirnya bak mawar yang baru mekar di pagi hari. Begitu indah dan menyejukkan jiwa yang sebelumnya hampa.
“Oh maaf...” kataku malu pada sikapku sebelumnya. “Namaku Samuel.” Aku menjulurkan sebelah tangan bermaksud bersalaman.
Ia membalas jabatan tanganku. “Aku Qhai―Qhai Lilia,” katanya turut memperkenalkan diri.
Kembali ia bertanya seadanya. “Apa kau mahasiswa?”
Aku mengangguk menyetujui.
“Dimana?” tanyanya masih mempertahankan tatapan matanya ke arahku.
Dengan malu aku menjawab, “Universitas Guna Atmadja.”
Ia berkata girang, “Wah! Sama denganku. Ngomong-ngomong ambil jurusan apa?”
“Komunikasi,” jawabku singkat.
Tak tahu entah mengapa, aku seakan tidak bisa memperpanjang kata-kataku lagi. Pancaran sinar matanya bagai tatapan Medusa yang membatukan, membuat tubuhku kaku dan tak bisa bergetar. Matanya yang begitu indah seperti menyelami jiwaku. Menjadikannya sebuah ladang; menanamkan benih cinta di sana, memupuknya dengan perhatian dan setelah itu menyiramnya dengan kasih sayang. Kemudian tumbuh menjadi tanaman eksotis. Bermekaran membentuk buket-buket bunga yang tak dikenal siapa pun terkecuali ia sendiri. Tak ayal, aku pun langsung tergoda olehnya bagai mencium udara beraroma kesturi yang begitu memabukkan dan membuai iman.
“Hei! Kau kenapa?” kata wanita itu heran dengan tatapanku padanya. “Apa ada yang aneh dengan penampilanku?” seraya meneliti tiap lekuk pakaiannya. Tidak ada yang aneh menurutnya. Biasa-biasa saja.
Aku tersadar, lalu dengan sikap malu-malu aku mengalihkan pandanganku darinya.
“Ah, tidak apa-apa kok,” jelasku sekenanya.
Tak ingin malu lebih jauh, aku cepat-cepat mengakhiri pertemuan kami walau sejujurnya tak mau aku melakukan hal itu. Aku masih ingin melihat rupanya, guratan senyum manisnya bak lukisan Monalisa, lirikan matanya yang penuh mistis, ataupun suara merdunya yang seakan turut membawa musim semi untuk yang kesekian kalinya.
“Sepertinya aku pamit dulu. Aku ada keperluan di kampus,” kataku.
Qhay Lilia tersenyum lalu bersuara, “Oh! Silahkan. Aku juga ada keperluan lain. Senang berkenalan denganmu.”
Aku membalas senyumannya. Kuperlihatkan senyuman terbaik yang bisa kulakukan. “Aku juga senang berkenalan denganmu. Aku harap kita bisa bertemu lagi di lain hari.”
Sesungguhnya aku sangat mengharapkan hal itu terjadi. Harus... harus terjadi... batinku memaksa.
Kami pun berpisah. Sekali aku menengok ke arahnya sambil tersenyum untuk yang terakhir kalinya di pertemuan pertama kami hari itu.
Entah mengapa hari itu terasa lebih berwarna. Seakan mata ini dapat memecah warna cahaya menjadi tujuh jenis warna yang lain, seperti pola warna pada pelangi dikala hujan redah. Tiap kali kulihat ke langit, gumpalan awan berbentuk abstrak seolah membentuk kembali wajah wanita itu. Sepasang tangan Michelangelo memahatnya menjadi sebuah karya seni tiga dimensi yang begitu mengagumkan dan tahan oleh hempasan angin. Semua ketegangan, kemuraman, kesedihan, dan kemarahan seketika itu juga terbalut oleh kegembiraan dan kebahagiaan yang sebelumnya tercipta.
Apakah ini cinta pada padangan pertama? Ataukah hanya rasa kagum yang berlebihan yang lama-kelamaan akan hilang dengan sendirinya?
***
Keesokan harinya, aku melewati jalan yang sama seperti hari sebelumnya. Jam yang sama dengan maksud bertemu wanita itu sekali lagi. Sengaja kuperlambat laju langkahku walau kuliah telah dimulai sejak sepuluh menit yang lalu. Tak apa-apa. Tidak menjadi masalah besar bagiku. Semua itu akan sebanding jika aku bertemu dengannya lagi. Wanita yang benar-benar sempurna itu, mengagumkan. Meski pun aku baru pertama kali melihatnya tapi entah mengapa hati ini seolah memberitahukan bahwa aku telah mengenal sosoknya puluhan tahun yang lalu. Mungkin di kehidupan sebelumnya, kami adalah sepasang kekasih atau kerabat yang saling mencintai.
Jika kemarin aku mengatakan bahwa ia adalah sosok bidadari, nyatanya aku salah. Benar-benar salah besar. Tak terampuni. Derajat dari sosoknya lebih tinggi lagi. Bukan... bukan hanya sekedar bidadari dengan paras anggun nan menggoda. Ia adalah sosok dewi. Ya, seperti penceritaan dalam mitologi bangsa Yunani. Menurutku, ia sangat pas jika disejajarkan bersama Dewi Cinta dan Kecantikan―Aphrodite yang konon menurut alkisah terlahir dari buih air laut yang berasal dari sperma Zeus.
Lama kuberjalan tapi sosok Qhay Lilia tak jua muncul. Bahkan jika penciumanku turut menelusuri jejak angin, aroma khas tubuhnya belum merebak menggoda endusanku lebih jauh. Kurasa ia memiliki kesibukan lain. Kesibukan yang lebih penting daripada hanya sekedar berjalan tak jelas dan tak tentu arah.
Yah, sayang sekali...
Sebelah batinku lalu berkomentar, “Buat apa kau memikirkanya. Toh, belum tentu dia juga memikirkanmu. Memangnya kau ini siapa? Kau bukan orang penting, bukan selebritis, tak berkedudukan, dan bahkan menyandang predikat mahasiswa terbaik pun tidak.” Ia diam lalu sambil tertawa melanjutkan perkataannya. “Malang sekali nasibmu. Ha... ha... ha...”
“Memangnya salah?” kataku kesal mendapat sindiran. “Apakah salah kalau aku memikirkannya? Salah kalau aku ingin bertemu lagi dengan sosoknya yang begitu mengagumkan? Salah kalau aku mengingat aroma tubuhnya? Apakah semua kelakuanku selalu salah di matamu? Apakah salah... Hah?”
Aku melanjutkan, seolah-olah kekesalanku kian membuncah. “Apa pedulimu? Ini urusanku. Urusi saja masalahmu sendiri. Sebaiknya kau cepat enyah dari dalam diriku.”
Tidak serta-merta kekesalan itu melunturkan keinginanku. Niatku untuk bertemu lagi dengannya tak akan sirna secepat itu. Tak akan menghilang secepat kabut yang terusir oleh serpihan sinar mentari dari ufuk timur. Niatku itu setegar koloni karang yang tahan dihantam kerasnya gelombang dan sekuat intan. Masih ada hari esok. Hari berikutnya kuharapkan dapat bertemu sosoknya walau hanya dengan bayangannya saja, aku sudah senang.
Sisa perjalananku menuju kampus kulakukan dengan berdoa dalam hati. Doa yang teruntai tulus dan ikhlas kupanjatkan pada-Nya, mengharapkan sesuatu terjadi setelah aku mengumandangankan doa ini;
Tuhan... tak tahu mengapa, aku langsung menyayanginya. Tiap detik, wajahnya selalu berbayang dalam anganku. Aku suka dia. Aku cinta padanya. Kuharapkan ia adalah jodohku. Ya... jodoh yang Engkau pasangkan kepada setiap hamba-Mu. Kalau memang ia bukan jodohku, jodohkanlah ia denganku. Seandainya ia tak sayang padaku, buatlah ia sayang padaku. Jika ia jauh dariku, dekatkanlah denganku. Dan apabila ia lupa padaku, ingatkanlah ia padaku. Aku yakin dengan kuasa-Mu, semua itu pasti dapat terjadi dengan sangat mudah. Semudah kau menciptakan jagat ini bersama isinya.
~Bersambung~
dikirim abc 25 minggu 21 min yang laluTag:







