yang tertinggal hanya aku, bukan kamu yang juga adalah aku

23
points
"

kuulis di pagi hari bersama gerimis yang menemani. monolog (mungkin) bisa digunakan untuk memaknai diri sekali lagi

"

Kulempar tas yang sedari tadi menggantung di atas pundakku. Kulempar dengan buru-buru sebab kumerasa tak kuasa menahan beban tersebut lebih lama lagi. Tentu beban terberat bukan ada pada tas karena aku tak pernah mengisinya selain sebatang pensil dan sebuah buku. Tapi di sini, jauh dalam hati ada beban yang setiap hari harus kupikul. seandainya bisa kulempar beban tersebut seperti kulempar tasku maka sudah kulakukan dari dulu. tapi beban ini menempel erat bagai benalu yang menumpang pada pohon mangga depan rumah masa kecilku yang hanya bisa hilang jika ranting pohon tersebut ditebang. Ya ide bagus, mengapa tidak aku memotong saja hatiku? Tapi aku tak bisa melakukannya. Karena selain aku tak tau dimana letak persisnya hatiku, aku juga terlalu pengecut untuk mati.

Kuseret kursi dengan penuh kemalasan. Suara gesekan antara kaki-kakinya dengan lantai membuat nyeri telinga tapi tetap kulakukan sebab yang saat ini ingin kulakukan adalah duduk. Ya duduk bukan tidur. Tidur hanya akan mengirimku pada dunia yang lebih kejam dari dunia nyata, di sana apa saja bisa terjadi termasuk hal-hal yang tidak pernah kita bayangkan.

Kududuk di depan sebuah meja kecil sambil menunduk dan menutup telinga. Ritual ini sudah lama kujalani karena menurutku dengan ini aku bisa mengasingkan diri dari dunia. Tapi khusus hari ini sesuatu terjadi dengan penuh keanehan.

"Mengapa kau duduk seperti itu?"

"Karena aku ingin." Jawabku dengan malas.

"Mengapa kamu ingin?"

"............." Ku tidak menjawabnya. Tidak ada alasan bagiku untuk menjawab.

"Mengapa diam."

"SIAPA KAMU..!!!???" Pertanyaannya kujawab dengan pertanyaan yang seharusnya kulontarkan sejak tadi. Sejenak aku menatap ke depan dan yang kuperoleh adalah wajah seseorang yang sebaya denganku. Matanya sama dengan mataku. hidungnya sama dengan hidungku. Hei tunggu dia adalah aku. Tapi berbeda denganku, dia tersenyum. Ya tersenyum adalah hal yang sudah lama tak kulakukan.

"Aku adalah kamu." Jawabnya

"Kau? Aku? Tak mungkin. jika kau adalah aku lalu aku siapa? atau apa?"

"Kau dalah sekumpulan dari 35 liter air, 20kg karbon, 4 liter amonia, 1,5kg kapur, 800gr fosfor, 350gr garam, 100gr asam nitrat, 80gr sulfur, 7,5kg fluorine, 5gr besi, 3gr silikon dan sejumlah kecil campuran unsur lainnya."

"Hah...?"

"Itu bahan dasar dari manusia, tapi manusia tak hanya terbuat dari itu, ada sesuatu yang tak bisa disentuh oleh ilmu pengetahuan."

"Apa itu?"

"Perasaan. Sesuatau yang tertanam dalam hatimu."

"Hati?" Kutermenung sejenak sembari menikmati semua beban yang menumpuk dalam hati.

"Lupakan dia!"

"Mengapa?"

"Sebab karenanyalah hatimu terbebani."

"Bagaimana jika tak bisa? Aku terlalu mencintainya."

"Hati Bukan tempat untuk mengingat, itu tugas otak. kamu bisa kapan saja membuangnya dari hatimu."

"Tapi aku tak bisa."

"Kau bukan tak bisa, kau hanya tak mau. kau tak perlu bohong padaku karena aku adalah kamu."

"Jika benar kamu adalah aku seharusnya kamu tau alasannya kan?"

"Alasan apa? Alasan mengapa kamu mencintainya meski itu salah? Alasan mengapa kamu tetap melakukannya meski itu tidak logis?"

"Tentu." Jawabku lirih.

"Kau tahu, hati ada untuk merasakan apa yang tak bisa dipikirkan otak. Cinta itu mengagumi dengan hati. Salah benar, logis atau tidak itu porsi otak bukan porsi hati"

"Lalu?"

"Sakarang apa yang kau ingini?"

"Untuk apa aku menjawab jika kau tau semua jawabnya?"

"Kau tak bisa melupakannya kan? Tapi juga sulit bagimu memilikinya?" Retoris sekaligus getir. "Kau mencintainya kan? Yang perlu kau lakukan hanya berhenti berpikir itu salah. Jangan bebani hatimu. Jangan gunakan hatimu untuk berpikir. Rasakan, maka kamu akan tahu apa yang harus kamu lakukan. Mencintai bukanlah untuk menyakiti diri. Bergeraklah selangkah lebih maju dan mundurlah jika perlu. Tapi jangan diam, karema itu hanya akan menghambatmu."

Mendengarnya membuatku menunduk lagi tapi kali ini bukan untuk mengasingkan diri. Kali ini menyadari untuk membuka diri.

"TERIMA KASIH."

Dia hilang. Dia yang adalah aku hilang. Berganti wajah yang sama dengan senyum yang sama. Tapi wajah itu adalah wajahku, bukan wajahnya. Sekarang kubisa tersenyum lagi. Kulihat sekeliling kamarku tak ada yang berubah kecuali sebuah cermin yang menggantung di depan meja yang selama ini menjadi tempatku mengurung diri.

Your rating: None Average: 5.8 (4 votes)
dikirim phieto 30 minggu 1 hari yang lalu
Tag: