"Zaman sebelum adanya penguasa yang disebut Raja...masa pertama Neya (+7000 tahun SM). Asia Tengah adalah kawasan hutan sangat luas menghijau dan sudah ada peradaban manusia. Sebelum Perang Pedang menghancurkan tempat itu menjadi gurun pasir..."
"Dongh Man Panna
(Penguasa Naga)
Dua tatap muka beradu dari jarak terpisahkan sungai di antara mereka. Air gemercik mengalunkan irama hutan nan sejuk. Bertentangan dengan hati Raojhin yang termakan dendam. Keputusasaan yang sudah lama menggantung lehernya sudah membatu. Dan kini ia tak pernah berhenti merasa dirinya tak lebih dari mayat berjalan.
“Jika memang kau menginginkan pedangku, mengapa tidak kau ambil sendiri?” Raojhin membentangkan kembali dua belah pedangnya lagi dan menyodorkan ke arah seberang sungai tempat Ni Ratma menghadap balik padanya.
“Persis di kaki ini adalah langkah ke-seribu. Aku tidak bisa lebih jauh dari itu agar sampai ke tempatmu, Pemuda!” jawab Ni Ratma tegas.
Untuk beberapa saat, Raojhin membisu dalam pikirannya dan menatap sejurus ke tangan Ni Ratma yang masih terikat rantai besi baja karatan. Tampaknya sangat tersiksa ia dalam keadaan begitu selama 30 tahun dan hanya bisa berjalan tidak lebih dari 1000 langkah seperti yang sudah dikatakannya. Jika dibandingkan dengan 7 tahun ia tersiksa di Tebing Tanpa Alas, si Tua itu lebih menderita.
Sing...!
Raojhin mengangkat pedang, menyilang di atas kepala. Ia mengambil dua langkah untuk ancang-ancang.
“Heaaa!! Rentangkan tanganmu!!!” teriak Raojhin dalam sekali melompat jauh ke arah Ni Ratma.
Terlalu mendadak, Ni Ratma tak banyak bicara, langsung merentangkan dua lengannya yang terbelenggu rantai dan….
Krang………..!!!!
Juntaian rantai besi pecah seketika, menjadi patahan-patahan yang menimbulkan suara menyayat selain gemeretaknya ke tanah berbatu.
Ni Ratma berbinar, bola matanya pun berkaca-kaca. Si Tua itu hampir tak kuat menahan tangis seperti anak kecil karena terlalu senangnya telah lepas dari belenggu puluhan tahun.
“Terima kasih…,” agak terisak ia terduduk.
Sementara Raojhin membiarkannya berlama-lamaan seperti itu. Tiba-tiba ia merasakan tubuhnya gemetar hebat.
“Aargghhh…,” Raojhin mulai mengerang lantaran tak tahan sakit yang berpusat di kepalanya.
Ni Ratma terkejut menyadari keadaan Raojhin mendadak kesakitan.
“Aaaaaarggh...!!!” teriak Raojhin sembari mencengkeram kepalan erat-erat. Dua pedang terlepas dari tangan, lalu ia pun ambruk di tempat.
“Raojhin…Raojhin!” panggil Ni Ratma berkali-kali. Tetapi pemuda itu sudah pingsan terlebih dulu sebelum mengatakan apa yang sedang terjadi.
* * *
Raojhin beranjak seketika dengan jurus-jurus lengan siaga, namun kelopak matanya masih setengah sayu dan terasa berat sekali, belum lagi agak terasa pusing sejak tak sadar diri. Sesaat kedua matanya berputar ke sekeliling tempatnya berada. Sangat sunyi dan masih di sekitar hutan bambu.
Saat tersadar, ia tengah berada di tepi sungai kecil yang asing daripada saat sebelum pingsan. Entah seberapa lama dirinya tergeletak di anyaman bambu lusuh dan sudah berlumut karena termakan usia. Ada segombol rambut kucel menimbun tidak jauh dari posisinya saat itu. Sangat sunyi, hanya suara gemercik air terdengar polos dan sejuk dalam suasan hutan bernuansa surga bambu.
“Raojhin…,” sebuah suara menyapa dia dari arah atas rerimbunan bambu. Pemuda itu mencari asal suara. Dan tepat sekali pandangannya jatuh pada arah itu, tampak olehnya sesosok lelaki tua namun pawakannya masih gagah dan kuat.
Ia sedang mengasah sebilah batang bambu. Serpihannya berjatuhan tepat Raojhin berada di bawahnya.
“Kau...,” Raojhin menyentuh bentuk rambutnya yang sudah tak sepanjang sebelum ia pingsan.
“Kau…memotong rambutku?!” agak terkejut ketika baru menyadari rambutnya sudah sependek bahu. Sekali lagi ia beralih pandang ke timbunan rambut yang tergeletak itu.
“Bagaimana kau bisa memelihara Gattor jika dirimu sendiri tidak dirawat?” kata Ni Ratma yang sedang bertengger di atas batang bambu paling besar.
Raojhin memperhatikan dengan seksama pakaian yang dikenakannya ssat itu. Seingatnya, ia masih bertelanjang dada dengan sepotong celana kekecilan sebatas lutut dan terkoyak di mana-mana. Tetapi sekarang, ada jubah coklat tua berbulu keabuan bahan wool.
“Kau berada di rumahku…istana bambu tua,” Ni Ratma melompat turun persis di hadapan Raojhin.
“Terima kasih telah menolongku. Sebagai balasannya, aku merawatmu semalaman, memberimu pakaian dan masih ada satu lagi yang ingin kutunjukan padamu setelah kau benar-benar sehat.”
Raojhin menatap Ni Ratma. Tak ada yang ingin disampaikannya meskipun sekedar ucapan balik terima kasih.
“Pria yang malang…terikat dendam, namun bukan hatimu yang bicara demikian. Andai kau tidak mengakhiri dendammu, itu akan membuat pikiranmu terus menderita. Tetapi sebaliknya…kau tidak cukup nyali untuk mentuntaskan semua itu…,” Ni Ratma berpindah tempat bebatuan ke tepi sungai kemudian bersila di atasnya.
“Aku bukan pengecut!” raut muka Raojhin memerah tegang.
“Aku tidak berkata begitu. Tetapi memang bukan jiwamu sebagai pembunuh!” Ni Ratma tak bergeming di tempatnya bersila.
“Mana pedangku?!” tidak cukup bersahabat, Raojhin mendekati pria tua itu dan melontarkan pertanyaan agak menggertak.
“Ada di di dasar air terjun itu…,” jawaban Ni Ratma membuat Raojhin naik pitam bukan kepalang.
“Apa?! Kau membuangnya setelah aku menolongmu? Tidak tahu diri!!!” Raojhin melompati bebatuan yang ke arah pusat air terjun besar.
Ni Ratma membiarkan pemuda itu ke sana. Dan ia berniat terjun ke tengah jatuhnya air terjun beriak hebat. Tampatnya sangat dalam sampai-sampai berwarna biru tua. Raojhin bergidik ngeri. Tak pernah ia masuk ke air lantaran tidak jago berenang.
“Ambil kembali pedangku!” kata Raojhin berkesan menyuruh.
“Ambil saja jika kau bisa!” jawab Ni Ratma balik menantang.
“Kedalamannya lebih dari limapuluh kaki. Dan di dalam sana ada….”
“Cukup! Aku phobia air!” Raojhin menyela kalimat Ni Ratma, ia tak sengaja mengakui kelemahannya.
Ni Ratma tertawa meledek, sekaligus tidak menyangka jika Raojhin yang tangguh ternyata takut pada kedalaman air.
“Hanya air terjun, sudah membuat nyalimu ciut? Bagaimana kau akan membalas dendam orang-orang Gattorian itu?!”
Ni Ratma bangkit, menyusul ke tempat Raojhin mematung di atas bongkah batu raksasa yang menghadap pusat air terjun.
“Masuklah…atau…aku yang memaksamu!” Ni Ratma menyentak keras.
“Tidak!!!” Raojhin melangkah mundur sambil menggeleng keras kerena terlalu takutnya melihat permukaan air yang bergolak hebat.
“Kau murid seorang tetua Ni, tidak seharusnya takut seperti itu! Mulai dengan mengalahkan rasa takutmu sebelum mengalahkan musuh-musuhmu!”
“Raojhin…,” desis Ni Ratma sangat dekat ke telinganya.
Raojhin menggeleng berat, “Tidak…”
Ni Ratma menepi ke pinggir bebatuan, sekilas menoleh pada Raojhin yang pucat menatapnya.
“Kita beradu saja, siapa yang lebih dulu meraih pedang kembarmu…maka dia berhak memilikinya,” tak begitu keras suara Ni Ratma namun sangat memancing nyali Raojhin yang ragu.
“Tidak, pedang itu tetap milikku!!! Kubunuh kau jika berani menyentuhnya!!!” Raojhin tak sempat berpikir, ia pun terpaksa ikut melompat ke pusat jatuhnya air terjun.
Byur!!!
Gejolak air menelan tubuh Raojhin yang terbungkus jubah wool coklat tua yang dikenakannya. Sejenak kemudian, hanya jubah itu yang mengambang ke permukaan.
Sementara Raojhin sendiri sedang beradu dengan arus untuk menggapai dasar. Ia beguling-guling beberapa saat di dalam sana sebeleum mampu mengendalikan kuatnya arus.
Nafasnya tak lagi bisa bertahan lama, satu dua teguk air masuk lewat hidung dan mulut. Namun ia melihat kilatan dari bias cahaya memantul ke matanya. Raojhin bergerak perlahan ke sana. Ternyata, kilatan itu berasal dari dua pedangnya yang terdampar ke dasar. Lebih dari itu, ada sesuatu benda bulat keperakan berada di sisi dua pedang itu.
Entah apa dan belum tahu benda tersebut, Raojhin tertarik mengambilnya serta setelah dua pedangn itu lebih dulu diraih. Cepat-cepat ia bergerak lembali ke atas dan kuatnya arus semakin mendorong tubuhnya ke permukaan.
“Bahh!!!” Raojhin gelagapan sambil terbatuk-batuk, bergerak ke tepian. Di atas bebatuan sana, sudah berdiri Ni Ratma dan melempar senyum.
“Bagus, akhirnya kau berhasil!” kata Ni Ratma sedikit mengangkat alis.
“Licik, kau tidak sungguh-sungguh ingin merebutnya! Ini hanya tipuanmu agar aku terjun ke air, benar ‘kan?” Raojhin mengomel sebentar.
“Yang penting kau sudah berhasil membawanya keluar!” Kata Ni Ratma senang, tersenyum lebar diselingi serentet gigi putih.
“Pedangku ini maksudmu? Aku ‘kan tuannya, tentu saja pedang ini hanya menurut padaku!” kata Raojhin masih terdengar kesal.
“Bukan pedangnya, maksudku...benda bulat keperakan di tanganmu itu!”
Raojhin baru tersadar bahwa benda itu juga berada di dekapannya. Ia terheran karena tak tahu persis alasan apa yang membuat dirinya tertarik untuk mengambil benda aneh itu.
“Kau…,” mata Raojhin beralih pada Ni Ratma, kali ini ia menangkap sesuatu yang aneh dari cara Ni Ratma menatap benda itu juga.
“Apa ini?” tanya Raojhin sambil menggoyang-goyangkannya ke dekat telinga. Perlahan-lahan semakin jelas, terdengar suara detak jantung dari dalam benda berbentuk bulat lonjong itu.
(Bersambung)
dikirim alifwood 19 minggu 5 hari yang laluTag:









